My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
Bab 32 Tumbal



"Akting yang keren little nephew" Apha Acid mengacungkan kedua ibu jari tangan nya kepada Bastian seraya tertawa kecil yang langsung surut setelah Bastian berucap "Yang bilang bercanda siapa little uncle".


Sontak saja Apha Acid langsung menatap tajam Bastian yang memasang wajah santai nya menatap balik Apha Acid. "Eits santai aja dong Uncle Bro. Abi sama Umi aja santai" Kekeh Bastian yang justru membuat Apha Acid mendengus kencang.


"Ini karena mereka berpikir Kamu bercanda Bas!" Kekehan Bastian pun terhenti dengan nada serius pria berusia matang itu menatap balik Apha Acid "Kalau Saya nggak bercanda bagaimana?. Toh tadi Neng Ara juga sudah menganggukan kepala nya menjawab lamaran dadakan yang Saya ajukan?" Ucap lantang Bastian.


"Saya tau dan sadar diri kalau Saya masih jauh dari kata layak untuk masuk dan menjadi bagian dari keluarga besar Abi Dhika. Namun tak mungkin kan kalau Neng Ara mengingkari apa yang sudah di angguki nya tadi?" Semua nya terdiam dan mengalihkan pandangan nya kepada Bastian dan Ara.


"Ish, sakit Tante" Gumam Bastian saat Amih Nana mencubit lengan nya. "Babas nggak bercanda Tante. Kalau Babas bilang Babas jatuh cinta sama Neng Ara sejak Babas kemari nganter kado si kembar, Tante percaya nggak?"


"Becanda Kamu. Kamu tuh lagi Gamon di tinggal nikah sama si _"


"Dek Acid!" Abi Dhika langsung memotong ucapan Apha Acid agar tidak melanjutkan ucapan nya lagi supaya tidak membuat Bastian mengingat kejadian pahit nan mengenaskan kisah cinta nya dengan sang mantan calon istri nya itu.


"Sudah sudah. Urusan ini kita bicarakan lagi nanti dengan kepala dingin. Biarkan Abi dan Umi bicarakan hal ini dulu dengan Ara dan Bastian dulu" Titah Abi Dhika tak terbantahkan.


########


Beberapa hari kemudian di lain tempat, tepat nya di sebuah rumah mewah, terjadi sebuah peristiwa menggemparkan.


Akibat Erin yang menunjukkan kepada samg Mama foto Alina dan Ziel yang sedang makan bersama nya juga Arlan dan keluarga nya beberapa hari yang lalu membuat seluruh kedua orang tua Erin dan Arlan itu pun berdebat.


"Apa maksud nya ini Pah?" Seorang wanita paruh baya tengah berteriak dengan histeris kepada seorang pria paruh baya seraya menunjukkan foto di layar HP Erina kepada seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi kerja nya dalam ruang kerja di rumah mewah tersebut.


"Banyak orang yang mirip Mah!" Ucap pria tak menanggapi foto yang berada di layar HP tersebut.


Pria itu meneruskan pekerjaan mengabaikan sang istri yang tengah menatap nya meminta penjelasan.


Sementara Erin hanya bisa terdiam menatap kedua orang tua nya yang tengah bertengkar beradu argumen tersebut.


"Jelaskan Juan!" Papa Erina menatap tajam Mama Erina ketika sang Istri dengan lantang menyebut nama nya.


"Jaga cara bicara Kamu Jesicca!" Mama Erina tak kalah menatap tajam sang suami yang kini sudah berdiri dari duduk nya dengan menatap tajam sang istri.


"Sudah Ma, Pa!" Keduanya menghela nafas kesal lalu saling membuang pandangan kearah lain guna meredakan emosi mereka setelah mendengar teriakan Erin.


"Karena apa yang Kamu dan Mama duga itu adalah benar, Dek!" Arlan tiba-tiba masuk kedalam ruangan tanpa permisi.


Pria itu membawa sebuah map dan meletakkan nya di atas meja kerja nya dengan kasar hingga membuat beberapa berkas dan juga foto yang ada di dalam map tersebut berserakan.


