
Seminggu sudah berlalu semenjak Ziel mengetahui kalau Zar masih hidup. Tanpa sepengetahuan Alina, Zar meminta agar kasus kecelakaan tujuh tahun yang lalu itu di buka kembali, karena Ziel mencurigai Zar adalah dalang dari kecelakaan tersebut. Apalagi identitas pengemudi yang sempat diakui sebagai Zar itu masih menjadi misteri, membuat Ziel semakin penasaran dan ingin mengungkapkan sebuah fakta di balik kecelakaan tersebut.
Dan ternyata dugaan Ziel benar ada nya. Pihak kepolisian membongkar kembali makam pria yang diakui sebagai Zar, dan ditemukan ada beberapa luka patah di beberapa tulang dada dan bisa dipastikan kalau pria malang itu sudah tewas sebelum kecelakaan berdasarkan hasil dari uji forensik yang pihak kepolisian lakukan.
"Kak Firman" Ziel mengepal kedua telapak tangan nya kala kepolisian mencocokan data dengan laporan kehilangan seorang pria tujuh tahun yang lalu dari sebuah perusahaan yang kehilangan salah seorang manajer produksi setelah pulang ke ibu kota untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang kerabat nya, dan Ziel mengingat kalau Firman, mantan kekasih Bunda Alina yang merupakan sahabat Zar sempat hadir memberikan selamat kepada Ziel saat menghadiri pernikahan nya dengan Bunga dulu.
"Astaghfirullahalazim. Tega banget Lo Bang!" Gumam Ziel menahan amarah nya kepada Zar. Tak cukup kah Zar menyakiti pria sebaik Firman, sudah tega merebut dengan cara memper**** calon istri yang akan di nikahi Firman beberapa bulan lagi, dan kini sebuah fakta lebih mengejutkan Ziel kembali terkuak, kalau pria yang selalu membantu nya saat kecil dulu itu telah tewas ditangan sahabat nya sendiri.
"Kami akan menyelidiki lebih lanjut kasus kecelakaan tujuh tahun yang lalu. Kami harap Pak Ziel bisa turut membantu pihak kepolisian dengan memberikan beberapa pernyataan yang akan Kami lakukan beberapa hari kemudian" Ziel mengangguki ucapan seorang perwira kepolisian paruh baya yang juga membantu nya menyelidiki kasus teror yang diterima oleh Alina.
"Apakah ada kemungkinan kalau pelaku teror itu adalah Abizar, Pak Putra?"
"Ada kemungkinan Iya. Kami akan mencoba kembali memeriksa paket terakhir yang diterima oleh Bu Alina. Semoga saja ada sedikit jejak yang di tinggalkan oleh pelaku. Untuk saat ini Kami akan menempatkan beberapa orang dari pihak kepolisian untuk menjaga keselamatan Pak Ziel dan Bu Alina. Saya curiga kalau pelaku selain menginginkan harta Bu Alina, Dia juga berencana mencelakai Pak Ziel dan Bu Alina juga" Ziel mengangguki ucapan Pak Putra.
#####
Pihak kepolisian bertindak dengan cepat mencari keberadaan Zar, selama hampir sebulan penuh. Dan hasil nya pun tak sia sia. Pihak kepolisian berhasil mengendus dimana keberadaan Zar selama tujuh tahun ini. Setelah melakukan penyelidikan akhir nya pihak kepolisian pun menangkap Zar dengan tuduhan memalsukan kematian nya serta pemerasan terhadap Ziel.
Berita penangkapan Zar pun akhir nya sampai kepada Alina. Kini wanita cantik itu sedang memaksa sang suami untuk membeberkan fakta sebenarnya tentang sang Ayah yang masih hidup.
"Astaghfirullahalazim" Alina mengusap wajah nya tak percaya dengan apa yang Ziel ceritakan tentang Zar dan tuduhan yang kini sudah polisi layangkan kepada Zar.
"Jadi yang ada di kemudi itu Om Firman, Mas?" Ziel mengangguki ucapan Alina namun kemudian Ziel melihat heran kepada Alina karena Alina memanggil Firman dengan panggilan Om.
