
Arlan sebenarnya ingin bertanya kepada kedua orang tua nya apakah Dia memiliki saudara kembar, pasal nya semakin hari Arlan semakin merasa yakin kalau Dia dan Ziel memiliki hubungan.
Namun setelah mengingat kalau selama ini kedua orang tua nya hanya menghabiskan waktu bersama nya dan Erin sebagai keluarga membuat Arlan enggan membahas masalah kecurigaan nya tersebut. Pria itu lebih memilih mencari tahu sendiri fakta tentang kecurigaan nya selama ini.
Arlan sempat membahas kecurigaan nya Ziel, namun penolakan yang Ziel berikan kepada Arlan membuat Arlan pun pusing sendiri, karena Ziel tidak berminat untuk membahas nya. Bahkan Ziel mengatakan kepada Arlan kalau dia mempunyai kedua orang tua dan sayang nya mereka sudah meninggal dunia sehingga Arlan tidak bisa bertanya kepada mereka tentang Ziel.
Namun Arlan yang curiga dengan penolakan Ziel menganggap kalau apa yang menjadi kecurigaan nya selama ini adalah benar.
"Bagaimana, apa hasil nya sudah keluar?" Arlan tersenyum kala mendengar lawan bicara nya di balik telepon mengatakan hal baik kepada nya.
"Gue OTW" Arlan pun bergegas keluar dari ruangan nya menuju tempat yang dikunjungi nya beberapa hari lalu dengan membawa sample rambut Ziel yang sengaja Erin ambil saat berkunjung ke ruko dengan alasan bertemu dengan Alina.
Alina yang tidak curiga pun memberikan sisir yang biasa di pakai nya dan juga Ziel saat gadis itu ingin menyisir rambut nya yang berantakan. Erin bergegas memasukkan helaian rambut yang rontok di sisir tanpa Alina ketahui dan langsung menyerahkan nya kepada Arlan untuk dilakukan test DNA.
Arlan langsung duduk lemas kala membaca hasil test DNA dan Ziel yang memiliki Akurasi 99,99 persen. Yang itu mengartikan kalau kecurigaan selama ini adalah benar, Ziel dan Dia adalah saudara kembar.
Arlan tentu saja sangat senang mengetahui kalau Ziel adalah saudara kembar nya, namun untuk bertanya langsung kepada kedua orang tuanya entah mengapa Arlan merasa sangat enggan seolah ada fakta yang sengaja di sembunyikan oleh kedua orang tua nya tentang Ziel.
"Ya Tuhan ada rahasia apalagi ini?" Gumam Arlan menatap kosong jalan yang tengah di lalui nya menuju kediaman keluarga nya.
"Apa yang harus Aku lakukan. Ya Tuhan, tolonglah Aku" Gumam Arlan saat tiba di kediaman keluarga nya.
Kembali Ke Ziel dan Alina yang kini sedang melakukan pillow talk menjelang tidur mereka.
Pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan lebih, namun hingga saat ini mereka berdua masih belum melakukan ibadah sunnah yang selalu setiap malam jumat di lakukan oleh banyak pasangan halal lain nya.
Keduanya sepakat untuk melakukan hal itu saat Alina sudah siap secara lahir, mengingat usia Alina yang baru menginjak usia 18 tahun.
Ziel sangat menjaga Alina, bohong kalau Ziel tidak merasa panas dingin saat berdekatan dengan Alina, munafik kalau Ziel bilang dia tidak membutuhkan kepuasan bathin yang bisa di nikmati nya bersama dengan Alina, namun Ziel merasa tak tega kalau harus melihat Alina tersiksa menahan sakit nya hubungan halal pertama, apalagi kalau Alina langsung hamil setelah melakukan hal itu beberapa kali bersama Ziel.
Ziel menghela nafas pelan saat tiba-tiba saja Dia merasa ingin menyentuh Alina lebih dari biasanya.
