
Mahendra tiba di Jakarta bersama Candra, Sekretaris Kim dan juga detektif. Sekretaris Kim yang akrab dipanggil Pak Kim, sudah berjanji bahwa ia hanya memantau mengenai Candra seperti perintah Herlina sampai Herlina bisa datang ke Jakarta. Mahendra mengijinkan itu dan jika ada suatu hal terjadi diluar dugaan, Pak Kim terpaksa tidak bisa menemani Candra selama interogasi.
Sang detektif yang akhirnya disapa oleh Mahendra, mempercayakan seluruhnya selama interogasi. Detektif yang cukup profesional itu sejak awal memang sudah terbukti bahwa ia tidak segan-segan melemparkan pertanyaan apapun. Selama interogasi, Candra terlihat pucat, sedangkan Mahendra, menunggu di ruang gelap yang bisa melihat proses selama interogasi.
"Saudara Candra. Saya akan memulai interogasinya." ucap detektif yang kemudian dipanggil Andreas.
"Saudara Candra, dimana Anda pada tanggal 24 September?" tanya Andreas dengan tegas. Candra tidak bisa menjawab begitu saja. Ia menunduk dan meremas kedua tangannya yang berkeringat.
"Baik. Saudara Candra. Pada tanggal 24 September Anda berada di rumah Ibu Kinanti berdasarkan tanggal yang tertera pada video ini."
Andreas menyodorkan tablet berisi video dimana Candra memukuli Kinanti sambil menjambaknya. Kaki Candra mulai bergoyang. Ia gelisah dan ia tidak bisa mengendalikan kecemasannya. Andreas memperhatikan hal itu.
"Apakah Anda mengakui bahwa Anda membunuh Ibu Kinanti?" Andreas masih mencoba bertanya hal-hal sederahana dengan jawaban yang sudah pasti. Tapi Candra masih menutup mulutnya dan enggan berbicara.
Ruang kaca yang berada tepat disebelah ruang interogasi itu sudah terdapat beberapa orang yang ingin sekali menyaksikan seorang anak dari keluarga kaya raya yang terlibat kasus pembunuhan.
"Bagaimana pendapatmu? Apakah dia akan mengaku?" tanya Liliana.
"Aku tidak yakin. Tapi dilihat dari kegelisahannya, dia mungkin akan mengakuinya tapi entahlah, kita lihat saja nanti." jawab Nugraha asal.
Mahendra memperhatikan gerak-gerik yang dibuat oleh Candra. Jelas sekali bahwa ia merasa bersalah.
"Apa Anda tidak akan mengakuinya?" tanya Andreas mulai kehilangan kesabarannya. Candra masih tetap diam dengan meremas tangannya kembali.
"Pada tanggal 24 September Saudari Kinanti yang merupakan mantan istri Anda meninggal karena Anda bunuh dengan cara dicekik sampai tidak bernyawa menggunakan kabel listrik. Setelah itu Anda merusak jasad korban dengan menyayat dipergelangan tangan dan Anda gantungkan korban di kain yang sudah di ikat di ventilasi pintu. Menurut pengakuan dari beberapa orang sekitar bahwa Anda melakukan kekerasan pada Saudari Kinanti. Anda masih tidak mau mengakuinya Saudara Candra Tanujaya?" tutur Andreas panjang karena sudah merasa kesal melihat tingkah laku Candra. Candra masih diam dan keringat sudah mulai keluar dari peluhnya.
"Baiklah. Jika Anda tidak menjawab, tidak apa-apa. Ini akan memperberat diri Anda sendiri. Begini saja. Anda mengaku ataupun tidak, kami sudah memiliki bukti dalam video. Dan juga yang saya dengar tadi bahwa Ibu Anda mempersilakan kami memberikan hukum yang sesuai terhadap mendiang. Bagaimana?" kata Andreas memulai dengan kata-kata agar pertahanan Candra runtuh.
Benar saja. Candra mulai merespons apa yang Andreas katakan.
"Apakah itu benar? Apakah Ibuku berkata begitu? Apakah dia tidak ingin mengirimi seorang pengacara?" tanya Candra tanpa henti.
"Haruskah aku telpon Ibumu sekarang?" tanya Andreas mulai menikmati kepanikan Candra.
"Tidak, tidak! Jangan telpon Ibuku." jawab Candra cepat.
"Jadi, apa kamu mau mengaku? Atau tidak? Kalau tidak, kamu akan tidur disini malam ini." ucap Andreas sambil melihat bagaimana ekspresi Candra.
