My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C12. Menyimpan Rahasia



"Biar Uncle saja. Uncle sudah bisa mandi sendiri" Ziel lagi-lagi menolak saat Alina akan membantu nya membersihkan tubuh nya sore ini.


"Kenapa Uncle?. Biasanya juga Alina yang membersihkan tubuh Uncle, saat Uncle koma" Ziel menelan saliva nya dengan lekat saat apa yang dikhawatirkan nya sejak pagi menjadi nyata, kalau Alina sudah melihat tubuh nya tanpa sehelai benang pun.


"Tapi sekarang Uncle sudah bangun dari koma, Alia" Ziel pun memberikan alasan karena masih belum bisa memastikan kebenaran hubungan nya dengan Alina.


"Tapi Uncle masih belum boleh banyak bergerak. Lihat, badan Uncle masih banyak yang memar". Alina kembali memberikan alasan agar bisa membantu Ziel.


"Uncle bisa sendiri Alia"


"Uncle kenapa sih?. Alin mau bantu Uncle lho!"


Ziel mengambil nafas kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.


"Apa Kamu tidak merasa jengah melihat Uncle yang tanpa _"


"Apa Uncle yang jengah kalau Alin melihat Uncle tanpa _" Ziel mengangguk pelan ucapan Alina yang menggantung.


"Ya sudah. Kalau begitu Uncle kerjakan saja sendiri!" Alina pun akhir nya menjauh dari Ziel setelah menyerahkan baju ganti lengkap dengan pakaian dalam yang akan Ziel kenakan nanti.


"Padahal semingguan ini Aku yang gantiin. Kenapa harus merasa jengah, kalau masih ada hubunga darah. Kecuali nggak ada hubungan darah tuh baru jengah dan juga ogah, membersihkan tubuh yang bukan Mahram nya" Alina menggerutu pelan namun masih bisa terdengar oleh Ziel.


"Lalu kalau ternyata Kita punya hubungan darah gimana?." Ziel menepuk pelan bibir nya yang ketelepasan berucap mengenai kecurigaan nya itu.


"Memang nya Kita nggak punya hubungan darah?." Alina membalikkan pertanyaan nya kepada Ziel dan membuat Ziel pun bingung akan menjawab apa.


"Uncle hanya bilang kalau"


Alina menghembuskan nafas pelan menanggapi pernyataan Ziel.


"Nggak usah ada kata kalau, jika Uncle memang mau membuang Alina!"


"Bukan begitu Alia, Uncle hanya tidak ingin Kamu mempunyai pikiran macam-macam setelah melihat Uncle topless!"


Alina memutar malas kedua bola mata nya.


"Uncle itu Paman Alina, sudah kewajiban Alina membantu Uncle saat Uncle koma. Apa Uncle lebih rela kalau tubuh Uncle di bersihkan oleh perawat?"


"Bukan begitu Alia. Uncle hanya tidak ingin Alina menjadi trauma atau nanti membandingkan dengan pasangan Alina kelak"


"Kan Alina sudah bilang sama Uncle. Sudah kewajiban Alina membantu Uncle. Uncle kenapa sih jadi ribet kaya gini?."


Ziel terdiam.


"Ya sudah kalau Uncle sudah bisa sendiri, lebih baik Alina kembali ke pondok. Buat apa Alina ada di sini kalau ternyata kehadiran Alina membuat Uncle jengah!" Alina membalikkan tubuh nya dan berjalan menuju meja guna mengambil tas kecil nya.


"Bukan begitu Alia"


Alina mengabaikan ucapan Ziel dan lebih memilih berjalan menuju pintu keluar ruang perawatan Ziel.


Grep


Tubuh Alina membeku saat Ziel memeluk nya dari belakang dengan tangan kanan nya, sementara tangan kiri nya memegang tiang infusan.


"Jangan pergi, kalau Alia pergi siapa yang akan menjaga Alia?"


"Alin sudah besar bisa jaga diri sendiri!"


Ceklek


Alina membuka gagang pintu


Brak


Azriel menutup kembali pintu yang sudah sedikit terbuka dengan mendorong selang infusan nya.


"Apalagi Uncle?"


"Jangan pergi!"


"Buat apa Alin di sini?. Kan Uncle nggak mau Alin bantu!"


