
Sudah seminggu ini Ziel dinyatakan koma oleh Dokter, dan selama seminggu ini pula lah Alina selalu menjaga dan menemani Ziel di ruang perawatan.
Setiap pagi dan sore hari Alina selalu membersihkan tubuh Ziel dan menggantikan pakaian Ziel.
Ada rasa sungkan saat Alina membersihkan atau menggantikan pakaian Ziel sendiri, namun rasa lebih tak rela tubuh sang uncle di bersihkan tubuh nya dan di ganti pakaian nya oleh perawat pria terlebih wanita, membuat Alina mengabaikan rasa sungkan nya. Toh sudah menjadi kewajiban bagi nya untuk membantu sang uncle masih belum siuman itu.
Alina selalu merebahkan tubuh nya di samping sang uncle sambil membacakan ayat ayat dari kitab suci nya yang sudah di khatamkan nya berkali-kali selama mengenyam ilmu di pondok pesantren hingga tak jarang gadis itu justru tertidur lelap di samping Ziel.
🌹
🌹
Minggu kedua Ziel di rawat di rumah sakit, pria itu juga terlelap dalam tidur panjang nya, membuat pihak rumah sakit pun akhir nya meminta Alina sebagai Wali pasien untuk menemui pihak administrasi untuk membahas perkembangan Ziel selama menjalani perawatan selama beberapa minggu ini.
Dengan berat hati Alina pun terpaksa meninggalkan Ziel untuk beberapa menit kedepan di ruang perawatan nya sendiri.
"Uncle, Alin tinggal sebentar ya, ada yang harus Alin urus dulu di administrasi" Alin meminta izin kepada Ziel sambil berbisik sebelum keluar dari kamar perawatan Ziel, karena harus melengkapi beberapa berkas Ziel di rumah sakit.
Alina pun bergegas menuju bagian administrasi rumah sakit yang berada di lantai dasar rumah sakit, sementara ruang rawat Ziel berada di lantai tiga.
Taklama setelah Alina keluar dari ruang rawat Ziel, seorang tak dikenal masuk kedalam ruang rawat Ziel, setelah memastikan tak ada perawat si sekitar ruangan Ziel.
Orang tak dikenal itu membuka hodie yang dipakai nya. Seorang pria tersenyum miring melihat kearah Ziel yang masih terbujur kaku.
"Apa kabar Dek?. Nyenyak sekali tidur mu!" Pria itu menghampiri Ziel dan melihat dengan seksama tubuh Ziel yang di pasang banyak alat bantu.
"Masih di sayang Tuhan Kamu Dek!" Ucap nya seraya tertawa kecil dengan tangan kanan yang mulai menggoyang goyang kan selang infus hingga membuat cairan infus itu pun bergoyang goyang.
"Bang Zar kangen sama Kamu!" Dengan tanpa perasaan pria itu menepuk tangan Ziel yang tengah dipasang jarum infus, kembali terdengar suara kecil dari pria yang mengaku sebagai Zar.
"Ups. Maaf. Abang sengaja" Ujar Zar yang mulai memainkan selang oksigen Ziel.
"Abang nggak nyangka anak Abang sekarang udah gede, cantik pula. Sayang Dia anak Abang, darah daging Abang, jadi nggak bisa Abang apa-apain kaya Bunda nya!" Bisik Zar sambil tersenyum mengejek Ziel.
"Eh, tapi bukan nya sekarang udah hal yang lumrah yah kalau seorang Ayah juga bisa ngapa ngapain anak kandung nya sendiri bukan?" Zar kembali berbisik tepat di telinga kanan Ziel.
"Kamu pasti kangen sama Ayah dan Ibu kan?"
"Pasti kangen dong, kan Kamu anak kesayangan mereka. Bahkan mereka lebih menyayangi anak pungut nya di bandingkan anak kandung nya sendiri!" Zar menarik paksa selang oksigen Ziel hingga membuat Ziel sesak.
"Ups. Abang sengaja lagi. Hahaha!" Ucap Zar lagi dengan tak bersalah.
