Mother

Mother
Kotak Perhiasan



Mahendra terdiam tidak bisa menjawab apapun. Ia seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh Ibunya.


"Aku..." Mahendra tergagap. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Haruskan ia menjawab bahwa semua itu ia lakukan untuk mengusir rasa yang ada didalam hatinya?


"Ibu Liliana menelponku. Katanya kamu bekerja keras setiap hari tanpa kenal lelah dan istirahat." Renata memajukan langkahnya dan meraih lengan Mahendra yang kekar.


"Ada apa denganmu?" Mata Renata terlihat sangat khawatir dengan dirinya.


Ketika Renata meraih lengannya, hati Mahendra berdesir hangat. Ia merasakan kerinduan yang selama ini terpendam terjawab sudah. Renata baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan lagi. Ia menemukan sisi Renata yang tidak pernah dilihatnya yaitu sisi cerianya.


Mahendra menggapai tangan Renata yang berada dilengannya dan melepasnya.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya mengkhawatirkan sesuatu saja. Tapi sekarang aku baik-baik saja." jawab Mahendra tersenyum dengan tatapan hangat.


Mahendra hendak berbalik badan, ingin kembali ke kantornya tetapi Renata menahannya.


"Aku ingin bertemu dengan Ayahku. Setidaknya aku ingin tahu apa alasannya sampai Ibuku dibunuh olehnya. Dan aku tidak bisa kesana sendiri. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku?"


Mahendra terdiam dan mengendalikan emosinya yang tidak beraturan saat ini. Kemudian berbalik dan tersenyum pada Renata.


"Baiklah akan kutemani. Aku akan menelponmu jika aku sudah agak senggang dalam waktu dekat."


Entah mengapa, tatapan Mahendra kali ini sungguh berbeda. Tidak seperti pada saat ia memecahkan kasus bersama. Renata masih menerka tatapan apa ini.


"Te..terima kasih." jawab Renata gugup setelah menatap matanya.


"Baiklah aku akan kembali bekerja. Terima kasih untuk makanannya."


Mahendra tersenyum dan membalilkan badannya masuk ke kantor kejaksaan. Sedangkan Renata masih terdiam dengan tatapan yang diberikan Mahendra baru saja.


Pipi Renata merona merah. Mungkin jika ia ingin menatap wajahnya sendiri di kaca, ia akan sangat malu.


Setibanya di kantor, Mahendra melihat kantornya yang penuh makanan. Liliana dan Nugraha yang masih menikmati makanannya merasa tidak bisa menelan makanannya ketika Mahendra kembali. Mereka akan diserang dengan berbagai pekerjaan lagi.


"Apa Renata membawa sebanyak ini?" tanya Mahendra meraih bungkusan makanan itu.


"Iya Pak. Renata membawanya. Yang ini, yang ini punya saya, dan ini punya Pak Nugraha." kata Liliana masih sambil memakan makanannya.


"Begitu? Lalu makanan mana yang bisa saya makan?" tanya Mahendra tersenyum melihat hampir semua makanan dirampok oleh bawahannya.


****


Renata kembali ke rumah dan menyelesaikan skripsinya. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikannya dalam waktu cepat mengingat Herlina memintanya untuk memegang resortnya yang berada di Singapore. Bisa saja Renata melewati kuliahnya dan langsung menuju ke dunia pekerjaan. Tapi jalan yang instant bukanlah tujuannya. Ia ingin melewati semua tahap dan mendapatkan hasil yang maksimal ketika bekerja nanti.


Disela mengerjakan skripsinya, Renata teringat wajah Mahendra yang dirasa berbeda dan tidak seperti biasanya. Ia segera membuang jauh-jauh perasaannya yang berdebar ketika mengingat wajahnya.


****


Nina kembali ke rumah dan mendapati Herlina yang sedang membaca buku di ruang tv.


"Ibu. Aku sudah pulang." Nina menyapa Herlina terlebih dahulu dan memberikan beberapa makanan khas Bali.


Herlina menatapnya dan tersenyum.


"Kau tampak ceria, Nina."


"Iya, Bu, karena bulan ini tembus dari yang Ibu targetkan, aku jadi merasa bahagia." jawab Nina dengan senyum yang mengembang.


"Melihat keceriaanmu mengingatkan aku pada Renata." kata Herlina.


"Apa Renata kesini, Bu?" gtanya Nina penasaran.


"Iya dan saat aku membahas Ayahnya, dia seperti pura-pura tidak mendengar." jawab Herlina dengan kesedihan.


"Jangan terlalu dipaksakan, Bu. Mungkin hati Renata belum pulih dari rasa sakit hatinya." jawab Nina menggengam tangan Herlina.


Nina terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa.


Pada saat itu...


"Nek, bagaimana kalau mereka tahu kalau Ayahku adalah pewaris grup Seijin?" tanya Renata gelisah.


"Memang kenapa?"


"Nek, bagaimana mereka akan mengolokku tentang Ayahku yang sudah membunuh. Bagaimana aku menghadapinya?" tanya Renata menangis dalam pelukan Herlina. Herlina membelai rambut Renata dan berpikir keras bahwa nanti apapun yang terjadi bagaimana cara mengatasinya.


"Belajarlah seperti biasa. Kasus Ayahmu sudah ditutup rapat-rapat. Yang mendatangi sidang kemarin juga sangat sedikit. Buktikanlah bahwa apa yang kamu kerjakan sekarang ini nantinya kamu bisa menjadi orang yang sukses. Jangan pikirkan yang lain. Pikirkan saja itu." jawab Herlina dengan bijak.


