
Jika kondisi Rei baik, maka dia akan ke sekolah, namun jika keadaannya sedikit drop, maka dia akan di rumah. Entah bagaimana cara Frans mengurus semua itu di sekolahnya, namun Rei dilarang memikirkan semua itu.
Saat ini, Rei duduk sendiri di halaman belakang seperti saat dirinya melihat Freya dulu. Bedanya, di saat seperti apa pun, Freya selalu ada yang menemani, bahkan di saat dia bolos dan melakukan kenakalan. Sedangkan dirinya, tetap seorang diri.
Tiga minggu lagi dia akan mengikuti ujian nasional. Untung saja usia kehamilannya masih muda, jadi perutnya belum membesar.
Rei mengingat masa-masa dirinya selama tifa tahun berada di sekolah ini. Junur saja, tidak ada kenangan indah menurutnya. Dia tidak memiliki teman, apalagi sahabat. Teman hanya sekedar teman sekelas. Tidak ada rasa sedih saat membayangkan bahwa sebentar lagi dirinya akan lulus dan meninggalkan sekolah ini.
Justru dirinya senang, seolah satu beban akan terangkat dari pundaknya.
🌺🌺🌺
Hari ini ujian nasional, keadaan sangat ramai, bukan karena masalah ujian, tapi karena kehadiran Arby, Ikmal, Vian dan Marcell yang selama menghilang bak ditelan bumi. Keempat remaja laki-laki itu terlihat baik-baik saja. Mereka seolah tidak pernah peduli dengan gosip yang melanda Arby.
Apa selama ini cowok itu menghilang karena masalah ini benar adanya? Lalu bagaimana dengan Ikmal, Vian dan Marcell. Bahkan mereka berempat adalah ketua dan anggota OSIS.
"Ini sekolah beda ya, gak ada Freya, Nania, dan Aruna ...."
Samar-samar Rei mendengar Marcell mengatakan itu.
"Jangan bikin masalah baru lagi, Ar!"
"Alu enggak pernah bikin masalah, tapi masalah yang terus menghampiri aku."
Mereka berkata dengan sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh Rei. Jangan lupa kalau Rei itu memiliki pendengaran yang tajam, makanya di mansion dia sering mendenar hal-hal yang tak seharusnya dia dengarkan karena dapat menyesakkan hati.
Pandangan mata Arby dan Rei bertemu, namun Arby langsung mengalihkan pandangannya, tidak peduli dengan Rei.
Arby memang terlihat tidak peduli dengan perempuan kecuali Freya dan gengnya yang selalu membuat ulah dengan Arby cs. Namun gosip pernah beredar bahwa hubungan Freya dan Nuna sahabatnya, rusak gara-gara Arby.
Rei menghela nafas, kembali teringat dengan Freya. Bahkan hingga kini dia menghadapi ujian nasional, Freya tidak pernah kembali.
"Freya, kamu di mana?" gumam Rei pelan.
Samar-samar Arby mendengar Rei menyebut nama Freya. Namun dia kembali berpikir bahwa mana mungkin murid perempuan di kelasnya itu kenal dengan Freya. Arby saja tidak mengenal siapa Rei.
Ujian nasional di hari pertama berjalan dengan lancar.
Rei kembali ke mansion tanpa semangat, selalu seperti itu yang dia rasakan.
Dia berpapasan dengan Viola, namun Viola tidak mengatakan apa-apa seolah Rei adalah benda tak kasat mata. Rei tidak merasa tersinggung, itu lebih baik baginya daripada Viola mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati, seolah Rei penyebab semua kesedihan dalam hidupnya.
Kalau bisa memilih, Rei juga ingin memiliki suami tanpa harus berbagi, tapi yang namanya takdir mana bisa dicegah, yang penting dia berusaha menjalani semuanya sebaik mungkin.
🌺🌺🌺
Hari ini merupakan upacara kelulusan murid kelas tiga. Kepala sekolah mengumumkan murid yang mendapatkan predikat terbaik.
"Selamat kepada Arby Erlangga Abraham."
Rei menghela nafas, lagi-lagi Arby. Meskipun pria itu lama tidak berada di sekolah ini, tapi tetap saja Rei kalah olehnya. Pandangan para murid tertuju pada Arby yang memang terlihat semakin tampan meski gosip sedang menimpanya.
"Terima kasih, pada kepala sekolah, dewan guru, keluarga, para sahabat dan teman-teman ... dan yang paling spesial, untuk dia satu-satunya yang aku cintai di dunia ini. Dia yang selalu memberiku semangat dalam segala hal."
Arby dan Nuna saling pandang, mereka yang ada di sana bisa melihat ada binar bahagia dan kesedihan di dua murid berbeda jenis kelamin itu.
Ikmal yang melihat sikap kedua orang itu, hanya bisa menghela nafas. Sedangkan Marcell dan Vian, sama-sama bingung.
"Jadi Arby beneran suka sama Nuna?" bisik Marcell di telinga Vian. Vian hanya mengedikkan bahunya.
"Jangan bikin gosip, apalagi di sekolah," hardik Ikmal.
"Jangan-jangan Ikmal cemburu?" kali ini Vian yang berbisik di telinga Marcell.
Ikmal langsung menoyor Marcell dan Vian.
"Berisik!"
Rei masuk ke dalam sepuluh besar di sekolahnya. Arlan, selaku pemilik yayasan memberikan penghargaan kepada mereka.
"Arby, mulai sekarang tanggung jawabmu semakin besar, jangan membuat malu keluarga!"
"Iya, Pak."
Arlan menepuk pundak Arby, lalu beralih ke Ikmal, Vian, Marcell yang juga mendapatkan peringkat.
"Kalian baik-baik, jangan membuat ulah."
"Iya, Pak," jawab mereka serempak.
Kini Arlan beralih ke Rei. Dia ingat bahwa Rei adalah murid perempuan yang digosipkan denfan keponakannya, Marva, yang ternyata istri kedua Marva. Bukankah itu berarti Rei adalah keponakannya juga?
"Kamu juga baik-baik, ya. Harus jadi perempuan yang kuat."
"Baik-baik kamu bersama Marva," bisik Arlan di telinga Rei.
Rei mengangkat wajahnya, merasa gugup dan bingung.
"Jangan tegang!"
Arlan juga menepuk pundak Rei dan memberikan piala, sertifikat, dan uang penghargaan sama seperti murid berprestasi lainnya.
🌺🌺🌺
Rei meletakkan piala dan sertifikat di atas meja belajarnya, lalu dia membuka amplop yang berisikan uang. Dia lalu menangis melihat sejumlah uang yang sangat banyak. Tangannya bergetar, tidak perlu dihitung dia dia bisa menebak berapa banyak uang itu.
Nenek, aku memiliki uang yang banyak. Seandainya nenek masih hidup, aku bisa kembelikan makanan yang enak untuk nenek dengan uang ini.
Rei menyimpan baik-baik uang itu, karena uang itu tentu saja sangat berguna untuk masa depannya nanti.