My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C37. Bertemu Zar



Ziel dan Alina saling menautkan jemari mereka, berusaha menguatkan satu sama lain, ketika mereka menemui Zar seusai Hakim memutuskan memberikan hukuman mati kepada Zar atas semua perbuatan yang sudah di lakukan nya.


Persidangan yang memakan waktu hampir setengah tahun itu membuat Alina pun memutuskan untuk menunda masuk kuliah dulu, beruntung pihak kampus tempat Alina mendapatkan beasiswa memasuki keadaan Alina yang tengah tertimpa musibah, sehingga beasiswa Alina tidak akan di cabut.


Dan kini Zar meminta kepada pihak pengadilan agar bisa bertemu dengan Ziel dan Alina sebelum Zar dimasukkan kembali kedalam jeruji besi menunggu eksekusi hukuman mati yang akan di jalani nya entah kapan itu.


Dua orang petugas jaga rutin berdiri tidak jauh dari tempat Ziel, Alina dan Zar duduk. Alina dan Ziel duduk berdampingan berhadapan dengan Zar yang memasang wajah tidak ada penyesalan dengan hukuman yang sudah diterima nya.


"Apa kabar kalian?" Zar bertanya dengan angkuh, menatap sinis anak kandung dan adik angkat nya yang kini menjadi menantu nya. Seulas senyuman smirk menghiasi wajah Zar kala melihat Alina terus menundukkan kepala nya enggan menatap nya. Hanya Ziel yang menatap Zar dengan tatapan penuh amarah.


"Tanpa Anda lihat, Anda sudah tahu sendiri bagaimana kabar Kami bukan?" Zar tertawa kecil menanggapi ucapan sinis Ziel. "Bukan begitu jawaban yang seharus nya Kamu berikan kepada Ayah mertua Kamu, MENANTU!" Kali ini tawa Ziel terdengar sinis menanggapi Zar.


"Baiklah AYAH MERTUA. Kabar Kami Alhamdulillah baik-baik saja. Seperti yang AYAH MERTUA lihat, Kami bahagia, bahkan sangat bahagia karena sudah mendapatkan keadilan untuk keluarga Kami!" Ucapan pedas Ziel membuat senyuman mengejek Zar pun sirna.


"Tak usah membuang waktu Anda yang sangat berharga AYAH MERTUA, langsung saja, ada hal apa yang ingin AYAH MERTUA sampaikan kepada Kami?" Zar berdecak kesal lalu melihat kearah Alina yang masih menundukkan kepala nya. Sejak masuk kedalam ruangan Alina tak sekali pun melihat kearah. Jangan kan melihat melirik pun setelah sempat bersitatap saat pintu ruangan tidak dilakukan oleh wanita muda tersebut.


"Apa ini hasil didikan dari seorang suami yang selalu di katakan sebagai anak sholeh oleh kedua orang tua angkat nya, sehingga seorang anak tidak mau menyapa ataupun melihat kepada Ayah nya sendiri?" Alina meremas jemari Ziel yang masih setia menautkan jemari mereka di bawah meja.


"Langsung saja apa yang ingin Abang sampaikan kepada Kami berdua?" Ziel yang membalas ucapan Zar yang masih menatap tajam kearah Alina.


"Aku hanya ingin melihat wajah putri kesayangan Aku saja. Hanya sekedar memastikan, apakah ada wajah Firman diwajah nya yang tertutup cadar itu!" Ucapan sarkas Zar membuat Alina mengangkat kepala nya lalu menatap wajah Zar dengan tajam.


"Apa maksud ucapan Ayah?" Zar tertawa kecil mendengar suara Alina. "Akhirnya bicara juga Kamu. Saya pikir Kamu bisu!" Ziel yang kesal sempat akan berdiri untuk memberi Zar pelajaran, namun Alina menahan nya, hingga Zi hanya bisa menghela nafas pelan menahan amarah nya kepada Zar.


"Baiklah langsung saja. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui, terutama Kamu Alina!"


"Kalian ingin tau kan kenapa Aku melenyapkan seluruh anggota keluarga Kamu, bahkan seharusnya Kamu pun mengalami hal yang sama dengan mereka semua nya!" Ziel menggebrak meja seraya berteriak kepada Zar "Berengsek, Lo Bang!"


