My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C24. Canggung



"Mas" Alina menegur Ziel karena ucapan Ziel yang sangat merendahkan diri nya sendiri, dan Alina tidak suka itu, Alina tak suka kalau Ziel merasa rendah diri seperti itu.


"Mas nggak boleh ngerasa insecure kaya gitu, Alin nggak suka!" Ziel kembali mengenggam telapak tangan kanan Alina dengan erat. "Maaf sayang" Ucap Ziel pelan.


"Udah kok jadi melow kaya gini sih. Nggak pantes tau kalau Mas Ziel kaya gini!" Alina lalu mengangkat tangan kanan nya yang saling bertautan dengan Ziel lalu mengusap kan punggung tangan kiri Ziel ke pipi nya.


"Alin sayang sama Mas sejak dulu, semakin sayang sama Mas sejak keluarga kita meninggalkan kita berdua saja. Lalu rasa sayang itu berubah menjadi cinta saat Mas mengakadkan Alin" Wajah Ziel langsung berubah merona mendengar pernyataan Alina, pun hal nya dengan Alina yang kini tertunduk malu kala mengakui perasaan kepada Ziel.


"MasyaAllah, ternyata begini ya rasa nya di tembak pernyataan cinta oleh seorang wanita, tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata namun rasa nya terbang melayang hingga langit ketujuh. MasyaAllah Sayang, Ana uhibbuka fillah, Ya Zaujati" Ziel mengecup kening Alina dengan lembut.


"Ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu, Hubby" Alina membalas ucapan Ziel dengan wajah yang merona.


"Kita lanjutkan perjalanan yang sayang, sudah agak siang. Mas takut nanti semakin banyak orang yang registrasi ulang" Alina mengangguki ucapan Ziel. Ziel pun kembali melajukan mobil nya menyusuri jalan yang sudah mulai terlihat ramai.


Ziel mengenakan masker dan juga kaca mata hitam saat menemani Alina registrasi, untung nya hanya ada beberapa calon mahasiswa saja yang tengah mengantri untuk registrasi, jadi mereka berdua pun tak lama di kampus yang akan menjadi tempat Alina menuntut ilmu beberapa tahun kedepan.


Penampilan Alina yang sudah tertutup tak juga membuatnya jauh dari perhatian orang orang disekitar nya terutama lawan jenis yang sesekali melihat kearah Alina karena dari sorot mata Alina saja sudah menampakkan bahwa ada wajah cantik yang tertutup dalam niqab nya.


Alina tersenyum dari balik niqab nya saat menyadari kalau Ziel tak pernah melepaskan genggaman tangan kanan nya kepada Alina, seolah mengatakan kalau wanita yang tengah mereka pandangi itu sudah ada pemilik nya.


"Alin"


Sebuah panggilan membuat Alina dan Ziel pun terkejut, namun keterkejutan itu berubah saat melihat siapa yang memanggil Alina.


"Ara" Alina membalas memanggil. Setelah Ziel melepaskan gengaman tangan nya kepada Alina, gadis nya itu pun menyambut pelukan hangat sang sahabat yang sudah beberapa waktu ini tak pernah di temui nya. Hanya beberapa kali mereka bertukar kabar melalui panggilan video call aplikasi hijau.


"MasyaAllah. Kangen" Rengek Ara dan Alina bersamaan seraya saling melerai pelukan mereka, tawa kecil kedua sahabat itu pun terdengar saat kedua menyadari ucapan mereka yang bersamaan.


"Eh ada Pak Ziel juga. Assalamualaikum Pak" Ara menangkup kedua telapak tangan nya menyapa Ziel, Ziel pun menganggu dan menangkup kedua telapak tangan nya seraya membalas salam Ara, "Waalaikumsalam, Ara"


"Sama siapa kemari?" Alina mengajak Ara untuk duduk di sebelah kiri nya sementara Ziel tetap duduk di sebelah kanan Alina.


"Sama Abang. Tuh" Ara menjawab seraya mengarahkan dagunya kearah seorang pria yang tengah berjalan menghampiri mereka.