"Bukan begitu Sayang. Uncle hanya takut Alia risih saja!"


"Kalau risih sudah dari awal Alin tidak akan membantu Uncle membersihkan badan Uncle".


"Tapi untuk sekarang dan selanjutnya biarkan Uncle melakukan sendiri. Karena Uncle sudah bisa membersihkan nya sendiri".


"Terserah Uncle saja"


Ziel mengusap lembut pucuk kepala Alina yang di balas Alina dengan memeluk tubuh Ziel dengan erat.


"Uncle"


"Hm"


"Jantung Uncle kenapa berdetak lebih kencang dari biasanya?"


"Maksud nya?"


"Detak jantung Uncle berdetak lebih kencang dibandingkan saat Alin memeluk Uncle seperti biasa nya".


Ziel terdiam tak menyahuti lagi ucapan Alina, melerai pelukan nya dengan Alina.


"Uncle mau mandi dulu" Ziel mengalihkan pembicaraan Alina.


"Ya sudah Alin tinggal dulu untuk beli makan ya Uncle!"


"No. Pesan online saja. Uncle nggak izinkan Alin keluar tanpa pengawasan Uncle!"


"Tapi_"


"Nggak ada tapi. Duduk yang manis saat Uncle mandi. Pesan makanan pakai HP Uncle saja" Titah Ziel tak terbantahkan sebelum masuk kedalam kamar mandi.


🌹


🌹


Ziel susah diperbolehkan keluar dari rumah sakit di hari kelima pasca bangun dari koma nya, dan memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah dipersiapkan nya untuk tinggal bersama dengan Alina.


Namun sebuah fakta mengejutkan justru diterima oleh Ziel karena ternyata apa yang diucapkan pria yang mengaku sebagai Abizar itu benar ada nya.


Tak ingin berkubang dalam dosa dan tak ingin Alina mengetahui fakta yang sebenarnya tentang hubungan mereka membuat Ziel pun melakukan konsultasi agama kepada Abi Dhika, selalu orang yang faham tentang agama.


"Sebaik nya Pak Ziel bicarakan dengan Alina. Tak elok rasa nya kalau Pak Ziel menikahi Alina tanpa Alina ketahui" Nasihat Abi Dhika saat Ziel mengutarakan niat nya ingin menikahi Alina namun tanpa sepengetahuan Alina, karena ziel tidak ingin Alina mengetahui kalau mereka tidak mempunyai ikatan darah.


"Dan lebih tak elok pula, jika Pak Ziel dan Alina tinggal bersama, padahal Pak Ziel mengetahui kalau Alina dan Pak Ziel tidak terikat Mahram" Lagi lagi nasihat Abi Dhika membuat Ziel bingung.


Dia tak rela harus berpisah dengan Alina, karena bisa saja Alina saat ini tengah dalam bahaya kalau Abizar benar masih hidup.


Dengan hidup terpisah dari Alina membuat Abizar bisa saja menjalankan rencana yang pernah diucapkan nya saat Ziel masih koma dulu.


Ya pada saat Abizar mencabut alat yang Ziel gunakan saat koma, secara ajaib pria itu bisa mendngar apa yang Abizar ucapkan. Tentang status nya sebagai anak angkat dan juga ucapan yang menjurus Abizar ingin mencelakai Alina.


"Saya takut Alia akan menjadi tak enak hati terhadap Saya kalau Alia tahu akan kebenaran ini Pak Ustadz"


"Akan lebih berdosa lagi jika Pak Ziel tetap menyimpan rahasia ini dan membuat Alina tetap tinggal bersama Pak Ziel tanpa ikatan".


"Alina yang tidak mengetahui tak ada hubungan darah antara Pak Ziel dan Alina pasti akan tetap melakukan hal yang biasa di lakukan nya dengan Pak Ziel tentu tak akan menjadi masalah bagi Alina. Namun karena Pak Ziel sudah mengetahui kalau Alina dan Pak Ziel tak ada ikatan darah, dan Pak Ziel tetap menerima perlakukan yang biasa Alina lakukan kepada Pak Ziel, maka hal itu akan menjadi dosa karena secara tidak langsung Pak Ziel sudah melakukan Zina apalagi jika ada Syah*** yang di rasakan oleh Pak Ziel"