My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C18. Bukan Hubungan Terlarang



Alina meremas kedua telapak tangan nya ketika berada di dalam kamar nya setelah kepulangan nya dari pondok pesantren milik Abi Dhika.


Gadis itu mengambil napas dan kemudian menghembuskan nya kembali dengan cepat secepat degub jantung nya yang berbunyi kala pintu kamar nya terbuka dan menampakkan Ziel di sana.


"Kenapa belum tidur?" Ziel bertanya sambil melangkahkan kaki nya mendekati Alina yang semakin gugup.


"Belum mengantuk?" Alina mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Ziel.


Ziel mendudukan tubuh nya di samping Alina. Tangan kanan nya terulur guna mengusap lembut pucuk kepala Alina yang masih berbalut hijab nya.


"Tidurlah. Uncle akan tidur di kamar Uncle" Ucapan Ziel sontak membuat Alina menatap Ziel.


Seulas senyuman dan anggukan di berikan Ziel guna menjawab pertanyaan Alina yang terucap dari sorot mata heran nya.


"Uncle tidak_"


Alina menggantungkan ucapan nya rasa malu membuat gadis itu tak melanjutkan ucapan nya kepada Ziel.


"Tidak untuk saat ini. Saat ini Uncle hanya ingin Alia bisa menerima hubungan baru kita, hingga saat nya Alia siap memulai nya" Ucap Ziel menjawab keraguan Alina sejak kata Sah terucap dari para saksi.


"Setidak nya dengan hubungan baru Kita ini, Uncle bisa melindungi Alia tanpa batas" Ujar Ziel yang kembali mengusap lembut pucuk kepala Alina.


"Uncle tinggal dulu ya" Tak ada jawaban dari Alina. Gadis itu masih terdiam saat Ziel beranjak dari duduk nya.


Grep


Ziel batal melangkah ketika Alina menyarangkan kedua lengan nya melingkari pinggang Ziel dari belakang.


Ziel terdiam terpaku saat kepala Alina bersandar di punggung bagian bawah nya.


"Terima kasih Uncle" Cicit Alina pelan. Ziel mengusap lembut punggung tangan Alina yang masih melingkari pinggang nya.


"Seharus nya Uncle yang mengucapkan terima kasih kepada Alia" Ziel melerai pelukan Alina dan membalikkan tubuh nya lalu kembali menjongkokkan tubuh nya di hadapan Alina tanpa melepaskan genggaman tangan Alina.


Alina menundukkan kepala nya karena malu dan tak berani menatap Ziel yang tengah berjongkok di hadapan Alina.


"Terima kasih sudah mau menerima pria dewasa ini dengan segala kekurangan nya." Ucap Ziel lembut.


"Izinkan Uncle untuk menjaga Alia hingga kelak Alia menemukan Imam sejati untuk Alia" Dada Alina terasa sesak kala Ziel berucap.


Gadis itu mengangkat wajah nya guna menatap Ziel yang tengah menatap nya sendu.


"Apa kelak Uncle akan melepaskan Alia?"


Ziel terdiam tak menjawab pertanyaan Alina, karena dada nya pun terasa sesak kala dia berucap tadi.


"Apa alasan itu yang membuat Uncle mengikat Alina secara agama?"


Ziel masih terdiam, sejujur nya Dia sangat tidak rela jikalau kelak harus melepakan Alina untuk pria lain.


"Atau mungkin kelak Uncle lah yang akan melepaskan Alina karena mempunyai tambatan hati yang sesuai kriteria Uncle?"


Ziel mengelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Alina.


"Kalau begitu jangan pernah melepaskan Alina" Ziel menatap lembut Alina, seulas senyuman diberikan kepada pria yang usia lebih dewasa 13 tahun di bandingkan Alina itu.


Grep


Ziel langsung memeluk tubuh Alina dengan erat dan menghadiahkan sebuah kecupan yang selalu di berikan kepada Alina saat Ziel mengucapkan terima kasih ketika hubungan mereka masih menjadi Paman dan kemenakan.


"Love You Ya Zaujati" Wajah Alina sontak langsung memerah ketika Zeil berbisik.


