
Herlina mulai gelisah dengan dirinya. Dilema yang melanda hatinya semakin lama semakin berkecamuk. Anak lelaki satu-satunya yang diharapkan mewarisi perusahaannya, tidak bisa mencapai target yang biasanya dilakukan oleh Herlina. Herlina memikirkan segala cara agar Candra bisa mewarisinya tetapi tidak bisa. Alih-alih menghasilkan uang dengan perencanaan yang matang untuk perusahaannya, ia malah menghamburkan uang dan berfoya-foya.
Herlina bimbang. Ia tidak bisa mewariskan perusahaannya pada Candra jika ia tetap seperti itu. Terbersit dalam pikiran Herlina ingin membentuk Renata agar bisa mewarisi perusahaannya. Tapi apakah bisa dan mungkinkah Renata mau mewarisinya?
Sekretaris Kim masuk ke ruang kerja Herlina dan mengatakan bahwa ada seseorang yang mencari Candra.
"Permisi, Nyonya. Ada seseorang yang mencari Tuan Candra. Apakah saya persilakan saja?" tanya Sekretaris Kim dengan sopan.
Herlina yang sedang berpikir tentang perusahaannya, langsung mengalihkan pandangannya ketika seorang jaksa muda yang ia kenal mendatangi ruang kantornya.
"Selamat siang, Ibu Herlina." sapa Mahendra bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Mahendra berusaha mengendalikan emosinya yang segera ingin menangkap Candra. Detektif yang datang juga diminta Mahendra untuk berpakaian dengan kemeja biasa saja.
"Selamat siang, Pak Jaksa. Saya tidak tahu Anda bertugas jauh kemari juga." sapa Herlina seramah mungkin pada Mahendra. Herlina mempersilakan Mahendra dan rekannya untuk duduk di sofa ruang kerja Herlina.
"Silakan duduk, Pak Jaksa. Pak Kim, tolong siapkan kami minuman ya." Sekretaris Kim segera keluar dan mengambilkan air minum untuk Mahendra dan rekannya.
"Bagaimana kabarnya, Bu Herlina? Saya memang sedang ada tugas kemari, Bu." jawab Mahendra berbasa-basi.
Herlina merasa biasa saja dengan kedatangan Mahendra. Tidak ada sesuatu yang ia curigai dengan kedatangannya.
"Ya, Pak Jaksa. Saya merasa terhormat Pak Jaksa mau menyempatkan diri kemari untuk menyapa saya. Apakah ada sesuatu, Pak Jaksa? Atau mungkin sudah menemukan titik terang dari masalah Kinanti?" tanya Herlina yang mungkin sedikit paham dengan kedatangan Mahendra.
"Ya, Bu Herlina, sebenarnya itu yang ingin saya katakan." jawab Mahendra agak sedikit gugup. Rekan kerja Mahendra sampai detik ini masih belum menyuarakan apapun.
"Bagaimana, Pak Jaksa? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Herlina.
"Mohon maaf sebelumnya, Ibu Herlina. Dengan berat hati saya mengatakan bahwa pelakunya adalah anak Anda sendiri. Pak Candra."
Herlina merasa terkejut sekali. Ia merasa tangannya gemetar dan langsung disembunyikan oleh Herlina agar kegelisahannya tidak terlihat. Air muka Herlina langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya ia menyapa Mahendra dengan hangat, kini ia sedikit dingin pada Mahendra.
"Mengapa anak saya, Pak? Anak saya jarang sekali mendatangi Kinanti. Yang saya tahu dia pergi untuk bekerja." Ya. Mungkin Herlina bisa jadi bohong mengenai ini. Karena beberapa kali ia memergoki Candra sedang asyik bersama wanita lain ataupun berada di kelab malam.
"Pada waktu lalu kita sempat berbicara dengan Ibu Nina bahwa ada kemungkinan Pak Candra melakukan kekerasan pada Ibu Nina dan juga Ibu Kinanti. Awalnya saya ragu dan tidak percaya sampai saya menemukan bukti rekaman video yang sepertinya memang sengaja dipasang Kinanti di dalam rumah." jelas Mahendra sangat berhati-hati.
"Maaf, Bu. Mungkin Ibu sangat shock." ujar Detektif itu ikut andil dalam pembicaraan.
"Tapi inilah kenyataannya dan kami harap Ibu bisa bekerja sama dengan kami." kata Detektif itu.
"Sebelum itu," Herlina masih shock mendengar putranya sendiri terlibat dalam kasus pembunuhan. Ia tidak habis pikir bagaimana Candra bisa melakukan itu. Selama ini yang Herlina lihat, Candra hidup normal dan biasa saja. Tidak ada sesuatu yang ia lewatkan.
"Boleh saya lihat video yang melibatkan anak saya?" pinta Herlina.
Mahendra ragu memberikan video itu karena mungkin masih menjaga perasaan bahwa Herlina adalah keluarga Renata. Tapi tidak dengan sang detektif. Ia langsung menyodorkan tablet dan Herlina menonton semua video itu.
