My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C29. Benarkah?



"Neng lagi sakit?" Alina menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Mbok Yani. "Kok jalan nya Neng Alin ngengkang begitu, kaya orang_"


Mbok Yani mengnggantungkan ucapan, wanita paruh baya itu melihat dengan seksama Alina yang tampak salah tingkah dengan ucapan yang sengaja tak dilanjutkan oleh wanita yang sejak Alina bayi sudah mengabdi kepada keluarga besar sang Bunda.


"Itu_" Alina hanya menggumam bingung mau melanjutkan kalimat nya, karena memang Mbok Yani masih belum mengetahui perihal pernikahan nya dengan Ziel.


"Alina dan Saya sudah menikah sejak lebih dari dua bulan yang lalu Mbok" Ucapan Ziel membuat Mbok Yani menatap tak percaya kepada Alina dan Ziel bergantian.


"Astaghfirullahalazim. Kalian ber_"


"Kami tidak ada hubungan darah Mbok" Ucap Ziel langusung memotong ucapan Mbok Yani.


"Alina dan Saya tidak ada tali persaudaraan. Maaf kalau selama lebih dari dua bulan ini, Kami menyembunyikan status Kami, karena Kami masih ingin mengetahui satu hal yang sampai sekarang menjadi rahasia tentang keluarga kami masing-masing" Mbok Yani masih menatap tak percaya kepada Alina dan Ziel. Bahkan wanita paruh baya itu terpaksa mendudukkan tubuh nya di atas kursi ruang makan karena masih syok mendengar ucapan Ziel.


"Diminum dulu Bu" Alina menyodorkan segelas air putih kepada Mbok Yani. "Terimakasih Neng" Ucap Bu Yani lirih menerima gelas dari Alina, namun masih belum juga meminum nya.


"Ini bukti bukti kalau Kami tidak sedarah dan bukti pernikahan Kami" Ziel menyerahkan selembar hasil test DNA dan juga buku nikah milik nya dan juga Alina.


Mbok Yani meneteskan airmata saat membaca hasil test DNA dan melihat buku nikah Alina dan Ziel Namun masih ada keraguan menyelimuti hati nya dan memaksa wanita paruh baya itu melontarkan sebuah pernyataan "Neng Alin itu anak sah Pak Abizar dan Mbak Dina, sedangkan Pak Ziel adalah adik Pak Abizar, jadi_"


"Saya adik angkat Bang Zar. Dan saya baru mengetahui hal tersebut sesaat sebelum saya bangun dari koma, ada orang misterius yang sengaja ingin mencelakai saya. Dari situ Saya mulai mencari tahu kebenaran nya. Hingga ketika Alina pergi malam itu, disaat bersamaan hasil tes DNA keluar dan menyatakan kalau Saya dan Alina tidak terikat hubungan darah. Dan saya menikahi Alina agar bisa melindungi Alina dari pria misterius yang mengatakan akan mencelakai Alina" Mbok Yani menutup mulut nya dengan tangan kanan nya, menatap sendu kepada Ziel dan juga Alina bersamaan.


"Ya Allah. Maafin Mbok Neng, Pak." Alina memeluk Mbok Yani yang kini tengah menangis menyesali pikiran buruk nya terhadap Zie dan Alina beberapa saat lalu.


"Ndak apa-apa Bu. Maaf Kami terpaksa merahasiakan pernikahan Kami" Ucap Alina.


"Ya Allah. Mbok bingung, tapi Mbok senang kalau Pak Ziel dan Neng Alin menikah. Karena memang sejak Neng pulang dari pondok dua bulan lalu, Mbok sudah curiga karena Pak Ziel tampak lebih perhatian dengan Neng Alina, dan Mbok juga sering mendengar Neng memanggil Pak Ziel dengan Mas bukan Uncle lagi kalau lagi nggak ada Mbok di sekitar Pak Ziel dan Neng Alina. Tapi untuk bertanya langsung Mbok sungkan, karena ya itu tadi kalau di depan Mbok, Neng Alina masih selalu memanggil Pak Ziel Uncle" Tutur Mbok Yani panjang.


"Dan Alhamdulillah, seperti nya saat ini Neng sudah menjadi istri Pak Ziel yang sesungguhnya" Wajah Alina langsung merona mendengar ucapan Mbok Yani.


