
Seperti biasa nya, selepas sholat Shubuh berjamah dengan Ziel, Alina pun bergegas keluar kamar menuju dapur guna membuatkan sarapan untuk Ziel.
Hal itu sudah menjadi kebiasaan nya saat tinggal bersama dengan Ziel, sebelum tinggal di pondok atau ketika dia liburan.
Yang berbeda kini Alina mengerjakan nya di rumah bukan di ruko lagi seperti terakhir kali dia membuatkan sarapan sepulang nya Ziel dari rumah sakit.
Ya selepas keluar dari rumah sakit Ziel memutuskan untuk tinggal di ruko dengan alasan sedang banyak pengiriman, sementara Alina di rumah bersama dengan Mbok Yani, hingga dua malam yang lalu Alina terpaksa menemui Ziel untuk bertanya kepada Ziel yang sejak kepulang nya dari rumah sakit menghindari nya.
"Assalamu'alaikum. Eh ada Neng Alin, pagi-pagi sudah ada di dapur aja" Ucap Mbok Yani yang masuk kedalam dapur dari pintu samping dengan membawa tas belanjaan nya, seperti nya Mbok Yani baru saja pulang dari warung sayur yang berada tak jauh dari kediaman Ziel.
"Waalaikumsalam Bu. Iya mau buat sarapan" Ujar Alina membalas ucapan Mbok Yani.
"Ibu belanja apa?" Alina seraya melihat kepada Mbok Yani yang sedang sibuk mengeluarkan hasil belanja nya pagi itu.
"Pesenan Neng Alina semalam" Alina menepuk pelan kening nya ketika baru mengingat kalau semalam sebelum pergi ke ruko gadis itu berpesan untuk belanja sayuran dan yang lain nya karena stok sayuran dan lain nya di kulkas sudah tinggal sedikit.
"Maaf Bu. Alina lupa" Ucap Alina sambil tertawa kecil dan membantu Mbok Yani merapikan sayuran yang di beli tadi.
"Pagi ini kita buat nasi goreng seafood aja ya Bu. Sudah lama Alin ndak buat itu buat Uncle" Tutur Alina menyiapkan sayuran yang akan di masak nya.
"Siap Neng. Mau Mbok bantu?"
"Ndak usah Bu. Ibu bisa mengerjakan yang lain saja"
Mbok Yani mengangguki ucapan Alina dan bergegas meninggalkan Alina yang tengah membersihkan sayuran sebagai bahan tambahan nasi goreng seafood nya kedepan rumah untuk membersihkan halaman rumah Ziel.
Alina pun mulai sibuk membuat sarapan nya. Tak lupa gadis itu juga membuatkan Mbok Yani nasi goreng yang sama.
"Aduh jadi laper" Bisikan Ziel di sisi kanan Alina membuat gadis cantik itu terkejut.
"Astaghfirullahalazim, Uncle. Kaget tau" Alina menepuk pelan bahu Ziel yang berdiri di samping nya.
"Masa?" Tanya Ziel usil yang tiba-tiba menyarangkan sebuah kecupan di pipi kanan Alina yang sontok saja membuat gadis itu kali ini melayangkan cubitan di pinggang kiri Ziel hingga membuat Ziel meringis kesakitan.
"Sakit sayang. Cubitan Alia tuh kaya kepiting, kecil tapi sakit" Rengek Ziel yang di balas Alina dengan memutar malas kedua bola mata nya.
Panggilan sayang memang sudah biasa Ziel ucapkan untuk Alina sejak gadis itu tinggal bersama nya.
"Habis nya Uncle iseng banget, suka nya bikin Alin kaget aja" Protes Alina sambil meletakkan piring yang sudah berisikan nasi goreng buatan nya itu keatas meja makan.
"Maaf sayang. Habis nya Alia kelihatan sibuk banget, sampai Uncle datang aja nggak tau" Ujar Ziel memberikan alasan lalu mendudukkan tubuh nya di kursi makan.
"Wah kangen banget sama sarapan buatan Chef Alina Azalia yang pasti nya enak banget" Puji Ziel saat mulai menyantap sarapan nya.
Alina mencembikkan bibir nya mendengar pujian Ziel.
