
Penyelidikan hari ke lima..
Mahendra membuat bahan laporan untuk diajukan ke Kepala Jaksa. Semakin lama kasus ini semakin unik. Karena tidak hanya satu motif yang ditujukan pada korban. Lebih lagi Kinanti adalah menantu dari orang kaya raya dari Grup Seijin. Dimana grup itu bergerak dibidang perhotelan yang terkenal. Pastinya sudah tidak ada yang meragukan pemasukannya setiap bulan.
"Pak, apa Bapak yakin ingin mengajukan laporan itu? Bahkan kita belum memiliki bukti untuk kasus Ibu Kinanti." ujar Liliana cemas pengajuannya akan ditolak.
"Tidak ada salahnya dicoba dulu kan. Tapi yang menarik bagi saya dari kasus ini, ternyata Ibu Kinanti itu menantu dari orang kaya raya. Anehnya, kenapa dia tinggal di lingkungan kumuh ya? Padahal bisa saja mereka membelikan apartemen yang bagus, apalagi ada anaknya Ibu Kinanti itu." kata Nugraha dilanjut dengan tepukan panas dari Liliana. Nugraha mengaduh kesakitan.
"Walaupun menantu dari orang kaya raya, siapa yang bisa menyangka kalau Ibu Kinanti tinggal dilingkungan begitu? Mungkin saja Ibu Kinanti tidak ingin terlihat bahwa dia menantu dari orang kaya." tandas Liliana jadi kesal sendiri.
"Ini yang menarik bagi saya." ujar Mahendra.
"Kemarin saya sempat datang ke rumah Ibu Herlina. Rumahnya memang besar sekali. Tapi suasananya seperti kutub utara."
"Apakah ada sesuatu disana, Pak? Yang membuat Bapak curiga?" tanya Liliana semakin penasaran.
"Ya, sedikit."
"Apa itu, Pak?"
"Ibu Herlina seperti sangat membenci Ibu Nina. Dan saat melakukan interogasi ada sesuatu yang disembunyikan Nina dari ibu mertuanya."
Liliana dan Nugraha semakin penasaran. Kasus ini memang bukan kasus biasa karena melibatkan orang-orang yang memang bukan dari kelas bawah.
***
"Apa ini?" tanya Kepala Jaksa pada Mahendra.
"Ini pengajuan tambahan waktu untuk penyelidikan, Pak." jawab Mahendra dengan santai.
"Selama lima hari, apa kamu punya bukti?" tanya Kepala Jaksa tanpa melihat laporan yang Mahendra buat. Mahendra terdiam sesaat.
"Belum, Pak."
"Kasus ini tidak bisa dilanjutkan."
"Tapi, Pak..."
Kepala Jaksa menatap Mahendra dengan tajam.
"Saya sudah bilang, temukan bukti dalam lima hari. Jika tidak, kasus ini akan ditutup sebagai kasus bunuh diri biasa."
"Kenapa, Pak? Apa Bapak takut karena ini merupakan bagian dari Grup Seijin?" Mahendra dengan sangat lancang menanyakan itu pada Kepala Jaksa.
"Apa kamu bilang?"
"Kami sudah menanyai saksi. Nina, salah satu wanita simpanan dari pewaris utama Grup Seijin. Dan pemiliknya, Ibu Herlina Tanujaya untuk kejelasan latar belakang yang memungkinkan ada hal lain selain faktor pembunuhan." jawab Mahendra dengan tegas.
"Kamu tahu siapa Ibu Herlina?" tanya Kepala Jaksa.
"Siapa yang tidak tahu, Pak? Pemilik resort besar dan bintang lima. Saya juga sudah bertemu dengannya." jawab Mahendra terdengar sangat percaya diri membuat nyali Kepala Jaksa sedikit menciut.
Kepala Jaksa terdiam.
"Kasus ini jelas bukan bunuh diri biasa, selain dari hasil autopsi, Bapak juga tahu sendiri kalau kesaksian dari para saksi juga hal yang penting." jelas Mahendra lagi.
