My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C6. Tak Sudi



Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, selepas sholat Isya dan makan malam tadi, Ziel kembali ke lantai dasar guna membantu karyawan nya kembali merapikan paket untuk di kirimkan esok hari ke rumah penerima paket.


Kantor ekspedisi milik Ziel memang buka 24 jam, dan terkadang Ziel akan ikut lembur membantu karyawan nya menyortir paket.


"Bang Ziel, uda mau tengah malam. Lebih baik Abang istirahat" Ujar Soleh salah seorang karyawan Ziel


"Tanggung Leh!" Ziel menjawab tanpa meninggalkan pekerjaan nya.


"Kasian Nyonya Muda Bang, masa masih pengantin baru udah di tinggal lembur" Celoteh Iwan. Ziel hanya membalas ocehan karyawan nya itu dengan senyuman kecil.


"Ya. Sudah, kalau begitu Saya istirahat dulu. Kalian juga istirahat nya bisa gantian" Kelima karyawan Ziel yang masuk malam itu mengangguki ucapan Ziel.


Ziel pun melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga menuju ruangan nya.


Helaan nafas berat menguar kala mendapati Bunga tengah berdiri dengan mengenakan gaun tidur yang cukup sexy.


"Mas" Bunga memanggil Ziel dengan lembut dan berjalan pelan nan menggoda mendekati Ziel yang justru mengalihkan pandangan nya kearah lain, enggan melihat Bunga yang berpenampilan menggoda itu.


Ziel menepis kasar tangan Bunga saat akan menyentuh lengan Ziel hingga membuat wanita itu mengaduh.


"Ingat batasan Kamu Bunga. Kita sudah bercerai!" Ucap Ziel pelan namun penuh penekanan.


Ziel sengaja berbicara pekan karena takut terdengar oleh para karyawan nya dan juga takut membangunkan Alina yang tengah tertidur di dalam ruangan Ziel.


"Kembali ke kamar Kamum Jangan turun ke bawah dengan pakaian seperti itu!" Titah Ziel namun hal itu justru membuat Bunga merasa Ziel ucapan Ziel itu sebagai tanda cemburu.


"Mas cemburu?"


Ziel tertawa kecil menanggapi ucapan Bunga yang tengah memasang senyuman manis nya kepada Ziel yang masih betah memandang kearah lain.


"Ngimpi. Saya cuma nggak mau karyawan Saya terganggu karena penampilan Kamu!" Ucap Ziel dengan menekan nada bicara.


Bunga menatap belakang tubuh Ziel dengan kesal karena sudah mengabaikan nya.


"Sombong. Apa impo***" Gumam Bunga yang sayang nya masih dapat terdengar oleh Ziel saat akan masuk ke kamar nya.


"Bukan sombong apalagi impo***. Alhamdulillah saya masih normal dan pasti nya hanya akan bisa bangun ketika bersama pasangan yang halal untuk Saya sentuh!" Ujar Ziel pelan kepada Bunga.


"Saya tidak sudi menyentuh bahkan membuahi buah yang sudah tumbuh dari bibit yang lain. Seminim nya pemahaman Kamu tentang agama yang kita anut, Saya rasa Kamu sudah tahu dengan maksud ucapan Saya!" Ziel langsung menutup pintu ruangan nya dan mengunci nya dari dalam mengabaikan keberadaan Bunga yang tengah menahan amarah nya dengan berteriak kecil di depan pintu kamar Ziel.


Ziel melangkahkan kaki nya menghampiri Alina yang tengah terlelap tidur, lalu merebahkan tubuh nya di samping tubuh Alina.


"Jangan menangis lagi sayang. Ada uncle yang akan menjaga Kamu!" Ziel mengusap pucuk kepala Alina dengan lembut membuat gadis kecil itu merasa terganggu dan menggerakkan tubuh nya tak nyaman.


"Tidurlah" Ziel memeluk tubuh mungil Alina.


"Bunda" Alina memanggil dengan lirih dan membalas pelukan Ziel untuk kembali terlelap dalam tidur nya.


"Selamat Malam sayang" Ziel mengecup pucuk kepala Alina sebelum menutup mata nya guna mengejar Alina dalam mimpi nya.


Pagi menjelang.


