
"Bang Arlan"
Senyum Alina pun luruh kala tanpa permisi kala wanita itu langsung memeluk tubuh Ziel dengan erat.
"Siapa Kamu!" Ziel membentak wanita muda tersebut, dan langsung melerai pelukan wanita itu dan berjalan menjauhi wanita itu yang memanggil nya Arlan
"Ya Tuhan, Bang Arlan. Abang apa-apaan sih jahat banget sama Erin!" Wanita itu justru balik membentak Ziel hingga membuat Ziel pun melihat dengan heran wanita muda yang tampak yakin kalau Ziela adalah orang yang dipanggil Bang Arlan.
"Nama saya Adzriel bukan Arlan!" Ucap Ziel lalu bergegas meninggalkan wanita yang mengaku bernama Erin tersebut dan berjalan menghampiri Alina dan duduk di samping Alina, dan tanpa permisi Ziel langsung melingkarkan lengan kanan nya di pinggang Alina untuk kemudian merebahkan kepala nya di belakang punggung Alina.
Sontak saja perlakuan Ziel membuat Ara dan Ikmal menatap Alina dan Ziel bergantian, apalagi saat Alin tanpa sungkan mengusap lembut lengan Ziel yang bertengger manis di pinggang nya.
"Bang Arlan" Pekik Erin kala berdiri di dekat Ziel. Gadis itu menatap tajam kepada Alina yang tengah mengusapi lengan Ziel.
Ara dan Ikmal mengalihkan pandangan mereka kepada Alina, Ziel dam Erin secara bergantian. Banyak pertanyaan yang menggangu Ikmal terutama Ara saat melihat Ziel yang sangat manja kepada Alina.
"Maaf, Mbak manggil siapa ya?" Alina pun bertanya kepada Erin, Erin langsung menunjukkan telunjuk kanan nya kearah Ziel. Dari balik niqab nya Erin dapat melihat kalau Alina tengah menyunggingkan senyuman kepada nya.
"Maaf Mbak. Kalau pria ini bukan bernama Arlan. Beliau bernama Adzriel dan beliau adalah suami Saya" Ucap Alina lembut namun membuat Ara, Ikmal dan juga Erin terpekik terkejut seraya bersamaan mengucapkan kata "Apa?".
"Astaghfirullahalazim" Alina dan Ziel pun terkejut dengan pekikan ketiga nya. Untung saja ruangan itu mulai sepi sehingga mereka tidak mengundang perhatian banyak orang.
"Nggak mungkin. Bang Arlan tuh udah nikah sama Mbak Celia dan punya Celine juga Abraham. Mbak jangan ngaku ngaku ya jadi istri nya Abang Saya!" Sentak Erin menatap tajam Alina dan juga Ziel.
Ziel yang kesal dengan ucapan dan juga sikap Erin yang memarahi Alina pun akhirnya terpancing emosi nya, dengan wajah datar Ziel menatap Erin yang mulai ketakutan melihat wajah Ziel.
"Jaga ucapan Anda, Nona. Saya dan istri saya sudah bilang kalau nama saya Adzriel bukan Arlan. Dan jangan asal fitnah atau menuduh saya yang bukan bukan dengan mengatakan kalau Saya sudah menikah dan memiliki anak dari wanita lain selain istri Saya Alina Azalia!" Tak hanya Erin yang menggelengkan kepala nya tak terima atas ucapan Ziel, Ara pun kini menatap tak percaya atas ucapan Ziel.
"Mas" Alina memanggil Ziel dengan lembut yang langsung membuat emosi Ziel pun mereda.
"Seperti nya ada beberapa hal yang harus kita luruskan, bagaimana kalau kita pindah tempat yang lebih private agar tidak mengundang banyak perhatian orang?" Alina mengajukan permintaan yang langsung di angguki oleh Erin.
"Maaf ya Ra, Bang Ikmal, Kami harus pergi duluan. InsyaAllah Aku bakal ceritain semua nya sama Kamu Ra" Ara hanya bisa mengangguk pasrah karena saat ini gadis itu tengah merasakan patah hati karena pria yang di kagumi nya itu sudah menjadi milik wanita lain yang merupakan sahabat baik nya sejak mereka kecil dulu.