"Mohon berikan saya waktu lagi, Pak. Untuk menemukan bukti dari pembunuhan itu." kata Mahendra dengan tegas.
Mahendra kembali dengan kesal. Dan melempar hasil laporannya.
"Pengajuanku ditunda."
Liliana dan Nugraha terdiam tidak bisa bicara apa-apa lagi.
"Lalu bagaimana, Pak?" tanya Nugraha bersuara.
"Jangan lengah. Kita diam-diam menyelidiki ini semua. Tidak masuk akal. Apa? Karena Grup Seijin? HAH!" Mahendra terlihat sangat kesal sekali hari ini.
***
Renata setengah fokus pada pelajaran kuliahnya. Setengah pikirannya yang lain memikirkan perkataan Nina tentang Kinanti. Dari apa yang Nina ceritakan, Renata merasa percaya tidak percaya.
Di satu sisi ia percaya bahwa Kinanti adalah korban dari Ayahnya. Disatu sisi ia tidak percaya ia melampiaskan seluruh sakit hatinya pada Nina. Terasa sakit dan tidak masuk akal. Semakin Renata mencari tahu, mengapa hati Renata semakin pedih?
Renata melihat sekoper uang yang ditinggalkan oleh Kinanti. Entah mau diapakan uang itu, Renata tidak merasa bergairah. Dan kunci apartemen yang Herlina berikan. Apakah ini sudah saatnya ia bangkit dan melupakan semua rasa sakit? Renata semakin bingung. Sedangkan Mahendra, jika tidak menemukan bukti apapun, kasus ini ditutup sebagai kasus bunuh diri biasa.
Renata dilanda kegelisahan. Mungkin ia pernah patah hati karena ditinggal pergi begitu saja oleh pria diluar sana. Tapi Renata baru paham, mengetahui sisi lain Kinanti adalah hal terperih yang pernah Renata rasakan.
***
Evano memandangi rumah Renata dari jendela kamarnya. Rumah Renata terasa sepi dan tidak ada aktivitas dari dalam. Evano khawatir terjadi apa-apa pada Renata.
"Kamu ingin menengoknya?" tanya ibunya yang sejak tadi mengamati Evano.
"Tidak, Bu. Aku hanya khawatir. Beberapa hari ini Renata tidak pergi bekerja." Evano meraih tas ranselnya dan segera berpamitan pada ibunya.
"Aku berangkat kerja dulu, Bu."
Ibunya memandangi Evano yang memakai tas ransel, sepatu hingga meninggalkan rumahnya. Evano kini kehilangan semangatnya. Dulu, ia senang sekali bekerja di tempat yang sama dengan Renata. Tidak dengan sekarang. Semua terasa berbeda.
***
"Semua sudah kau kendalikan?" tanya Herlina pada staff yang bekerja di resort dimana Candra datangi.
"Maaf, Bu. sepertinya ada kekacauan yang terjadi. Dan saya tidak bisa menanganinya." jawab seorang wanita dari sebrang telpon.
"Apa maksudmu? Kekacauan apa?"
"Pak Candra, Bu. Beliau memukuli salah satu wanita panggilan disini karena tidak mau melayaninya."
Herlina merasa gemetar. Selama empat puluh tahun Candra menjadi anaknya, baru kali ini Herlina mengetahui siapa sebenarnya Candra. Ucapan Nina yang sempat ia ragukan, kini tidak lagi. Terdengar suara orang berteriak disebrang telpon.
"Halo, Bu? Bu?"
Herlina tidak bisa menjawab apa-apa lagi pada salah satu karyawannya. Ia menutup telpon dan memanggil sekretarisnya.
"Pesankan aku satu tiket untuk ke Bali. Sekarang."
Sang sekretaris segera memesankan tiket untuk Herlina yang memutuskan melihat langsung kondisi anaknya yang sebenarnya.