
"Bi, Bibi tahu, dulu aku sering berpikir kalau semua makanan yang ada di restoran itu pasti sangat enak. Aku ingin sekali membelikan nenek itu. Aku juga merasa kalau tinggal di rumah besar pasti akan menyenangkan, tidak perlu berdesak-desakan saat ingin melakukan sesuatu. Tapi kini aku merasa semua itu tidak benar. Sekarang, setiap hari aku selalu makan daging, ayam, ikan, seafood, atau makanan enak lainnya. Tapi kenapa bagiku rasanya hambar? Aku tinggal di rumah mewah dengan kasur yang sangat empuk, tapi aku tidak pernah merasakan kenyamanan. Aku merasa ada yang salah. Semua yang aku rasakan ini, tidak ada yang membuatku bahagia, karena tidak ada nenek di sisiku.
Untuk apa aku makan enak, jika nenek tidak ikut menikmatinya. Untuk apa aku tinggal di rumah yang besar, jika nenek tidak dapat merasakannya. Aku seperti makan dan minum sesuatu yang beracun, aku merasa tidur di atas rumput berduri, aku seolah tinggal di bawah jurang kegelapan. Tak apa jika setiap hari aku hanya makan dengan nasi dingin dan sejumput garam, tidur di atas kasur tipis dan berbagi bantal, merasa kegelapan saat token listrik habis, asal dengan nenek yang selalu sehat. Bibi tahu tidak, selama di sini aku tidak pernah tidur dengan nyenyak, padahal kamarku ber-AC. Dulu, saat di kontrakan, meski hanya dengan kipas dari potongan kardus, aku masih bisa tidur dengan baik sambil memeluk nenek. Bi, aku sangat rindu dengan nenekku."
Air mata Rei jatuh di atas pangkuan bi Tuti, karena perempuan hamil itu menyandarkan kepalanya di atas paha bi Tuti. Di rumah ini, hanya bi Tuti saja yang bisa dia ajak bicara. Mungkin karena status sosial meraka yang sama. Rei tidak pernah menganggap dirinya wah hanya karena dirinya menikah dengan Marva. Bi Tuti juga tidak pernah mencelanya meski dirinya di rumah ini adalah istri kedua, yang sering orang bilang sebagai pelakor.
"Bi, aku tahu rasanya tidak memiliki ayah dan ibu sejak lahir. Bagaimana nanti jadinya saat aku harus meninggalkan anak-anakku saat mereka baru lahir? Pasti aku akan berdosa, kan?"
Bi Tuti tidak mampu berkata apa-apa, namun matanya sudah mengeluarkan air mata meski tanpa suara. Dielusnya dengan lembut rambut Rei, perempuan muda yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
Di berbagai sudut, banyak telinga yang mendengar keluh kesah calon ibu itu.
Perkataan yang menyesakkan keluar dari bibir itu, yang dicurahkan kepada asisten rumah tangga.
"Tapi setidaknya mereka tidak benar-benar menjadi anak yatim piatu seperti diriku. Ada kak Marva sebagai ayahnya, dan kak Viola yang akan menjadi ibu mereka. Mereka juga akan memiliki eyang dan kakek nenek. Tak lupa, harta yang bergelimang. Aku yakin mereka akan bahagia, lebih bahagia dari masa kecilku yang tak memiliki apa-apa."
"Bi?"
"Apa Bibi memiliki anak?"
"Punya, tapi anak bibi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Apa ikatan ibu dan anak itu sangat kuat?"
"Ya, tentu saja. Saat bibi sudah bekerja di sini dan anak bibi di kampung, ketika dia sakit, hati bibi akan merasa cemas. Tidak bisa tidur dan tidak enak makan."
"Jadi begitu. Apa aku juga akan seperti itu ya, Bi? Memiliki ikatan batin dengan mereka?"
"Ya," jawab bi Tuti lirih.
Air mata itu menetes, baik dari yang berbicara maupun yang mendengarkan.