"Sayang" Ziel memanggil Alina dengan lembut membuat gadis itu mendongakkan kepala nya menatap wajah Ziel yang terlihat sayu seolah menahan sesuatu yang tengah bergejolak di dalam diri nya.
"Ya Hubby" Ziel semakin tak bisa menahan gejolak nya saat Alina mengusap lembut rahang nya hingga membuat Ziel menutup kedua kelopak mata nya meresapi sentuhan Alina yang semakin intens menjelajahi tubuh kekar nya.
Ya Alina dapat menangkap kalau saat ini suami nya tengah menahan has*** nya untuk menyentuh Alina, dan Alina yang memang sudah bertekad akan memberikan Ziel hak nya itu pun mulai menggoda Ziel.
"Jangan membangunkan singa tidur, Sayang!" Ziel menahan geraman nya kala jemari Alina mulai menjelajah bagian bawah tubuh Ziel.
"Nikmati dan resepsi Hubby" Bisik Alina lalu meniup telinga kanan Ziel dengan lembut.
Gadis itu semakin nekat menggerakkan jemari di daerah bawah Ziel, hingga membuat Ziel menggeram menahan naf** nya.
"Nakal" Ziel menangkap tangan Alina yang tengah berjelajah lalu mencium punggung tangan kanan Alina itu dengan lembut dan dalam.
"Mas nggak pingin?" Alina bertanya seraya membuat lukisan abstrak di dada bidang Ziel yang polos.
"Bohong kalau Mas bilang nggak pingin. Munafik kalau Mas bilang nggak naf**. Tapi Mas nggak Kamu_" Alina langsung menutup bibir Ziel dengan telunjuk kanan nya memaksa pria dewasa itu tak melanjutkan ucapan.
"Aku istri Mas, jadi bolehkan kalau Aku meminta hak ku sebagai istri Mas?" Alina mengajukan pertanyaan nya dengan wajah merona.
Bukan terpaksa namun Alina merasa Dia pun berhak meminta hak yang seharusnya Ziel berikan sejak dua bulan lalu, agar Dia bisa menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri yang seutuh nya.
Ziel mengusap lembut wajah Alina "Apapun untuk mu, Ya Zaujati" Ziel kembali mengucup punggung tangan kanan Aljna dengan lembut.
"Alhamdulillah, makasih Hubby" Alina menge*** sekilas bi*** Ziel sebelum beranjak dari rebahan nya. Ziel menahan Alina saat gadis itu akan beranjak turun dari peraduan. "Mau kemana?. Kata nya pingin?" Wajah Alina sontak merona mendengar pertanyaan Ziel.
"Mau wudhu lalu sholat sunnah dulu. Mas lupa?" Ziel tertawa kecil kala mengingat hal yang akan di lakukan nya sebelum memulai ritual perdana mereka.
Setelah wudhu secara bergantian mereka pun melakukan sholat sunnah berjamaah, Alina mengumamkan sebaris doa untuk kebaikan rumah tangga mereka Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin.”
Ziel meletakkan tangan kanan nya di kening Alina dan mengucapkan sebait doa “Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”. Alina tampak tersenyum malu saat Ziel mulai mendekati nya, mengarahkan pelan langkah nya menuju peraduan guna saling memberikan hak dan kewajiban mereka yang tertunda selama dua bulan kebelakang.
Alina menik**** setiap sentu*** yang Zeil berikan disetiap lekuk tubuh polos nya yang berada dalam satu selimut bersama dengan Ziel yang sama polos nya.
"Mas" Ziel tersenyum kala mendengar des**** manja Alina kala Ziel meneguk sumber kehidupan calon keturunan nya satu persatu.
"Maafkan kalau ini akan sakit Sayang" Alina mengangguk pasrah saat perlahan-lahan tubuh polos nya mulai menyatu dengan tubuh polos Ziel di bawah selimut.
"Eugh"