Mother

Mother
Nenek



Renata tidak menghiraukan panggilan neneknya. Ia malas sekali berurusan dengan keluarga dari Ayahnya. Karena baginya semua hanyalah menyakiti hati. Setelah kelas kuliah sudah selesai, Renata keluar dari ruang kelasnya. Maria yang kenal baik dengan Renata langsung menghambur memeluk Renata.


"Renataaa! Maaf, maafin aku, aku kemarin ke rumah kamu tapi ada garis polisi. Aku tanya-tanya tetangga kamu, kamu kemana, tapi ngga ada yang tau. Aku telpon kamu tapi ngga keangkat. Renaaaa are you okay?" Maria mengungkapkan penyesalannya.


Renata tersenyum dengan perilaku sahabatnya yang terkadang membuat urat malunya terputus.


"Maria, jangan begini. Aku malu nih dilihatin banyak orang begini." Renata meraih tangan Maria agar ia segera melepas pelukannya.


"Aku harus tau dulu kalo kamu baik-baik aja, Renaaa..."


"Lepas dulu, nanti aku baru bisa ngomong."


Tidak lama Maria melepaskan pelukannya. Dan menatap Renata manja.


"Berhenti melihatku seperti itu." Renata tidak bisa menahan tawanya.


"Tapi aku turut berduka ya Ren. Aku juga mau dengar dari kamu langsung ceritanya gimana."


"Nggak apa-apa kok, Maria. Cuma ada beberapa masalah aja." jawab Renata datar.


"Ren are you sure? Kamu nggak mau cerita sama aku?" tanya Maria mulai serius dari nada bicaranya.


"Aku masih belum yakin, Maria. Nanti kalau sudah yakin, aku kan ceritakan semua."


"Kamu harus berhati-hati ya. Kalau kamu butuh tempat untuk menginap, kamu tau harus datang kemana, Ren."


"Iya Maria. Tapi aku nyaman kok di rumah ku sendiri. Lagipula kamu dengar kabar dari mana?"


"Kemarin aku dengar kabar, bersliweran di kampus. Kalau Tante Kinan itu meninggal. Aku nggak tahu siapa yang menyebar berita. Tapi ada beberapa yang berbicara bisik-bisik begitu." 


Renata diam. Tidak menjawab apapun. Tapi telinga Renata terlalu lebar untuk mendengar bisik-bisik mereka.


"Itu kan, yang Ibunya bunuh diri dirumahnya."


"Ya ampun kasian banget ya. Baru juga meninggal beberapa hari yang lalu. Kok udah bisa sih masuk kampus?"


"Gimana tuh ya kalo Ibunya bunuh diri gitu? Punya banyak utang apa ngga sanggup sama beban hidup?"


Renata terdiam mendengar semua perkataan mereka. Maria yang melihat ekspresi Renata merasa sangat marah dengan mereka yang hanya bisa membicarakan orang lain.


Maria datang menghampiri sekumpulan anak-anak yang sedang membicarakan orang lain itu.


"Heeyy! Punya mulut dijaga ya. Gimana kalo ibu kalian yang meninggal didepan mata kalian sendiri? Jangan sok-sok ngebicarain orang. Kalo ibu kalian yang meninggal masih bisa kalian ngomong begitu?" Maria sangat marah dengan perkataan sekumpulan orang-orang yang nggak bisa menjaga mulutnya.


"Ya nggak gitu dong Maria! Kamu nyumpahin ibu kita meninggal?" jawab salah satu diantara mereka.


"Makanya itu punya congor diem nggak usah banyak omong. Kalo nggak bisa bantu ngurangin bebannya ya nggak usah nambah beban orang!"


Renata langsung menarik tangan Maria yang sedang adu mulut dengan anak-anak lain.


"Maria udah."


"Tapi, Ren, mereka ini nggak ngerti gimana perasaan kamu." Maria masih bersikeras membela Renata karena dibicarakan yang tidak sepantasnya.


Tapi Renata tidak menarik Maria untuk berhenti membelanya. Jika memang kematian Ibunya menjadi lelucon bagi sebagian orang, Renata mungkin tidak diam saja.


"Maaf ya kalo kematian Ibu saya jadi beban kalian sampe dibicarain. Saya udah sekuat hati liat ibu saya mati di depan mata saya sendiri. Kalian masih bicarain saya. Saya punya salah apa ya sama kalian?"


"Maaf Renata, kami nggak maksud untuk membicarakan kamu.."


