
Nina merasa panik sekali. Entah mengapa. Mungkin karena dirinya sedikit berharap ketenangan dari Candra. Nina tidak bisa menyangkali lagi. Bahwa Kinanti itu benar. Jika Candra tidak mencintainya lagi, ia akan menjadikannya karung pasir tiap kali Candra merasa kesal.
---
Nina mendatangi Kinanti secara rutin. Ia khawatir apakah sesuatu terjadi pada Kinanti. Ia juga mengecek obat antidepresan Kinanti apakah masih ada atau tidak.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Nina. Saat itu Kinanti sedang duduk melihat ke arah luar jendela. Kinanti sedikit terkejut melihat kedatangan Nina.
"Kau sudah datang dari tadi ya..." Kinanti bangun dan merasa panik karena ia belum meyiapkan apa-apa untuk Nina.
"Oh kenapa aku lupa, aku masih punya makanan apa ya untukmu.." ucap Kinanti seperti orang yang kebingungan.
Nina cemas. Sudah beberapa kali Kinanti bersikap seperti ini. Ia meraih tangan Kinanti dan menghentikan langkahnya ke dapur.
"Duduk saja, Kinan. Tidak perlu repot-repot. Aku baru datang kok."
Tatapan mata Kinanti hampir kosong. Ia menjadi orang yang bingung sekali dengan keadaannya. Setelah sama-sama duduk di sofa, Nina mulai bertanya perlahan pada Kinanti.
"Aku akan ambilkan kamu air. Duduk saja dengan tenang disini." Nina segera mengambilkan air dan obat penenang milik Kinanti. Seperti yang psikiater katakan, terkadang Kinanti mungkin merasakan panik dan cemas yang tidak ada alasannya.
Kinanti meminum obat yang Nina berikan dan meneguk airnya.
"Sandarkan kepalamu, Kinan, kamu harus istirahat. Jangan berpikir terlalu berat." kata Nina membantu Kinanti menyandarkan tubuhnya.
Kinanti memejamkan matanya. Tangannya gelisah sekali meremas bantal sofa dan Kinanti meneteskan airmatanya.
"Nina.." Kinanti memanggil Nina dengan suara yang bergetar.
"Bagaimana kalau Renata tahu? Kasihan Renata. Dia sudah bekerja untuk kami dan aku malah sakit seperti ini." ucap Kinanti.
"Mengapa kau tidak menyuruhnya berhenti saja? Bukankah Ibu memberimu uang setiap bulan untuk kehidupan kalian? Kasihan Renata. Sepulang kuliah harus bekerja." Nina mencoba memberi saran dengan perlahan. Ia memilih kata-kata yang ringan agar tidak menyakiti hatinya.
"Tapi kalau dia dirumah, dia akan tahu keadaanku, Nina. Pasti akan menjadi beban jika Renata tahu Ibunya mempunyai emosi yang tidak stabil seperti ini."
sahut Kinanti dengan jawaban yang paling masuk akal .
Memang, Kinanti menyuruh Renata bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan dirumah. Tetapi agar Renata tidak tahu bahwa dirinya memiliki penyakit kepribadian ganda.
Nina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mencoba mengalihkan kesedihan Kinanti dengan membereskan barang-barang di rumahnya.
"Kau pasti sudah beres-beres hari ini. Tapi berantakan lagi. Ya kan. Tidak apa. Aku akan membantu membereskannya untukmu." Hati Nina merasa perih melihat keadaan Kinanti yang lemah seperti ini.
Nina menghapus air matanya yang terjatuh. Pedih sekali jika dirinya menjadi Kinanti. Harus mengalami semua ini dalam hidupnya karena Candra yang pernah memukulinya habis-habisan. Trauma yang dirasakan Kinanti sudah tidak bisa disembuhkan lagi.
***
Renata sudah sampai di apartemen baru yang diberikan Herlina pada dirinya. Kurir menaruh semua barang di ruang tamu. Apartemen Renata yang baru bagus sekali dengan perabotan lengkap yang sudah diisi oleh Herlina. Renata hanya tinggal menempatinya saja. Semua barang belum sempat Renata rapikan kembali. Ia mengecek kamarnya terlebih dahulu.
Hati Renata berteriak gembira. Kamarnya di dekorasi dengan indah oleh Herlina. Tempat tidur lengkap dengan selambu dan meja belajar yang diletakkan satu ruangan dengan kamar tidurnya. Ini seperti kamar pribadi impian Renata yang hanya bisa diimpikannya dulu.
