My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C22. Knowing Every Particular Object



"Ayo lah Ziel spill dikit aja gimana perasaan Lo ke Alin sekarang?. Ada yang spesial kah?"


"Lo pikir martabak spesial!" Ipul mendengus kesal, namun Ziel masih tetap saja tak mau memberitahukan perasaan nya saat ini kepada Alina kepada Ipul.


Jangankan Ipul, Ziel saja masih belum juga mengungkapkan perasaan nya kepada Alina, karena perlakuan Ziel terhadap Alina masih sama seperti ketika status mereka menjadi Paman dan kemenakan.


"Ya ampun Ziel. Pelit banget sih Lo, cuma tinggal bilang iye Gue sayang sama Alina, Gue cinta sama Alina. Gitu aja apa sih susah nya!"


Plak


Ziel memukul kencang bahu belakang kanan Ipul setelah pria itu berucap, membuat Ipul pun mengaduh kesakitan "Aduh. Sakit dodol!"


Ziel rmenatap tajam Ipul "Lo yang mulai dodol. Ngapain Lo bilang suka juga cinta sama Alina!" Ipul membalas pukulan Ziel dengan sama kencang nya.


"Dasar oge. Yang Gue bilang itu perasaan Lo bukan perasaan Gue. Lagi juga siapa sih yang nggak bakal tertarik sama Alin. Cantik, sopan, agamis, aduh aduh Ziel apaan sih Lo" Ipul meronta kala Ziel menarik kerah kaos nya lalu menarik untuk keluar dari ruangan nya.


"Berani Lo suka sama Alin, Gue bikin perkedel Lo!" Bukan nya takut Ipul justru tertawa terbahak bahak, karena sikap Ziel yang pasti akan marah-marah kalau ada yang memuji bahkan mengatakan tertarik kepada Alin sejak gadis itu memasuki usia remaja.


Ya Alina sangat cantik, berkulit khas Indonesia, wajah manis dengan kedua lesung pipi yang akan semakin tampak saat gadis itu tersenyum, tak membuat pesona nya berkurang dan mengalahkan wanita berkulit putih yang selalu menjadi perhatian para kaum hawa.


Sejak memutuskan tinggal di pondok Alin selalu menggunakan pakai syar'i bahkan sejak memasuki kelas delapan, Alin memutuskan untuk mengenakan niqab guna menutupi wajah nya yang selalu berhasil mengundang perhatian kaum hawa untuk menatap nya, jadi hanya Ziel lah yang selalu melihat wajah Alina sejak gadis itu remaja hingga mereka menikah.


Bahkan ada beberapa Ustadz muda yang menjadi pengajar di pondok nya berniat mengkhitbah nya, namun Alin menolak nya dengan alasan masih ingin bersekolah dan mengapai cita-cita nya.


Alin memang tak pernah mengatakan kepada Ziel kalau sudah ada beberapa pria yang ingin mengkhitbah nya saat di pondok, dan hal itu pun Alin sampaikan kepada keluarga Abi Dhika agar tidak memberitahu Ziel.


Alina takut Ziel akan memindahkan nya ke pondok lain atau mungkin bersekolah di tempat lain, jika Ziel mengetahui hal tersebut.


Karena sejak Alina menjadi tanggung jawab Ziel setelah Alina sebatang kara, Ziel memang over protektif terhadap Alina dan sangat menjaga pergaulan Alina, untung nya Alina termasuk gadis yang kurang suka berbaur dengan banyak orang apalagi lawan jenis, sehingga sikap Ziel yang over protektif itu tak mengganggu keseharian Alina, bahkan gadis itu merasa senang karena dengan sikap Ziel yang seperti itu membuat Ali a merasa sangat di sayang oleh Ziel.


Skip. Balik lagi ke Ipul yang sekarang kerah kaos nya sudah tidak di tarik lagi oleh Ziel.


"Mulut Lo emang nggak ngomong. Tapi dari sikap Lo Gue bisa kalau Lo udah ada hati sama Alin" Ziel berdecak kesal menanggapi ucapan Ipul.


"Gue yakin bakal banyak orang yang nentang hubungan baru Lo sama Alin, walaupun Lo udah nunjukin bukti bukti, pasti orang orang itu bakal tetep nuduh hubungan Kalian itu terlarang. Dan pasti nya bakal banyak hujatan buat kalian berdua" Ucapan Ipul langsung di benarkan oleh Ziel.