Renata adalah harapan satu-satunya bagi Herlina setelah Nina. Karena Renata adalah cucunya yang memiliki hubungan darah dengannya.


"Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika publik tahu mengenai masalah yang dibuat olehnya." ucap Herlina.


"Sudah, Bu. Ibu juga pasti melewati masa yang sulit karena harus merelakan Candra dibawa polisi pada saat itu. Aku mengerti, Bu. Soal Renata, coba nanti aku bicara padanya, Bu."


Herlina menatap Nina penuh harap. Nina sudah cukup banyak melakukan hal untuk keluarganya.


"Bagaimana denganmu Nina? Apa kamu rela suamimu di sel penjara? Ibu tidak pernah melihat sedikit saja ekspresi sedihmu." ujar Herlina menatap Nina.


"Aku bukannya tidak mau menangis atau bersedih, Bu. Maaf, Bu. Aku hanya mencoba kuat dan tegar karena Candra memukuliku sedemikian rupa seperti binatang sudah memberikanku pengalaman yang trauma, Bu. Rasanya airmataku sudah kering untuk menangisi Candra." jawab Nina jujur dan apa adanya.


"Iya, Nina. Tidak apa, Ibu mengerti. Semoga kamu bisa menjalani pekerjaan dari Ibu dengan baik ya, Nina, sebagai pelipur lara dihatimu. Sebisa mungkin Ibu menjagamu. Dan Ibu harap kamu tidak mengecewakan Ibu." jawab Herlina tersenyum.


"Iya, Bu. Terima kasih, Bu. Akan kulakukam sebaik mungkin. Aku istirahat dulu ya, Bu, diatas." Nina mengulas senyum dibibirnya begitupun Herlina. Keduanya terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Setelah sampai di kamarnya, Nina meletakkan barang-barangnya di sudut kamar dan merebahkan diri di kasur. Ia merasa sangat lelah dan ingin tidur. Tapi tidak bisa. Ia harus menemui Renata dan ada sesuatu yang memang belum ia berikan padanya. Kotak perhiasan Kinanti.


Nina segera bangkit kembali dari tidurnya dan segera mengambil kotak perhiasan yang memang sudah lama disimpannya.


****


Renata meregangkan otot-ototnya. Sudah semalaman ia mengerjakan skripsi dan ia mulai lelah. Buku tebal manajemen bisnis yang menemaninya ditutup kembali dan ia mengambil air jeruk dingin di kulkas. Bel rumah Renata berbunyi dan ia melihat siapa yang datang melalui radio monitor yang berada di dekat pintu masuk. Setelah melihat siapa yang datang, ia menekan tombol untuk membuka pintu.


"Tante pikir kamu tidak dirumah tapi ternyata ada." kata Nina masuk rumah dan meletakkan barang-barangnya diatas meja. Renata kembali ke arah kulkas dan memgambilkan jus dingin untuk Nina.


"Aku mengerjakan skripsi sudah dua hari ini Tante dan aku sekarang istirahat dulu. Aku capek Tante." Renata mengambil posisi duduk di sebelah Nina dan melihat barang yang dibawa Nina.


"Apa ini Tante?" tanya Renata meraih kotak itu.


"Tante belum sempat berikan sama kamu ya kemarin. Ini kotak perhiasan Ibumu. Waktu itu Ibumu memberi pesan pada Tante untuk memberikannya padamu." Nina telah mengambil posisi duduknya dengan nyaman dan memberikannya pada Renata.


Renata kemudian membuka kotak itu, ada perhiasan cantik didalamnya, kalung, gelang dan juga cincin. Renata menatap perhiasan itu dengan mata yang berkaca. Mengingatkan dirinya pada Kinanti.


"Ini perhiasan Ibumu yang memang sengaja dibeli untuk aset dirinya. Katanya suatu hari nanti akan diberikan padamu sebagai hadiah. Dan ini kalung yang diberikan Ayahmu sebelum aku datang ke keluarga kalian." Nina mengambil sebuah kalung dengan inisial K dengan mata yang indah dan menunjukkannya pada Renata.


"Dulu Ayahmu suka memberikan hadiah untuk Ibumu. Termasuk kalung ini. Tapi semenjak Ayahmu sering memukuli Ibumu, kalung ini sudah tidak pernah dipakai lagi." kata Nina dan Renata pun menatap kalung itu dengan perasaan kerinduan pada Kinanti.


"Aku sudah berencana ingin menemui Ayah. Tapi aku masih belum tahu kapan." kata Renata tiba-tiba membicarakan Ayahnya membuat Nina merasa terkejut.


"Apa kamu serius? Kamu mau menemui Ayahmu?" Nina bersorak bahagia didalam hatinya. Akhirnya Renata mau menemui Ayahnya.


"Tapi aku belum tahu kapan, Tante. Aku masih menunggu Pak Jaksa punya waktu." Renata langsung terdiam ketika ia menyebut 'Pak Jaksa'


"Kenapa harus bersama dia? Sama Tante aja..."


"TIDAK!" sahut Renata kencang membuat Nina kaget dan bingung.


"Hem maksudku biar aku bersama Pak Jaksa saja, Tante kan baru pulang dari Bali pasti capek." Renata mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan lain agar Nina tidak bisa melihatnya salah tingkah.


Nina berpikir keras dengan sikap Renata yang terlihat tidak biasa ini. Ia tidak pernah melihat Renata salah tingkah jika mengenai seorang lelaki. Mungkinkah Renata menyukai jaksa itu? Pikiran Nina melayang kemana-mana, tapi ia tetap tersenyum melihat Renata yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa ini.