Mother

Mother
Ungkapan Isi Hati



Renata mendatangi lapas bersama Mahendra. Ia mendaftar kunjungan hari ini menemui Ayahnya. Renata sedikit gelisah karena ini adalah kali pertama ia bertemu lagi dengan Candra setelah sekian tahun lamanya.


"Jangan gelisah. Kamu bersamaku." kata Mahendra menggenggam tangan Renata yang keluar keringat dingin. Renata hanya tersenyum melihat perhatian kecil dari Mahendra.


Tidak lama, kemudian Renata dipersilakan masuk oleh petugas dan menemui Candra. Mahendra mengatakan pada petugas agar bisa diberi sedikit waktu lebih lama untuk mereka berbicara.


Setelah diantar oleh petugas dan duduk berhadapan dengan Renata, Candra yang terlihat lusuh itu pun tidak berani menatap wajah Renata.


Renata sempat memperhatikan tampilan Candra yang tidak beraturan itu.


"Bagaimana kabar Ayah?" suara Renata hampir tercekat karena melihat keadaan Ayahnya yang menyedihkan.


Candra tetap menunduk dan mengangguk.


"Akhirnya aku memutuskan kemari setelah sekian lama aku tidak bisa mengunjungi Ayah. Karena ada yang ingin aku tanyakan." kata Renata berusaha tegar dihadapan Candra.


Candra menengadah melihat wajah putrinya yang terlihat sempurna, mirip sekali dengan Kinanti yang anggun dan cantik.


"Apa itu, Nak?" akhirnya Candra membuka suaranya berbicara pada Renata.


Mata Renata mulai mengeluarkan airmata dan Renata menengadah agar air mata itu tidak keluar dari matanya.


"Apakah Ayah mencintai Ibu sampai akhir hayat?" tanya Renata.


Candra terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Renata.


"Kalian ingat, apa yang selalu kalian katakan? Bahwa aku adalah permata kalia yang paling indah. Aku tidak pernah bisa digantikan oleh apapun. Tapi pada akhirnya? Ayah membuangku dan Ibu dalam kubangan dan bukannya menolong kami tapi Ayah mencelakai Ibu." Renata masih menahan airmatanya agar tidak tumpah ke pipinya.


"Maaf, Nak...." kata Candra dengan suara tercekat.


"Ayah tahu betapa shock nya aku melihat......"


Renata tidak bisa menahan airmatanya lagi. Air mata itu tumpah sejadi-jadinya dipipi Renata.


"Aku bekerja siang malam, Ayah. Aku menuruti semua keinginan Ibu tanpa aku tolak sedikitpun. Dan aku tidak tahu bahwa Ibu mengidap penyakit kepribadian ganda. Ayah tahu betapa mengerikannya Ibu ketika melukai dirinya sendiri?"


Candra mulai menitikkan air matanya. Ia tidak bisa menginterupsi kata-kata anaknya. Ia hanya bisa mendengarkan dengan penyesalan.


"Ternyata, aku bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti yang Ibu katakan. Tapi Ayah tahu? Itu semua untuk menghindari dirinya dariku karena jika penyakit Ibu kambuh, Ibu bisa melukaiku." Renata melihat Candra yang dirundung oleh penyesalan mendalam.


"Aku tidak berdaya, Ayah. Aku sangat takut melihat Ibu meninggal dalam keadaan seperti itu. Aku harus bagaimana? Bahkan tidurpun aku tidak bisa karena teringat tubuh Ibu yang membiru dan penuh darah ditangannya." Renata tidak bisa mengontrol nada suaranya lagi. Renata terlarut dalam emosinya mengungkapkan itu semua pada Candra,


Candra pun mulai menatap Renata. Dengan tangannya yang diborgol ia meraih tangan Renata. Ia mencoba memohon ampun pada anaknya.


"Kalau Ayah tidak bermaksud membunuh seseorang, mengapa Ayah menyiksanya? Hingga Ibu mempunyai traumatis yang dalam?" tanya Renata tapi Candra tidak bisa menjawabnya. Ia hanya diam menyesali segalanya. Tempramennya selama ini ternyata telah membawa petaka dalam hidupnya.


"Ayah, Ibu pernah mengatakan padaku untuk selalu mencoba memaafkan Ayah. Tapi aku tidak pernah bisa. Dan pada saat Ibu berhasil membujukku, pada saat itulah keesokan harinya Ibu meninggal dunia." lanjut Renata meluapkan isi hati yang memang selama ini ia pendam.


"Renata, Ayah janji akan menebus semua kesalahan Ayah disini, Nak.."


