My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C13. Melindungi Dalam Diam



Alina menatap tajam Ziel yang masih berpura-pura sibuk dengan memeriksa laporan keluar masuk barang ekspedisi milik nya di ruang kerja nya.


Sudah hampir dua minggu sejak kepulangan Alina dari pondok dan tinggal di rumah Ziel, pria itu tak pernah menampakkan batang hidung nya di kediaman yang seharusnya ditempati nya dan Alina.


"Mau sampai kapan Uncle akan seperti ini?" Alina bertanya setelah hampir setengah jam keberadaan diabaikan Ziel.


"Sudah mau malam, sebaiknya Kamu pulang. Kasian Mbok Yani sendirian di rumah" Bukan menjawab pertanyaan Alina, Ziel justru mengalihkan pertanyaan itu dengan perintah.


"Uncle mengabaikan Alina lagi?"


Hening. Tak terdengar jawaban dari Ziel hanya hembusan nafas Alina yang menahan amarah lah yang sayup terdengar diruang kerja Ziel.


"Sudah malam Alina. Pulang lah!"


Entah mengapa sejak kepulangan nya dari pondok pesantren dan sempat berbicara empat mata dengan Abi Dhika sikap dan nada bicara Ziel kepada Alina berubah.


Bahkan pria itu tak lagi memanggil Alina dengan Alia bahkan tak jarang Ziel menggunakan kata Kamu untuk Alina, hal yang sangat jauh berbeda dari yang biasa Ziel lakukan terhadap Alina.


"Apa kehadiran Alina sudah membuat Uncle tidak nyaman?"


Ziel masih terdiam dan masih enggan melihat wajah Alina.


Lelah. Alina lelah menghadapi perubahan sikap Adzriel selama dua minggu ini.


Tak ada angin tak ada hujan, pria itu secara tiba-tiba saja berubah menjadi pendiam bahkan terkesan menjauhi Alina.


Bahkan Alina sempat berpikir mungkinkah Ziel mengalami amnesia disosiatif terhadap nya karena hanya kepada Alina saja sikap Ziel berubah, sedangkan sikap Ziel kepada orang lain masih terlihat sama tak ada yang berubah.


"Baiklah."


Akhir nya Alina menyerah menghadapi sikap Ziel yang berubah hanya kepada nya saja. Gadis itu mengenakan kembali niqab nya menutupi wajah cantik nya lalu beranjak dari duduk nya.


"Alina pergi. Tapi mungkin setelah Alina keluar dari pintu ini, Uncle tidak akan pernah melihat Alina lagi untuk selama nya!"


Ziel menghentikan kegiatannya lalu melihat kepada Alina yang sudah membuka pintu ruangan nya.


Brak


Alina membanting pintu ruangan Ziel dengan kencang lalu segera berlari menjauhi ruangan Ziel.


Ziel mengambil nafas dan menghembuskan nya dengan keras lalu menggebrak meja kerja nya sebelum akhir nya memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan nya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Ziel mendapatkan panggilan telepon dari Mbok Yani, ART yang di percaya Ziel untuk menemani Alina di rumah nya.


"Assalamu'alaikum Den"


"Waalaikumsalam Mbok. Ada apa?"


"Itu Den. Maaf, apa Non Alina masih di ruko?. Soalnya telepon Non Alina tidak bisa dihubungi Den"


Ziel terdiam mendengar ucapan Mbok Yani yang mengatakan kalau Alina belum sampai kerumah. Padahal gadis itu sudah pergi sejak dua jam yang lalu.


"Alina, belum sampai rumah Mbok?"


"Lho bukan nya Non Alina pergi ke ruko, kata nya mau jemput Den Ziel. Bahkan Non Alina belum sempat makan malam Den"


Ziel menahan rasa sesak di dada nya saat mengetahui Alina belum sampai di rumah nya dan belum makan malam karena sengaja menjemput nya.


Pikiran Ziel semakin kacau ketika mengingat ucapan terakhir Alina sebelum pergi meninggalkan nya dua jam yang lalu.


"Astaghfirullahalazim"


"Biar saya cari Alina dulu. Mbok tolong hubungi keluarga Ara" Ucak Ziel sebelum menutup panggilan kepada Mbok Yani.


Ziel pun bergegas keluar dari dalam ruang kerja nya dengan perasaan gundah.


