
"Alia"
Kedua kelopak mata itu membuka dengan perlahan-lahan. Seulas senyuman terukir di wajah pria yang sudah dua minggu ini menutup mata nya karena kecelakaan tunggal yang di alami nya itu saat melihat sosok gadis kecil yang di rindukan nya itu tengah tertidur disamping nya dengan memeluk lengan kanan nya dengan erat.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, Dokter Michael dan seorang perawat pria lah yang membuka pintu ruangan.
Pria yang baru saja siuman itu pun menutup bibir nya dengan telunjuk kiri nya sebagai tanda agar sang dokter dan perawat yang masuk kedalam ruangan nya agar tidak berisik dalam memeriksa nya.
Dengan perlahan-lahan Dokter Michael memeriksa Ziel dengan seksama, dan mencabut beberapa alat penunjang kehidupan dari tubuh Ziel yang sekira nya tak di butuhkan Ziel lagu.
"Puji Tuhan, Pak Ziel sudah siuman. Apa ada yang di keluhkan Pak?" Dokter Michael bertanya berbisik karena tidak mau menganggu Alina yang tengah tertidur di samping Ziel.
"Tidak ada Dok" Jawab Ziel yang ikut berbisik.
"Setelah Adik nya bangun, Bapak bisa memencet kembali tombol, agar Saya bisa memeriksa kondisi Bapak secara lebih intensif" Ziel mengangguki ucapan Dokter Michael sebelum Dokter muda itu pamit keluar ruangan rawat Ziel diikuti oleh perawat.
Ziel menghela nafas nya ketika teringat peristiwa yang di alami nya beberapa saat yang lalu. Ketika hidup nya nyaris berakhir karena ulah sengaja seorang pria yang merupakan Abang nya.
Ya pria yang mencelakai Ziel adalah Abizar, Abang nya yang sudah di nyatakan meninggal dunia bersama keluarga nya dan hanya menyisakan Alina enam tahun yang lalu.
"Bang Zar!" Ziel mengeratkan telapak tangan kiri nya kala mengingat ucapan pria itu di saat diri nya nyaris tewas karena alat bantu kehidupan nya di lepaskan secara paksa oleh Zar.
"Apa benar yang di ucapkan nya kalau, Aku ini adalah anak pungut Ayah dan Ibu?" Bisik hati Ziel.
"Kalau itu benar, berarti Alia bukanlah keponakan senasab Aku?" Kembali hati Ziel berbisik seraya melihat kepada gadis yang masih terlelap tidur di samping nya dengan masih memeluk lengan kanan nya erat.
Ziel membuang nafas nya pelan dan sedikit bergerak tak sengaja, hingga membuat Alina yang tengah tertidur itu pun terusik hingga bangun.
"Uncle" Alina memanggil Ziel lembut dan langsung bangun dari posisi tidur nya, hingga membuat niqab yang dikenakan nya itu pun terbuka.
Wajah Alina tampak bahagia saat mendapati Ziel tengah tersenyum kepada nya "Alhamdulillah, Uncle sudah bangun?" Alina spontan langsung memeluk tubuh Ziel, dan hal itu tiba-tiba saja membuat Ziel merasa bergetar tak seperti biasa nya yang selalu tak merasa apa apa saat Alina memeluk nya ketika mereka bertemu di pondok pesantren tempat Alina menuntut ilmu.
Sikap Ziel yang tidak membalas pelukan Alina membuat Alina pun keheranan. Setelah melerai pelukan nya kepada Ziel, Alina menatap wajah Ziel dengan seksama dan penuh tanda tanya.
"Are you oke Uncle?" Alina bertanya dengan mendekatkan wajah nya kepada wajah Ziel, membuat Ziel pun menjadi salah tingkah kerena di tatap oleh gadis yang sangat cantik itu.
"Hah?" Alina refleks memegang kening Ziel, dirasa kening Ziel sedikit hangat membuat Alina pun beranjak dari sisi Ziel untuk berdiri.
"Alin panggilkan Dokter dulu ya Uncle" Ziel menahan tangan Alina saat gadis itu hendak berjalan meninggalkan bangkar Ziel.