Renata menunjukkan kalung yang ia pakai pada Ayahnya. Kalung milik Kinanti yang kini selalu ia kenakan di lehernya.


"Aku sangat menyayangi Ibu dan juga Ayah. Aku pikir hanya inilah benda satu-satunya disaat kita masih memiliki kenangan indah."


Candra menangis sejadi-jadinya melihat kalung inisial K yang ditunjukkan oleh Renata. Ia ingat sekali pada saat memberikan kalung itu pada Kinanti setelah Kinanti dan dirinya sudah memiliki Renata selama satu tahun. Disaat itulah mereka sangat bersyukur memiliki Renata dalam hidup mereka.


Mereka terdiam sesaat dan tidak ada obrolan apapun. Jelas sekali bahwa ia benar-benar menyesal dengan perbuatannya.


"Sudahlah, Ayah. Aku akan pamit pulang. Perjalananku masih jauh untuk bisa sukses. Aku hanya ingin mengubah hidupku menjadi lebih baik." ucap Renata. Candra pun mengusap air matanya dan meraih tangan Renata.


"Maafkan Ayah sekali lagi, Nak. Apapun yang terjadi kamu boleh mengambil warisan yang Ayah punya dari Nenekmu. Ayah ikhlas. Kamu tidak usah bekerja dimanapun, Nak. Cukup bekerja menggantikan posisi Ayah. Ayah janji, Ayah akan hidup dengan diam-diam disini. Ayah tidak akan menganggu kesuksesanmu, Nak. Ayah akan hidup tenang disini." kata Candra meminta pada Renata.


Renata menangis sejadi-jadinya menatap mata Candra yang begitu memohon padanya. Renata tidak kuasa menahan tangisnya dan menyalami Candra, yang mungkin untuk terakhir kalinya.


Candra sangat ingin memeluk Renata dengan segenap hatinya. Permata hatinya kini sudah besar, dewasa dan cantik. Candra yakin, Renata bisa menempati tahtanya untuk mewarisi segala yang ia tidak bisa warisi. Renatalah yang akan menggantikan posisi Candra di Grup Seijin.


Setelah selesai pertemuan dengan Candra yang begitu pilu, Mahendra yang sudah menunggu Renata didepan pintu meraih bahu Renata dan menuntun Renata. Candra yang menunggu Renata pergi melihat Mahendra yang bersikap hangat pada Renata membuat hatinya sedikit tenang.


Yang lalu biarlah berlalu. Bagi Candra saat ini adalah bagaimana Renata meraih kesuksesannya dan ia bisa bersama dengan orang yang ia cintai. Candra hanya bisa tersenyum melihat punggung Renata semakin lama semakin menghilang dari balik pintu.


Di perjalanan pulang, Renata tidak berbicara apapun. Matanya terlihat sembab dan merah. Ia pun mengantuk dan hanya ingin tertidur. Mahendra menggenggam tangannya dan membiarkan Renata istirahat dengan tenang selama perjalanan pulang dari lapas.


****


Candra kembali ke sel penjaranya. Ia duduk terdiam memikirkan kata-kata Renata. Ia merasa kasihan pada Renata karena hidupnya yang malang sejak ia meninggalkan keluarganya.


Hari berganti hari dan malampun telah disambut oleh sang mentari pagi. Candra masih saja termenung dengan apa yang dikatakan Renata. Semua isi hatinya keluar begitu saja dari Renata membuat hati Candra sesak melihat permata hatinya begitu terluka karena dirinya.


Candra menyalahkan diri sendiri. Andai saja ia tidak melakukan hal itu pada Kinanti, mungkin tidak akan terjadi apapun pada Renata.


Terkadang, Candra menangis mengingat Renata yang begitu pilu mengeluarkan kesedihannya. Entah apa yang harus Candra lakukan. Ia mencoba membaca buku untuk menenangkan hati dan pikiran.


Tetapi kata - kata Renata selalu terbayang dalam pikirannya. Ia menjadi tidak enak makan maupun tidur. Pikiran Candra pun menjadi kosong terlebih ketika Renata menangis tersedu di hadapannya.


Entah apa yang akan Candra lakukan. Ia hanya berharap Renata bisa menggantikan posisinya di Grup Seijin dan apapun yang terjadi semua warisan atas nama dirinya akan dialihkan pada Renata. Ia tidak ingin melihat air mata keluar dari mata Renata lagi. Ia tidak ingin putrinya sedih karena dirinya. Biarkan ia yang menanggung dosa dari apa yang ia perbuatnya dulu.