
"Baiklah kalau begitu. Kedatangan Kami ke rumah Abi Dhika karena ingin menjalin tali silaturahmi dengan mengikat kedua putra dan putri kita dalam ikatan pernikahan"
Ara spontan menggelengkan kepala nya, mengenggam erat kedua tangan orang tua nya menandakan ketidak setujuan nya atas permintaan Kiyai Burhan.
"Kalau begitu, izinkan putri Kami yang menyampaikan jawaban atas permintaan keluarga Kiyai" Abi Dhika sengaja meminta Ara yang menjawab, permintaan Kiyai Burhan.
"Abi, Umi" Ara merengek pelan kepada kedua orang tua nya, hanya anggukan kepala kedua orang nya sebagai jawaban atas rengekan Ara.
Ara pun mengambil nafas sesaat sebelum menghembuskan nya kembali, gadis itu menggenggam erat tangan kedua orang tua nya yang duduk di sisi kanan dan kiri nya.
"Bismillah, Sebelum nya Ara mengucapkan banyak terimakasih atas niat yang keluarga Kiyai sampaikan kepada Ara. Tapi mohon maaf, Ara tidak bisa menerima permintaan Kiyai dan keluarga, karena saat ini Ara sudah memiliki seorang pria yang sudah Ara pilih sebagai calon imam Ara" Ucap Ara yang tak hanya membuat keluarga Kiyai Burhan terkejut, namun juga kedua orang tua nya. Abi dan Umi melihat kepada Ara mencari kesungguhan ucapan Ara yang menganggukkan kepala nya menandakan apa yang di ucapkan nya adalah benar.
"Astaghfirullahalazim, maafin Ara, Ya Allah. Hamba terpaksa berbohong guna menolak lamaran keluarga Kiyai Burhan, karena Hamba merasa ada hal tidak baik di balik permintaan keluarga Kiyai Burhan dan hal itu membuat Hamba takut, Ya Allah" Gumam Ara dalam hati nya.
"Apakah pria itu sudah datang untuk mengkhitbah Ara?" Istri Kiyai Burhan lah yang kini mengajukan pertanyaan nya kepada Ara. Seulas senyuman terbit di wajah Istri Kiyai Burhan "Kalau begitu, pria itu masih belum ada itikad baik seperti Kami yang ingin mengkhitbah Ara untuk Zyan putra kami" Ara terdiam, gadis itu tengah memikirkan memberikan alasan apa lagi untuk menolak perjodohan ini.
"Kami mohon maaf Kiyai dan keluarga, bukan Kami menolak keinginan baik Kiyai dan keluarga, namun Kami memang tidak membatasi apa pun keinginan putra putri Kami selama masih batas dalam kewajaran dan sesuai dengan syariat yang Kami anut. Karena itulah Kami pun tidak bisa memaksakan kehendak kepada putra dan putri Kami kalau mereka menolak nya" Umi Eil yang kini menjadi juru bicara Ara, karena Umi Eil pun merasa keberatan atas ucapan Istri dari Kiyai Burhan yang biasa di panggil Ustadzah Rahma.
"Jadi secara tidak langsung Ara menolak bukan karena Ara sudah memilih calon suami?" Ustadzah Rahma mengajukan pertanyaan yang membuat Ara semakin tak enak hati kerena merasa sudah berbohong dengan mengatakan kalau sudah memiliki calon imam nya sendiri.
"Assalamu'alaikum"
Tiba-tiba saja terdengar ucapan salam dari Apha Acid, Amih Nana dan Bastian yang kemudian memasuki ruang tamu tempat.
"Waalaikumsalam" Salam mereka pun di jawab bersamaan dari yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Seperti ny sedang ada acara?. Mohon maaf kalau kedatangan Kami menganggu kunjungan Kiyai Burhan dan keluarga di gubug Kami" Apha Acid mewakili Amih Nana dan Bastian menjadi juru bicara mereka yang baru datang.
"Hanya hendak menjalin tali silaturahmi dengan menjodohkan Zyan dan Ara" Jawaban Kiyai Burhan membuat Abi Dhika dan Umh Eil menghela nafas, sementara Ara tampak meremas kedua buku tangan nya dengan erat. Apha Acid dan Amih Nana pun melihat kearah Ara yang tengah melihat kearah mereka dengan menggelengkan kepala nya pelan.