Mbok Yani mengusapi lembut punggung Alina yang tengah duduk di samping nya, "Mbok titip Neng Alina kepada Pak Ziel. Sebagai orang yang membantu mengurus dan membesarkan Alina ketika masih ada keluarga nya, Mbok berharap Pak Ziel bisa menjaga dan menyayangi Alina lebih dari ketika Alina masih menjadi keponakan Pak Ziel. Mbok doa kan agar pernikahan Neng Alin dan juga Pak Ziel selalu di berkahi dan di rahmati oleh Gusti Allah S.W.T, dijadikan keluarga yang selalu Sakinah, Mawadah serta Warahmah, dan kelak di berikan keturunan uang sholeh dan sholehah. Aamiin Ya Rabbal Alamin"


Ziel dan Alina mengaaminkan ucapan disertai oleh doa yang di ucapkan oleh Mbok Yani. Alina pun memeluk erat tubuh wanita yang sudah di anggap nya seperti orang tua nya sendiri.


"Yang nurut sama suami ya Neng. Pak Ziel itu paket lengkap" Bisik Mbok Yani menggoda Alina membuat Alina pun malu.


Alina dan Ziel merasa lega setelah mengungkapkan rahasia pernikahan mereka kepada Mbok Yani. Dan Ziel pun sudah tak perlu lagi sembunyi sembunyi menunjukkan perhatian nya kepada Alina.


Dan akhit ny kini Mbok Yani hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Ziel yang sangat manja kepada Alina. Sikap yang berbanding terbalik saat mereka masih berstatus Paman dan Keponakan.


Di tempat yang berbeda, Ara yang bisa nya ceria kini menjadi pendiam. Sejak Dia mengetahui dari Abi dan Umi nya perihal pernikahan Alina dan Ziel setelah mendapat persetujuan dari Alina dan Ziel, juga setelah Alina menghubungi Ara sehari setelah pertemuan mereka.


Gadis itu patah hati, karena pria yang di sukai itu kini telah menjadi milik sahabat nya. Ara menghela nafas pelan lalu menatap lurus kedepan. Gadis itu meletakkan kepala bya di tengah jendela kamar.


Tatapan lurus kedapan, tak menyadari seorang pria yang diam-diam berjalan mengendap endap menghampiri nya.


"Astaghfirullahalazim!" Ara memekik kencang saat tiba kening nya di sentil pelan. "Uncle Bas, apaan sih ngagetin aja!" Ucap Ara kesal kepada pria dewasa yang tengah berdiri di hadapan nya sambil berkecak pinggang.


"Ngapain bengong kaya orang kesambet, lagi putus cinta ya?" Ucap usil sang pria yang justru membuat Ara tiba-tiba menangis.


"Eh, kok nangis. Maaf, Neng. Om Bastian cuma becanda" Pria itu panik saat tangis Ara semakin kencang. " Ya elah Ra, udah dong. Uncle mana tau kalau kamu lagi patah hati!"


"Hua.... Uncle Bas jahat!" Ara semakin menangis menanggapi ucapan Bastian yang benar ada nya.


"Ya ampun Ra. Maaf dong. Om kan nggak tau kalau Kamu lagi jadi sad girl!" Kembali tangis Ara pun menguar dan semakin kencang karena Bastian lagi-lagi mempertegas masalah hati nya.


"Udah dong Neng Ara berhenti nangis, bisa-bisa Uncle di ceramahin Apha Kamu Neng" Ucap Bastian merengek.


Pria berusia 34 tahun yang masih memutuskan menjadi lajang diusia yang sudah matang itu masih takut kepada suami Tante nya yang juga mantan lawan debat nya saat SMU dulu yang merupakan Paman Ara itu menjadi ketakutan karena Ara tak jua menghentikan tangisan nya.


Ya Bastian adalah Keponakan dari Amih Nana yang baru beberapa minggu ini tinggal di pondok guna memperdalam ilmu agama yang baru di anut nya itu.


"Uncle Bas" Ara memanggil Bastian dengan suara parau setelah tangisnya mereda.


"Apa Neng?" Ara menghela nafas pelan lalu mengajukan pertanyaan yang membuat Bastian terkejut. "Ara pengen punya suami kaya Alina yang usia nya sama dengan Uncle nya Alina. Uncle Bas mau nggak jadi suami Ara?"


"Apa?. Benarkah?"