"Tak usah di panggil. Kamu tekan tombol ini saja" Ujar Ziel menunjuk kearah sebuah alat yang berada tak jauh dari bantal Ziel.
Alina tersenyum kecil seraya menepuk pelan kening nya lalu menekan tombol panggilan tersebut.
"Iya Uncle" Ziel mengusap pucuk kepala Alina lalu memasangkan kembali niqab Alina guna menutupi wajah Alina bertepatan dengan Dokter yang mengetuk pintu ruangan rawat Ziel.
"Permisi" Sapa Dokter Michael saat memasuki ruangan.
"Disini saja" Ziel kembali menahan Alina saat gadis itu akan turun dari bangkar Ziel. Ada rasa tak nyaman yang di rasakan Ziel saat Dokter muda itu sempat mencuri pandang kepada Alina.
"Alin disini. Biar Dokter memeriksa Uncle dulu ya" Alina tetap beranjak dari bangkar Ziel dan berdiri di sisi kanan bangkar melihat Dokter Michael kembali memeriksa Ziel yang sudah duduk di bangkar nya.
"Semua nya bagus Pak." Ucapan Dokter Michael di sambut ucapan hamdallah oleh Ziel dan Alina bersamaan, bahkan Alina mengusapi punggung tangan Ziel yang mengenggam tangan nya.
Sesekali Ziel dan Alina saling berpandangan dan lagi-lagi ada rasa yang Ziel rasakan berbeda saat melihat Alina yang tengah tersenyum di balik niqab nya.
"Astaghfirullahalazim, Ya Allah. Tolong jaga hati Hamba_Mu ini" Gumam hati Ziel saat merasa detakan jantung nya berdetak dengan sangat kencang saat bertatapan dengan Alina.
Setelah memeriksa Ziel dan memastikan kondisi Ziel, Dokter dan perawat pun meninggalkan ruangan Ziel dan akan segera memindahkan Ziel ke ruang perawatan.
"Uncle" Alina memanggil Ziel saat melihat Ziel tak seperti biasa nya yang selalu bawel menanyakan keseharian Alina.
"Uncle" Ziel tersentak mana kala Alina kembali memanggil nya, namun kali ini lebih dekat karena Alina kini mendudukkan tubuh nya di samping Ziel, dan langsung merebahkan kepala nya di bahu Ziel serta melingkarkan tangan nya di lengan kanan Ziel.
"Alin kangen sama Uncle. Alin kira Uncle nggak bakal bangun lagi dan ninggalin Alin sendirian" Alina berbisik dengan lirih menyembunyikan wajah nya di balik punggung Ziel yang mulai menitikkan air mata nya.
Sikap dan tingkah yang biasa Alina lakukan saat bersama Ziel kini justru membuat Ziel menjadi semakin serba salah.
Ziel masih ingin memastikan ucapan Pria yang mengaku sebagai Abang nya yang mengatakan kalau dia hanya anak angkat kedua orang tua nya.
Rencana nya Ziel akan melakukan tes DNA dengan Alina, karena saat ini keluarga mereka hanya tinggal dia dan Alina saja tak ada sanak saudara lain nya.
"Al" Ziel memanggil Alina dengan lembut.
"Hem"
"Ish malah tidur" Gumam Ziel saat menyadari lagi-lagi Alina tertidur di bahu nya saat mereka tengah bercerita.
"Apa yang akan terjadi, kalau apa yang di ucapkan pria itu benar ada nya. Kalau Kita tidak sedarah?" Bisik hati Ziel mengusap lembut punggung tangan kanan Ziel.
"Astaghfirullahalazim" Ziel menggelengkan kepala nya pelan ketika memikirkan hal terburuk hubungan nya dengan Alina.
Mengingat kedekatan nya selama ini dengan Alina membuat Ziel merasa sangat bersalah kalau kenyataannya mereka tidak mempunyai
hubungan darah, apalagi kalau Ziel tahu jika selama dia koma Alina lah yang selalu mengganti pakaian dan juga membersihkan tubuh nya. Bisa dipastikan Ziel akan semakin merasa sangat tak enak enak hati manakala tubuh nya sudah dilihat oleh Alina.