"Uncle kan lagi tirakat" Ucap Ziel memberikan alasan yang kembali dihadiahkan Alina cembikan.
"Masih ada nggak sayang?, Uncle mau nambah" Ucap Ziel seraya menunjukkan piring nya yang sudah kosong kepada Alina dengan cengiran khas Ziel dalam jangka waktu beberapa menit saja.
Alina pun segera mengambil piring Ziel dan kembali mengisi piring kosong tersebut dengan nasi goreng yang sengaja di buat nya lebih satu porsi, karena gadis itu tau sekali kalau sang Uncle sangat menyukai nasi goreng seafood buatan nya itu, untuk kemudian duduk berhadapan dengan Ziel untuk bersarapan juga.
"Bu Yani kemana Sayang?" Tanya Ziel setelah selesai sarapan bersama dengan Alina.
Wajah Alina sontak langsung memerah mendengar panggilan Ziel. Padahal sebelum sah panggilan itu memang sudah Ziel sematkan kepada Alina sejak enam tahun yang lalu.
"Ibu biasanya sedang membersihkan halaman dengan Uncle" Alina menjawab pertanyaan Ziel dengan tertunduk malu, karena Ziel kini sudah berdiri tepat di belakang nya berpura-pura mencuci tangan, padahal saat ini Alina tengah mencuci piring.
"Terima kasih atas sarapan nya Sayang" Bisik Ziel dan dengan usil nya pria itu langsung mengecup singkat pipi kanan Alina dan langsung berlari kecil takut Alina akan protes atas perbuatan usil nya.
Dan benar saja, tawa Ziel langsung terdengar saat tiba di ruang tamu ketika mendengar teriakan protes Alina yang memanggil nya.
"Uncle, ih kebiasaan banget!"
#######
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, ketika Alina baru saja selesai membuat makan siang. Rencana gadis itu akan membawakan makan siang sesuai pesanan suami nya yang ingin menikmati nasi liwet sebagai makan siang nya.
"Sudah siap semua nya Neng?" Mbok Yani bertanya kepada Alina saat Alina akan beranjak menuju kamar nya untuk mandi dan berganti pakaian sebelum ke ruko.
"Alhamdulillah udah Bu. Alina tinggal mandi dan ganti baju dulu ya Bu. Soal nya sudah hampir waktu makan siang Uncle"
"Iya Neng. Biar nanti Mbok yang bereskan sisa nya"
Alina mengangguk pelan lalu berucap "Iya Bu. Terima kasih ya Bu"
Mbok Yanj tersenyum kecil sebelum menjawab ucapan Alina " Udah seharusnya Neng. Itu kan memang pekerjaan Mbok"
Alina mengulas senyuman manis sebelum pamit ke kamar nya kepada Mbok Yani.
Mbok Yani menatap kagum kepada gadis yang akan berusia 17 tahun beberapa minggu lagu seraya bergumam "MasyaAllah udah cantik, sholehah, pintar, rajin dan bisa masak pula. Beruntung nya pria yang kelak akan menjadi suami Neng Alina".
Mbok Yani membersihkan perlengkapan masak yang belum sempat Alina bersihkan setelah selesai memasak makan siang karena gadis itu harus segera pergi ke ruko Ziel.
"Sayang Pak Ziel dan Neng Alina itu Paman dan Keponakan, seandainya bukan, mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan pasti anak anak mereka akan mempunyai wajah yang ganteng dan cantik seperti Pak Ziel dan Neng Alina" Ujar Mbok Yani melanjutkan gumaman nya.
Ya atas permintaan Alina kemarin di kediaman Abi Dhika, Ziel pun terpaksa masih harus menyembunyikan status hubungan mereka yang tidak sedarah bahkan kini sudah menikah.
Pasal nya Alina takut orang lain tidak menerima status mereka bahkan tak menutup kemudian akan ada fitnah kalau mereka menikah padahal masih ada hubungan darah, jadi bagi Alina lebih baik mereka merahasiakan hubungan mereka dulu untuk beberapa waktu kedepan hingga berkas pernikahan Ziel dan Alina di sah kan secara hukum dan negara.