
Evano tidak semangat menjalani harinya. Sudah beberapa hari Renata absen kerja tanpa pemberitahuan. Memang sih, seharusnya Evano paham dengan kondisinya saat ini. Belum sampai seminggu Renata kehilangan ibunya dengan cara yang tragis, mengapa Evano bisa berpikir bahwa Renata akan masuk kerja? Evano berpikir kembali bahwa Renata harus istirahat dan memulihkan pikirannya dari duka kehilangan Ibunya. Evano stand by di meja kasir dan siap menerima orderan setelah merapikan beberapa cangkir. Masih jam sepuluh pagi, masih agak sepi. Jadi Evano menulis beberapa catatan bahan untuk dibeli nanti.
Tapi selagi Evano menulis catatan, pintu kafe terbuka.
TRING....!
Seorang lelaki muda dan tampan datang mengalihkan perhatian Evano. Yang membuat Evano tertarik adalah ternyata ia adalah jaksa yang tempo hari datang ke rumahnya untuk menginterogasi Renata.
"Selamat pagi. Mau pesan apa?" tanya Evano melayani pelanggan seperti biasa.
"Saya mau cappucino ya. Less sugar." jawab Mahendra mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Membayar menggunakan kartu atau cash?" tanya Evano.
"Cash saja." Mahendra menjawabnya singkat dan memberikan beberapa lembar uang kertas.
"Baik, Pak Jaksa." Evano menerima uang itu dan menekan beberapa tombol di mesin kasirnya.
Mahendra tertegun dengan cara Evano menjawabnya. Darimana ia tahu bahwa ia adalah seorang jaksa?
"Kamu kenal saya?"
"Bapak pernah kerumah saya untuk interogasi Renata pada saat Ibunya meninggal." jawab Evano sambil membuatkan cappucino pesanan Mahendra.
Mahendra tampak mengingat dimana ia pernah menemuinya.
"Oh, tetangganya Renata?"
"Iya."
"Kamu dekat dengan Renata?" tanya Mahendra lagi. Tidak lama kemudian Evano keluar dari meja kasirnya dan mengarahkan Mahendra untuk duduk disalah satu meja. Mahendra yang agak bingung mengikuti arahan Evano.
"Sebentar, Pak. Saya mau tanya." Evano menarik kursi dan duduk, begitupun Mahendra.
"Renata bagaimana kabarnya?" tanya Evano.
"Saya tidak tahu. Saya belum bertemu Renata hari ini." jawab Mahendra polos.
"Sejak kemarin saya melihat Bapak dan Renata bolak balik naik mobil. Dan pagi ini mobil Bapak tidak ada dirumah Renata."
Mahendra sedikit paham maksud Evano menanyakan Renata. Ini seperti ranah pribadi seseorang yang seharusnya tidak dijawab oleh Mahendra.
"Kalau kamu penasaran, kenapa kamu tidak bertanya sendiri?"
"Renata menutup dirinya sejak kematian Ibunya. Saya tidak bisa bertanya apapun dan tetangga yang lain sangat cemas dengan Renata. Dia sekarang tinggal sendiri..."
"Saya paham maksud kamu." potong Mahendra tanpa ingin berbelit dengan perkataan Evano.
"Tapi jika kamu benar-benar peduli padanya, datangilah dia. Hiburlah dia. Dia sangat kehilangan Ibunya." ucap Mahendra.
"Saya khawatir dan dia juga tidak mengatakan apapun tentang pekerjaannya."
"Maksudmu pekerjaannya?" Mahendra sejak awal memang penasaran, dimana Renata bekerja.
"Renata kerja paruh waktu di kafe ini dengan saya. Sebagai partner kerjanya, saya khawatir."
"Datangi saja Renata." jawab Mahendra singkat. "Bagaimanapun, seseorang yang sedang kehilangan butuh dihibur dan ditemani. Saya lihat kamu cukup peduli dengannya. Semoga kamu tulus ya." Mahendra tersenyum dan bangun dari duduknya.
"Saya pamit dulu. Saya mau kerja." kata Mahendra.
