Mother

Mother
Rahasia Gelap Candra



Nina mengambil kunci ruang pribadi Candra yang selama ini hanya Nina yang mengetahuinya. Nina berjalan menuju ruang bawah tanah dan Herlina pun mengikutinya. Untuk mencapai ruang pribadi Candra, harus melewati tangga yang hanya diterangi oleh beberapa lampu kecil. Dan hanya ada sebuah pintu disana.


Nina membuka ruang pribadi itu dengan kunci yang dipegang. Mungkin Nina sedikit tenang sekarang karena sudah jarang sekali ia memasuki ruang ini.


Nina menyalakan lampu yang tidak terlalu terang, mirip seperti sebuah bioskop. Nina mempersilakan Herlina untuk memasuki ruangan itu dan betapa terkejutnya Herlina ketika memasuki ruangan pribadi Candra.


"Apa yang kalian lakukan di ruangan ini? Ruangan kedap suara dan jika terjadi apa-apa, bagaimana yang lain tahu?" tanya Herlina, kini ia khawatir pada Nina. Nina merasa tersentuh dengan apa yang baru saja Herlina katakan. Kemudian, Herlina meraih wajah Nina dan melihat keadaannya.


"Kau tidak apa-apa, Nina? Kau tidak terluka?" Herlina memegangi pipi Nina yang polos tanpa make up. Sebelumnya Nina selalu merias wajahnya tapi tidak kali ini.


Belum sempat menjawab pertanyaan Herlina, Nina meneteskan airmata di pipinya. Hatinya terasa hangat dan ia merasa gemetar dengan sentuhan Herlina.


"Maafkan aku, Ibu..."


"Kenapa Nina? Ada apa?" Herlina memandang Nina dengan tatapan berbeda. Bukan lagi Nina yang menghancurkan keluarga kecil anaknya, tetapi Nina yang hangat dan kesepian.


Nina masih menangis, ia benar-benar merasa tersentuh dengan perhatian Herlina hari ini.


****


Renata kembali ke kampus seperti biasa. Mencoba melupakan kesedihan yang selama ini menerpa dirinya. Berkat kedatangan Maria dan Evano kemarin, telah menjadi obat penghibur hatinya.


Sesampainya di kampus menggunakan sepeda motor, ia meraih hape yang berada di saku jaket. Sejak tadi berbunyi tidak sempat diangkat oleh Renata. Mahendra. Sudah beberapa hari Mahendra tidak menghubunginya. Apakah ada sesuatu yang ia dapat lagi?


"Kamu dimana Renata?" tanya Mahendra begitu Renata mengangkat hapenya.


"Aku di kampus dan mulai kuliah lagi. Aku sudah tidak masuk kemarin-kemarin." jawab Renata. Terdengar suara napas lega disebrang telpon.


"Baiklah. Kamu kuliah dulu. Kalau sudah sempat bertemu hubungi aku." ucap Mahendra.


"Baiklah. Sampai jumpa."


Renata memasuki gedung kampusnya dan mengejar mata kuliah yang tertinggal.


****


"Jadi kapan sidang untuk Pak Candra, Pak?" tanya Liliana yang sedang mengetik laporan untuk kasus Kinanti.


"Dua hari lagi. Kira-kira, apakah Renata mau menemui Ayahnya?" gumam Mahendra.


"Saya rasa Renata akan menemuinya. Ya. Bagaimanapun Renata adalah anak dari Pak Candra. Walaupun terlihat tidak peduli, Renata-lah yang terlihat paling mirip dengan Pak Candra." ucap Nugraha meyakinkan Mahendra. Tetapi Mahendra masih tetap cemas dengan reaksi Renata.


****


Herlina duduk di sofa ruang tamu favoritnya. Ia mulai meluruskan apa yang terjadi pada Candra dan Nina tentang ruang pribadi itu.


"Jadi, apa yang Candra lakukan dibawah sana?" tanya Herlina.


Nina terlihat ragu menjawabnya, tapi sepertinya semua ini memang harus diceritakan.


Nina mengeluarkan hapenya. Suatu kali ia pernah mereakam melalui fitur video di hapenya tentang apa yang Candra lakukan padanya.


"Saya tidak berani buka suara, Bu. Saya tahu Ibu akan lebih mempercayai Candra daripada saya. Dan akan mengatakan saya gila jika saya memberitahu semua itu. Tapi saya merekam ini diam-diam kalau suatu kali Ibu tidak percaya pada saya, saya mempunyai buktinya." Nina menyodorkan hapenya pada Herlina. Terlihat Candra sedang membabi buta memukuli Nina hingga tega menendang perut Nina.


"Kala itu, aku tidak kunjung hamil. Candra marah besar dan aku... dipukulinya.." cerita Nina sambil meneteskan airmata.


Herlina terdiam melihat video itu. Jauh dari pandangan Herlina, ia tidak pernah berpikir bahwa Candra akan melakukan hal serendah ini pada wanita.


"Jadi, sudah berapa lama Candra memukulimu?" tanya Herlina menatap Nina.


"Sudah sekitar enam bulan yang lalu, Bu." jawab Nina.


"Sudah selama itu dan apa yang kamu lakukan Nina? Kamu tidak cerita padaku?" tanya Herlina cemas.