"Uncle" Alina merengek membuat Ziel tertawa kecil dan mengusap lembut pucuk kepala Alina.


"Istirahat lah. Uncle mau keruang kerja dulu" Alina mengangguk pelan, Ziel pun segera beranjak dari posisi nya lalu berjalan meninggalkan kamar Alina.


Alina merebahkan tubuh nya di ranjang nya. Seulas senyuman terbit di wajah cantik nya kala mengingat kembali panggilan Ziel untuk nya tadi.


Ceklek


Jam sudah menunjukkan angka dua belas malam ketika Ziel membuka pintu kamar Alina, perlahan di langkah kan nya kaki panjang nya itu menghampiri Alina yang tampak sudah terlelap dalam tidur nya.


Ziel bergumam dalam hati nya menyerukan masih bisa mengistirahatkan tubuh nya selama tiga jam kedepan.


Pelan-pelan di buka nya selimut yang tengah menutupi Alina dan kemudian merebahkan tubuh nya di samping Alina.


"Uncle merindukanmu" Bisik Ziel yang kemudian memeluk tubuh Alina hingga gadis itu terganggu tidur nya.


"Uncle" Panggilan Alina dengan mata masih terpejam karena kantuk nya.


"Hem. Tidurlah, Uncle akan menemani Alia" Bisik Ziel mengusapi lembut punggung Alina. Hal itu selalu Ziel lakukan saat gadis itu terbangun sesaat dari tidur nya.


Alina tak menjawab hanya saja gadis itu menelusupkan wajah nya ke dada Ziel, hal yang biasa Alina lakukan sejak tinggal bersama Ziel selepas kepergian seluruh anggota keluarga nya menghadap Illahi.


Namun hal biasa yang Alina lakukan itu kini menjadi hal yang luar biasa bagi Ziel. Karena pria dewasa itu kini hanya bisa menghela nafas pelan saat menyadari ada yang tengah meronta di bagian bawah tubuh nya dan membuat Ziel merapalkan banyak Istrighfar sebelum mata nya ikut terpejam.


Alia menggeliatkan tubuh nya, saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Sudah terbiasa bangun di sepertiga malam, membuat Alina tak membutuhkan alarm untuk bangun.


Alina terkejut kala kedua kelopak mata nya terbuka saat mendapati tubuh nya tengah berada dalam pelukan Adzriel. Nyaris saja gadis itu mendorong tubuh Ziel sebelum mengingat hubungan mereka kini bukan lah hubungan terlarang.


Alina mendongakkan kepala nya guna menatap wajah Ziel yang tengah terlelap memeluk nya. Dulu sebelum dia mengetahui fakta kalau tak ada hubungan darah di antara mereka, Alina pasti akan langsung mencapit hidung Ziel guna membangunkan Ziel dari tidur nya.


Namun kini gadis itu enggan melakukan hal tersebut dan justru kini tengah memandang wajah yang selama enam tahun selalu menjadi pelindung nya, menjadi penjaga menggantikan kedua orang tua nya.


Alina memegang dada nya merasakan deguban yang kini berdetak dengan kencang kala memandang wajah yang sejak enam tahun lalu menjadi penyemangat nya, tempat berlindung nya dan tempat nya mencurahkan segala keluh kesah nya.


Wajah nya merona dan menutup mata nya sesaat.


Deg


Detak itu semakin kencang berirama bertabuh, ketika kedua mata nya terbuka mendapati Ziel yang sudah terbangun dan tengah menatap nya dengan sorot mata yang teduh, membuat Alina pun menundukkan kepala nya.


Ziel pun tersenyum kecil. Menarik pelan dagu Alina dengan tangan kanan kanan nya untuk kemudian diarahkan nya kembali menatap nya.


"Assalamu'alaikum Ya Zaujati" Bisik Ziel menyapa Alina. Wajah Alina pun kembali merona mendengar sapaan Ziel.


"Waalaikumsalam Hubby" Dengan malu-malu Alina menjawab sapaan Ziel dan kali ini wajah Ziel lah yang merona mendengar sapaan baru untuk nya.