
Setelah Alina memgangguk pelan Erin pun langsung menghubungi orang yang di maksud nya.
"Abang. Cepetan ke ruko ekspedisi *** yang ada di ruko **** yang di jalan ****"
"Sekarang Abang. Nggak usah ajak yang lain. Cukup Abang aja"
"Nggak mau. Sekarang juga!"
Erin langsung menutup panggilan nya dan menghela nafas dengan kesal oleh lawan bicara nya.
Ziel berdecak kesal saat melihat dan mendengar Erin yang berbicara saat bertelepon tadi.
"Bicara yang sopan kalau dengan orang yang lebih tua!" Ucapan Ziel membuat Erin meringis pelan. Pria yang wajah mirip sekali dengan Abang nya itu ternyata mempunyai sifat yang berbanding terbalik dengan Abang nya yang sangat sabar dan lembut. Bahkan saking lembut nya pria itu tidak pernah memarahi nya walaupun Dia melakukan kesalahan.
Selama hampir setengah jam menunggu, hanya Alina dan Erin saja yang terlibat percakapan layak nya remaja pada umum nya karena ternyata usia mereka sebaya.
Hingga perbincangan mereka pun terhenti ketika Ipul tiba-tiba langsung membuka pintu ruang kerja Ziel dengan wajah kebingungan.
"MasyaAllah, beneran mirip!" Gumam Ipul saat membuka lebar pintu ruangan Ziel dan menampakkan pria yang Erin bilang tadi sangat mirip dengan nya.
Tak hanya Alina dan Ziel yang terkejut melihat pria yang kini sudah berdiri tak jauh dari mereka, pria itu pun tampak terkejut lalu melihat kepada Erin dan anggukan Erin membuat pria yang di duga Arlan itu pun bergumam "Ya Tuhan. Kenapa wajah kita mirip?" Pertanyaan Arlan pun diangguki oleh Ipul dan Erin.
Ziel refleks berdiri kala Arlan berjalan menghampiri nya, dan kini kedua nya berdiri saling berhadapan. Kedua saling menatap seolah tengah menatap bayangan dalam cermin.
"MasyaAllah / Ya Tuhan" Gumam kedua nya bersamaan yang sontak menyadarkan mereka akan ada nya perbedaan bagi kedua nya selain warna kulit mereka.
"Astaga. It's just like look me in the mirror Rin!" Ucap Arlan yang di angguki Erin.
"But he's had tin skin" Kali ini Arlan mengangguk menyerahkan ucapan Erin, namun itu justru membuat Ziel berdecak kesal.
"Sori, sori. Bukan nya bermaksud membandingkan hanya saja. Ya, you know what i mean" Ziel memutar malas kedua bola mata menanggapi ucapan Arlan.
"Oh My good. Ternyata benar nya kalau di dunia ini Kita memiliki kembaran dari orang tua yang berbeda. Ini sangat mengejutkan!" Ucap Arlan tak percaya.
"Look Erin. We're like twin, isn't right?" Arlan merangkul bahu Ziel lalu meminta pendapat sang adik yang mengangguk menyetujui ucapan Arlan.
"Bisa kah Kita berfoto bersama?" Pinta Arlan yang entah mengapa disetujui oleh Ziel, padahal selama ini pria itu paling anti kalau diminta ber foto, bahkan foto profil di aplikasi hijau pun hanya menampilkan nama usaha ekspedisi nya.
Erin mengambil beberapa foto untuk di simpan di galeri HP nya.
"Saya Adzriel Izzam dan ini istri Saya Alina Azalia" Alina mengatup kedua telapak tangan nya kepada Arlan dan mengucapkan salam kepada Arlan "Assalamu'alaikum". Arlan pun tampak gugup menjawab salam Alina karena takut salah membalas salam Alina " Waalaikumsalam"
"Ya ampun. Kalian berdua udah kaya pinang di belah dua" Ucap Ipul yang di balas kekehan Erin dan Arlan yang duduk berdampingan berhadapan dengan Alina dan Ziel.
