
"Mas" Ziel tersenyum kala mendengar des**** manja Alina kala Ziel meneguk sumber kehidupan calon keturunan nya satu persatu.
"Maafkan kalau ini akan sakit Sayang" Alina mengangguk pasrah saat perlahan-lahan tubuh polos nya mulai menyatu dengan tubuh polos Ziel di bawah selimut.
"Eugh"
"Ststs"
Ziel melenguh dan Alina mendesis kala pertama kalo Ziel melakukan dan Alina menerima serangan memasuki terowongan pribadi milik Alina.
Melihat wajah Alina yang meringis ketika Ziel perlahan-lahan memasuki terowongan membuat Ziel yang sejak dulu sangat menyayangi Alina dan tak pernah ingin melihat Alina terluka itu pun ingin membatalkan memasuki terowongan pribadi Alina.
"Maaf" Ziel ingin menarik diri keluar dari terowongan, namun Alina menahan nya, walaupun masih terasa ngilu dan sakit di ujung pintu terowongan, dengan insting alami nya, Alina menekan pintu terowongan untuk menjempit Ziel, membuat Ziel pun merasakan kenikmatan untuk yang pertama kali nya.
"Sayang" Ziel merengek pelan saat di dalam terowongan merasakan gerakan yang membuat nya kini pelan pelan memasuki lebih dalam terowongan hingga akhir nya dengan beberapa kali hentakan, Ziel pun berhasil meresmikan terowongan pribadi Alina untuk selalu di kunjungi nya kapan pun Dia mau.
"Akh" Alina mende*** manja dan Ziel melung*** perk*** kala Ziel mulai berjalan perlahan-lahan namun pasti menyusuri terowongan penuh kenikmatan yang baru saja pertama kali mereka jelajahi.
Kedua nya saling menatap penuh cinta saat berjalan bersama, Ziel yang dengan lembut menyusuri terowongan membuat Alina mende***.
"Sayang / Hubby" Kedua nya saling memanggil saat Ziel merasakan terowongan Alina banjir, wajah Alina semakin merona saat air suci itu mengalir dengan sendiri nya untuk pertama kalinya.
Ziel menjeda bergerak menjelajah untuk membiarkanAlina membanjiri terowongan nya, setelah dirasa sudah mulai surut, Ziel mengusap lembut pipi Alina dengan punggung tangan nya, seraya membisikkan kata "Boleh Mas lanjutkan, Sayang?" Alina memgangguk pelan dengan wajah yang semakin merona.
Keduanya menggunakan insting mereka untuk menjelajah, tak terhitung ada berapa banyak stempel cinta Ziel yang Dia berikan di beberapa bagian tubuh Alina, dan entah ada berapa garis cakaran yang berada di punggung belakang Ziel yang Alina berikan sejak awal Ziel memasuki dan mendobrak tembok di dalam terowongan nya.
Ziel kembali bersemangat menjelajahi terowongan saat di tengah perjalanan ada sesuatu yang harus dituntaskan sebagai bentuk akhir nya perjalanannya menyusuri terowongan, hingga sebait doa Ziel gumamkan sebagai langkah akhir penyusuran perdana nya "Allahumma Jannibna asy Syaithon wa Jannib asy Syaithon Ma Rozaqtana.”
Ziel menghentak berhenti bergerak seraya melenguh pelan menik**** acara menyiram terowongan Alina dan Alina sendiri mende*** pelan nan panjang sesaat ketika menerima dan menyemburkan air suci nya bersamaan dengan air yang Ziel semprotkan beberapa kali di dalam terowongan Alina.
Alina mendesis pelan saat perlahan-lahan Ziel menarik selang pribadi nya, wajah kedua nya merona saat sudah saling terlepas dari penyatuan mereka.
Ziel melingkarkan lengan kanan nya di pinggang Alina hingga kini kedua tubuh polos mereka saling bersentuhan. Ziel mengecup dalam kening Alina "Terimakasih sayang, dan maaf kalau Mas menyakiti Kamu" Bisik Ziel menyatukan kening nya dengan kening Alina.