"Wah kalau begitu, Kami harus memohon maaf kepada Kiyai dan keluarga" Perhatian kini teralihkan kepada Bastian yang tiba-tiba saja ikut bersuara.
"Mohon maaf sebelum nya kepada Abi, Umi, Aunty juga_" Bastian menghela nafas pelan sebelum melanjutkan memanggil Apha Acid dengan panggilan ledekan nya kepada suami dari tante nya dan musuh bebuyutan nya saat SMU dulu "Little Uncle", Apha Acid terpaksa menahan cembikan nya atas panggilan Bastian.
Sementara Abi Dhika dan keluarga serta Amih Nana, tampak berusaha menahan tawa mereka.
"Apa yang membuat Ara menerima lamaran dari pria yang tampak nya bukan _" "Saya mualaf" Bastian langsung memotong ucapan Kiyai Burhan.
"Pria ini adalah kemenakan Saya, Beliau baru menjadi mualaf enam bulan yang lalu" Amih Nana terpaksa ikut masuk dalam percakapan karena nada bicara Kiyai Burhan seolah merendahkan Bastian.
"Oh baru mualaf?." Kiyai Burhan berucap pelan namun dengan nada masih seolah mengejek kalau Bastian tidak ada apa-apa nya di bandingkan Zyan.
"Zyan seorang Hafiz lho Ra. Bukan baru belajar Iqra" Amih Nana menahan Apha Acid setelah mendengar ucapan Kiyai Burhan.
"InsyaAllah Bastian sudah hafal 5 juz Al-Quran Kiyai. Karena Saya yang membimbing nya" Ucap Abi Dhika kembali membela Bastian.
"Lebih bagus hafal 30 dong dibandingkan 5?" Ustadzah Rahma menimpali ucapan.
"Sebaik baik nya segala perbuatan hanya Allah yang lebih mengetahui-Nya" Ucapan Umi Eil membuat Ustadzah Rahma terdiam.
"Baiklah. Seperti nya niat baik Kami ingin menjalin tali silaturahmi kepada keluarga Abi Dhika di TOLAK!" Kiyai Burhan sengaja menekan kata di tolak untuk mempertegas ucapan nya.
"Iya. Karena semua keputusan selalu Kami serahkan kepada Putra dan Putri Kami, untuk memilih mana yang TERBAIK BAGI MASA DEPAN NYA DUNIA DAN AKHIRAT!" Tutur Abi Dhika dengan mempertegas ucapan di beberapa bait akhir kalimat nya.
"Semoga saja Ara tidak menyesal dengan keputusan nya".
"InsyaAllah, Ara sudah memutuskan yang terbaik bagi masa depan nya. Kami mohon doa nya untuk Ara dan Bastian, agar dilancarkan niat baik mereka. Aamiin" Ucap Umi Eil yang di Aamiin kan seluruh anggota keluarga nya.
"Baiklah kalau begitu Kami pamit undur diri. Assalamualaikum" Ucak Kiyai Burhan lalu pamit undur diri dari kediaman Abi Dhika setelah salam mereka di jawab oleh Abi Dhika dan keluarga.
"Kaya dejavu yang Bang?" Kekeh Apha Acid setelah keluarga Kiyai Burhan sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah mereka setelah di antar keluar oleh Abi Dhika dan Apha Acid.
"Dejavu yang mana nih, Abang apa Kamu?" Apha Acid tertawa kecil menanggapi ucapan Abang angkat sekaligus Abang ipar nya itu.
"Abang lah. Masa Acid" Abi Dhika menepuk punggung Apha Acid dengan cukup keras hingga membuat Apha Acid terkejut.
"Makasih ya Bas. Kamu udah bantuin Ara menolak lamaran keluarga Kiyai Burhan tadi. Tante nggak ikhlas kalau Ara harus jadi bagian dari keluarga mereka" Ucap Umi Eil.
"Akting yang keren little nephew" Apha Acid mengacungkan kedua ibu jari tangan nya kepada Bastian seraya tertawa kecil yang langsung surut setelah Bastian berucap "Yang bilang bercanda siapa little uncle".