"Pantesan aja Abang ditinggal, ternyata mau ketemuan sama soulmate nya toh?" Gerutu pria muda kembaran Ara sambil melirik kearah Ziel yang terlihat biasa saja "Assalamu'alaikum Alina, Pak Ziel" Pria muda itu pun mengucapkan salam kepada Alina dan Ziel. Yang langsung di balas oleh Alina dan Ziel bersamaan, "Waalaikumsalam Kak Ikmal / Waalaikumsalam".


Ara tampak kikuk saat kakak kembar nya mengatakan kata Soulmate namun melirik kearah Ziel, seolah mengetahui isi hati nya.


Ya Ara memang menyimpan perasaan terhadap Ziel, gadis itu mulai merasa tertarik kepada Ziel saat terakhir kali nya Ziel datang ke rumah nya untuk menemui keluarga nya bersama dengan Alina, sehingga Alina pun tidak mengetahui kalau Ara menyimpan rasa terhadap Ziel yang masih Ara anggap sebagai Paman Alina karena Abi Dhika dan Umi Eil belum mengatakan kepada orang lain termasuk anak anak nya kalau Alina dan Ziel tidak sedarah dan mereka sudah menikah secara agama atas permintaan Ziel dan juga Alina.


"Alin apa kabar?" Ikmal mengajukan pertanyaan yang entah mengapa Ikmal merasa Ziel tengah melihat nya dengan sorot mata yang tajam saat bersitatap dengan Ziel.


"Alhamdulillah baik Kak" Alina menjawab pertanyaan Ikmal.


Ziel tampak menghela nafas pelan saat HP nya yang sengaja di silent itu bergetar menandakan ada panggilan masuk. Tampak nama Ipul di layar HP nya membuat Ziel harus menerima panggilan dari Ipul.


Pria itu pun pamit kepada Alina sesaat untuk menerima panggilan dari Ipul "Sayang, Mas terima panggilan dulu dari Ipul ya. Nanti Mas balik lagi" Alina mengangguki pelan ucapan Ziel, dengan sengaja Ziel mengecup pucuk kepala Alina dan hal itu membuat Ikmal juga Ara semakin terkejut setelah mendengar kata Mas yang Ziel tujukan kepada nya sendiri untuk Alina.


Ziel hanya mengangguk pelan kepada Ikmal dan Ara untuk pamit menerima panggilan telepon dari Ipul.


Ziel berjalan keluar dari gedung kearah sebuah lorong yang tampak sepi dibandingkan lorong lain nya.


Ziel tampak serius menerima panggilan dari Ipul, seperti nya ada hal yang terjadi di ruko hingga membuat wajah Ziel terlihat gusar.


"Lo atur aja gimana baik nya Pul. Yang pasti kita udah punya bukti foto kalau tuh paket udah di terima sama salah seorang keluarga penerima!"


"Iya. Gue tau anak-anak nggak bakal berani kaya gitu. Ya udah kelar urusan Alia, gue ke ruko".


"Iye, bawel Lo. Biasa nya juga Lo paling demen kalau dapat komplenan langsung dari customer perempuan!"


"Somplak. Benerin kelakuan Lo, kalau mau dapat istri modelan istri Gue!" Tawa Ziel pun langsung pecah kala mendengar dengusan kesal dari Ipul di seberang panggilan lalu menutup panggilan telepon dari Ipul lalu bergegas berjalan untuk kembali lagi menjemput Alina.


Sepertinya Ziel harus mengakhiri pertemuan kedua sahabat itu karena ada urusan mendadak di ruko nya.


Namun langkah Ziel terhenti ketika sebuah tangan menahan lengan kiri nya saat sudah dekat kepada Alina yang tengah tersenyum menyambut kedatangan nya. Ziel melihat kepada orang yang menahan lengan kiri nya, sorot mata nya langsung berubah tajam kala melihat seorang wanita seusia Alina tengah memegang lengan kiri nya.


Refleks Ziel pun menepis tangan tersebut dari lengan nya dan menatap tajam wanita muda yang kini tengah menatap nya dengan tatapan sendu menahan tangis.


"Bang Arlan"


Senyum Alina pun luruh kala tanpa permisi kala wanita itu langsung memeluk tubuh Ziel dengan erat.