Setelah pamit kepada Ara dan Ikmal, Ziel dan Alina mengajak Erin untuk ke ruko milik nya untuk membicarakan ucapan Erin.
Alina mengajak Erin untuk ikut masuk kedalam ruang kerja Ziel di ruko yang berada di lantai dua. Sementara Ziel menemui Ipul terlebih dahulu untuk membahas masalah komplenan customer yang bernama Eriana.
"Duduk dulu Mbak. Maaf Mas Ziel nya sedang mengurusi komplenan dulu" Erin mangangguk pelan seraya kedua bola menyisir tiap sisi ruangan Ziel.
"Silahkan di cicip dulu Mbak" Alina meletakkan baki berisikan secangkir teh hangat diserta beberapa bungkus camilan yang memang biasa Ziel siapkan untuk para karyawan. "Maaf hanya ini yang bisa Kami hidangkan untuk Mbak" Erin menatap Alina dengan sorot mata tak enak hati, karena seperti nya apa yang di ucapkan Ziel benar ada nya. Dan dia sudah salah orang.
Namun ada rasa penasaran yang sangat besar karena wajah Ziel amat sangat mirip dengan wajah kakak nya yang bernama Arlan saat gadis itu melihat Ziel yang tengah bertelepon itu melepaskan masker dan menenggerkan kacamata hitam di atas kepala nya, dan semua nya sama persis baik wajah, gaya dan tingkah laku nya saat menerima telepon. Padahal selama ini Erin hanya memiliki seorang kakak laki-laki dan itu bernama Arlan.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka menampakkan Ziel yang memasuki ruangan nya. Sorot mata Erin langsung menatap tak putus Ziel. Gadis itu semakin meyakini kalau Ziel dan Arlan di sandingkan pasti tidak akan ada beda nya, hanya saja warna kulit Ziel yang tampak lebih eksotik dibandingkan Arlan yang berkulit putih.
"Kenapa Anda melihat Saya seperti itu!" Teguran Ziel langsung membuat Erin mengalihkan pandangan kearah Alina yang justru menegur Ziel dengan memanggil nya "Mas" karena sudah berbicara dengan keras kepada Erin.
"Maaf Sayang. Mas hanya meresa jengah di perhatikan oleh wanita yang bukan mahram nya" Ujar Ziel memberikan alasannya berbicara dengan nada keras kepada Erin tadi.
"Maaf Kak. Wajah Kakak amat sangat mirip dengan wajah Abang Saya" Ucap Erin lalu menyodorkan HP berlambangkan apel di gigit kepada Alina untuk Alina pegang.
Kedua bola mata Alina langsung membulat dengan sempurna, secara bergantian gadis itu melihat kearah Ziel dan pria yang berada dalam layar HP Erin.
"MasyaAllah Mas, mirip banget sama Mas" Ucap Alina menyodorkan HP itu kepada Ziel, dan benar saja Ziel pun terkejut dengan apa yang ada dalam tampilan layar HP tersebut.
Sesosok pria yang sangat mirip dengan nya kalau Ziel berpenampilan seperti pria yang berada di dalam layar tersebut. Ziel lalu melihat kepada Alina dan Erin secara bergantian.
"Kalau Kakak tidak percaya, Aku akan panggil Abang agar bertemu dengan Kakak!" Ucap Erin yang menerima kembali HP nya setelah Ziel menyerahkan kepada Alina dan Alina pun menyerahkan kembali HP milik Erin kepada Erin.
Mendapati Ziel yang hanya diam tak menanggapi ucapan Erin membuat Erin langsung menghubungi orang yang di maksud nya setelah gadis itu melihat kepada Alina untuk meminta persetujuan Alina sebelum menghubungi orang yang Erin maksud.
Setelah Alina memgangguk pelan Erin pun langsung menghubungi orang yang di maksud nya.
"Abang. Cepetan ke ruko ekspedisi *** yang ada di ruko **** yang di jalan ****"