
"Astaghfirullahalazim" Alina membuang jauh sebuah kotak paket yang baru saja di terimanya dari salah satu ojek online.
Sebuah kota berisikan seekor ayam hitam berlumuran tanpa kepala Alina lempar ke taman di teras rumah nya dan Ziel.
Mendengar teriakan Alina dari depan, Ziel yang saja keluar dari kamar pun segera berlari menuju suara Alina berasal.
"Astaghfirullahalazim, Sayang Kamu tidak apa-apa?" Ziel langsung memeluk tubuh Alina yang tengah menatap kosong kearah paket yang tadi dibuang nya.
Ziel menatap dengan tajam paket yang Alina buang, telapak kiri nya terkepal dengan erat, sementara telapak tangan kanan nya mengusapi lembut punggung Alina yang mulai bergetar menahan tangis nya.
Ziel membawa Alina masuk kedalam rumah nya dengan masih memeluk Alina dari sisi kanan nya, lalu mendudukkan tubuh Alina di kursi ruang makan, "Mas ambilkan minum dulu ya, Sayang" Alina menahan langkah Ziel yang akan meninggalkan nya menuju dispanser yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Ziel mengusap lembut pucuk kepala Alina yang berbalut hijab, "Sebentar saja Sayang, Mas hanya mengambilkan minum buat Kamu" Alina menggelengkan kepala nya lalu memeluk pinggang Ziel yang berdiri dihadapan nya, meletakkan kepalanya di perut Ziel yang masih terus mengusapi lembut kepala nya.
Tangis kecil Alina pun mulai terdengar, membuat Ziel pun khawatir "Hei Sayang, jangan nangis. Ada Mas yang akan selalu melindungi dan menjaga Kamu" Ziel melepaskan pelukan Alina di pinggang nya lalu menjongkokkan tubuh nya di hadapan Alina.
Ditangkup nya wajah Alina dengan kedua telapak tangan nya lalu dengan menggunakan kedua ibu jari tangan nya yang berlainan sisi mengusap lembut air mata Alina yang mulai membasahi pipi nya.
"Alin takut Mas" Bisik Alina lirih. Ziel memeluk Alina dengan sangat erat dengan suara nya yang bergetar menahan tangisan. "Ada Mas, Sayang" Bisik Ziel membalas pelukan Alina dengan erat.
"Mas akan meminta Pak Putra untuk menyelidiki masalah ini. Kamu tenang ya Sayang" Ziel berucap seraya melepaskan pelukan Alina.
"Untuk sementara ini, Kamu jangan menerima paket dari mana pun, apalagi kalau Kamu tidak membeli secara online" Alina mengangguk pelan.
Cup
Wajah Alina sontak merona kala Ziel mencuri kecupan singkat di bhibir nya bertepatan dengan Mbok Yani yang berjalan tergopoh gopoh masuk kedalam rumah dengan membawa aneka sayuran yang baru saja di beli nya sebagai bahan masak tambahan yang kurang. Ziel mengusap lembut pucuk kepala Alina sebelum mendirikan tubuh nya untuk berdiri di samping Alina.
"Assalamu'alaikum Neng." Ucap salam Mbok Yani dari depan, wanita paruh baya itu dengan setengah berlari menghampiri Alina disertai wajah panik nya saat tadi sempat melihat paket yang di buang Alina di teras rumah
"Waalaikumsalam Bu" Jawaban serempak Ziel dan Alina membuat Mbok Yani terkejut, karena di kiranya Ziel sudah berangkat ke ruko. "Eh maaf Pak Ziel. Saya pikir Pak Ziel sudah berangkat ke ruko"
Ziel mengangguk pelan "Ndak apa-apa Bu, tadi nya mau berangkat tapi ada paket yang tidak layak di terima oleh Alin"
Mbok Yani dengan sigap langsung mengambil gelas dan mengisi nya dengan air putih lalu segera di berikan kepada Ziel agar Alina meminum nya.
Mbok Yani sangat paham dengan sikap Alina yang akan memeluk Ziel saat dia ketakutan, karena itulah wanita paruh baya itu mengetahui kalau Ziel belum sempat memberikan Alina minum karena melihat Alina yang masih mengenggam erat tangan kanan Ziel.
