
Waktu terus berlalu bagi Ziel dan juga Alina. Gadis kecil itu pun kini sudah beranjak dewasa. Setiap libur semester sekolah, Ziel selalu menyempatkan diri mengunjungi keponakan nya yang selalu menolak jika Ziel ajak menginap di rumah nya.
Ya rumah nya, Ziel memutuskan untuk membeli sebuah rumah tanpa sepengetahuan Bunga, sehingga baik Ziel maupun Bunga masih menempati ruko sejak enam tahun yang lalu.
Hubungan Ziel dan Bunga pun tak ada perkembangan masih sama seperti dulu, bahkan Bunga keguguran ketika pernikahan mereka baru berjalan 2 bulan.
Keluarga Bunga sempat menyalahkan Ziel saat Bunga keguguran, namun hasil pemeriksaan dokter dan usia kandungan Bunga saat itu yang menginjak usia 3 bulan, membuat mereka malu karena Bunga ternyata sudah hamil saat dinikahi oleh Ziel.
Sama seperti yang Bunga ancamkan kepada Ziel, keluarga Bunga pun mengancam Ziel kalau akan menarik semua harta Alina dari pihak Ibu nya kalau Ziel menceraikan Bunga.
Tentu saja hal itu membuat Ziel pun terpaksa menjadikan Bunga sebagia istri nya meskipun hanya secara negara. Karena secara Agama Ziel sudah langsung mentalak tiga Bunga setelah Bunga keguguran.
Ziel menarik nafas panjang ketika kembali mendapat laporan dari salah seorang sahabat nya yang melihat Bunga keluar dari dalam sebuah tempat hiburan malam bersama seorang pria yang tidak diketahui, karena pria itu mengenakan hodie dan juga masker.
Sudah beberapa kali Bunga dan pria itu terlihat bersama menikmati hiburan di tempat tersebut, dan kebetulan pemilik tempat hiburan tersebut adalah salah seorang sahabat Ziel ketika SMU dulu dan Bunga tidak mengetahui hal itu.
Puluhan lembar bukti foto sudah Ziel siapkan untuk menggugat cerai Bunga secara negara. Rencana nya Ziel akan menggugat Bunga selepas acara Haflah Littasyakur Wal Ikhtitam Alina beberapa hari lagi.
Rencana Ziel akan memboyong Alina kerumah nya dan membiayai kuliah gadis kecil yang kini sudah beranjak remaja selepas acara tersebut, dan hal itu sudah di setujui oleh Alina yang ingin melanjutkan pendidikan nya di sebuah universitas berbasis agama di kota tempat Ziel berada.
Alina tampak mondar mandir sambil sesekali menghubungi nomor Ziel namun sejak Ziel mengabarkan baru saja jalan menuju pondok pesantren tempat Alina menuntut ilmu nomor Ziel tidak dapat di hubungi, padahal seharusnya Ziel sudah tiba sejak satu jam yang lalu.
"Astaghfirullahalazim. Kok perasaan nggak enak banget ya?. Mana Uncle masih belum bisa di hubungi lagi" Gumam Alina khawatir.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Uncle. Tolong lindungi dan jaga Uncle dari marabahaya. Aamiin" Doa Alina dalam hati nya.
Alina memilih keluar dari dalam kamar nya setelah mengenakan niqab. Ya sejak menginjak bangku setingkat SMU di pondok pesantren tempat nya menuntut ilmu, Alina memang memutuskan menggunakan niqab kalau berada di luar kamar nya.
Dari kejauhan Abi Dhika dan Umi El tampak menghampiri Alina yang tengah berjalan bersama Ara menuju aula pondok yang sudah mulai ramai di penuhi para santri dan juga wali santri.
"Assalamu'alaikum Abi, Umi" Alina dan Ara menyapa kedua orang tua Ara tersebut dan langsung mencium dengan takzim punggung tangan kanan kedua nya.
"Waalaikumsalam ." Abi dan Umi Ara menjawab dengan wajah panik, membuat Ara dan Alina keheranan.
