
"Kalau begitu, mau kan menikah dengan Uncle?"
Alina mengangguk lalu terkejut saat menyadari kalau Ziel memberikannya pertanyaan jebakan yang berhasil membuat Alina semakin gugup dan deg deg an berhadapan dengan Ziel.
Alina mengerucutkan bibirnya melihat senyuman Ziel seolah tengah meledek nya, karena angguk nya.
"Buruan wudhu, Uncle tunggu di ruang sholat" Ziel melangkah keluar kamar Alina, sementara Alina masih terdiam menatap punggung Ziel yang sudah keluar dari dalam kamar nya.
Gadis cantik itu menghirup nafas panjang sebelum akhir nya beranjak dari peraduan menuju kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar Alina terbuka, gadis cantik itu pun bergegas keluar kamar nya menuju sudut ruangan yang Ziel bangun khusus untuk ruang ibadah.
Ziel mengakhiri mengaji nya bertepatan dengan Alina yang tiba di ruang sholat.
Mereka bergegas melaksanakan sholat malam berjamaah di lanjutkan dengan mengaji seraya menunggu waktu shubuh tiba.
Selepas sholat shubuh Alina melanjutkan kegiatan nya membuat sarapan pagi, sementara Ziel memilih menghabiskan waktu mengecek email ekspedisi nya.
Jam menunjukkan sudah pukul 7 pagi saat Alina menyelesaikan membuat sarapan dan membersihkan diri.
Ziel sudah duduk di ruang makan saat Alina tiba di ruang makan, sementara Mbok Yani saat ini tengah pergi ke pasar guna membeli beberapa bahan makanan yang habis.
Sudah menjadi kebiasaan Alina menyiapkan makanan untuk Ziel setiap mereka makan bersama, jadi tanpa di sadari Alina tetap melakukan kebiasaan nya melayani Ziel makan.
Tak seperti biasa nya sarapan pagi ini terasa sunyi, karena baik Alina ataupun Ziel memilih saling berdiam diri. Padahal biasa nya suasana hangat penuh canda tawa dan cerita selalu tercipta saat mereka menikmati makan di ruang makan tersebut.
Alina bergegas merapikan piring bekas makan nya saat Ziel masih menyisakan beberapa suapan terakhir nya.
"Biar nanti Uncle saja yang bersihkan"
Tanpa permisi Ziel menggeser tubuh Alina kesamping kanan nya dan segera mencuci piring bekas sarapan mereka.
"Alia tunggu Uncle di ruang baca, ada hal penting yang ingin Uncle sampaikan kepada Alia"
"Tapi_" Ziel hanya melirikkan mata nya kearah Alina membuat gadis cantik itu pun paham dan tak berani menolak permintaan Uncle nya.
Alina pun segera berjalan menuju ruang baca yang berada di samping ruang ibadah.
Sebuah ruangan berukuran 4×4 meter itu memang selalu menjadi ruang bagi nya dan Ziel saat berbincang-bincang.
Tak ada meja, kursi ataupun sofa di ruang baca tersebut. Hanya ada dua buah rak buku yang saling berhadapan di masing masing-masing berisikan buku buku koleksi milik Ziel di sebelah kanan dan buku buku koleksi milik Alina di rak sebelah kiri ruangan.
Alina mendudukan tubuh nya di atas karpet yang berada di tengah ruangan dengan beberapa buah bantal kecil yang biasa di gunakan sebagai alasan tiduran saat membaca buku, setelah mengambil sebuah buku yang akan di baca nya sambil menunggu kedatangan Ziel.
Ceklek
pintu ruangan baca terbuka menampakkan Ziel yang masuk kedalam ruang baca dengan membawa sebuah map yang entah berisikan apa.
Kalau dulu di waktu senggang mereka membaca buku Alina sering merebahkan kepala nya di paha Ziel ataupun sebaliknya, namun kini justru kecanggungan yang tercipta di antara mereka saat duduk bersebelahan dan berjarak pula.
"Ehm"
Ziel berdeham berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka berdua.