"Minum dulu, Sayang" Ziel menyodorkan gelas yang tadi diberikan Mbok Yani. Alina pun segera menerima dan langsung meminum nya hingga tandas.
"Terimakasih Bu"
Alina menggelengkan kepala nya lemah.
"Nanti Mbok bilang ke Pak Satpam blok kalau ada paket buat Neng Alin, supaya taruh di pos dulu, biar nanti Mbok yang ambil ya Neng" Alina mengangguk pelan.
"Mau ke kamar?" Alina menggelengkan kepala nya pelan. "Mau bantu Bu Yani buat makan siang dulu, Mas" Alina menjawab pertanyaan yang di Ziel tanyakan tadi.
"Mas kalau mau ke ruko berangkat aja. Ada Ibu yang akan menemani Alin di rumah" Tutur Alina mengingatkan Ziel karena saat ini sudah lewat dari jam seharusnya Ziel ke ruko.
"Mas khawatir sama kamu, Sayang" Ujar Ziel yang enggan meninggalkan Alina walaupun sudah ada Mbok Yani yang menemani nya.
"Nggak apa-apa Mas. Nanti Alin ke ruko nya bawa motor ya" Ziel menggelengkan kepala nya tidak menyetujui keinginan Alina.
"Untuk sementara ini Kamu di rumah saja dulu ya, Sayang. Biar nanti Mas pulang untuk makan siang nya" Alina mengerucutkan bibirnya karena keinginan nya di tolak oleh Ziel.
"Selama pelaku teror belum tertangkap, Kamu harus selalu berada di rumah. Mas takut kalau Kamu keluar, pelaku peneroran tersebut akan menyakiti Kamu, Sayang" Ucap Ziel memberikan alasan nya.
"Sampai kapan Mas?. Alin kan juga harus kuliah" Rengekan Alin dibalas Ziel dengan usap Sayang di kepala Alina hingga membuat wanita muda itu pun mendongakkan kepala nya bersitatap dengan Ziel. "Sabar ya Sayang." Alina hanya bisa menghela nafas pelan lalu mengangguk patut atas perkataan Ziel.
"Mas berangkat ke ruko dulu ya" Alina kembali mengangguki ucapan Ziel seraya berucap "Hati-hati ya Mas" Wanita muda itu mencium punggung tangan kanan Ziel dengan takzim yang di balas Ziel dengan mengecup pucuk kepala Alina yang berbalut hijab.
"Iya, Sayang"
"Bu, Saya titip Alin ya Bu" Ucap Ziel yang langsung di jawab oleh Mbok Yani "InsyaAllah siap, Pak"
"Mas berangkat. Assalamualaikum" Salam Ziel. Alina dan Mbok Yani pun langsung membalas salam Ziel bersamaan "Waalaikumsalam"
####
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang saat Ziel mulai bersiap pulang kerumah untuk makan siang. Untung nya jarak dari hanya sekitar 10 menit kalau menggunakan kendaraan bermotor, sehingga Ziel tidak akan butuh lama untuk sampai di rumah nya.
Ziel mengambil HP nya yang bergetar di atas meja saat Dia akan beranjak keluar dari ruangan nya di ruko, terpampang sebuah nomor yang tak di kenal tampak di layar HP nya membuat Ziel mengabaikan panggilan tersebut, hingga panggilan tersebut pun berakhir dengan sendiri nya.
Langkah Ziel kembali terhenti kala HP yang di genggamnya itu kembali bergetar. Kembali Ziel mengabaikan panggilan dari nomor yang sama tersebut hingga panggilan itu pun kembali terhenti dengan sendiri nya.
Ziel mengurungkan niat nya saat akan menjalankan motor nya ketika sebuah dentingan pesan masuk terpampang di layar HP nya dengan masih nomor yang sama.
"Liat gambar yang Gue kirim Ziel, atau Lo bakal nyesel!" Pesan pop it yang tampak di layar Ziel membuat kedua kedua bola mata Ziel membulat, memaksa Ziel membuka pesan dari layar HP nya yang kini sudah menampilkan sebuah foto.
"Si Alan!"