Candra seperti memilah kata. Bagaimana aku akan mengatakannya?
"Baiklah. Aku mengakui. Aku membunuh Kinanti." jawab Candra pelan dan menunduk.
"Nah! Gitu ya, Pak. Daritadi udah harus bisa membuka diri. Sudah ketahuan kok di video ini jelas ada wajah Anda. Mau mengelak gimana juga ngga akan ada yang percaya." kata Andreas.
Kecemasan Herlina sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"Baiklah. Kau berusaha tutupi masalah ini. Jangan sampai media dan wartawan mengambil fotonya."
Pak Kim segera menjalani tugas dari Herlina. Dan menjaga pintu interogasi.
Andreas masih berusaha mewawancarai Candra. Kini Candra sudah bisa menjawab pertanyaannya.
"Mengapa Anda membunuh Saudari Kinanti?" tanya Andreas. Awalnya Candra diam saja, tetapi kemudian ia bersuara.
"Kinanti itu wanita gila. Dia psycho." kata Candra.
"Mengapa Anda bisa mengatakan hal seperti itu?" Andreas semakin menikmati kegelisahan Candra.
"Aku sudah lama tidak bisa mencintai Kinanti lagi karena terkadang ia berubah, bukan seperti Kinanti. Ia mirip sekali dengan orang yang ingin membalaskan dendamnya padaku." kata Candra sudah mulai menggebu. Namun Andreas mengerti apa maksud dari pembicaraan Candra. Andreas segera mengeluarkan beberapa lembar kertas catatan medis mengenai Kinanti.
"Ini adalah catatan medis Saudari Kinanti. Tercatat ia setiap sebulan sekali rutin mendatangin psikiatri untuk memeriksakan kondisi mentalnya. Diagnosanya bahwa Saudari Kinanti mempunya dua kepribadian alias kepribadian ganda. Ada pemicu mengapa seseorang bisa mempunyai kepribadian ini, salah satunya adalah traumatis yang dialami dan ia merasa batinnya sangat tersiksa. Dan saya rasa, Anda-lah pemicu penyakit Saudari Kinanti. Karena kekerasan yang selalu Anda lakukan pada Saudari Kinanti." jelas Andreas sambil menunjuk bagian diagnosa dan memberitahu bahwa memang benar Kinanti rutin mengunjungi psikiatri.
Candra terdiam mendengar penjelasan Andreas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia lihat selama ini ketika Kinanti tiba-tiba menjadi orang yang berbeda itu adalah sisi dirinya yang lain.
"Mungkin Anda belum tahu. Tapi selama ini Ibu Nina yang membantu pengobatan Saudari Kinanti dan menyediakan obat antidepresan. Karena jika keluar rumah, Kinanti sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya." tambah Andreas. Candra pun tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia menunduk dan memegangi kepalanya, meremas rambutnya.
"Saya tidak tahu kalau Kinanti sebegitu menderitanya karena saya." ucap Candra.
"Saya harap Anda tidak mengelak lagi." kata Andreas.
Kemudian Andreas mengatakan pada jaksa bahwa interogasi berjalan dengan baik dan Candra bisa dibawa ke dalam sel. Candra masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya tidak bisa membayangkan jika Kinanti memiliki kondisi seperti itu. Bagaimana dengan Renata? Apakah Renata tahu?
Saat Candra didampingi oleh Mahendra, Andreas dan beberapa polisi menuju sel, tiba-tiba Candra meraih lengan Andreas.
"Anakku! Anakku! Apakah anakku tahu soal ini? Bagaimana dia...." seperti menyesal, Candra terlihat khawatir jika Renata tahu tentang ini.
Mahendra meraih tangan Candra yang sudah di borgol dan melepasnya dari lengan Andreas.
"Video ini, Renata yang menemukannya semua bersama saya. Renata berusaha mencari siapa yang membunuh Ibunya walau kasus ini sempat ditutup sebagai kasus bunuh diri biasa. Tapi keyakinan Renata membuat saya terdorong untuk menemukan siapa pembunuh sebenarnya." kata Mahendra.
Air muka Candra terlihat keruh. Ia merasakan ketakutan didalam hatinya.
"Renata tahu?"
Mahendra tidak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya dan Andreas melanjutkan perjalanannya ke sel. Sepanjang perjalanan Candra tidak mengatakan apapun lagi. Pandangannya kosong dan ia juga tidak memberontak ketika dirinya dimasukkan ke dalam sel. Mahendra menatap Candra sekali lagi. Kemudian pergi meninggalkannya.