Mother

Mother
Bingkai Foto



Renata semakin penasaran dengan bingkai foto lain yang ada di rumah ini. Ia mengambil satu persatu bingkai foto dan melepas bingkai itu. Tidak semua bingkai foto terdapat kamera kecil. Hanya sekitar enam bingkai terdapat kamera. Renata duduk lemas di sofa.


Mahendra yang melihat sikap Renata pun juga merasa takjub dengan kamera kecil yang disembunyikan di bingkai foto.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Renata.


"Aku awalnya sedikit bingung mengapa Ibumu meletakkan kamera kecil ini. Tapi orang yang memiliki kepribadian ganda, dia pasti akan lupa ketika dirinya menjadi orang lain. Jadi Ibumu menyimpan semua kegiatannya didalam kamera kecil ini." kata Mahendra mengambil kesimpulan.


"Sepertinya kita harus mendatangi psikiatri itu untuk menanyakan lebih jelas mengenai sikap Ibu yang meletakkan kamera kecil di bingkai foto." ujar Renata.


"Baiklah," Mahendra mengangguk dan membantu merapikan beberapa bingkai foto yang berserakan.


Jelas sekali, Renata terlihat shock dengan apa yang ia alami barusan. Mengetahui Kinanti memiliki kepribadian ganda saja sudah membuatnya shock, apalagi mengetahui bagaimana kondisi Kinanti dalam sebuah video.


"Aku akan membawa kamera ini dan memeriksa semuanya." kata Mahendra.


Renata pun mengangguk paham dengan yang Mahendra katakan.


"Baiklah. Mungkin aku akan pindahan hari ini juga."


Mahendra hendak menanyakan 'kenapa' pada Renata. Tapi ia menutup mulutnya karena melihat Renata yang sangat shock.


"Aku akan membantumu."


"Kau banyak pekerjaan kan? Kembalilah bekerja." suara Renata terdengar lemas sekali.


"Tidak. Kamu tidak bisa melewati semua ini seorang diri Renata." jawab Mahendra dengan tegas.


Renata menatap Mahendra yang ikut duduk di sofa.


"Aku tahu mengetahui diagnosa itu kamu sudah shock, apalagi mengetahui bagaimana Ibumu kesakitan didalam video, tentu kamu lebih shock lagi. Lalu apa bisa kamu menanggung semua beban ini sendiri ,Renata?"


Dulu Renata paling benci jika ada orang yang mengasihani dirinya karena keadaan Renata yang harus banting tulang. Tapi kenapa sekarang Renata merasa merinding dengan perhatian yang diberikan Mahendra? Terlebih lagi ia merasa berdebar dengan tatapan Mahendra saat ini.


"Baiklah aku akan telpon Nenekku untuk mengirimkan kurir." jawab Renata meraih hapenya.


****


Herlina selesai makan siang di resort dengan hidangan sederhana. Tentu saja Candra masih menempel pada Herlina karena kartu kredit yang dipunya sudah dibekukan dan ia tidak bisa membeli makan mewah sendiri.


"Aku memberikan apartemen untuk Renata."


Candra melirik Herlina yang kembali membahas Renata. Candra tidak merespons benar atau salah atas tindakan Herlina.


"Rumah kecil yang ditinggali saat ini terlihat tidak layak ditempati. Heran. Mengapa kamu bisa mengizinkan mereka tinggal disana?" kata Herlina sambil mrlirik Candra. Candra diam saja dan memilih tidak menjawab pertanyaan Herlina.


"Kalau Ibu tahu kamu mengganggu apalagi menyentuh Renata, habis kau ditanganku." lanjut Herlina sambil mengambil air minumnya. Tidak lama, hape Herlina berbunyi, ada telpon masuk dari Renata.


"Iya Renata?" jawab Herlina cepat sambil melirik Candra.


"Nenek, aku akan pindah hari ini saja Nek."


"Tidak masalah Renata, Nenek akan menelpon kurir yang tadi Nenek bilang ya.."


"Baik, Nek, aku sangat berterima kasih pada Nenek, aku tidak tahu harus bilang apalagi, Nek..."


Herlina melihat Candra yang menyelesaikan makanannya.


"Tidak perlu, Sayang. Semua layak kamu dapatkan, kamu cucu Nenek. Sudah sewajarnya Nenek memperhatikan kamu." kata Herlina lagi dengan ramah pada Renata.


"Baik, Nek. Terima kasih. Renata tunggu Nek."


Kemudian saluran telpon pun ditutup. Herlina masih menatap Candra dengan sinis.


"Lihat, Renata tumbuh menjadi gadis sopan dan tahu berterima kasih. Berbeda sekali dengan kamu yang cuma tahu menghabiskan uang. Renata sendiri malah banting tulang cari uang diluar padahal Ayahnya sering foya-foya." ucap Herlina kembali kesal melihat Candra.


"Iya Ibu. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku menemuinya tidak boleh, aku menelponnya tidak boleh..."


"Karena Renata pasti malu punya Ayah seperti kamu! Dan kamu harus tahu diri, kamu sudah meninggalkannya, kembali lagi secara tiba-tiba akan membuatnya menderita. Sudah banyak yang dia lewati untuk bertahan hidup. Jadi jangan sampai kamu menganggu Renata!" tegas Herlina.


