
"Liat gambar yang Gue kirim Ziel, atau Lo bakal nyesel!" Pesan pop it yang tampak di layar Ziel membuat kedua kedua bola mata Ziel membulat, memaksa Ziel membuka pesan dari layar HP nya yang kini sudah menampilkan sebuah foto.
"Si Alan!"
Umpat Ziel saat melihat foto yang di kirim dari nomor yang tidak di kenal tersebut. Tampak Alina dan Mbok Yani yang sedang berjalan di depan orang yang mengirimkan foto tersebut.
"Siapa Lo!" Apa mau Lo!" Bentak Ziel saat nomor yang tidak di kenal itu kembali menghubungi nya.
Terdengar sebuah tawa yang sangat Ziel kenali "Eits sabar dong anak pungut. Lo nggak kangen sama Gue!" Ziel terdiam untuk sesaat seolah tengah membandingkan suara yang sudah tidak pernah di dengar nya lagi sejak tujuh tahun yang lalu ini.
"Siapa Lo!" Bentak Ziel dengan lawan bicara nya. Ziel pun memilih kembali masuk kedalam ruko menuju ruang kerja nya dengan berlari kecil.
"Sabar bro. Masa Lo nggak ngenalin suara Gue sih. Ini Gue, Abang angkat Lo Abizar!" Tubuh Ziel terasa kaku saat orang yang di curigai itu pun menyebutkan nama nya seolah membenarkan kecurigaan Ziel beberapa saat yang lalu.
"Nggak mungkin. Lo pasti bohong. Bang Zar udah meninggal tujuh tahun yang lalu!" Ucap Ziel tak terima.
Tawa kembali terdengar dari lawan bicara nya yang membuat amarah Ziel keluar "Yang mati itu kedua orang kita, bini Gue, kedua mertua Gue, dan orang yang bego yang masih ngarep cinta dari bini Gue!"
"Bereng*** Siapa Lo!" Tunjukin muka Lo jangan cuma bisa bacot doang!" Bentak Ziel yang kembali di balas tawa dari sang penelpon.
Ziel segera membuka panggilan yang beralih ke video call membuat Ziel pun semakin terkejut dengan wajah pria yang tengah bertelepon dengan nya.
"Bang Zar" Gumam Ziel yang masih bisa di dengar oleh sang penelpon.
Seulas tawa smirk tampak muncul dari lawan bicara Ziel. "Sekarang Lo baru percayakan siapa Gue?. Hahahaha"
"Ngak mungkin. Bang Zar udah meninggal. Gue yang _"
"Lo yakin itu Gue?. Badan nya aja ancur nggak di kenalin!" Pria yang mengaku Zar itu memotong ucapan Ziel hingga membuat Ziel menatap keheranan Zar yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak nyangka anak Gue cakep banget. Lebih cakep dari Bunda nya!" Ziel menatap tajam pria yang kini mengubah latar panggilan nya menjadi kamera belakang Tampak Alina dan Mbok Yani tengah berjalan bersama menuju rumah mereka setelah pergi dari sebuah warung yang berada tidak jauh dari rumah.
"Jangan macam-macam Lo sama Alina!" Ancam Ziel.
"Hahahaha. Jarak Lo kesini jauh Ziel. Lo bisa apa kalau Gue ketemu sama anak Gue sendiri?"
"Jangan macem-macem Lo Bang".
"Hahahaha, akhir nya Lo ngakuin juga kalau Gue Zar. Bagus, dengan begitu Gue bisa dong ketemu sama anak Gue?" Ejek pria yang Ziel akui kalau itu adalah Zar, pria yang merupakan Abang nya dan sudah di nyatakan meninggal dunia tujuh tahun yang lalu.
"Hahahaha. Hei be**. Gue bokap nya. Gue yakin Dia pasti seneng kalau ternyata bokap nya masih hidup!"
"Hahahaha. Elo tuh yang be** Bang. Mana mungkin Alia bakal percaya kalau Lo masih hidup. Karena yang Dia tau Lo udah mati!" Ujar Ziel yang membuat wajah Zar langsung gusar.