"Astaghfirullahalazim. Gue lupa komplenan cutomer gara-gara liat Pak Arlan yang mirip banget sama Lo Ziel. Bisa di bombardir ocehan Gue sama Si Erin Xiper!" Ucap Ipul lalu beranjak pergi keluar ruangan Ziel setelah pamit kepada semua yang berada di dalam ruangan Ziel.
Setelah berbincang selama hampir sejam membahas masalah pekerjaan masing-masing, Arlan dan Erin pun pamit, Ziel dan Arlan berjanji akan bertemu di lain waktu kalau mereka ada kesempatan.
Ziel kembali melanjutkan pekerjaan nya dengan di temani oleh Alina di ruangan, hingga menjelang maghrib mereka memutuskan untuk kembali kerumah.
Setelah melaksanakan sholat isya berjamah bersama Ziel, Alina pun memutuskan untuk beristirahat dengan ditemani Ziel yang sudah merebahkan diri diatas ranjang.
"Mas" Alina memanggil Ziel dengan lembut. Ziel mengulurkan tangan kanan untuk menjadi bantal kepala Alina. Hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua setelah mereka sah menikah secara agama. Dan beberapa hari lagi status pernikahan mereka akan sah secara hukum dan negara karena Ziel sudah mengajukan dispensasi pernikahan untuk Alina karena usia Alina masih di bawah 20 tahun.
"Kok Aku penasaran dengan keluarga nya Pak Arlan ya Mas" Kedua mata Ziel memicing tajam kepada Alina menandakan kalau saat ini pria itu tengah cemburu. Alina tersenyum kecil lalu mengusap lembut wajah Ziel "Cemburuan" Alina berucap pelan dan mengusap lembut rahang Ziel.
"Maksud Alin, Mas nggak curiga kalau Pak Arlan itu saudara kembar Mas gitu?. Wajah kalian mirip banget lho, Mas" Ziel tampak memikirkan ucapan Alina dan hanya bisa terdiam seraya berpikir ada kemungkinan apa yang di ucapkan Alina dan apa yang tengah di pikirkan nya itu benar adanya.
Namun mengingat Ziel hanya mengetahui kalau diri nya adalah anak angkat Ayah dan Ibu nya dari orang misterius yang mengaku sebagai Abang nya, membuat Ziel masih meragukan apa yang menjadi kecurigaan karena Ziel sendiri belum mengetahui bagaimana Ayah dan Ibu bisa mengadopsi nya. Karena Ayah dan Ibu memiliki akta kelahiran Ziel dengan wali sah secara hukum dan negara kedua orang tua nya yaitu Ayah dan Ibu.
Ziel menghela nafas pelan lalu memeluk tubuh Alina dengan erat. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan saat melihat Arlan tadi, dan kini hati nya seolah berkata untuk menyelidiki rahasia nya selama ini, namun bagaimana cara nya, itulah yang kini tengah Ziel pikirkan saat ini.
Tak hanya Ziel yang tengah berpikir mengenai rahasia jati diri, masih di kota yang sama hanya beda wilayah, Arlan pun tengah memikirkan hal yang sama dengan Ziel.
Grep
Arlan tersentak kala dua buah lengan melingkar di pinggang nya. "Abang kenapa?" Tanya lembut sang pemilik lengan yang putih nan mulus.
"Abang sedang bingung, Sayang" Jawab Arlan mengusap lembut lengan yang masih bertengger di pinggang nya tersebut.
"Erin tadi bilang ke Aku kalau tadi Dia dan Abang bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan Abang?" Arlan memgangguki ucapan wanita yang merupakan istri nya itu.
"Wajah kami mirip, hanya warna kulit Kami saja yang berbeda" Ucap Arlan seraya menyunggingkan senyuman kala mengingat Ziel yang sangat mirip dengan nya dan cemberut saat Erin mengatakan kalau Ziel memiliki kulit yang lebih coklat dibandingkan nya.
"Lalu apa yang akan Abang lakukan selanjutnya?"