Herlina merasa tidak berdaya sekarang. Ia salah menganggap Nina yang merebut Candra dari Kinanti. Berkali-kali Nina mengatakan bahwa bukan Nina yang ingin berada disini. Tapi Candra. Terlebih lagi kenyataan yang membuatkan shock adalah Candra memukuli menantunya di ruang bawah tanah dan ia tidak menyadari itu semua.


Herlina pindah tempat duduk ke sebelah Nina. Herlina merasa menyesal sudah mengabaikan Nina.


"Maafkan Ibu, Nina. Ibu tidak tahu kalau Candra melakukan hal buruk padamu. Maafkan Ibu, Nina."


Herlina memeluk Nina mengelus punggungnya. Sedangkan Nina masih terisak karena saat ini hatinya lega, tidak perlu lagi memendam perasaan apapun pada Herlina.


****


Candra menatap jendela kecil yang ada di sel. Ia tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir dibalik sel penjara. Teringat jelas dalam ingatannya ketika ia berusaha menjerat Kinanti dengan kabel di lehernya.


"Candra, lepas...kan..aku...am..punnn...canndrr..aa" suara Kinanti tercekat dan tidak stabil. Ia merasa tidak bisa berbicara sedikitpun. Tetapi, bukan iba kepada Kinanti justru Candra menghukum Kinanti.


"Ampun? Ampun katamu? Tiap kali aku bertemu denganmu, kamu melihatku jijik seolah aku ini sampah!"


Kinanti masih berusaha meraih tangan Candra untuk melepaskan kabel yang melilitnya. Tetapi Candra malah mengencangkan kabel itu.


"Ini hukuman untuk wanita lancang terhadapku! Kamu tahu siapa aku? Candra! Candra Tanujaya yang akan mewarisi resort terbesar di negeri ini! Sedangkan kamu hanyalah wanita hina yang tidak pantas dikasihani.!" kata Candra tanpa memperhatikan kondisi Kinanti yang sudah lemas.


"Kamu harus membusuk disini. Ya? Oke?" Candra masih berusaha bertanya pada Kinanti dalam kondisi itu, tapi sudah terlambat. Kinanti sudah tidak dapat menggerakkan apapun lagi. Kinanti sudah meregang nyawa dan Candra mulai panik.


"Aduh, Kinanti, Kinanti! Kenapa kamu mati? Bagaimana ini?" Candra gelisah. Ia tidak bisa berpikir apapun. Ia menenangkan dirinya. Ia juga merasa haus karena sejak tadi ia berteriak. Ia mengambil minum dari kulkas. Setelah itu ia mengambil pisau dari dapur, kematian Kinanti dibuat seolah-olah ia bunuh diri dan menutupinya dengan gantung diri di rumahnya.


****


Renata menemui Mahendra yang sudah menunggu di depan kampusnya. Renata membawa beberapa buku ditangannya yang terlihat sangat berat.


"Pak Jaksa. Kamu sudah menunggu lama? Apa ada perkembangan?" tanya Renata begitu bertemu dengan Mahendra.


"Masuk dulu ke mobilku. Kita bicara didalam."


Renata menjadi semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Mahendra. Setelah masuk ke dalam mobil dan merapikan posisi duduknya, Renata siap mendengar apapun yang akan Mahendra katakan.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Renata.


Mahendra terlihat bingung harus memulai darimana. Ia takut sekali jika perkataannya nanti melukai hati Renata.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Sudah lebih baik dari kemarin. Maria dan Evano mendatangiku. Mereka mencoba menghiburku." jawab Renata polos.


"Ehm. Begini Renata. Ayahmu sudah tertangkap dan telah menjadi tersangka. Sidangnya dua hari lagi." kata Mahendra dengan tatapan yang serius pada Renata.


Renata merasa hatinya berdegup dengan kencang. Ia pun menghilangkan rasa gemetar dihatinya dengan menekan jari-jarinya dan bukunya. Entah bagaimana perasaannya kini. Tapi Renata mencoba tegar dihadapan Mahendra.


"Baguslah. Orang yang membunuh Ibuku sudah ditangkap. Aku harap dia mendapat hukuman seberat-beratnya."


Mahendra sangat paham dengan Renata saat ini. Tidak bisa dibohongi kalau saat ini suara Renata terdengar bergetar.


"Jika memungkinkan kamu bisa menengok Ayahmu.."


"Untuk apa aku menengoknya?!" Mahendra terkejut dengan lengkingan suara Renata yang tidak biasa. Ya. Mahendra paham. Renata sedang marah karena tahu siapa Candra sebenarnya.


"Dia membunuh Ibuku dengan tega dan sangat kejam. Untuk apa aku menengoknya? Mengasihaninya? Mengucapkan selamat? Atau "Ayah. tabahlah. ini cobaan untukmu." Tidak! Aku tidak sudi menganggap manusia itu sebagai Ayahku!" Renata tidak bisa menahan airmata yang sudah berada dipelupuk matanya. Airmatanya jatuh dan ia merasa sangat emosi.


"Ibuku sudah pasti memohon ampun pada saat Dia mencekiknya dengan kabel. Tapi bukan melepasnya, Dia mencekiknya sampai mati. Haruskan aku bersikap baik pada pembunuh Ibuku walaupun itu Ayahku sendiri?" kata Renata dengan sangat pilu.


Mahendra tidak bisa menjawab apapun dan ia sudah menduga hal ini. Maka, ia tidak punya pilihan selain menghormati keputusan Renata.