
Renata sudah sampai di kantor kejaksaan. Ia segera menuju meja resepsionis dan meminta kunjungan untuk menemui Mahendra. Setelah mendapat kartu pengunjung dan masuk ke dalam area kantor kejaksaan, Renata menelpon Mahendra menanyakan dimana ruangannya. Tapi tidak lama Renata telpon, Mahendra langsung datang mnghampiri Renata.
"Kamu tidak harus datang kesini Renata." kata Mahendra menutup telponnya.
"Jangan sembunyikan apapun, Pak Jaksa. Apa isi kamera itu?" tanya Renata tidak perduli dengan basa-basi Mahendra.
"Baik, ke ruanganku dan aku akan perlihatkan." Mahendra langsung mengantar Renata menuju ke ruangannya. Setiba di ruangan Mahendra, sudah ada Nugraha dan Liliana yang sedang memeriksa video itu.
"Pak Nugraha, Bu Liliana. Ini Renata. Dia ingin melihat isi dari kamera itu." kata Mahendra menatap penuh harap pada Liliana agar bisa membantunya berbicara pada Renata.
Liliana dan Nugraha terlihat bingung harus berbicara apa, karena kondisi Kinanti memang jauh dari harapannya.
"Ehm... begini, Nona Renata, saya perlu bicara sedikit sebentar." Liliana menuntun Renata untuk berbicara sebentar. Tapi Renata terlihat tidak sabar untuk melihat isi dari kamera tersebut.
"Ada apa, Bu?" tanya Renata.
"Maaf, Nona Renata, sebelumnya. Saya tahu, kalau Nona Renata sudah tahu bahwa Ibu Kinanti didiagnosa penyakit kepribadian ganda. Tapi saya mohon maaf sekali, Nona. Kondisi Ibu Kinanti jauh dari harapan Nona." ucap Liliana.
"Maksud Ibu apa?"
"Saya hanya meminta Nona Renata tabah, tegar dan kuat ketika melihat isi dari kamera yang disimpan oleh Ibu Kinanti." Liliana terlihat sedih sekali ketika mengatakannya. Renata sudah mengira sebelumnya, bahwa ini bukanlah suatu pertanda yang baik bagi dirinya.
Renata dan Liliana kembali ke ruang Mahendra, melihat isi video itu yang sudah di crop dan disimpan oleh Nugraha sebelumnya. Video dimana Kinanti memotong buah dengan tatapan mata yang kosong dan tidak sadar sampai mengiris tangannya sendiri.
Renata bergidik ngeri karena apa yang Kinanti lakukan diluar batas kewajaran yang selama ini Renata bayangkan. Kemudian Liliana memperlihatkan video dimana Kinanti berusaha keras melawan keinginannya untuk menyakiti diri sendiri hingga Nina datang menolongnya.
Sungguh hati Renata sangat teriris melihat Kinanti begitu tersiksa dan menderita. Ia tidak pernah melihat Ibunya bertingkah aneh seperti ini.
Renata menahan air matanya yang jatuh, tapi tetap tidak bisa terbantah lagi bahwa suara Renata sangat gemetar.
"Apakah ada video lain?"
Semua terdiam tidak dapat menjawab pertanyaan Renata. Renata mencoba tersenyum dan mencari dimana kamera yang lain.
"Tidak apa-apa. Ayo kita lihat semuanya. Aku ingin lihat bagaimana kondisi Ibuku. Apakah ada orang lain selain Tante Nina yang datang atau tidak."
Mereka saling memandangi satu sama lain. Takut bahwa Renata menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Renata...." Mahendra mencoba menenangkan Renata untuk melakukannya dengan perlahan.
"Aku ingin lihat. Aku ingin lihat bagaimana penyakit Ibuku bisa kambuh lagi. Dimana kamera yang lain, dimana?" Renata terlihat gusar. Tapi tidak ada pilihan lain. Mahendra meminta Liliana dan Nugraha untuk memutar video selanjutnya.
****
Sama seperti video sebelumnya. Hanya merekam rutinitas Kinanti dari berbagai sudut tapi angel yang didapat berbeda. Sempat terulang video dimana Kinanti menjambak rambutnya dengan kasar hingga rontok dan Nina datang menolongnya. Sesaat setelah itu Kinanti mulai merasa tenang dan kembali ke rutinitas seperti biasa.
Renata pulang bekerja dan memeluk Kinanti dengan hangat.