Raut wajah Herlina mengatakan kesedihan antara percaya dan tidak percaya bahwa anaknya tega melakukan itu semua. Yang ia tahu, Candra baik-baik saja dan tidak pernah melakukan hal-hal diluar batas kewajaran. Herlina menutup mulutnya, bergidik ngeri melihat apa yang Candra lakukan. Mulai dari Candra memukuli Kinanti dengan sangat kasar hingga ia menggantungkan Kinanti yang sudah meninggal dikain putih yang digantung. Herlina histeris melihat Candra melakukan itu semua.
"Anakku, anakku, kenapa bisa melakukan hal itu? Astaga anakku...." Herlina menangis dan tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia benar-benar tidak berdaya dan sangat lemas. Mahendra dan sang detektif tidak tahu harus bagaimana menghadapi hal seperti ini.
"Bagaimana dengan Renata? Apakah Renata sudah tahu hal ini?" tanya Herlina. Mahendra tidak bisa berbohong. Karena baginya ini adalah masalah yang cukup serius.
"Video ini, Renata yang menemukannya."
"Saya akan bekerja sama." ucap Herlina dengan matanya yang sembab. Sedikit cercah harapan untuk Mahendra.
"Lakukan saja sesuai prosedur. Dan lakukan interogasi tertutup saja. Jangan beberkan pada publik. Jika tidak, Renata bisa down dan keinginannya untuk kuliah tidak ada. Tolong lakukan apapun agar Renata bisa selamat dari tuduhan anak seorang pembunuh..." Herlina mengingat wajah Renata yang manis dan polos dengan hati yang sangat perih. Ia mulai mengeluarkan air mata lagi.
"Tolong, tangkap saja Candra jika memang ia bersalah. Tapi jangan libatkan Renata lagi. Hanya Renata satu-satunya harapanku." kata Herlina menatap Mahendra dengan memohon.
Mahendra menyerahkan surat penangkapan untuk Candra dan Herlina mengantar Mahendra dan detektif ke kamar Candra.
Herlina membuka pintu dengan amarah dihatinya. Dan yang lebih parah ia mendapati Candra sedang tertawa terbahak menatap layar hapenya.
Herlina langsung menghampiri Candra dan menamparnya dengan keras.
Plakk!! Candra terkejut dan segera berdiri dari duduk santainya.
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan!" bentak Candra pada Herlina seraya memegangi pipinya yang sakit.
"Harusnya Ibu yang tanya! Apa yang kamu lakukan pada Kinanti selama ini? Kau menyiksanya? Tidak waras kamu Candra!"
Candra mulai membeku, ia merasa gemetar karena Herlina mengatakan hal yang tidak biasanya dikatakan.
"Ibu, aku tidak..."
"Jangan coba-coba mengelak! Kinanti meninggal kamu tidak pernah menanyakan keberadaannya ataupun dimana dia dimakamkan. Dan lihat apa ini?" Herlina menyodorkan video yang Mahendra bawa. Candra membelalakan matanya, darimana video ini didapat? Terlihat jelas pula wajahnya.
"Mulai detik ini, kamu tidak akan menjadi pewaris perusahaan! Perusahaanku hancur karena kamu! Ikut Pak Jaksa ke Jakarta dengan tenang dan sembunyikan wajahmu. Jika kamu tidak bisa bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri, sedikitpun aku tidak akan pernah menganggapmu anak!" kata Herlina dengan somasinya.
"Ibu, Ibu.. tidak begini, Bu. Tolong aku, Bu. Aku tidak mau Bu. Tolong kirimkan aku pengacara, Bu! Tolong Bu!" Candra merengek selayaknya anak kecil yang ingin minta beli permen. Dan seperti biasa, Herlina tidak menggubris. Herlina membuang pandangannya ke arah luar jendela.
"Ibu! Ibuu! Tolong, Bu!" suara Candra semakin lama semakin tidak didengar oleh Herlina.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Bu Herlina." kata Mahendra. Tapi Herlina tidak sedikitpun menoleh pada Mahendra lagi.
"Tolong janjimu, untuk membantuku menjaga Renata. Renata satu-satunya darah dagingku dan aku sudah bekerja sama denganmu. Tolong lakukan permintaanku." ucap Herlina tanpa menoleh.
"Baik, terima kasih Ibu Herlina."
Mahendra segera meninggalkan kamar itu dan menuju ke lobby. Herlina masih menatap pandangan diluar jendela. Dan Sekretaris Kim datang menghampiri Herlina.
"Nyonya, saya pikir terjadi sesuatu pada Tuan Candra."
"Jangan panggil dia Tuan. Ikuti jaksa itu ke Jakarta dan Candra. Laporkan setiap detilnya padaku. Candra akan dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Persiapkan semuanya agar tidak terlihat media ataupun publik." perintah Herlina pada Sekretarisnya.
"Baik, Nyonya. Akan saya siapkan penerbangan hari ini. Lalu bagaimana dengan Anda, Nyonya?" tanya Sekretaris Kim khawatir.
"Jangan khawatir. Aku akan menyusul dan menyelesaikan beberapa pekerjaan disini. Kau pergilah dulu bersama mereka."
Kemudian Sekretaris Kim menjalani semua perintah Herlina tanpa bantahan sedikitpun. Sepeninggal Sekretaris Kim, Herlina adalah seorang Ibu biasa yang bisa merasa sakit dengan apa yang menimpa anaknya. Ia menangis dan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.