"Ck sial. Padahal Abang pengen banget ngeliat akhir dari si anak pungut!" Zar segera keluar ruangan perawatan Ziel setelah dengan sengaja dan secara kasar menarik selang alat bantu Ziel sebelum keluar dari ruangan rawat Ziel dan bersembunyi di ujung lorong saat melihat seorang dokter dan perawat berlari menuju ruang rawat Ziel.
Senyum kecil terukir di wajah Zar sebelum melangkah keluar dari persembunyian dan berjalan dengan santai keluar dari rumah sakit.
Sementara itu di ruang rawat Ziel Dokter Michael tengah berjibaku menyelamatkan nyawa Ziel yang detak jantung berhenti.
Tubuh Ziel terlonjak saat alat defibrillator di tempatkan ke dada Ziel. Tangisan kecil Alina pun terdengar di balik doa meminta keselamatan untuk Ziel.
Detak jantung Ziel pun kembali setelah tiga kali Dokter Michael menggunakan defibrillator kepada Ziel.
"Puji Tuhan, pasien sudah kembali" Ucap Dokter Michael.
"Alhamdulillah." Gumam Alina lalu berjalan menghampiri Ziel dan mengenggam erat tangan Ziel.
"Apa yang terjadi dengan Paman Saya Dok?" Pertanyaan Alina membuat Dokter Michael pun terkejut.
"Seperti nya ada yang ingin mencelakai Pak Ziel" Ucapan Dokter Michael membuat Alina terkejut.
"Maksud nya Dok?. Ada orang yang dengan sengaja ingin membunuh Paman Saya?" Dokter Michael mengangguki ucapan Alina.
"Bagaimana bisa?. Ruangan ini adalah ruangan Intensif, tidak bisa sembarangan orang masuk. Belum lagi alat-alat yang Paman Saya gunakan itu langsung terhubung keruangan jaga, kenapa bisa ada orang yang masuk dan pihak jaga tidak mengetahui nya?" Ucap Alina dengan meninggikan nada bicara nya.
"Maafkan atas keteleodaran Kami Dek. Kami_"
"Bagaimana kalau sampai Paman Saya tidak selamat?" Alina yang kesal pun langsung memotong ucapan Dokter Michael.
"Kami mohon maaf yang sebesar-sebesar nya atas keteledoran Kami" Ucap Dokter Michael menyesal.
Alina hanya terdiam tak menanggapi ucapan Dokter Michael dan justru mengusap lembut wajah Ziel dan duduk di sisi kanan Ziel tanpa mau melepaskan genggaman nya dengan Ziel.
"Maafin Alin Uncle. Alin janji nggak akan tinggalin Om lagi!" Bisik Alina lirih dan mengecupi punggung tangan Ziel.
Hal itu sontak saja membuat Dokter Michael dan perawat yang ikut dengan nya menjadi salah tingkah dan memutuskan meninggalkan Alina dan Ziel setelah pamit untuk keluar ruangan dan di anggukin oleh Alina dengan pelan.
"Uncle. Bangun Uncle. Kalau Uncle nggak bangun Alina bagaimana?. Kata nya Uncle mau ajak Alin tinggal bersama Uncle. Kata nya Uncle mau mengantar jemput Alin kuliah. Kalau Uncle masih seperti ini, bagaimana Uncle bisa melaksanakan apa yang sudah Uncle rencanakan?" Alina kembali berbisik kepada Ziel.
"Uncle sayang kan sama Alina?. Kalau Uncle sayang sama Alina, lekas bangun ya Uncle. Alina sendirian, Alina takut kalau orang jahat yang ingin mencelakai Uncle tadi kembali lagi dan akan menyakiti Uncle atau mungkin juga Alina nanti" Ucap Alina lirih lalu menangis kecil sambil memeluk lengan Ziel dengan erat
Gadis itu pun akhir nya naik keatas bangkar Ziel dan merebahkan tubuh nya di sisi kanan Ziel.
"Alina sayang sama Uncle" Alina mengecup pipi kanan Ziel dengan lembut, lalu merevahkan kepala nya di bahu Ziel, seraya mengusapi lembut lengan Ziel gadis itu kembali membacakan untaian ayat ayat suci guna menemani Ziel hingga membuat gadis cantik itu pun akhir nya ikut tertidur lelap.
Bip
Bip
Bip
Bip ... Bip ... Bip ...
"Alia"