Mama Erin meraih selembar surat berlogo sebuah rumah sakit swasta ternama di kota mereka.


Kedua bola mata nya membulat saat membaca isi dari selembar kertas berlogo rumah sakit swasta tersebut.


Dengan berderai airmata, wanita cantik berdarah Inggris Jawa itu pun menyodorkan kertas tersebut kehadapan sang suami yang wajah nya mulai menyiratkan kecemasan dan kegugupan.


"Jelaskan apa maksud nya ini Pah?"


"Ma" Arlan dan Erin langsung meraih tubuh sang Mama saat tiba-tiba saja tubuh paruh baya itu meluruh menahan emosi dan juga kesedihan yang mendalam atas fakta yang baru saja di dapatkan dari sang putra.


Papa Arlan dan Erin mengusap wajah nya dengan kasar disertai geraman menahan amarah nya.


"Apa yang ingin Kamu tau Mah?. Anak itu sudah tewas sejak Papa Kamu mengambil nya dari ruang perawatan nya!" Ucap Papa Arlan dan Erin itu tak kalah histeris membuat Arlan dan Erin pun terkejut, terlebih sang istri yang semakin keras menangis nya.


"Papa Kamu, tanpa belas kasih Dia membuang anak Kita ke hutan terlarang hanya karena perjanjian konyol nya dengan apa yang sudah di yakini nya agar menjadi kaya raya!" Tubuh Papa Arlan dan Erin itu pun luruh, beruntung Erin dan Arlan sudah membantu sang Mama duduk di sofa, sehingga Arlan bisa dengan sigap membantu sang Papa untuk kembali duduk di kursi kerja nya.


Mama menggelengkan kepala nya tak percaya mendengarkan ucapan suami nya. Wanita cantik itu terus menerus menggumamkan ketidak percayaan atas ucapan suami nya tersebut.


"Tidak mungkin. Papa tidak mungkin berbuat dan mempercayai hal hal aneh dan di luar akal sehat itu!". Kamu pasti bohong! Papa _"


"Itu kenyataan nya Jesicca!" Papa Arlan dan Erin itu kembali bersuara dengan lantang memotong ucapan sang istri yang semakin terisak dalam tangis.


"Mbok Ijah yang memberitahu Aku kelakuan diluar nalar yang sudah Papa Kamu lakukan demi mencapai kekayaan nya. Bahkan Pak Darma lah yang disuruh oleh Papa Kamu untuk menghabisi nyawa anak Kita ditempat petilasan Papa Kamu semedi dan membuang nya ke sungai!" Papa Arlan menundukkan kepala nya dalam-dalam menahan emosi nya.


"Kamu tidak tau bagaimana Aku mencari keberadaan putra pertama kita ditempat Pak Darma membuang anak Kita. Tapi Aku tidak menemukan tubuh nya di sana hanya sebuah kantong plastik pembungkus nya. Apalagi ada banyak bercak darah di dalam plastik tersebut, membuat Aku semakin yakin kalau putra pertama kita sudah tewas dan jasad nya terbawa arus sungai!" Tutur Papa panjang lebar dengan suara lirih mengingat bagaimana dia mencari keberadaan sang putra setelah salah seorang pembantu kepercayaan keluarga Jesicca Mama Arlan memberitahu rencana dan kebusukan Papa Mertua nya.


"Kamu tau apa yang Papa Kamu ucapkan saat Aku bertanya kenapa Beliau tega menyuruh orang untuk menghabisi nyawa darah daging nya?. Dia takut kekayaan nya akan habis karena pantangan bagi keturunan nya untuk melahirkan anak kembar, dan anak pertama yang lahir harus di jadikan korban, agar kekayaan semakin bertambah!"


"Ya Tuhan!" Ucap Arlan dan Erin bersamaan. Kedua nya tidak percaya kalau Opa yang selama ini selalu menyayangi mereka ternyata sesudah tega membunuh saudara mereka hanya demi harta.