My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C15. Malu



Setelah Ziel menyerahkan selembar kertas yang membuat Alina terkejut tak percaya dengan apa yang tertulis di kertas tersebut, gadis itu justru menundukkan kepala nya dalam-dalam seolah mengingat kembali kejadian beberapa minggu silam saat Ziel masih terbaring koma.


"Astaghfirullahalazim!" Alina bergumam kala kembali teringat pengalaman nya membersihkan tubuh Ziel yang tengah koma.


Rupa nya tak hanya Alina yang kini merasa malu karena sudah melihat sesuatu yang ternyata haram untuk di lihat apalagi sempat di sentuh nya. Ziel yang walaupun saat itu tengah koma pih merasa malu karena hal tersebut.


"Jadi_" Alina menggantungkan ucapan nya.


"Kita tidak terikat Mahram" Jawab Ziel pelan namun masih bisa terdengar oleh Alina.


"Astaghfirullahalazim" Alina bergumam seraya menggelangkan kepala nya tak percaya.


"Ya ampun jadi gimana dong Uncle. Alina _. Ah Ya Allah. Hamba mohon ampun Ya Allah. Lagi pula saat itu Kami tidak tahu kalau Kami tidak sedarah" Alina kini merutuki hal yang selama seminggu di lakukan nya saat Ziel terbaring koma.


"Alia" Alina mengangkat tangan kanan nya seolah meminta Ziel untuk tak berucap sepatah kata pun, membuat Ziel pun tak melanjutkan ucapan nya.


"Sejak kapan Uncle tahu?" Alina pun mengajukan pertanyaan nya.


"Baru tadi saat Uncle mencari Kamu. Namun Uncle sudah memcurigai kalau Kita tidak sedarah saat Uncle baru sadar dari koma" Jawab Ziel pelan.


"Jadi saat Uncle menolak Alina membantu Uncle, Uncle sudah tau _"


"Hanya baru curiga" Ziel sengaja memotong ucapan Alina.


Alina menghela nafas pelan dan masih tak mau menatap kearah Ziel.


"Ada hal yang harus Uncle ceritakan. Tapi berhubung ini sudah larut malam, sebaiknya besok saja Uncle ceritakan" Ujar Ziel lalu beranjak dari duduk nya untuk beranjak keluar dari kamar Alina.


"Jangan!" Alina menahan langkah Ziel dengan menarik ujung kemeja Ziel.


Ada rasa canggung yang kedua nya rasakan ketika mengetahui fakta kalau kini mereka hanyalah sepasang orang asing yang sayang nya sudah saling mengenal satu sama lain dengan sangat lama.


"Lebih baik Paman ceritakan sekarang saja. Agar besok Saya bisa mengambil keputusan untuk kedepan nya"


Ziel terpaksa menatap Alina yang kini hanya bisa menundukkan kepala nya. Ada rasa kesal saat Alina mengganti panggilan mereka satu sama lain, dan hal itu membuat Ziel tak suka.


"Alia tahu kan, sebelum Uncle sadar dari koma ada yang ingin mencelakai Uncle?" Alina menganggukan pelan kepala nya.


Walaupun Alina mengubah panggilan mereka, namun Ziel masih tetap memanggil Alina seperti biasa nya nya.


"Pria itu mengatakan kalau Dia adalah Bang Zar" Nama terakhir yang Ziel ucapkan membuat Alina terpaksa mendongakkan kepala nya menatap Ziel yang ternyata tengah menatap nya.


"Nggak mungkin. Ayah kan sudah meninggal bersama Bunda juga para Eyang" Ucap Alina tak percaya.


"Awal nya Uncle juga tidak percaya. Apalagi saat itu Uncle masih berada dalam koma. Namun, walaupun Uncle masih berada dalam keadaan koma, Uncle menyadari kalau suara itu mirip dengan suara Bang Zar"


Ziel menjeda kisah nya, melihat sekilas kearah Alina yang menundukkan wajah nya sambil sesekali menggelengkan kepala nya tak percaya.


"Dia bilang kalau Uncle hanya anak pungut. Dia menyesal karena Uncle masih bisa selamat, dan dia juga bilang ingin mencelakai Alina"


Ziel menghentikan cerita nya guna melihat reaksi Alina yang masih terdiam.