"Kamu kenal dengan Kak Firman, Sayang?" Alina mengangguki ucapan Ziel. "Kami pernah bertemu saat pernikahan Mas dengan Bunga. Eyang mengenalkan Om Firman kepada Alina sebagai sahabat Ayah dan Bunda" Jawab Alina.
"Tapi setahu Alin, Ayah mengantarkan Om Firman ke bandara dulu sehari sebelum Ayah membawa Kami liburan ke puncak, lalu mengantar Eyang dan Mbah pulang kerumah. Namun _" Alina tersentak dengan sendiri nya tak melanjutkan perkataan nya, entah mengapa dada nya terasa nyeri kala mengingat kecelakaan yang menewaskan seluruh anggota keluarga nya, bahkan ada kemungkinan Dia pun turut tewas juga, jika saja tubuh nya tidak dalam pelukan sang Bunda.
"Ya Allah. Kenapa Ayah sejahat itu kepada Kami?. Apa salah Kami kepada Ayah, Mas!" Ucap Alina lirih, Ziel mengusapi lembut punggung Alina,"Sabar, Sayang. Ikhlaskan semua nya. InsyaAllah Eyang, Mbah juga Bunda sudah tenang di sana" Bisik Ziel.
"Nggak. Alina nggak ikhlas. Ayah tega!" Teriak Alina histeris. Ziel semakin memeluk Alina dengan erat "Istighfar, Sayang. Jangan terbawa emosi" Ucap Ziel sangat lembut, namun Alina masih menolak untuk mengikhlaskan semua nya.
"Alin nggak ikhlas Mas. Sampai kapan pun Alin nggak ikhlas. Kalau perlu nyawa di bayar nyawa!" Ziel langsung menangkup wajah Alina dengan kedua telapak tangan nya. Ditatapnya dengan lembut kedua bola mata Alina yang tengah memancarkan kemarahan.
"Istighfar sayang" Ucap Ziel lembut, disatukan kening nya dengan kening Alina hingga kedua ujung hidung mereka saling bersentuhan.
"Istighfar cantik" Alina mengambil nafas lalu menghembuskan nya perlahan bersamaan dengan beristighfar dalam hati nya.
Emosi nya sedikit mereda, ketika hati nya mencoba untuk menerima semua kenyataan musibah yang di alami nya tujuh tahun yang lalu.
"Mas tau ini berat untuk kita, terutama Kamu, Sayang. Tapi Mas mohon sangat sama Kamu, kita belajar untuk mengikhlaskan nya, biarkan Allah yang memberikan Bang Zar pelajaran atas apa yang sudah di lakukan nya terhadap keluarga Kita juga Kak Firman. Dan semoga dengan kita mengikhlaskan semua ini, Keluarga kita juga Kak Firman tenang di alam sana. Aamiin" Alina semakin mengeratkan pelukan nya kepada Ziel.
Hampir seminggu pihak kepolisian menginterogasi Zar, bukti minim yang dimiliki pihak kepolisian membuat tim pengacara Zar berada di atas angin. Namun tentu saja pihak kepolisian tidak menyerah begitu saja, mereka terus mencari bukti dari tujuh tahun yang lalu.
Dan hasil nya, Zar pun di tetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan Firman, berdasarkan dari temuan HP milik Firman yang di temukan oleh pihak kepolisian di dalam brangkas yang sengaja Zar sembunyikan di bawah lemari pakaian nya, ketika salah satu anjing pelacak mencium hal yang mencurigakan.
Tak hanya itu, beberapa hari kemudian ditemukan kembali bukti kalau Zar sengaja memberikan obat tidur kepada seluruh anggota keluarga nya sebelum berangkat ke Villa. Sebuah transaksi untuk membeli obat tersebut di salah satu apotik yang berada cukup jauh dari kediaman nya dengan menggunakan kartu debit berhasil di temukan oleh pihak kepolisian dan menjadi salah satu alat bukti untuk menjerat Zar sebagai pelaku pembunuhan berencana keluarga besar nya tersebut.
Tak hanya ini pelaku teror terhadap Alina pun di duga dilakukan oleh Zar, berdasarkan sidik jari yang secara tidak sengaja tertinggal di ujung kotak paket terakhir yang Alin terima.
Biadab, psikopat, pembunuh bahkan Iblis kini menjadi panggilan Zar, karena semua perbuatan Zar langsung menarik perhatian publik.