
"Nggak usah di lihat!" Ziel menarik wajah Alina agar tidak melihat apa yang Bunga pamerkan itu.
"Menjijikkan!" Bukan nya malu dengan ucapan Ziel, Bunga justru tertawa kecil hingga membuat Alina pun terpaksa menegur dan mengingatkan Bunga.
"Maaf Mbak. Tak baik kalau Mbak memamerkan tubuh Mbak kepada pria yang bukan mahram nya" Teguran Alina dibalas Bunga dengan decakan kesal.
"Sesuatu yang indah itu layak untuk di pamerkan" Alina menggelengkan kepala nya tak percaya dengan lantang nya Bunga berucap hal memalukan seperti itu.
"Astaghfirullahalazim Mbak. Memamerkan aurat itu bukan lah harus menjadi kebanggaan. Naudzubillah Min Dzalik" Bunga memutar malas kedua bola mata nya dan langsung membalas ucapan Alina "Bilang aja Kamu syirik, atau mungkin Kamu cemburu karena pria yang berada di samping Kamu itu diam-diam mencuri pandangan kepada Aku"
"Jaga ucapan Kamu Bunga!. Sedikit pun Saya tidak tertarik dengan apa pun yang berhubungan dengan Kamu dari dulu, sekarang dan juga nanti!"
Ziel pun membentak Bunga dan hal itu membuat Alina pun memanggil Ziel "Mas" Panggilan Alina kepada Ziel membuat kedua bola mata Bunga menatap tajam kepada Alina.
"Mas?" Cicit Bunga pelan, seringai kecil tampak di wajah nya saat melihat Alina tengah mengusapi lengan Ziel yang sedang menahan emosi menanggapi ucapan, sikap terlebih penampilan Alina yang terlalu vulgar bagi Ziel dan juga Alina.
"Seperti nya Aku melewatkan banyak hal di sini" Kekeh Bunga menatap sinis Alina.
"Bukan urusan Kamu!" Sentak Ziel yang masih tak mengalihkan pandangannya dari Alina.
"Mas" Lagi-lagi Alina mengingatkan Ziel agar meredam emosi nya membuat Ziel akhir nya kembali beristighfar dalam hati nya berulang kali.
"Sudah pedo*** inc*** pula. Yang seharus nya Menjijikkan itu adalah hubungan Kalian, bukan penampilan Saya"
"Tutup mulut Kamu, dasar ja_"
"Mas Ziel" Alina terpaksa meninggikan panggilan nya kepada Ziel, karena Ziel yang semakin terpancing amarah nya oleh Bunga.
"Sayang" Ziel menatap Alina dengan tatapan lembut namun juga tegas kala memanggil Alina, menandakan pria itu ingin mengutarakan kekesalan nya terhadap Bunga dan berjanji akan mencoba menahan emosi menghadapi Bunga.
"Hubungan saya dan Alina tidak ada urusan nya dengan Anda, Nona Bunga. Baik nya Anda introspeksi diri Anda sendiri yang sudah hamil saat akad dengan pria yang seharus nya tak menanggung perbuatan Anda tersebut!" Ziel berucap dengan nada datar dan masih tak sudi menatap Bunga sebagai lawan bicara nya, karena sungguh penampilan Bunga saat ini memang tak layak untuk di lihat bagi Ziel yang sejak dulu selalu menjaga pandangannya dari hal-hal yang berbau zina.
"Kamu_"
"Ya. Jangan sampai Saya mengungkapkan kebenaran kepada kedua orang tua Anda dan khalayak tentang aib Anda sebelum Saya menikahi Anda, Nona Bunga" Ancam Ziel.
"Dengar ini ancaman sekaligus peringatan untuk Anda. Sedikit saja Anda mengganggu Kami, maka tak hanya aib Anda dulu yang akan Saya bongkar, tapi juga aib yang saat ini sedang Anda lakukan terhadap kakak ipar Anda" Senyum licik Ziel pun tersirat dari wajah tampan nya.
