Mother

Mother
Kisah Masa Lalu



Herlina baru saja tiba dirumah. Disambut dengan senyum Nina yang menyapanya.


"Sudah pulang, Bu? Mau kusiapkan makanan?" tanya Nina mengambil tas yang Herlina berikan dan meletakkannya di sofa yang biasa Herlina duduki.


"Tidak." Herlina hanya menjawabnya singkat. Tapi Nina tidak menyerah. Ia masih mencoba menawarkan sesuatu.


"Ini sudah jam makan siang, Bu. Aku tadi sudah memasakkan..."


"Nina." potong Herlina. Herlina telah berpikir banyak. Mungkin ada salah satu dari jawaban Nina yang mungkin masuk akal kenapa Kinanti sampai menjauhkan dia dan cucunya.


"Apa kamu selama ini bertemu dengan Kinanti?" Herlina menatap tajam pada Nina. Nina yang tadinya mencoba seceria mungkin, kini wajahnya terlihat gelap.


"Maksud Ibu, apa ya, Bu?" Nina berpura-pura bodoh, mencoba tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Herlina.


"Setelah menikah siri dengan Candra, kamu pasti bertemu dengan Kinanti. Apa yang kamu bicarakan padanya?" wajah Herlina seperti biasanya ketika berbicara dengan Nina. Tanpa senyum dan selalu saja tajam.


"Aku tidak pernah mencoba menemuinya, Bu."


Herlina tahu dengan jawaban Nina. Herlina langsung melempar foto ketika Nina seringkali datang ke rumah Kinanti dan sesekali bicara dengan Kinanti di sebuah kafe dekat rumahnya. 


"Terus itu siapa difoto kalau bukan kamu dan Kinanti?"


Nina tidak bisa menjawab apapun. Ia hanya diam memandangi foto yang dilempar Herlina.


Herlina melangkahkan kakinya ke arah Nina dan Herlina kali ini benar-benar menatapnya dengan tajam.


"Jika kematian Kinanti ada hubungannya denganmu, kupastikan kamu dihukum mati dipenjara." ucap Herlina tegas.


Nina yang awalnya hanya bisa diam, kali ini ia langsung berlutut didepan dan memohon pada Herlina.


"Sumpah, Bu, bukan saya. Saya tidak melakukan apapun pada Kinanti. Saya memang membencinya tapi bagaimana bisa saya membunuhnya, Bu?"


"Jika bukan kamu satu-satunya orang yang memiliki dendam pada Kinanti, lalu siapa?" Nina terdiam sebentar. Ada benarnya. Kini, ialah satu-satunya orang yang paling mungkin memiliki motif untuk membunuh Kinanti.


"Jangan repot-repot bersikap baik didepanku. Karena kamu yang sudah menghancurkan keluarga anakku serta saat ini aku menjauh dari cucuku sendiri." ucap Herlina. Nina masih terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi menjauh dari cucunya? Tunggu dulu.


"Ibu, aku tahu betul aku membenci Kinanti. Tapi aku tidak pernah memintanya untuk menjauhi neneknya sendiri. Renata itu sudah besar, Bu. Renata tidak pernah melihatku ketika aku datang ke rumah Kinanti. Dan Kinanti selalu memperlakukan aku dengan baik jika ada Renata dirumah. Tapi ketika Renata bekerja, Kinanti memakiku, Bu! Asal Ibu tahu, aku selalu menanyakan keberadaan uang bulanan yang Candra berikan. Mengapa sampai tidak cukup sampai Renata harus bekerja sepulang kuliah, Bu?" Nina berusaha membela dirinya. Ia tidak ingin terus dianggap bersalah oleh ibu mertuanya.


Kini, Herlina terdiam mendengar pernyataan Nina. Ia tersentak. Apakah benar Kinanti seperti itu? Apakah mungkin? Mungkin saja, karena siapapun jika wanita dimadu, bisa saja menjadi jahat sekalipun itu bukan keinginannya sendiri.


"Ibu, selama ini aku diam karena aku tahu aku hanya orang luar, Bu. Tapi Ibu salah jika menilaiku menjauhkan aku dari Renata. Aku tidak sepicik itu, Bu." Nina mulai menjatuhkan air mata, Nina tahu betul Nina salah. Tapi ada kesalahpahaman disini.


Ya, apapun yang Nina katakan mungkin akan terdengar salah. Tapi kebenaran itu, suatu hari akan terungkap.


****


Dua tahun lalu....


"Apa yang kamu lakukan Candra? Kamu meninggalkam rumahmu?" tanya Nina histeris pada Candra di dalam mobil.


"Aku tidak sanggup lagi bersama istriku." Candra hanya menjawab pendek.


"Candra, kamu tahu kan? Aku tidak memintamu meninggalkannya seperti itu. Tetaplah menjadi suami untuk Kinanti. Kenapa kamu meninggalkannya seperti itu?" Nina kehabisan akal bicara pada Candra. Candra terlalu keras kepala hingga terkadang, Nina tidak bisa menghadapinya.