"Jadi kerena mendengar ucapan itu membuat Uncle mulai menjauhi Alina?"


"Bukan menjauhi lebih tepat nya menghindari selama Uncle mencari tahu kebenaran nya".


Alina merotasi malas kedua bola mata nya mendengar penjelasan Ziel.


"Apa beda Uncle?. Menjauhi dan menghindari itu sama saja maksudnya!"


Ziel menggelangkan kepala nya menolak protes Alina.


Penjelasan Ziel membuat Alina berdecak kesal.


"Terserah Uncle saja. Alina pusing kalau mendengar ucapan Uncle"


Ziel tertawa kecil dan membuat Alina pun mengalihkan pandangan nya kearah Ziel yang sedang tertawa hingga membuat Alina pun terpesona dan mulai merasakan kalau detak jantung nya mulai berirama tak karuan saat melihat Ziel tertawa.


Dan sial nya pikiran nya justru kembali mengingat saat dia membersihkan tubuh Ziel saat koma.


"Astaghfirullahalazim!" Alina menggumam seraya berusaha menghempaskan ingatan nya itu.


"Lalu sekarang apa yang harus Kita lakukan?" Tanya Alina pelan.


"Ayo kita menikah!" Kedua bola mata Alina membulat dengan sempurna dan menatap Ziel dengan tajam setelah pria itu berucap.


"Jangan gila Uncle!" Alina membentak Ziel dengan keras.


"Kenapa?. Kita tidak punya hubungan darah?" Ujar Ziel tak terima


"Tapi orang-orang pasti akan menilai kita salah!" Kembali Alina memberikan alasan penolakan nya.


"Kenapa harus memikirkan omongan orang-orang?" Ziel kembali membalas ucapan penolakan Alina.


"Ya salah Uncle!" Alina pun menjawab dengan kesal.


"Ya ampun Alia. Kita tidak punya hubungan darah dan sah menikah karena tidak terikat Mahram!" Ujar Ziel memberikan alasan yang masuk akal.


"Nggak Alina nggak mau menikah dengan Uncle!" Tolak Alina keras.


"Kita harus tetap menikah. Karena Alia harus bertanggung jawab terhadap Uncle!" Ucqpqn Ziel membuat Alina menatap kesal Ziel.


"Memang apa yang sudah Alina lakukan, sampai sampai Uncle meminta Alina bertanggung jawab terhadap Uncle?" Tanya Alina kesal.


"Alia harus bertanggung jawab karena sudah melihat dan menjamah tubuh polos Uncle." Jawb Ziel memberikan alasan.


"Astaghfirullahalazim. Saat itu Alina nggak tau kalau kita tidak sedarah. Dan hal itu wajar Alina lakukan karena Alina nggak mau tubuh Uncle di bersihkan oleh perawat!" Tutur Alina memberikan alasan.


"Uncle tidak mau pikiran Alia jadi kotor dan akhir nya otak Alia akan melakukan zina karena mengingat tubuh polos Uncle!" Jawab Ziel yang kembali membuat Alina beristighfar.


"Ayo kita menikah agar Uncle bisa melindungi Alia dari pria yang mengaku Bang Zar dan ingin mencelakai Alia!" Ucap Ziel dengan lembut.


Alina menggelengkan kepala nya menjawab ajakan Ziel.


"Nggak. Alina akan tinggal di pondok saja!" Alina menolak ajakan Ziel.


"Nggak. Uncle nggak izinkan Kamu kembali ke pondok!" Kali ini Ziel yang menolak usulan Alina.


"Kenapa?. Kenapa Uncle melarang Alina kembali ke pondok?" Ziel terdiam tak menjawab pertanyaan Alina karena sejati nya pria itu tengah bingung dengan perasaan nya sendiri yang bimbang kalau jauh dari Alina.


"Uncle jangan takut keluarga Abi Dhika pasti akan menjaga Alina dari hal yang Uncle takutkan itu! Ucap Alina.


Ziel kembali menggelengkan kepala nya mendengar ucapan Alina.


"Uncle tidak akan mengizinkan Kamu kembali ke pondok!" Ucap Ziel kembali mengulangi perkataannya.


"Kenapa?. Apa alasan Uncle melarang Alina kembali ke pondok?" Tanya Alina geram.


"Karena Uncle mulai mencintai Alia!"