
Tiga puluh menit sudah berlalu. Sidangpun kembali dimulai dan Hakim akan membacakan putusan. Semua peserta duduk kembali di tempat duduknya begitupula dengan terdakwa, dipersilakan duduk kembali ke tempat duduknya.
Herlina dan Nina sudah pasrah dengan apa yang akan dibacakan oleh Hakim. Terlebih Herlina. Ia sudah siap apapun resikonya termasuk jika itu menyangkut perusahaannya.
Disaat semua sudah duduk dengan tertib dipersidangan, ada satu orang lagi yang terlambat dan segera duduk di kursi peserta.
"Sesuai dengan kasus nomor 184, demi menegakkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan ini kami menyatakan kepada Saudara Candra Tanujaya, bahwa Terdakwa akan dijatuhkan hukuman pidana penjara seumur hidup."
Tok...tok...tok...
Hakim telah membacakan putusannya dan sidangpun resmi ditutup. Tidak ada kegaduhan pada saat pembacaan putusan. Semua berjalan dengan lancar. Peserta kemudian bubar dan terdakwa kembali didampingi untuk kembali.
Saat berdiri dan ingin keluar ruangan, Herlina terkejut dengan adanya Renata yang duduk di barisan paling belakang.
Herlina langsung menghampiri Renata yang tertunduk.
"Renata! Renata.. apa yang kamu lakukan? Ayo kita pulang." ajak Herlina meraih tangan Renata dengan perlahan. Nina pun membantu Renata untuk bangkit berdiri tetapi Renata terlalu lemas untuk bangun. Sekali lagi, Renata merasa shock dengan apa yang terjadi dengan Ayahnya.
Mahendra yang melihat Renata terjatuh langsung berlari dan meraih Renata.
"Mari kita ke parkiran." kata Mahendra melingkarkan tangan Renata di pundaknya.
Herlina dan Nina pun mengikuti Mahendra ke parkiran mobil. Setelah tiba di mobil, Renata diistirahatkan dan Herlina berterima kasih pada Mahendra.
"Terima kasih atas bantuannya. Mulai saat ini kami akan menjaga Renata. Main-mainlah nanti dan tetaplah hibur Renata. Selama ini, kamulah yang dekat dengan Renata." kata Herlina menepuk pundak Mahendra dan tersenyum.
Mahendra membalas senyuman Herlina dan merasa lega bahwa akhirnya kasus ini berakhir dengan baik.
"Terima kasih, Bu. Saya akan main-main nanti."
"Kami pamit ya." ucap Herlina memasuki mobilnya dan Mahendra pun melambaikan tangannya.
****
Herlina memeluk Renata yang merasa shock dengan apa yany terjadi baru saja.
"Renata.. Apa kau ingin pulang ke rumah Nenek?" tanya Herlina.
"Aku ingin istirahat dirumah saja, Nek. Nanti saja kalau aku sudah lebih baik, aku akan ke rumah Nenek." jawab Renata.
"Baiklah. Datanglah kapanpun kamu mau ya."
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan lagi. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing dan Renatapun juga memejamkan matanya selama perjalanan.
****
Sulit menata hati yang sedang terluka. Rasanya tidak sanggup memikirkan apapun selain menenangkan pikiran dari hal yang menyakiti hati.
Bisa saja seseorang merasa kuat untuk melupakan kesedihan dihatinya. Pertanyaannya, sampai kapan ia bisa berusaha kuat untuk melupakan kesedihannya jika akhirnya suatu hari ia pun akan tumbang?
Hati bisa saja sekeras baja, bisa juga selembut kapas. Tapi ini menyangkut seseorang yang Renata cintai seumur hidupnya. Dan nanti, Renata akan mendatangi Kinanti untuk mengucapkan salam kerinduannya.
****
Mahendra melepas toga jaksanya dan menghempaskan diri di kursinya. Rasanya beban sudah sedikit hilang dari pundaknya. Kemarin terasa berat, kini tidak lagi.
Nugraha dan Liliana bersyukur kasus Kinanti selesai lebih cepat dari yang dikira.
"Aku bersyukur kasus ini lebih cepat bisa diselesaikan. Aku pikir akan sulit karena Herlina adalah pemilik Grup Seijin yang terkenal itu." kata Liliana.