Evano masih penasaran banyak hal. Tetapi Mahendra sudah pergi meninggalkan kafe itu dengan segelas cappucino ditangannya.
****
Renata mencari-cari apartemen yang harganya murah untuk ditinggali. Sebenarnya tidak seberapa penting ia mencari apartemen dengan harga murah. Karena Herlina sudah memberinya apartemen. Rumah kecil yang ditinggalinya saat ini sebenarnya sangat berarti baginya. Tapi Renata ingin meninggalkan semua rasa pedih dihatinya.
KRINGG!
Hape Renata berbunyi dan ada telpon masuk dari Mahendra.
"Ya?"
"Bisa bertemu sebentar?"
"Ada apa?"
"Sebentar saja, aku sudah di depan rumahmu."
Renata langsung mematikan hapenya dan segera menuju ke depan pintu. Benar saja. Sudah ada Mahendra di depan rumah.
"Iya, kenapa?" Renata sangat bingung, harus memanggil Mahendra dengan sebutan apa. Bahkan usianya terlihat jauh lebih tua darinya.
"Aku mau minta maaf."
"Soal apa?"
"Kasus Ibumu ditunda untuk sementara. Jadi aku tidak bisa melakukan penyelidikan sementara waktu." kata Mahendra.
"Apa? Tapi kenapa? Kita hampir saja mendapatkan titik teramg dari masalah ini. Banyak yang harus kita cari tahu!" Renata mulai kesal dengan Mahendra.
"Aku masih belum bisa menemukan bukti kalau itu adalah pembunuhan. Aku juga ingin meneruskannya, tapi Kepala Jaksa menolaknya." jelas Mahendra merasa tidak enak hati.
"Aku tidak bisa! Aku harus menemukan siapa yang membunuh Ibuku!" ucap Renata terdengar putus asa.
"Dengarkan aku. Aku juga tidak akan menyerah dengan kasus Ibumu. Jadi kita hadapi bersama. Aku hanya menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Bantulah aku apapun yang kamu tahu. Semuanya." ucapan Mahendra sedikit menenangkan Renata.
Hati Renata mencelos. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Aku... merasa putus asa.. bagaimana bisa ini terjadi? Semua terasa tidak adil." ucap Renata sedih. Ia memang merasa rapuh didepan Mahendra. Entah mengapa. Biasanya Renata selalu tegar. Tapi didepan Mahendra, Renata mudah sekali mengekspresikan perasaannya.
"Tenanglah. Pertama-tama kita cari sesuatu yang bisa dijadikan bukti. Mungkin kita bisa cari di rumahmu."
Renata menatap Mahendra dengan tiba-tiba.
"Mengapa kau ingin sekali masuk ke rumahku?"
"Oo..jangan berpikir macam-macam. Aku hanya akan bekerja." jawab Mahendra mulai membuka pintu pagar rumah Renata. Renata hanya diam melihat ulah Mahendra.
Mahendra melihat-lihat isi rumah yang sekiranya merupakan sebuah bukti. Karena LFN hanya memberikan hasil dari autopsi saja. Sidik jari ataupun alas sepatu tidak ditemukan di rumah Renata. Siapapun pasti berpikir ini memang hanyalah kasus bunuh diri biasa.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Renata memperhatikan Mahendra. Mahendra masih berkeliling melihat-lihat isi ruang tamu. Ia ingin sekali membuatkan minum untuk Mahendra. Tapi sudah ada segelas kopi ditangannya. Renata melihat gelas kopi itu. Renata seperti mengenalnya.
"Kamu tadi ke Kafe Madison?" tanya Renata.
Mahendra menatap Renata bingung. Bagaimana Renata tahu? Tapi Mahendra paham, Renata melihat gelas kopinya.
"Iya, tadi aku kesana. Dan aku bertemu temanmu." jawab Mahendra meyeruput minumannya kembali.
"Kenapa kamu kesana?"
"Aku cuma mampir ke kafe, beli kopi. Ya seperti orang mau beli gitu."
