Mother

Mother
Rahasia Kinanti (2)



Nugraha tercengang melihat videonya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan menonton video mirip adegan menyeramkan seperti di televisi.


"Pak, video ini Bapak dapatkan di rumah Ibu Kinanti, Pak?" tanya Nugraha tidak percaya.


"Iya, harus bagaimana ya kalau Renata menanyakannya?" Mahendra terlihat frustasi bagaimana menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Bukan karena keadaan Kinanti. Tapi bagaimana reaksi Renata jika tahu bahwa kondisi Kinanti cukup memprihatinkan.


"Ini kondisi yang agak sulit untuk memberitahu Renata, Pak." kata Liliana. "Walaupun Ibunya sudah meninggal, paling tidak ia merasa shock berat jika tahu kondisinya seperti ini."


Mahendra berpikir lagi. "Untuk jaga-jaga coba crop saja bagian Kinanti ketika penyakitnya kambuh. Dan simpan di file berbeda. Tolong dicek lagi lima kamera sisanya." kata Mahendra kemudian.


Kini giliran Liliana membuka file video. Video yang Liliana lihat memperlihatkan sudut ruang keluarga dimana kamera merekam ketika Kinanti sedang santai menonton televisi.


Awalnya video itu memperlihatkan kegiatan Kinanti yang suka sekali membaca buku ataupun menonton televisi. Tapi memang terkadang Kinanti memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit. Sempat terdengar suara Kinanti mengaduh kesakitan tapi tidak seberapa parah. Kinanti selalu meraih laci meja di samping sofa dan mengambil botol obat. Ciri khas yang pasti adalah didekat Kinanti selalu ada air untuk diminum.


Selama beberapa jam, Liliana memperhatikan kegiatan Kinanti yang dirasa masih terlihat normal. Namun suatu ketika, Kinanti berteriak dan mengeluarkan obat dari botol tidak sesuai takaran dosisnya hingga obat itu berjatuhan ke lantai. Kinanti meraih hapenya dan menelpon seseorang dengan gerakan terburu-buru dan tidak seimbang.


"Nina, obatku habis Nina. Nina tolong aku Nina.."


Kinanti memohon pada Nina agar segera datang. Liliana tidak percaya bahwa Kinanti menekan hasratnya begitu kuat untuk tidak menjadi pribadinya yang buruk. Wajah Kinanti terlihat merah menahan rasa sakit di kepalanya. Ia tidak tahan untuk menjambak rambutnya sendiri dan berteriak histeris. Beberapa helai rambut rontok dan ia melempar bantal ke arah yang tidak menentu. Tiba-tiba Nina datang dan histeris dengan tubuh Kinanti yang terlihat kaku.


"Astaga!! Kinaan.. Kinan! Apa yang terjadi? Aku bawakan obat, minum dulu obatmu!"


Nina mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan meminumkan dua butir untuk Kinanti. Seketika Kinanti merasa tenang dan lemas. Nina masih terlihat panik dengan keadaan Kinanti. Wajah Kinanti berkeringat dan Nina menyekanya.


Liliana terkejut ketika melihat Nina menangis.


"Pak, Nina ini siapa ya, Pak? Kenapa selalu ada?" tanya Liliana mulai penasaran.


"Dia istri kedua suaminya Ibu Kinanti. Ibu tiri Renata. Awalnya saya pikir Nina itu jahat dan ingin menguasai harta suaminya. Tapi setelah melihat video ini, saya tidak yakin kalau Nina itu jahat."


Liliana dan Nugraha mengangguk paham dengan apa yang Mahendra jelaskan. Mereka menonton lagi video itu. Kali ini Kinanti sedang tidur di sofa dan Nina menyeka air matanya. Nina mengambil hape dari dalam tasnya dan menelpon seseorang.


"Dok.. Bagaimana ini? Sepertinya kondisi Kinanti semakin parah. Tadi Kinanti telpon saya dan bilang obatnya habis. Tapi setelah saya datang ternyata obatnya berjatuhan semua di lantai. Saya harus bagaimana Dok?"


Nina kembali menangis. Terlihat jelas sekali bahwa Nina sangat mengkhawatirkan Kinanti.


"Pada saat saya datang ia berteriak dan menahan dirinya untuk menyakiti diri sendiri. Tapi saya rasa dia sudah menarik rambutnya hingga rontok."


"Saya bingung, Dokter. Kapan ada jadwal lagi? Saya terkadang tidak sanggup melihat keadaan Kinanti. Untung Renata saat ini bekerja. Jadi saya sedikit tenang."


"Baik, Dokter. Terima kasih."