"Mungkin berat juga untuk Herlina, tapi menutupinya pun tidak membuat Candra berubah. Mungkin Herlina berpikir begitu dan kesalahan Candra sudah sangat fatal untuk dimaafkan oleh Herlina. Itu menurutku ya." kata Nugraha.
"Tapi kalau dipikir, istri kedua Candra itu tidak jahat seperti di televisi ya. Dia baik mau membantu merawat Kinanti." kata Nugraha melanjutkan. Belum menyadari bahwa Mahendra sedang dalam kebingungan. Liliana menyenggolnya agar Nugraha sedikit peka dengan suasana saat ini.
Nugraha mengaduh kesakitan ketika Liliana mencubitnya sedikit, tetapi langsung paham dengan isyarat Liliana agar memperhatikan kondisi Mahendra sedikit.
"Pak, Pak Mahendra. Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Nugraha.
Mahendra masih saja melamun dan tidak mendengar panggilan Nugraha.
"Mungkin Pak Mahendra sedang memikirkan sesuatu?" tanya Liliana, tetapi Mahendra masih juga tidak menggubris pertanyaan Liliana.
Nugraha dan Liliana saling bertatapan, bertanya dalam isyarat ada apa sebenarnya.
"Pak? Pak Mahendra?" ulang Liliana dengan nada yang agak ditekan sehingga membuat Mahendra tersadar.
"Iya? Ada apa?" tanya Mahendra akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Bapak sedang mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Nugraha.
Mahendra menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya dikursi.
"Entahlah. Aku tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana perasaan Renata saat ini setelah mengetahui Ayahnya divonis seumur hidup." kata Mahendra.
Nugraha dan Liliana tersenyum dibalik beberapa kertas. Rupanya Mahendra sangat mengkhawatirkan Renata.
"Kalau penasaran, Bapak bisa ke rumahnya melihat keadaannya." kata Nugraha tersenyum.
Mahendra langsung salah tingkah digoda oleh Nugraha seperti itu.
"Ke..ke rumahnya? untuk apa?"
"Loh, bukannya Bapak sudah sering ke rumahnya? Mengambil video, membongkar bingkai, membantu Renata membereskan barang-barang saat pindahan.." Liliana menambahkan sehingga menambah rona di pipi Mahendra.
"Kalian tau soal saya membantu Renata pindahan?" tanya Mahendra dengan wajah polosnya. Nugraha dan Liliana hanya bisa saling memandang melihat salah tingkah bos nya itu.
****
Renata mengunjungi krematorium dimana abu Kinanti disimpan. Renata menatap foto yang ada di dekat guci Kinanti. Wajah cantik Kinanti membuat hati Renata berdesir mengingatnya. Betapa Kinanti sangat perhatian dan selalu mengkhawatirkan keadaan Renata.
Renata mulai menitikkan air matanya. Kesedihannya atas rahasia Kinanti yang selama ini tidak pernah diketahui, membuat hati Renata semakin perih mengingatnya.
"Apa kabar, Bu?" Renata mengucap salam dengan bibir bergetar. Ia tidak kuasa menahan air mata yang sudah ditahannya selama ini.
"Maafkan Renata, Bu. Renata.... Renata tidak tahu kondisi Ibu.... Renata baru tahu, Bu...."
Renata mencoba menghapus air matanya tapi percuma saja, karena semakin dihapus, air mata itu berderai kembali.
"Ibu... kenapa Ibu tidak pernah menceritakan kondisi Ibu? Aku merasa bersalah, Bu, karena selama ini tidak tahu..."
Renata kembali terisak dan menutupi wajahnya.
"Ayah juga sudah ditangkap, Bu... Biarkan Ayah mendapat balasan yang setimpal, Bu...."
Renata tidak dapat melanjutkan pembicaraannya dengan Kinanti. Ia terisak dengan hati yang pilu. Mencoba sekuat dan setegar mungkin tapi tidak bisa. Ia hanya bisa menangis dan memohon maaf karena selama ini tidak mengetahui kondisi Kinanti sesungguhnya.
Renata ternyata masih belum bisa kembali pulih dari rasa duka kehilangan Kinanti. Disamping itu, Kinanti punya banyak rahasia yang tidak diketahui Renata membuat hati Renata semakin sedih. Tapi sekarang, semoga Kinanti bahagia dan damai diatas sana.
Sekarang, Ibu sudah sembuh. Tidak sakit lagi, Bu...