Ziel menggeliatkan tubuh nya saat terdengar suara adzan shubuh berkumandang dari kejauhan.


"Alia" Ziel bergegas bangun dan mendudukan tubuh nya. Helaan nafas pelan terdengar saat melihat Alina baru saja menyelesaikan murottal nya.


"Kapan bangun?" Ziel melangkah menghampiri Alina yang baru saja meletakkan kita suci nya di sebuah rak kecil yang menjadi tempat Ziel melaksanakan ibadah nya.


"Tadi Uncle" Alina mencium punggung tangan Ziel dengan takzim saat Ziel berada di dekat nya.


"Tunggu Uncle. Kita sholat shubuh berjamaah" Alina mengangguki ucapan Ziel. Ziel pun bergegas berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan dan menyucikan diri nya sebelum sholat bersama Alina.


Selepas melaksanakan sholat, Alina bergegas menuju pantry yang masih berada di dalam ruangan Ziel yang tersekat dengan kamar tidur Ziel, sementara Ziel melanjutkan kegiatan ibadah nya dengan mengaji.


Alina memang masih berusia 11 tahun, namun baik Bunda maupun kedua Eyang Uti nya sudah mengajarkan kepada gadis kecil itu untuk mandiri, bahkan terkadang Alina suka membuatkan sarapan tanpa di perintah oleh Bunda nya.


Jadi sudah bukan hal yang aneh saat Alina berada di dapur.


"Alia bisa masak?" Alina terjengkit terkejut saat mendengar suara Ziel terdengar di samping kanan nya.


"Uncle bikin kaget Alina saja!" Alina menepuk pelan lengan kiri Ziel dan hal itu membuat Ziel tersenyum kecil lalu mengusak rambut Alina dengan lembut.


"Yakin ini bisa di makan?" Ziel menggoda keponakan nya saat Alina akan memindahkan nasi goreng buatan nya ke piring yang sudah di siapkan Alina tadi.


"InsyaAllah Uncle. Coba cicip dulu" Alina mengambil sebuah sendok lalu mengambil nasi goreng buatan nya dan menyuapi Ziel.


"Wah hebat lho. Ternyata masakan Alia enak" Puji Ziel yang langsung mengambil kedua piring tag sudah berisikan nasi goreng buatan Alina.


"Kamu masih kecil sudah pintar memasak. Siapa yang ajari?. Bunda?"


"Bunda dan Eyang Uti selalu mengajarkan Alina untuk mandiri Uncle." Alina menjawab dan Ziel hanya mengangguki jawaban itu.


"Ini enak Alia. Uncle bangga sama Alia di usia segini, Alia sudah bisa mandiri bahkan bisa masak seperti ini"


"Aduh jadi malu Alin nya Uncle" Ziel tertawa lalu mengusak kembali rambut Alina yang balas cembikan kecil Alina.


"Kalau Alia bosan, Alia bisa keluar ruangan" Tegur Ziel saat melihat Alina terlihat gundah.


"Boleh Uncle?" Alina bertanya seraya mengedipkan bola mata nya.


"Boleh, tapi hanya boleh di sekitar ruko saja." Alina mengangguk menyetujui usulan Ziel.


"Kalau Alina ikut bantuin di bawah boleh juga?" Ziel mengangguk pelan membuat Alina tersenyum lalu memeluk tubuh Ziel dengan erat.


"Tapi jangan yang berat-berat ya. Alia cukup membantu mencatat paket yang akan di kirim saja." Alina kembali mengangguki ucapan Ziel.


"Ya sudah sekarang Uncle antar Alia ke bawah" Alina pun bergegas mengikuti Ziel yang akan keluar dari dalam ruangan.


"Pagi Mas. Aku udah siapin Mas Ziel sarapan"


Ucap Bunga saat Ziel baru saja membuka pintu ruangan nya. Ucapan Bunga sontak saja membuat kedua bola mata Ziel membola, karena tumben sekali Bunga menyiapkan sarapan buat Ziel.


"Saya sudah sarapan. Ayo Alia kita turun ke bawah!" Ziel pun menarik pelan tangan kanan Alina dan mengajak nya turun ke bawah mengabaikan Bunga yang kembali hanya bisa menatap kepergian Ziel dan Alina dengan tatapan kesal.