
Renata memandangi foto bersama Kinanti. Matanya sudah bengkak karena menangisi Kinanti yang menderita penyakit mental dan sedihnya Renata sama sekali tidak menyadari itu. Sedih, sakit hati, dan gelisah semua menjadi satu. Hape yang penuh panggilan telpon pun tidak digubris. Renata hanya ingin sendiri menatap wajah cantik Kinanti dalam sebuah foto. Hape Renata kembali menyala tanda ada telpon masuk dari Maria. Sekarang ia mulai mengangkat telpon dari Maria. Untuk mengusir rasa sepi dihatinya.
"Renata! Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? Aku dirumahmu dan mereka bilang kamu sudah pindah rumah. Kamu pindah kemana?" tanya Maria blingsatan karena sudah seharian penuh ia menelpon dan baru kali ini diangkat oleh Renata. Renata tersenyum mendengar Maria yang mengkhawatirkan dirinya.
"Iya, aku sudah pindah rumah Maria. Nanti aku sms alamatnya, kamu bisa datang kesini." kata Renata menutup telponnya
Renata mengirim pesan pada sahabatnya dan dia mulai bangkit dari tempat tidurnya. Walau masih terasa lemas dan pusing karena menangis seharian, Renata mencoba memulai aktivitas dengan normal. Ia tidak ingin terlarut dalam kesedihannya. Ia ingin bangkit dan membuat Kinanti bangga dengan dirinya.
Renata mencuci wajahnya, kemudian mulai merapikan barang-barangnya yang ada di dalam dus. Membersihkan rumah dengan vakum cleaner yang sudah disediakan oleh Herlina.
Renata mulai melupakan kesedihan dihatinya selama bebersih rumah dan membersihkan dirinya. Bagaimana juga, ia harus bangkit dan tidak boleh kalah dengan keadaan.
Baru saja rapi membenahi rumah, pintu Renata berbunyi bel. Renata mengecek siapa yang datang melalui radio yang dipasang di sebelah pintu masuk. Maria dan Evano sudah siaga di depan pintu dan membawa banyak sekali makanan dan minuman. Renata menekan tombol untuk membuka pintunya.
"Renataaaaa!!!" teriak Maria memasuki apartemen Renata dan menaruh barang-barangnya diatas meja. Evano menyusulnya dari belakang.
"Apakabar, Renataaa? Maaf banget aku ngga ada disaat kamu butuh. Aku ngga tahu kamu pindah rumah. Evano juga ngga tahu dan ada ibu-ibu komplek sana bilang kalau kamu sudah pindah." kata Maria dengan rewelnya begitu bertemu dengan Renata. Evano tersenyum dan mengeluarkan barang-barang dari dalam plastik.
"Ya ampun Renata matamu bengkak sekali. Berapa banyak yang kamu lalui sampai kamu seperti ini.. Pokoknya hari ini aku dan Evano nemenin kamu sampai kesedihan kamu hilang ya Renata." sambung Maria. Evano kemudian menghampiri Renata memeriksa wajahnya.
"Kamu baik-baik saja Renata? Kamu semakin kurus."
Sambil menuju sofa dan duduk berbarengan, Renata mulai menceritakan sedikit kegelisaham hatinya.
"Maaf ya, aku tidak mengangkat telpon dari kalian ataupun tidak datang ke kampus dan ke kafe."
"Iya Renata, kami cukup khawatir karena kamu tidak ada kabar sedikitpun. Kami takut kamu kenapa-kenapa apalagi kondisimu sedang berduka." kata Evano.
"Aku nggak apa-apa. Cuma ya memang masalah meninggalnya Ibuku membuatku shock jadi aku mencoba menenangkan diri dulu. Tapi aku hari ini cukup terhibur dengan kedatangan kalian. Terima kasih ya." Maria membukakan kotak makanan yang memang sengaja dibeli untuk dimakan bersama.
"Sekarang kami tahu kamu baik-baik aja. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, jangan sungkan dan bilang pada kami." kata Maria menimpalinya.
Renata tersenyum. "Iya, terima kasih ya. Aku benar-benar kemarin sedang shock jadi tidak bisa berpikir apapun."
"Oh ya. Rumah ini besar sekali lho. Kamu membelinya?" tanya Maria.
"Enggak. Nenekku yang memberikannya padaku." jawab Renata. Maria terkejut hingga mengeluarkan suaranya.
"Nenekmu yang... kaya raya itu? Yang grup apa itu..."
"Iya iya sudah cukup tidak perlu disebutkan." ucap Renata menutup mulut Maria yang terus saja bicara.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Evano.
"Sepertinya aku akan mengundurkan diri saja dan fokus pada kuliah. Nanti aku akan memberikan surat pengunduran diri nanti." jawab Renata.
"Sayang sekali. Banyak sekali yang terjadi dan kami tidak tahu apapun. Maaf ya Renata." Evano menyesalinya karena tidak lebih memperhatikan kondisi Renata.
"Nggak apa-apa. Memang aku yang tidak cerita. Karena aku pada saat itu masih belum sepenuhnya menerima kondisi Ibuku yang meninggal." Maria mengelus rambut Renata. Kesedihan kembali menyelimuti Renata.