"Nina, bagaimana aku bisa bersamamu jika aku harus pulang pada Kinanti? Sudahlah. Aku ingin sekali bersamamu. Dirumah aku mendapat omelan. Disinipun begitu. Lalu aku harus kemana lagi?" jawab Candra agak sedikit kesal.


"Kalau begitu, aku mundur Candra. Aku tidak bisa jika kamu harus meninggalkan anak dan istrimu. Bukan aku yang datang padamu Candra. Tapi kamu!" Nina melepaskan seatbeltnya dan hendak membuka pintu. Namun Candra mencengkram tangan Nina dengan kuat hingga Nina mengaduh kesakitan.


"Candra sakit! Lepaskan!"


"Maafkan aku, Nina. Aku akan menyelesaikan baik-baik dengan Kinanti. Aku janji. Dan aku akan menikahimu."


Nina tidak menjawab apapun. Ia mengelus-elus tangannya yang merah. Ia benar-benar tidak mengerti siapa Candra dan bagaimana Candra. Tapi satu hal yang bisa Candra berikan pada Nina, yaitu kemewahan sempurna yang tidak ada habisnya.


Sementara itu, Kinanti membanting semua foto yang ada di bingkai. Ia benci sekali pada Candra yang meninggalkan dirinya dengan wanita lain. Padahal, Kinanti tidak kurang-kurangnya berbuat apapun untuk Candra. Kinanti menangis di ruang tamu. Ia tidak dapat menahan emosinya lagi.


Renata yang berada dikamarpun akhirnya keluar dan memeluk Kinanti. Renata tidak ingin berkata apapun pada Kinanti. Ia hanya mengerti bahwa kini yang Kinanti butuhkan bukanlah perkataan yang menghibur. Hanya sebuah pelukan hangat dan bahu untuk bersandar.


****


Mahendra menghampiri Renata yang sudah duduk di bangku taman dekat kampusnya. Mahendra sedikit merasa bersalah membuat Renata menunggu.


"Maaf membuatmu menunggu."


Renata hanya tersenyum melihat Mahendra. Mahendra langsung duduk disamping Renata.


"Kau sudah menyelidikinya? Apakah ada yang aneh dengan rekening Ibuku?" tanya Renata begitu Mahendra duduk.


"Ibumu menerima uang rutin tiap bulan dari Herlina dan Candra. Apakah sesuatu terjadi?"


Renata melihat awan yang bergerak dengan pelan. Ia bingung harus mulai darimana.


"Mungkin aku akan seperti menceritakan keluargaku sendiri..."


Mahendra diam dan mendengarkan Renata dengan seksama.


"Aku bingung harus mulai dari mana... Tapi.." Renata menoleh pada Mahendra.


"Aku senang, Nenek yang selama ini aku kira tidak peduli padaku, ternyata dia sangat peduli. Dan seperti yang kau duga. Dia memang rutin mengirimi Ibuku tiap bulan karena dia pikir dia tidak bisa bertemu denganku. Jadi mengirimkan uang untukku melalui Ibuku. Tapi seperti yang kau lihat kemarin. Uangnya tidak sampai padaku. Dan aku harus bekerja keras untuk hidup sehari-hari. Dan ketika aku ingin pergi bekerja, Nenekku melarangku. Karena uang yang Nenekku berikan mungkin sudah cukup untuk membeli rumah mewah seperti dirinya." cerita Renata.


Renata tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Herlina.


Mahendra yang awalnya hanya ingin mencari tahu titik dari kasus ini, akhirnya senang melihat Renata tertawa.


"Apa kau senang? Bertemu dengan Nenekmu?"


"Ya. Setidaknya aku masih punya keluarga. Lalu bagaimana dengan penyelidikanmu sekarang? Apakah sudah ditemukan bukti?"


Mahendra menggeleng lemah. Ia meremas jari tangannya.


"Aku belum menemukannya. Semua benar-benar terlihat seperti bunuh diri. Kecuali dari hasil autopsi. Tapi masih ada dua hari lagi. Aku akan bergerak cepat." jawab Mahendra sedikit menghela napas.


Renata teringat sesuatu. Ia belum menceritakan tentang Nina pada Mahendra.


"Apakah mungkin gundik itu?"


"Maksudmu?"


"Gundik itu sering datang ke rumahku. Apakah mungkin gundik itu punya motif untuk membunuh Ibuku?"


"Maksudmu, selingkuhan ayahmu?" Mahendra mulai mencerna perkataan Renata dengan baik. 


"Kita belum datangi dia kan? Bagaimana kalau kita datangi?" Setelah bertemu dengan Herlina, entah kenapa dirinya seolah bersemangat lagi.


Mahendra mengangguk. Setuju dengan Renata.


****