Setelah kurir pulang, Renata beristirahat untuk hari ini. Kepalanya terasa sakit dan lelah yang tidak tertahankan. Ia mulai membenamkan kepalanya di bantal yang empuk dan menyalakan pendingin ruangan.
***
"Hm itu aku sudah menyiapkannya tapi..."
Herlina bersabar dengan Candra tetapi mengapa kesabarannya seolah diuji oleh anaknya sendiri? Herlina melempar map yang sedang dibacanya. Ia kesal dengan sikap Candra yang tidak pernah serius dengan perusahaannya. Pasalnya, Herlina sangat mengandalkan Candra. Tetapi anak lelakinya yang sudah berumur ini tidak pernah punya keahlian untuk memimpin perusahaan.
"Cukup Candra. Kalau kamu tidak sanggup melakukan hal-hal sederhana untuk perusahaan ini, lebih baik jangan berharap bisa menggunakan fasilitasku dengan gratis!" ucap Herlina.
"Ibu, Ibu!" Candra mulai merengek lagi seperti anak kecil tapi Herlina tidak menggubrisnya.
***
Esoknya, Mahendra meminta Nugraha dan Liliana untuk mengecek kamera yang ditemukan di rumah Renata.
"Tolong di cek kamera ini. Kamera ini ditemukan di rumah Renata. Saya sudah mengecek salah satunya. Sebenarnya ini merekam kegiatan sehari-hari Ibu Kinanti, tapi mungkin ada sesuatu yang bisa didapatkan." kata Mahendra menyerahkan keenam kamera yang belum diputar.
"Baik, Pak. Akan kami cek segera."
Nugraha dan Liliana segera mengecek kamera dengan laptop masing-masing.
Dalam video yang Nugraha lihat, bersetting dalam sebuah dapur, dimana Kinanti biasa memasak dan memotong sayuran ataupun daging. Terkadang juga Renata yang memotong buah ataupun menggoreng telur. Selama beberapa jam, Nugraha melihaht kegiatan Kinanti adalah kegiatan biasa yang dilakukan. Namun memang sesekali Kinanti rutin mengkonsumsi obat.
"Kira-kira obat apa ya ini?" tanya Nugraha penasaran.
"Itu antidepresan. Ibu Kinanti ternyata punya penyakit kepribadian ganda. Sepertinya dia berusaha keras agar penyakitnya tidak kambuh." jelas Mahendra disusul dengan wajah kaget dari Nugraha dan Liliana.
"Apa? Waw. Saya tidak menyangka..."
"Periksa lagi. Jangan permasalahkan penyakitnya." perintah Mahendra. Kemudian Nugraha memeriksa kembali.
Dalam video tersebut, Kinanti memotong buah, tapi karena setengah melamun, ia tidak sadar bahwa tangannya ikut teriris. Nugraha ngeri sekali menontonnya. Namun Kinanti akhirnya sadar dan ia terlihat panik. Terdengar suara Kinanti dari video tersebut.
"Bagaimana ini? Kenapa aku bisa terluka? Dimana obatku, obatku dimanaaaaaa???Aaaahhhhhhh!"
Kinanti menjambak rambutnya sendiri dan darah segar mengalir dari tangannya. Ia meraih ponsel dan menelpon seseorang.
"Nina! Dimana obatku Nina! Nina!! Mana obatku!!!!"
Kinanti menjerit tidak keruan. Ia berusaha keras menemukan dimana obatnya dan akhirnya ia menemukannya di laci dapur. Ia meminum obat itu dan kembali tenang.
Selang sepuluh menit, Nina datang dan mendapati Kinanti sedang duduk di kursi makan dengan kaki yang dilipat. Matanya tampak kosong dan Kinanti melamun.
"Kinan! Kinan! Apa kau baik- baik saja? Astaga tanganmu! Kenapa bisa seperti ini?"
Nina khawatir sekali dan langsung mencari air es untuk menghentikan pendarahannya. Dan Nina pun melihat dapur juga banyak bercak darah. Ia terkejut ketika Renata nanti pulang kerja.
"Apa yang terjadi Kinanti?" pertanyaan Nina entah didengar ataupun tidak. Kinanti masih dengan tatapan matanya yang kosong. Kemudian, Nina menaruh botol obat antidepresan dan penenang di meja makan.
"Aku akan menungguimu"
Nina tidak meneruskan pembicaraannya lagi. Ia membereskan sendiri dapur yang terlihat berantakan. Kinanti tetap menatap kosong ke arah foto yang terpajang di dinding.