Renata tidak bertanya lagi. Ya, mungkin saja hanya mampir. Tapi Mahendra kali ini yang sangat penasaran dengan Renata.
"Temanmu bekerja disana ya?"
"Ya."
"Kamu juga ternyata paruh waktu disana?" tanya Mahendra.
"Iya, kenapa?" Renata mulai malas menanggapi Mahendra.
"Tadi aku ketemu temen kamu tuh, yang tinggal dirumah itu." jawab Mahendra. Renata semakin bingung. Apakah jaksa yang menyelidiki kasus juga menanyakan hal-hal seperti ini?
"Kenapa dia? Dia namanya Evano."
"Dia tadi katanya khawatir karena beberapa hari kamu ga kelihatan dan datang ke tempat kerja."
"Ya ampun."
"Kenapa? Dia nanyain kamu loh."
"Pak Jaksa kalo udah selesai pulang gih sono. Bentar lagi saya mau kuliah." Renata benar-benar malas menanggapi Mahendra yang nggak masuk akal ini.
"Yasudah. Aku anterin aja ya."
"Nggak usah!"
"Udah cepet sana ganti baju!"
"Saya bilang nggak usah kan?"
"Arah kampus kamu sama kantor jaksa itu searah. Lagian kenapa sih kalo bareng sama aku? Takut ditanya-tanya?"
"Tuh tau!" Renata menutup pintu dan menguncinya.
Mahendra tertawa kecil dan kembali meyeruput kopinya.
****
Herlina sudah sampai di Bali. Ia langsung mendatangi resornya di Tanjung Benoa. Ia berjalan cepat dengan hati yang penuh emosi. Awalnya ia tidak percaya karena Nina yang menceritakannya. Tetapi setelah banyak orang yang melapor, dia pun menjadi percaya.
Herlina berjalan bersama sang sekretaris menuju kamar Candra menginap. Tanpa mengetuk, Herlina membuka pintu kamar Candra dengan kartu akses cadangan.
Benar saja kekhawatiran karyawannya selama ini. Bahwa Candra terkadang bermain-main dengan wanita di tempat kerja. Terkejutlah wanita itu bersama Candra yang sedang berpelukan dengan setengah telanjang.
"Ibu?"
Herlina menatap tajam Candra dengan wanita yang bersamanya. Wanita itu segera pergi dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai karpet.
"Ibu, kapan kemari?" tanya Candra berusaha setenang mungkin.
Tanpa menjawab pertanyaan Candra, Herlina mendekatinya dan langsung menampar pipi Candra.
"Seenaknya kamu bermain-main disini dan menelantarkan urusan bisnis! Kamu pikir bisa membodohi Ibumu!" Herlina sangat geram dengan sikap Candra yang tidak masuk akal ini.
"Ibu, tolong dengar dulu penjelasanku, Bu!" Candra takut sekali jika Herlina sudah marah. Ia tidak bisa melakukan apapun kecuali meminta belas kasihannya.
"Kamu bukan anak kecil Candra! Beraninya kamu mempermalukan Ibumu sendiri! Pak Kim, tarik semua kartu kreditnya. Jangan sampai ada yang tersisa!"
"Ibu, Ibu, ampun, Bu, maafkan aku, Bu! Aku tidak akan melakukannya lagi, Bu. Ampuni aku, Bu!"
Candra meraih tangan Herlina memohon belas kasih darinya. Ia tahu persis jika sudah marah, ancamannya adalah membekukan semua kartu kreditnya.
"Sudah beberapa hari kamu disini dan tidak ada laporan apapun yang datang! Kamu tidak becus menjadi pewaris perusahaan!" kata Herlina sambil meninggalkan kamar Candra. Candra merongrong seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
Setelah keluar dari kamar Candra, Herlina langsung memberi arahan pada beberapa staff di resort tersebut.
"Siapkan meeting dalam satu jam. Sekarang saya akan istirahat sebentar sambil mempersiapkan materinya!" Herlina berkata dengan tegas dan langsung pergi.
"Baik, Bu."