"Ada beberapa hal yang ingin Uncle sampaikan" Ziel berucap pelan sambil menyodorkan map yang di bawa nya kehadapan Alina.
Kedua alis gadis cantik itu langsung mengernyit saat membaca map yang bertuliskan firma hukum salah seorang pengacara terkenal di kota nya.
"Map itu berisikan surat wasiat milik Eyang Kakung Alia" Alina mengalihkan pandangan kearah Ziel yang tengah menatap nya. Alina pun segera mengalihkan pandangan nya saat jantung nya berdetak sangat kencang saat bersitatap dengan Ziel.
"Pak Utama sengaja meminta Uncle yang menyimpan nya setelah Alia masuk ke pondok"
Alina pun membuka map tersebut dan membaca isi surat wasiat yang di tulis tangan oleh sang Eyang.
Perlahan kedua bola nya mulai meneteskan airmata nya ketika membaca bait demi bait surat wasiat tersebut.
"Selama Alia belum berusia 20 tahun atau belum menikah, maka Uncle yang mengurus semua peninggalan Eyang karena Uncle adalah Paman Kamu" Alina menganggukan kepala nya pelan menyetujui ucapan Ziel karena apa yang Ziel ucapkan itu tertulis di dalam surat wasiat tersebut.
"Tapi, karena sekarang sudah di ketahui kalau kita senasab, maka dengan ingin Uncle menyerahkan nya langsung kepada Alia" Tutur Ziel yang kini mendapatkan gelengan kepala dari Alina.
"Jangan, biarkan Uncle saja yang tetap urus semua nya" Pinta Alina kepada Ziel. Ziel menggelengkan kepala nya tak setuju.
"Maaf, Uncle tidak bisa. Apalagi beberapa waktu yang lalu ada orang yang mengaku sebagai Bang Zar, jadi _"
"Nggak. Ayah Zar sudah meninggal bersama Bunda juga para Eyang!" Sanggah Alina memotong ucapan Ziel.
"Tapi_"
"Uncel. Alin lihat sendiri kalau Ayah_"
Alina menghentikan ucapan nya karena ragu. Pasal nya saat kecelakaan itu terjadi Alin sedang tertidur, bahkan gadis itu tidak mengetahui bagaimana kecelakaan itu terjadi, karena saat dia membuka mata nya dia sudah berada di rumah sakit dan terluka.
Bahkan gadis itu tidak di izinkan masuk keruang IGD guna melihat kondisi terakhir keluarga nya.
Tubuh Zar sebagai pengemudi bahkan hancur hingga tidak bisa di kenali lagi selain dari Kartu identitas yang berada di saku celana panjang nya dan pakaian terakhir yang di yakini Alina sebagai pakaian yang di kenakan oleh sang Ayah.
"Kenapa?" Ziel bertanya setelah melihat banyak keraguan yang tampak di wajah Alina.
"Alin nggak tau bagaimana kecelakaan itu terjadi, Uncle. Alin hanya ingat setelah Ayah menjalankan mobil, Alin tertidur di samping Bunda dan terbangun saat perawat sedang membersihkan tubuh Alin yang terluka" Ucap Alina. Ziel menautkan alis nya mencoba memahami ucapan Alina yang baru saja di ketahui nya.
"Seperti ada yang tidak beres dengan kecelakaan itu. Apalagi orang yang ingin mencelakai Uncle itu mengaku sebagai Bang Zar" Ujar Ziel curiga.
"Uncle harap semua ini menjadi rahasia Kita. Uncle harap Kamu tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun termasuk Abi Dhika dan keluarga nya. Karena Uncle takut mereka akan dalam bahaya kalau mereka mengetahui cerita Kamu tersebut" Alina menganggu pelan, hati nya kini semakin gundah dan takut kalau orang yang mencelakai Ziel akan kembali dan kembali menyakiti Ziel dan tak menutup kemungkinan dia pun akan menjadi target orang tersebut.
"Lalu apa yang harus Kita lakukan Uncle. Alina takut orang itu akan kembali mencelakai Kita!"