"Iya Lo benar. Bahkan Gue masih belum berani bilang ke Mbok Yani tentang hubungan Gue sama Alina" Ucap Ziel lirih.


"Jadi Lo mau nutupin status Alina sebagai istri Lo?" Pertanyaan Ipul membuat Ziel menghela nafas pelan, lalu memandang lirih wajah sang sahabat yang menampakkan wajah keingintahuan yang sangat besar.


Wajah Ipul berubah menjadi pias setelah Ziel berucap, membuat pria itu pun akhir nya mengajukan pertanyaan kepada Ziel " Maksud Lo?. Gue sakit?". Sayang nya pertanyaan yang di ajukan Ipul itu mendapat jawaban anggukan Ziel yang membuat wajah Ipul semakin pias dan ketakutan.


"Gue rasa Lo kena penyakit Kwoning Every Particular Object akut" Wajah pias Ipul langsung berubah masam setelah Ziel berucap.


"Ribet Lo pake di jabarin singkatan si K E P O!" Tawa Ziel langsung membuncah melihat Ipul yang berjalan meninggalkan ruangan nya.


"Woi semprul maen ngeloyor aje Lo. Tapi mau ngapain Lo ke ruangan Gue. Udah kaya tuyul masuk aja Lo dateng pergi nggak permisi!" Ipul menghentikan langkah nya lalu membalikkan tubuh nya kearah Ziel.


"Jadi lupakan Gue, gara-gara liat aksi pedo*** Lo, tuh laporan yang Lo minta, udeh Gue taro di meja" Ucap Ipul yang hanya di balas Ziel ajukan jempol kedua telapak tangan nya, Ziel langsung masuk dan menutup pintu ruangan nya.


"Akhir nya Gue bisa ngeliat Lo bersemangat lagi Ziel. Semoga kalian bisa menghadapi masalah yang akan kalian hadapi kelak" Sebait harapan berisikan doa untuk sang sahabat Ipul ucapkan dalam hati nya.


Ziel memeriksa berkas yang di bawa oleh Ipul tadi, setelah selesai memeriksa nya Ziel pun memutuskan untuk melihat Alina, karena sejak kedatangan Ipul tadi gadis nya itu berada di dalam kamar istirahat nya.


Ceklek


Seulas senyuman Ziel menghiasi wajah tampan nya. Perlahan-lahan dilangkahkan kaki nya menuju pembaringan yang biasa menjadi tempat istirahat nya saat lelah itu kini tengah menjadi tempat pembaringan gadis nya.


Wajah cantik Alina menggoda Ziel untuk merebahkan tubuh nya di sisi kosong sang gadis yang tengah terlelap dalam tidur siang.


Ziel merapikan helaian rambut panjang sang gadis yang masih terlelap, namun rupa nya gerakan lembut Ziel itu menganggu nyenyak nya tidur sang gadis yang kini semakin merajai hati Ziel setelah sang Pencipta-Nya.


"Uncle" Gumam Alina yang masih memejamkan kedua kelopak mata nya.


Cup


Sontak saja kedua bola mata gadis yang sedang setengah sadar karena menahan kantuk itu membulat dengan sempurna mana kala Ziel menyarangkan bhibhir nya tanpa permisi ke bhibhir gadis cantik itu.


"Uncle!" Protesan Alina kembali membuat Ziel melakukan perbuatan nya lagi.


Cup


Setelah menyadari kesalahan panggilan nya Alina pun merubah panggilan nya dengan sangat lembut dan manis gadis itu memanggil "Hubby" kepada Ziel yang langsung di balas oleh Zeil "Iya, sayang" lengkap dengan senyuman manis yang beberapa hari ini selalu membuat detak jantung Alina bertabuh dengan kencang nya.


"Ah. Melting Dedek liat Mamas kaya gini!" Rengekan Alina membuat Ziel yang gemas pun langsung memeluk erat tubuh Alina dan mengecu** puncuk kepala Alina berkali-kali.


"Semoga ujian yang kelak Allah berikan buat kita, bisa kita atasi bersama." Ucap Ziel dalam hati nya.