Alina mengusap lembut rahang kokoh Ziel "Semua nya sudah kewajiban Alin memberikan hak Mas" Bisik Alina yang langsung mengecup singkat bibir Ziel membuat Ziel pun terkejut, namun seulas senyuman dan tatapan usil Ziel menghiasi wajah lelah namun puas Ziel membuat Alina seketika itu juga merinding, apalagi di bagian bawah tubuh polos mereka Alina kembali merasakan selang pribadi Ziel mulai terulur tegak kembali.
"Sepertinya Alin kembali membangunkan singa yang tengah tertidur" Gumam Alina yang di tertawai oleh Ziel. "No baby, Dia hanya ingin menunjukkan kepada pawang nya, kalau selalu tegak saat dekat dengan pawang nya" Kedua bola mata Alina membulat dengan sempurna menatap dalam penuh cinta kepada Ziel "Really?" Pertanyaan itu Alina keluarkan seolah mencari kebenaran atas ucapan Ziel.
Ziel menganggukan kepala nya yakin. "Kamu tau sejak, Mas diberitahu oleh orang misterius kalau kita tidak terikat hubungan darah, Dia selalu berdiri tegak saat berdekatan dengan Kamu" Alina menepuk bahu Ziel pelan saat Ziel dengan sengaja menggerakkan selang nya kearah pintu terowongan Alina. Tawa pun akhir nya pecah, dengan gemas Ziel membawa Alina kedalam pelukan nya.
"Mas wudhu dulu ya" Wajah Alina sontak kembali merona ketika Ziel melepaskan pelukan nya dan hendak beranjak pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya dengan tubuh polos nya.
Setelah kembali dari mengambil wudhu Alina kembali menjalankan kewajiban nya untuk memberikan hak Ziel atas diri nya, kali ini rasa sakit yang Alin dapatkan saat pertama kali selang Ziel memasuki ruangan sudah tidak terlalu terasa sakit lagi. Seolah sudah paham akan tujuan nya Ziel terus menyusuri terowongan Alina hingga kembali selang nya menyemprot bersamaan dengan banjir nya terowongan Alina, dan kembali sebait doa Ziel gumamkan di sela tetesan terakhir air dari selang nya yang kini sudah menyatu dengan air suci dari terowongan Alina.
"Terimakasih, Sayang. Kita istirahat dulu ya" Alina mengangguk pasrah mendengar bisikan Ziel. Tubuh polos nya kini memeluk tubuh Ziel, menenggelamkan kepala nya dalam dada bidang sang suami sebelum akhir terlelap dalam tidur nya disusul Ziel yang kini sudah memejamkan mata nya menyusul Alina menjemput mimpi mereka.
Pagi menjelang setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah Alina pun memutuskan untuk membuat sarapan seperti biasa nya, walaupun Ziel sudah melarang nya kerena tak tega melihat Alina yang ketika berjalan masih merasa sakit. Alina memang tidak bilang sakit, namun raut wajah meringis yang Alina tampakkan membuat Ziel khawatir.
"Nggak apa-apa Mas, nanti juga terbiasa kok" Itulah yang Alina ucapkan saat Ziel melarang nya untuk ke dapur membuat sarapan.
"Biar Bu Yani aja yang buatan sarapan nya, Sayang" Alina tersenyum kecil mendengar rengekan sang suami.
"Nggak apa-apa Hubby" Ziel berdecak pelan saat Alina kekeh ingin ke dapur melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri bagi Ziel.
"Ya sudah. Buat sarapan nya yang gampang aja, supaya Kamu nggak banyak gerak" Alina mengangguk pelan lalu mengecup sekilas bibir Ziel sebelum akhir nya berlari kecil keluar dari kamar nya sambil meringis karena pintu terowongan nya masih terasa ngilu.
"Assalamu'alaikum Bu" Alina menyapa Mbok Yani yang baru masuk kedalam dapur dari pintu samping setelah pulang berbelanja.
"Waalaikumsalam Neng" Mbok Yani menjawab salam Alina, namun kedua mata nya menatap curiga kepada Alina saat melihat cara berjalan Alina yang tampak aneh tak seperti biasa nya.
"Neng lagi sakit?" Alina menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Mbok Yani. "Kok jalan nya Neng Alin ngengkang begitu, kaya orang_"