"Kalau begitu tutup mulut kalian. Ibu saya udah meninggal aja masih dibicarain." Renata pergi menggandeng Maria. Ia tidak mau mendengar apa-apa lagi dari kampus dan segera menuju parkiran motor.


Tapi langkah Renata terhenti ketika Herlina, neneknya, menunggunya di depan kampus bersama dengan asistennya. Maria bingung dengan Renata yang tiba-tiba berhenti.


"Ada apa Renata?" Maria melihat apa yang Renata lihat. Maria sedikit tidak mengenali siapa wanita itu.


Herlina yang sudah menunggu sejak tadi, menghampiri Renata yang terkejut melihat dirinya.


"Renata.." panggil Herlina dan ingin menyentuh bahu Renata. Renata menghindar dari sentuhan Herlina.


Renata sebisa mungkin tidak menatap Herlina. Dan Maria tidak tahu harus bicara apa dalam situasi seperti ini.


"Nona. Bisa tinggalkan kami? Kami ingin berbicara dulu, Nona." ucap Herlina pada Maria dengan senyumnya.


"Ba..Baik. Saya akan meninggalkan kalian. Renata, aku pergi ya.." Maria segera pergi meninggalkan Renata dan Herlina. Renata masih tetap diam dan tidak bergeming sedikitpun.


"Renata, ayo kita bicara." ucap Herlina meraih tangan Renata. Tapi lagi-lagi Renata menghindarinya.


"Maaf, Nek. Renata harus kerja." Renata segera berlalu dari hadapan Neneknya.


"Untuk apa kamu bekerja, Renata?" pertanyaan Herlina membuat hati Renata tersentak.


"Aku tidak ingin membicarakannya disini. Berhentilah keras kepala dan mari bicara." Herlina dengan tegas mengatakannya pada Renata. Renata tidak punya pilihan. Ia mengikuti Herlina.


***


Herlina mengajaknya bicara disebuah kedai kopi sederhana. Walaupun usianya semakin bertambah, tapi kecantikan di wajah Herlina masih jelas terlihat. Hampir tidak ada kerutan menghiasi wajahnya.


Renata duduk diam dan tidak memulai pembicaraan apapun. Ia merasakan suasana yang terasa kaku ini dan tidak merasa nyaman.


"Maafkan aku, Renata. Aku tidak tahu bahwa Kinanti sudah meninggal." ucap Herlina tapi Renata masih belum memberikan tanggapannya. Karena yang Renata tahu, Herlina tidak pernah memedulikannya.


"Kalau kamu tidak merasa nyaman dengan rumah itu, kamu bisa pindah rumah, Renata."


"Tidak, Nek. Aku tidak akan pindah rumah sementara ini." sergah Renata.


"Kenapa Renata? Nenek pikir kamu tidak nyaman di rumah itu." kata Herlina dengan lembut.


"Nenek mengira Ibu meninggal karena apa?" Renata ingin memastikan pada dirinya sendiri, apakah Herlina terlibat dalam kasus ini atau tidak.


"Renata, sungguh Nenek tidak tahu apapun soal ini. Nenek baru tahu dan langsung mencarimu." ucap Herlina meyakinkan Renata.


"Untuk apa, Nek, mencariku? Selama ini Nenek tidak pernah mencariku ataupun Ibu. Untuk apa Nek?" Renata merasakan emosi didadanya. Ia merasa sangat sesak hingga tidak bisa menahannya lagi.


"Apa Renata? Nenek tidak mencarimu atau Ibumu? Jangan salah Renata! Justru selama ini Ibumu yang menghalangiku untuk menemuimu. Maka dari itu aku hanya bisa menitipkannya uang untuk diberikan padamu! Apa kamu tidak pernah menerima sepeserpun Renata? Justru Nenek yang sangat bingung. Mengapa kamu harus bekerja disaat Ibumu punya banyak sekali uang yang selalu rutin Nenek transfer untuk biaya kebutuhan kalian!" jelas Herlina. Tentu ia tidak dapat menerima apa yang Renata katakan.


Renata terenyak. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Kenyataan apa lagi ini? Kenapa hidup dan takdirnya serasa dipermainkan? Selama ini ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ternyata disisi lain, Neneknya selalu mengiriminya uang untuk kebutuhan hidupnya.


Ibu, ada apakah ini sebenarnya? Mengapa terlalu banyak rahasia yang tidak aku ketahui, Bu?


Renata meneteskan air matanya. Ia menyesal berbicara kasar pada Neneknya barusan.


***