Nina menutup telponnya dan menyeka air matanya kembali. Tidak lama, Kinanti terbangun dan merasakan agak pusing. Ia mengerjap karena agak silau dengan sinar dari luar jendela.


"Nina.. "


"Kamu udah bangun?" Nina tersenyum pada Kinanti seolah tidak terjadi apapun.


"Kamu udah lama dateng? Aku ketiduran ya?"


Nina agak kaget dengan pertanyaan Kinanti. Tapi ia berusaha bersikap senormal mungkin.


"Aku baru saja datang. Ketika aku datang, kamu sudah tidur. Aku nggak tega bangunin kamu." Nina tersenyum.


"Oh begitu. Kamu udah minum belum? Aku ambilkan ya.." Kinanti hendak berdiri namun tangannya segera diraih oleh Nina.


"Tidak usah. Aku hanya membawakanmu obat dan aku juga mau langsung pamit." jawab Nina.


"Oh begitu ya. Ini jam berapa ya? Aku tidurnya lama ya. Jadi kamu terlalu lama menunggu."


"Nggak, Kinan. Ada yang harus aku beli. Aku harus segera pulang." Nina tersenyum lagi.


Tetapi Kinanti memandangi wajah Nina yang terlihat berbeda. Matanya terlihat merah.


"Kamu menangis ya?" Kinanti memegangi pipi Nina.


Nina pamit dan segera meninggalkan rumah Kinanti.


Liliana lemas sekali menonton videonya. Begitupun Mahendra dan Nugraha.


"Sepertinya kita harus mencoba mendatangi ke psikiater itu." kata Mahendra.


"Iya benar, Pak. Kita harus coba mendatanginya. Coba kita datangi ke dokter yang Renata temukan hasil diagnosanya itu." jawab Nugraha.


"Ya, bagus. Nugraha, coba hubungi dokter itu dan minta janji temu dengannya. Liliana, kita periksa lagi empat kamera sisanya."


****


Herlina masih terlihat enerjik dengan kegiatannya hari ini. Walaupun sudah berumur, Herlina masih terlihat sehat dan hampir tidak ada kerutan diwajahnya. Saat ini Herlina masih menyelesaikan perawatan wajahnya sebelum bertemu dengan calon brand ambassadornya.


"Ibu."


Herlina tidak mengacuhkanya. Ia masih sibuk melanjutkan perawatan wajahnya.


"Sewa kamarku sudah habis. Dan aku juga tidak bisa pulang ke Jakarta sekarang. Aku akan tidur di kamar Ibu saja." kata Candra membawa tasnya.


"Minta kasur tambahan." kata Herlina memoleskan lipstik pada bibirnya.


"Kenapa harus minta kasur tambahan, Bu? Ibu kan Pakai kasur king size?" Candra sangat bingung dengan permintaan Herlina.


"Siapa bilang kamu boleh tidur di kasur Ibu? Tidur dibawah sana pakai kasur lipat!" ucap Herlina dengan tegas tanpa senyum dan dengan tatapan mata yang tajam.


"Ibu.. kenapa tega sekali?" Candra mengeluh dan membuat Herlina semakin tidak suka.


"Kalau tidak mau, tidur di lobby saja sana."


"Ibuuu..."


***


Renata menelpon Mahendra. Ia penasaran sekali dengan kamera kecil yang Mahendra bawa ke kejaksaan.


"Renata?"


"Oh, Hai..." Renata merasa agak canggung menyapa Mahendra.


"Ehm. Aku mau tau hasil dari video itu apa isinya."


Mahendra terdiam sesaat. Renata merasa tidak puas dengan Mahendra kali ini.


"Pak Jaksa, ada apa?"


"Akan aku beritahu saat kita bertemu nanti."


Renata merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mengapa Mahendra ragu sekali dengan jawabannya?


"Ada apa, Pak Jaksa? Kamu menyembunyikan sesuatu?"


Lagi-lagi Mahendra tidak menjawab. Mahendra terdiam tidak tahu harus jawab apa. Tiba-tiba tedengar suara jeritan histeris dari ujung telpon membuar Renata kaget..


"Suara apa itu?" tanya Renata. Tapi tidak ada jawaban dari Mahendra.


"Kamu sedang memeriksa kamera itu kan?Apa isinya, Pak Jaksa?"


Mahendra terbata menjawab pertanyaan Renata.


"Oh itu, kami sedang melihat film horor."


"Jangan bodoh, Pak Jaksa. Ini jam kerja. Untuk apa kamu nonton video horor jam segini? Aku ke kejaksaan sekarang!" Renata bertekad tidak mau mendengar alasan Mahendra yang tidak masuk akal. Ia meraih tas serta jaketnya dan langsung mengambil kunci motornya.