"Mau kemana bang?" Ipul bertanya saat melihat Ziel keluar dari ruangan nya dengan tergesa-gesa dan langsung menyambut kunci motor serta helm ekspedisi yang biasa di gunakan untuk mengantarkan barang para karyawan ekspedisi kerumah pelanggan nya.


"Kalian lihat Alia?" Pertanyaan Ziel membuat para karyawan nya pun merasa heran.


"Bukan nya Alina udah pulang dari tadi bang?" Ujar Ian salah satu karyawan Ziel yang bekerja malam itu.


"Motor nya masih ada di parkiran Bang!" Ipul tiba-tiba saja masuk setelah sebelum nya pria itu keluar untuk mengambil paket.


"Astaghfirullahalazim. Kemana Kamu Alia!" Gumam Ziel yang langsung berlari menuju parkiran dan langsung memacu motor nya dengan kecepatan penuh meninggalkan parkiran ruko ekspedisi nya.


Ziel melajukan motor nya dengan perlahan-lahan menyusuri jalan yang lengang karena waktu sudah semakin beranjak malam.


Sudah hampir setengah jam Ziel melajukan motor nya namun keberadaan Alina masih belum juga terlihat.


Mbok Yani mengatakan kalau Ara dan keluarga tidak menerima panggilan dari Alina, jadi bisa Ziel pastikan kalau mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Alina.


Ziel menghentikan laju motor nya saat merasakan ada getaran panggilan masuk di HP nya.


Nama Abi Dhika yang tertera di layar HP nya membuat Ziel paling langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum Abi Dhika"


"Waalaikumsalam Pak Ziel, bagaimana apakah Alina sudah di ketemukan?"


"Masih belum Abi. Saat ini Saya masih mencari keberadaan Alina"


Terdengar helaan nafas dari Abi Dhika


"Apakah di sana ada masjid atau musholla?" Abi Dhika bertanya kepada Ziel.


Zie tampak memperhatikan lingkungan sekitar nya, dan yang terlihat hanyalah perumahan, ruko saja. Tak ada penampakan masjid ataupun musholla.


"Ketika sedang gundah karena rindu dengan keluarganya, Ara bilang Alina pasti berada di masjid pondok".


" Ada baik nya Pak Ziel mencari Alina di masjid atau musholla yang berada di sekitar ruko Pak Ziel ataupun sekitar rumah. Semoga saja Alina berada di salah satu masjid atau Musholla tersebut". Tutur Abi Dhika yang langsung membuat Ziel kembali semangat mencari keberadaan Alina.


"Alhamdulillah, baik Abi. Terima kasih atas informasinya, Saya akan mencari keberadaan Alia di masjid ataupun Musholla yang berada di sekitar Saya terlebih dahulu. Semoga saja Alia berada di salah satu tempat tersebut"


"Aamiin. Semoga Pak Ziel bisa segera menemukan Alina. Dan jangan lupa kabari Kami tentang perkembangan Alina"


"InsyaAllah Saya akan kabarkan kepada Abi. Kalau begitu Saya izin pamit untuk melanjutkan mencari Alia dulu Abi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ziel kembali melanjutkan pencarian Alina. Kali ini Dia akan mencari Masjid ataupun musholla yang berada di sekitar nya dan berharap apa yang tadi di sampaikan oleh Abi Dhika benar ada nya kalau Alina berada di salah satu tempat tersebut.


"Bismillah. Semoga kali ini Kamu ada disini Alia" Gumam Ziel saat memasuki sebuah musholla kecil di sebuah gang kecil setelah sebelum nya Ziel mencari keberadaan Alina di masjid ataupun musholla yang di temui nya tadi di perjalanan.


Ziel terdiam terpaku saat melihat sesosok tubuh gadis yang tampak sedang terduduk bersandar di dinding depan musholla sambil merebahkan kepala nya di atas dengkul yang di lipat sebatas dada nya guna menopang kepala nya.


"Alhamdulillah. Ternyata tak baik jika hanya bisa melindungi Kamu dalam diam saja Alia"


Ziel melangkahkan kaki nya menghampiri sosok yang sudah di cari nya hampir satu jam lebih itu. Mengusap pelan pucuk kepala gadis yang tampak tengah terlelap dalam tidur nya. Hingga gadis itu terbangun lalu menatap nya.


"Uncle"