"Apa mau Lo?" Ziel langsung melontarkan pertanyaan yang membuat wajah gusar nya menjadi tersungging penuh misteri.
"Serahkan harta milik Alina buat Gue!" Ziel tertawa dengan sangat lantang mendengar ucapan Zar, membuat Zar pun menjadi heran.
"Dasar bokap nggak punya otak. Harta anak sendiri masih mau makan sendiri?" Ziel berdecak tak percaya lalu menatap tajam Zar.
"Ambil semuanya. Alin nggak butuh harta yang Lo pengen, karena Gue yang bakal ganti harta nya yang Lo ambil!" Sentak Ziel yang justru di tertawai oleh Zar.
"Sombong. Usaha Lo nggak seberapa banyak di bandingkan harta yang anak Gue punya. Gue yakin Lo masih nahan anak Gue buat tinggal sama Gue karena harta nya kan?" Ziel langsung menertawai ucapan Zar membuat Zar pun menatap Ziel dengan tatapan heran.
"Lo pikir Gue masih Paman nya Alin?. Lo salah besar Bang. Lo lupa, kalau Lo sendiri yang kasih tau Gue kalau Gue bukan anak kandung Ayah sama Ibu?"
"Gue nggak se goblok dan se totol Lo yang cuma tau harta, tahta sama sela****** aja Bang, Hahahaha" Ujar Ziel menertawakan Zar yang masih terdiam mendengar ucapan Ziel.
"Gue rasa, mulai sekarang Gue musti rubah panggilan Gue ke Elo, Bang. Karena Kita nggak ada hubungan persaudaraan. Jadi bolehkan kalau mulai sekarang Gue musti manggil Lo, AYAH MERTUA. Hahaha" Kedua bola mata Zar langsung membulat dan menatap tajam Ziel yang kini tengah memasang wajah penuh kemenangan.
"Status Gue lebih berhak atas Alin, setelah Alin sah jadi istri Gue secara agama, hukum, dan negara!" Kembali Ziel berucap membuat Zar pun semakin marah.
"Pernikahan Kalian nggak sah. Karena bukan Gue wali nikah nya!" Kembali Ziel menertawakan ucapan Ziel.
"Lo jangan lupa Bang, Alin tuh anak Bunda nya bukan anak Lo. Jadi secara agama Lo nggak berhak menjadi Wali nikah nya!" Ucapan Ziel kembali membungkam Zar yang membongkar aib masa lalu nya dan istri nya.
"Lo pengen harta Alin dari keluarga Bunda nya kan?. Ambil Bang. Gue kasih Lo semua harta itu. Tapi setelah itu, pergi yang jauh dan jangan pernah Lo tunjukin muka Lo dihadapan Gue, terutama Alin. Atau Gue bongkar semua kejahatan Lo dan bikin Lo di hukum mati atau nggak penjara se umur hidup karena sudah membunuh seluruh keluarga Lo!" Ziel pun akhir nya memberikan ancaman nya kepada Zar, padahal ancaman itu hanya sebuah gertakan tanpa Ziel ketahui kalau apa yang di ucapkan nya itu semua sudah Zar lakukan tujuh tahun yang lalu.
Zar langsung mematikan panggilan telepon nya begitu saja. Ziel pun akhirnya menghela nafas lega. Namun masih ada banyak hal yang kini membuat nya penasaran tentang musibah tujuh tahun yang lalu.
Kalau pria yang mengemudi itu bukan Zar, lalai siapakah pria malang yang tewas pada saat kejadian itu?.
Ziel mengambil nafas dan menghembuskan nya dengan cepat. "Seperti nya Aku harus meminta bantuan Pak Putra untuk menyelidiki kasus kecelakaan tujuh tahun yang lalu" Gumam Ziel yang langsung menghubungi kenalan nya di pihak kepolisian yang dulu menangani kasus kecelakaan keluarga nya.
"Lo harus bertanggung jawab atas semua kejahatan yang udah Lo perbuat. Demi Ayah, Ibu dan keluarga Alin. Gue bakal bikin Lo mati atau membusuk di penjara!" Ucap Ziel pelan.