"Ibu, aku merindukanmu Ibu.." ucap Renata.
Layaknya Ibu menyayangi anaknya, Kinanti membelai rambut Renata dan tersenyum.
"Kok tugas, Bu? Aku habis bekerja. Ibu lupa ya?" Renata tertawa kecil melihat senyum Kinanti. Ia tidak berpikir saat itu bahwa Kinanti mengidap penyakit kepribadian ganda. Semua terlihat normal.
"Ibu buatkan air hangat ya, kamu taruh dulu tasnya. Pasti melelahkan."
"Kalau ketemu Ibu lelahku jadi hilang, Bu!" teriak Renata sambil masuk ke dalam kamarnya.
****
Renata tidak bisa menahan tangisnya. Ia menjatuhkan air matanya dan mengusapnya. Mahendra, Liliana dan Nugraha merasakan perih dihatinya masing-masing. Walau sudah tahu kondisi Kinanti, Renata masih berusaha kuat dan tegar.
"Ada lagi videonya?" tanya Renata tersenyum dan meghapus air matanya.
Kali ini video dari kamera keempat. Kamera ini merekam suasana di pintu masuk rumah. Dari kamera ini terlihat hampir jelas mulai dari pintu masuk sampai ruang keluarga. Tapi tidak ada sesuatu yang istimewa dari video itu. Hanya menampilkan kegiatan sehari-hari Kinanti dan Renata.
Mereka coba memutar lagi video ke lima. Disini memperlihatkan di depan kamar Kinanti dan juga Renata. Karena kamarnya bersebrangan, yang terlihat hanyalah dua pintu dari kamar Kinanti dan Renata. Walaupun begitu masih terdengar suara Kinanti.
Saat itu sepertinya Kinanti sedang berbicara melalui telpon. Karena tidak ada suara lawan bicaranya.
"Ibu, sudah, tidak usah kirimi lagi uangnya. Aku masih ada, Bu."
"Tidak, Bu, tidak apa-apa. Renata juga baik-baik saja. Aku masih belum bisa kesana, Bu. Maaf ya, Bu."
"Bukan, bukan karena Candra ataupun Nina. Aku sudah ikhlas, Bu. Tidak apa-apa. Lagipula Ibu sudah mau memperhatikan aku dan Renata aku juga sudah berterima kasih, Bu."
"Baik, Bu, jika Ibu tetap mau mengirimkan. Aku akan simpan untuk masa depan Renata."
Dalam video itu sepertinya Kinanti sedang berbicara dengan Herlina. Kemudian sunyi untuk beberapa saat dan hanya terlihat aktivitas Renata dan Kinanti yang keluar masuk kamar. Kemudian terdengar lagi Kinanti berbicara di telpon.
"Saya belum bisa kesana, Dok. Tapi terkadang saya merasakan pusing, Dok."
"Nina membawakanku obat untuk stok, Dok. Aku tidak bisa keluar, Dok. Entah kenapa aku merasa gelisah sekali jika berada diluar rumah."
"Iya, Dok. Aku akan kesana kalau sudah ada Nina yang menemaniku."
"Baik, terima kasih, Dok."
Dan kali ini semua sudah bisa menebak bahwa Kinanti berbicara dengan dokter psikiatri. Kemudian hening lagi dan kali ini entah berbicara dengan siapa. Karena dari nada bicaranya Kinanti terdengar agak marah.
"Bukankah kamu sudah tenang berpisah dariku? Kamu mau apalagi?"
"Bagaimana kamu bisa menemui Renata sedangkan kamu saja sangat sibuk dengan wanita diluar sana."
"Kamu sudah meninggalkan aku dan juga Renata. Kamu tidak pernah datang kemari ataupun memberi kami tunjangan apapun! Semua itu Ibumu yang lakukan. Jadi apa pantas kalau kamu datang dan mengaku menjadi ayah Renata?"
"Silakan, aku tidak takut padamu! Sudah cukup rasa sakit hatiku karena kamu memperlakukan aku seperti karung pasir! Maaf, aku tidak akan rela kamu juga memukuli Renata seperti binatang! Bahkan kamulah yang binatang!"
Semua terkejut dengan ucapan Kinanti. Ya. Siapapun pasti akan terkejut, disamping itu terbukti, bahwa memang benar ternyata selama ini Kinanti mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Bisa jadi itu adalah penyebab penyakit kepribadian gandanya berasal.