"Sayang, Kamu ikut dengan Apha dan Ambu dulu ya. Nanti Abi dan Umi akan menyusul setelah acara selesai" Kedua alis Alina mengernyit kebingungan mendengar ucapan Umi Ara.
"Pak Ziel kecelakaan" Jawaban Abi atas kebingungan Alina membuat tubuh Alina melemas, beruntung Ara berada di samping Alina sehingga bisa menangkap tubuh Alina saat akan terjatuh.
"Innalillahi. Ya Allah, Uncle Ziel nya _".
"Alin, ayuk Apha udah nunggu!" Sesosok wanita seusia Abi Ara sudah berada di samping Alina sebelum gadis itu melanjutkan ucapan nya.
"Abi, Umi. Gimana keadaan Uncle Ziel?" Alina bertanya kepada kedua orang tua Ara.
"Kalau begitu Alina pergi dulu Abi, Umi!"
"Iya sayang. Kami akan segera ke sana setelah acara selesai.
Alina mengganguk pelan lalu mencium punggung tangan kanan Abi dan Umi Ara secara bergantian.
"Ara ikut juga ya Abi, Umi" Pinta Ara untuk mendampingi Alina.
"Jangan. Kamu nanti aja pergi nya bareng Abi dan Umi." Alina melarang Ara, karena Alina sangat tau kalau Ara akan tampil sebagai Qariah bersama dengan kakak kembar nya di acara tersebut.
"Ya sudah. Ambu Na tolong bilang sama Apha Cid bawa mobil nya hati-hati ya"
"Iya bawel. Ayuk Alin. Mas Mbak, Kami pamit dulu ya" Ambu Nana pun segera membawa Alina menuju parkiran mobil setelah pamit kepada Aravdan kedua orang tua Ara.
Selama dalam perjalanan Ambu Nana yang duduk di samping Alina selalu menenangkan Alina.
Setiba nya di rumah sakit ketiga bergegas menuju ruangan ICU karena menurut kabar dari pihak kepolisian Ziel sudah di pindahkan keruangan ICU setelah mendapatkan tindakan darurat di ruang IGD.
Setelah mendapat persetujuan dari tim dokter yang menangani Ziel, Alina diperkenankan untuk masuk keruangan ICU tempat Ziel di rawat, sementara Apha Acid dan Ambu Nana tengah menerima penjelasan dari pihak kepolisian mengenai kecelakaan yang menimpa Ziel
"Uncle" Alina memanggil Ziel dengan lirih lalu mendudukan tubuh nya di sisi kanan Ziel yang hanya diam terpaku dalam tidur dengan banyak alat bantu penunjang kehidupan nya.
"Bangun Uncle. Alina sama siapa kalau Uncle_" Alina yang tak sanggup melanjutkan ucapan nya itu hanya bisa menangis di samping Ziel dengan mengenggam erat tangan Ziel.
"Bangun Uncle" Bisik Alina lirih namun masih tak mendapatkan reaksi apa pun dari Ziel.
Tubuh Ziel penuh dengan luka. Tak hanya kepalanya yang di balut perban, Alina bahkan bisa melihat ada luka di berat lain nya di tubuh Paman nya tersebut.
"Uncle" Alina kembali memanggil Ziel sambil menciumi punggung tangan kanan Ziel dengan lembut dan kemudian meletakkan punggung tangan kanan Ziel tersebut ke pipi kanan nya.
"Alin pulang Uncle. Uncle cepat sadar ya. Kata nya mau antar Alin kuliah dan Kita akan tinggal bersama di rumah Uncle." Alina mengusap lembut punggung tangan kanan Ziel, berharap akan bisa membuat Ziel bangun dari koma nya.
Ya dokter yang menangani Ziel sudah memberitahukan Alina kalau Ziel mengalami koma akibat kecelakaan tunggal yang menimpa nya tersebut dan entah kapan Ziel akan terbangun dari koma nya pihak dokter masih belum bisa mengetahui nya.
"Biarkan Saya masuk. Saya istri nya!" Sayup Alina mendengar suara ribut dari luar ruang ICU tempat Ziel di rawat.
"Maaf Bu, Kami _"
Brak
"Siapa Kamu?"