"Hahahaha sabar Ziel. Ini belum seberapa, baru hanya pembukaan nya saja, Lo udah marah kaya gitu!" Ucap Zar tenang.


"Sabar Ziel. Lo nggak tau kan kalau sebenar nya Gu juga cuma anak angkat Ayah dan Ibu?" Alina dan Ziel saling melempar pandangan tak percaya lalu melihat kearah Zar. "Yap. Bukan cuma Lo doang yang anak angkat mereka. Gue juga anak angkat mereka" Tutur Ziel santai.


"Kalian mau tau alasan Gue menghabisi mereka tanpa sisa satu juga kan?" Zar tersenyum meledek kearah Ziel lalu menatap tajam kearah Alina.


"Semua gara-gara anak Si Alan ini!. Apa yang seharus nya jadi milik bini Gue semua nya dialihkan ke anak Si Alan ini!" Zar menatap tajam Alina yang mulai menangis pelan. Ziel pun langsung memeluk Alina dari samping.


"Dasar orang tua gila, nggak punya otak. Yang ada di otak Lo cuma harta doang. Sampe Lo tega ngebunuh orangtua Kami!" Bentak Ziel. Tawa Zar pecah melihat amarah Ziel.


"Lo pikir dengan Lo ngebunuh mereka semua, Lo bisa dapat apa yang Lo mau?. Lo salah Bang!" Ucap Ziel.


"Kalau aja mantan istri bego Lo berhasil ngabisin Lo pas kecelakaan semua nya bakal jadi milik Gue. Milik Gue!" Ucap Zar tak kalah kesal.


"Apa maksud Lo?" Zar tertawa kecil mendengar pertanyaan Ziel. Zar sedikit menyodorkan tubuh nya kedepan. "Bunga juga ikut andil dalam masalah ini. Bahkan Lo nggak tau kan kalau Dia pernah hamil, dan itu anak Gue!" Ziel melepaskan pelukan nya kepada Alina, merangsek maju hendak menghampiri Zar, namun kembali langkah nya terhenti saat Alina menahan tubuh Ziel dengan memeluk Ziel dari belakang.


Kedua petugas yang menjaga Zar pun maju menahan Zar yang juga berdiri menantang Ziel.


"Dasar manusia laknat kalian!. Kalian memang pasangan yang serasi sama-sama Iblis!" Bentak Ziel. "Gu pastiin Lo bakalan segera menjalani hukuman mati tanpa harus lama menunggu masa potongan tahanan Lo. Inget itu. Lo juga Bunga harus menerima hukuman karena udah menghabisi orang orang yang Kami Sayangi. Dan Gue harap sebelum Kalian menghadapi hukum Kalian, Allah akan lebih dulu memberikan kalian balasan yang setimpal atas perbuatan Kalian. Da. Gue pastiin kalau Bunga juga akan menyusul Lo!" Bentak Ziel lalu berjalan menggandeng tangan Alina keluar dari ruangan.


Ziel dan Alina pun bergegas menuju kantor polisi untuk melaporkan kalau Bunga pun ikut terlibat atas kasus yang menimpa Zar. Dengan barang bukti rekaman yang sengaja Ziel rekam saat bertemu Zar tadi, dalam jangka waktu singkat pihak kepolisian langsung mengeluarkan surat penangkapan Bunga.


Hanya dalam hitungan beberapa jam Bunga sudah berhasil ditangkap, namun Bunga mengelak semua tuduhan yang di tuduhkan Ziel, bahkan wanita itu mengaku kalau Ziel sengaja memfitnah nya agar tidak memberikan harta gono gini perceraian mereka setahun yang silam.


Pihak kepolisian tidak menyerah dan mulai mengumpulkan bukti hubungan Bunga dan Zar sesuai dengan pernyataan Zar yang berhasil di rekam oleh Ziel.


Hanya dalam waktu seminggu, Bunga pun akhirnya di tetapkan sebagai tersangka turut serta membantu Zar dalam mencelakai keluarga Alina, dan juga menyembunyikan keberadaan Zar selama hampir tujuh tahun, serta terlibat dalam kecelakaan Ziel serta teror terhadap Alina.