Herlina segera menyudahi makan siang dan segera menuju kasir diikuti oleh Candra.


****


Renata menyuruh Mahendra kembali bekerja karena sudah ada kurir yang membantu memindahkan barang-barangnya. Terlebih lagi kurir ini juga sering bekerja dengan Herlina. Renata tidak perlu khawatir lagi.


"Sudah, kembali bekerja. Jangan datang lagi kalau kamu belum selesai bekerja." Renata menyuruh Mahendra tetap kembali bekerja.


"Kamu yakin nggak apa-apa?" Mahendra masih sedikit khawatir dengan keadaan Renata.


"Kamu sudah bantu membereskan semua. Sekarang kurir sudah datang jadi nggak perlu khawatir. Lagipula aku heran, kok kamu punya banyak waktu sih? Nggak dimarahi sama teman kerjamu atau bos kamu?" Renata mulai mengomel pada Mahendra.


Mahendra diam saja tidak menyahut pertanyaan Renata.


"Baiklah. Telpon aku kalau sudah sampai di apartemen. Aku akan..."


"Iya iya, astaga, aku benar-benar nggak pernah ketemu jaksa rewel banget kaya kamu. Semua barang aku perhatikan dengan baik termasuk foto-fotonya. Kamu periksa saja apa yang ada di dalam kamera itu." Renata sangat gemas dengan sikap Mahendra.


"Baiklah aku pergi." Mahendra pamit pada Renata dan meninggalkannya.


Setelah semua barang diangkut ke dalam truk, Renata memastikan sekali lagi ke dalam rumah bahwa barang-barang sudah diangkut semua dan tidak ada yang tertinggal.


Renata menyusuri ruangan sedikit demi sedikit. Renata tidak mengangkut lemari, meja maupun sofa. Karrna Herlina sudah menyiapkannya di dalam apartemen. Renata hanya membawa pakaian, surat penting, koper milik Kinanti dan semua foto yang ada di dalam rumah. Renata menutupi sofa, buffet dan meja dengan kain. Setelah selesai Renata mengunci pintu rumah dengan hati yang sedih.


Tetangga pun berdatangan dan Renata meminta maaf dan terima kasihnya jika Kinanti mempunyai salah selama berada disini.


"Mohon maafkan Ibu saya ya, Bu, jika kemarin ada salah.."


"Tidak, Dik Renata. Justru kamilah yang minta maaf karena tidak pernah mengunjungi rumah Dik Renata."


"Nggak apa-apa, Bu. Saya akan pindah dari sini, sementara rumah ini saya kosongkan dulu.." Renata berusaha tersenyum pada tetangganya yang lain.


"Iya, Dik. Maafkan kami juga ya. Semoga Dik Renata bisa mendapat yang lebih baik."


"Amin. Terima kasih, Bu. Saya pamit." Renata menyalami tetangga satu persatu. Ia terlambat menyadari ternyata selama ini mereka cukup baik. Tapi sudahlah. Toh Renata akan segera pindah. Tapi, kemana Evano? Tidak terlihat. Atau masih sibuk bekerja paruh waktu?


"Hati-hati, Dik..."


Renata tersenyum dan membawa kendaraan beroda dua, satu-satunya yang ia miliki dari hasil keringatnya sendiri. Truk pun mengikuti dari belakang.


****


Nina baru saja selesai berhias, sudah seminggu ini wajahnya tidak terasa nyeri karena lebam. Ia rutin mengoleskan krim pada wajahnya yang biru. Sekarang, wajahnya tidak membutuhkan riasan yang tebal.


Hape Nina berbunyi, ada telpon masuk dari Candra.


"Iya, Candra?"


"Kamu dimana sekarang?" suara Candra terdengar berbisik dan pelan sekali. Nina sampai bingung, Candra sedang ada dimana sekarang?


"Di rumah. Kenapa?"


"Kirimi aku uang lima juta. Aku tidak pegang uang sekarang. Aku mau pulang." Nina lebih terkejut lagi. Candra tidak punya uang itu adalah hal yang tidak pernah terjadi. Apakah Herlina membekukan kartu kreditnya?


"Ibu ada disana?" Nina memastikan terlebih dahulu apakah Herlina benar disana.


"Iya, Ibu disini. Tolong aku. Aku mau pulang."


Nina ingin sekali menolong Candra. Tapi tidak semudah itu. Jika Herlina tahu, sesuatu yang lebih buruk mungkin saja bisa terjadi.


"Aku lagi nggak ada uang sekarang, nanti kalau ada aku kirim." jawab Nina.


"Kapan? Jangan lama-lama. Aku mau pulang." Candra mendesak Nina sampai membuatnya kesal.


"Tunggu saja. Aku belum ada uang. Sudah ya aku lagi masak." Nina terpaksa berdusta. Kalau tidak, bisa habis dia oleh mertuanya.


Nina langsung mematikan ponselnya. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Kalau tidak, mengapa Candra meminta uang darinya. Itu tidak masuk di akal pikiran Nina.