"Naudzubillah Min Dzalik" Alina menggumam tak percaya menatap kepada Bunga. Tak ada protes dan sanggahan dari Bunga membuat Alina pun menggelengkan kepala nya dan menatap Bunga dengan tatapan yang entah lah.
"Jadi lebih baik sekarang Anda keluar dan jangan pernah lagi Anda menampakkan batang hidung Anda di hadapan Kami dan orang-orang terdekat Kami, Atau Saya tidak akan segan-segan membeberkan aib Anda lengkap dengan bukti bukti nya!"
Bunga pun segera beranjak dari duduk nya dan tanpa permisi keluar dari ruangan Ziel, hingga membuat Ziel dan Alina pun akhir nya bisa bernafas dengan lega.
"Aneh" Gumam Ziel kesal. Alina pun langsung menepuk pelan lengan Ziel guna mengingatkan pria itu agar tidak menggerutu. "Iya sayang. Nggak lagi ngedumel nya" Ucap Ziel.
"Nah gitu dong. Nggak baik ngedumel Mas. Nanti malah cepet tua lho" Ziel berdecak pura-pura kesal karena ucapan Alina, apalagi Alina langsung tertawa kecil saat mengucapkan kata tua dengan melihat kearah nya.
"Nggak usah Kamu bilang juga, Mas tau kalau Mas udah tua" Ucap Ziel berpura-pura merajuk membuat Alina pun akhirnya melepaskan tawa nya.
Ziel yang gemas pun tanpa permisi langsung mengec*** bibir Alina hingga tawa Alina pun langsung terhenti bertepatan dengan pintu ruangan uang terbuka dan terdengar pekikan "Astaghfirullahalazim!" dari si pembuka pintu.
Ziel menatap malas pria yang sedang duduk seraya menampilkan senyuman usil, sementara Alina lebih memilih berada di dalam ruang istirahat Ziel dan membiarkan Ziel yang menjelaskan status hubungan mereka saat ini kepada Ipul sahabat Ziel yang tadi sempat melihat Ziel mencuri kecu*** dari nya.
"Ehm. Masih bingung Gue sama status kalian sekarang" Ziel kembali memutar malas bola mata nya menanggapi pernyataan Ipul.
"Lo nggak ngerasa aneh gitu Ziel?." Pertanyaan ambigu Ipul membuat Ziel menautkan kedua alis nya kepada Ipul.
"Maksud Gue. Alin kan udah dari kecil, ABG, remaja terus sekarang menjelang dewasa tuh lengket banget sama Elo sebagai keponakan. Nah terus tiba-tiba ada kejadian yang bikin Kalian nggak sedarah dan akhir nya kalian memutuskan untuk menikah, itu rasa nya gimana Ziel. Deg deg an atau biasa aja. Secara kan emang dari dulu dulu banget kalian tuh akrab"
"Kepo!" Jawaban Ziel atas penasaran Ipul hanya di balas Ziel dengan satu kata dan hal itu membuat Ipul mendengus kesal mendengar jawaban bos dan juga sahabat nya itu.
"Ya elah Ziel. Kasih tau dikit ngapa. Sumpah Gue penasaran sama hubungan Kalian. Kaya dulu tetep mesra apa jadi canggung?" Ziel masih saja memasang wajah datar nya menghadapi rentetan ucapan Ipul yang penasaran.
"Menurut Lo?" Ipul menepuk kening nya dengan kesal lalu menatap Ziel dengan tajam walaupun tak setajam silet, karena kalau setajam silet yang ada nanti tatapan mereka malah jadi adu silet yang ujung ujung nya bakal ada penghargaan. ( Eish kenapa jadi ngelantur kaya gini ya hehehe)
Skip
Balik lagi ke Ipul yang masih penasaran tentang hubungan Ziel dan Alina.
"Ayo lah Ziel spill dikit aja gimana perasaan Lo ke Alin sekarang?. Ada yang spesial kah?"