"It's okay, Ren. It's okay. Nggak apa-apa. Kami ngerti kok kalau kamu memang banyak yang harus dipikirkan. Kami juga tidak bisa memaksa. Lakukan apapun yang bisa membuatmu senang ya sekarang."
Renata merasa terhibur sekali dengan kedatangan sahabatnya. Paling tidak bisa mengurangi beban dihati yang selama ini menumpuk. Maria memberikan kotak makanan pada Renata dan Evano, mereka segera melahap kotak makanan siap saji itu.
****
Herlina sudah tiba di Jakarta sehari setelah Candra berada di dalam sel. Ia menutupi wajahnya dan mengunjungi Candra di kantor kepolisian didampingi Pak Kim. Pak Kim meminta pada pihak kepolisian agar diijinkan untuk bertemu dengan Candra.
Andreas yang melihat kedatangan Herlina, mengijinkan Herlina untuk bertemu dengan Candra. Tapi tidak bisa lama. Hanya sekitar lima belas menit.
Herlina sudah menunggu di ruang kunjungan dan Candra keluar memakai baju tahanan.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Seolah-olah kamu melewati semua ini tanpa beban. Tapi ternyata kamu sudah berhasil mencoreng nama Ibu!" kata Herlina menatap tajam pada Candra.
"Ibu, apakah Ibu tidak menyewakan aku pengacara, Bu? Aku ingin keluar dari sini, Bu." Candra mulai meminta bantuan pada Herlina.
"Aku tidak sadar melakukan itu pada Kinanti, Bu. Sungguh. Aku menyayangi Kinanti tapi entah mengapa aku..." Candra masih berusaha membela dirinya.
"Cukup. Jalani hukumanmu disini sesuai dengan perbuatanmu. Mulai saat ini Ibu tidak akan membantumu. Sebisa mungkin Ibu mengangkat derajatmu sebagai anak pewaris perusahaan. Tapi apa? Kamu menghamburkan uang, menghancurkan pekerjaan, mengkhianati istrimu dan kamu melakukan kekerasan, terlebih lagi bagaimana Renata memandangmu? Anak seorang pembunuh? Dengar ya Candra. Kamu bisa saja menghamburkan uang Ibu, Ibu bisa mendapatinya lagi. Tapi, ketika kamu menghancurkan Renata, Ibu akan berdiri di garis paling depan!" kata Herlina berkata tanpa ampun pada Candra.
"Ibu, kenapa Ibu bicara begitu? Bagaimana aku akan hidup jika Ibu tidak membantuku? Kalau Ibu tidak mau menganggapku lagi, aku bukan siapa-siapa, Bu. Lebih baik aku mati saja!" ucap Candra putus asa menghadapi Herlina yang sudah keras hati tidak mau mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu, mati saja!" ucap Herlina. Kemudian berdiri pergi meninggalkan Candra. Pak Kim yang menunggu di luar ruang tunggu, langsung mendampingi Herlina menuju mobilnya.
"Ibu! Ibuuu!! Ibu! Tolong aku, Bu!"
****
Sesampainya dirumah, Herlina masih saja diselimuti emosi. Ia benar-benar tidak tahan menghadapi Candra. Masalah yang ditimbulkan tidak ada hentinya.
"Nina! Nina!" Herlina berteriak memanggil Nina. Nina yang berada dikamar atas, segera turun menemui Herlina.
"Iya, Buu.!" Nina bergegas menghampiri Herlina yang berteriak memanggilnya.
Herlina duduk di sofa dan menunggu Herlina datang.
"Iya, Ibu, ada apa?" tanya Nina. Kali ini Nina tampak polos tidak mengenakan riasan wajah.
"Kenapa kamu tidak pakai make-up? Biasanya make up kamu tebal-tebal udah kaya artis mau shooting." kata Herlina memperhatikan wajah Nina.
"Tidak, Bu. Sedang tidak ingin memakai make up hari ini." jawab Nina mengulas senyum diwajahnya.
"Candra sudah ditangkap. Apapun yang Candra lakukan sekarang sudah bukan menjadi tanggung jawabku. Jika kamu ingin bercerai dengannya, cerai saja." kata Herlina.
"Apa, Bu? Kenapa, Bu, Candra ditangkap?" tanya Nina yang belum mengetahui apapun.
"Dia sudah menjadi tersangka pembunuhan kasus Kinanti. Dan mulai saat ini aku tidak akan mengulurkan bantuan apapun pada Candra." ucap Herlina tegas.
"Bu, apakah harus seperti itu? Candra anak Ibu..." ujar Nina tidak setuju.
"Aku tidak pernah punya anak seorang pembunuh." jawan Herlina tegas.
Nina tidak menjawab lagi perkataan mertuanya.
"Dimana ruang pribadi kalian berdua yang selalu kalian datangi? Buka pintu itu, sekarang!" Herlina sudah tidak bisa menahan dirinya untuk mengetahui apa yang ada dibalik ruang pribadi itu. Dulu Candra melarang siapapun datang ke ruang itu kecuali Nina. Sekarang, Candra sudah tidak ada kuasa di rumah ini lagi, hanya Herlina lah yang mempunyai kuasa.