Mother

Mother
Bertemu Ayah



Herlina menutup ponselnya ketika rapat sedang berlangsung. Hari ini adalah penentuan brand ambasador yang akan membintangi iklan untuk kelas internasional. Tetapi Herlina sepertinya tidak mempunyai banyak waktu lagi di Bali dan harus segera pulang.


"Percepat pemilihannya dan pesankan aku tiket untuk malam ini." kata Herlina pada Sekretaris Kim.


"Tapi, Nyonya, setelah pemilihan kita harus melakukan pemotretan dan syuting..."


Herlina menghentikan langkahnya dan menatap sekretarisnya itu.


"Renata pingsan tadi siang dan aku harus menengoknya." ucap Herlina.


Sekretaris Kim tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya diam dan mematuhi perintah Herlina. Tapi ketika ingin pesan tiket untuk pulang, Sekretaris Kim ragu apakah harus memesankan untuk Candra juga atau tidak.


"Bagaimana dengan Tuan Candra, Nyonya?"


"Biarkan saja dia disini dulu dan jangan biarkan dia berulah. Dia tidak akan bisa apa-apa tanpa kartu kredit." Herlina berjalan lagi menuju kamar istirahatnya. Candra segera menghambur ke pelukan Herlina ketika Herlina memasuki kamar tidurnya.


"Aku akan pulang ke Jakarta. Kau tetaplah disini mengatur pekerjaan. Dan jangan berani-berani untuk pulang. Semua makanan ada di resort ini, kamu hanya tinggal memesannya." kata Herlina dengan tatapan tajam pada Candra.


"Kalau sampai kamu kabur, akan kupastikan kamu tidak akan berada diposisi ini sampai kamu benar-benar mengerti apa yang kamu lakukan." Herlina mengatakannya dengan tegas.


"Ibu, Ibu kenapa pulang, Bu? Biarkan aku pulang, Bu. Aku mohon." kata Candra meminta belas kasih dari Herlina. Tapi tidak semudah itu. Hati Herlina cukup keras untuk memenuhi semua keinginan Candra. Herlina masih terdiam mendengar rengekan Candra seperti ingin dibelikan balon.


"Ibu, aku mohon ijinkan aku pulang. Aku akan bekerja lebih baik lagi, Bu..."


"Renata jatuh pingsan." potong Herlina disela rengekan Candra. Candra terdiam dan berhenti merengek pada Herlina.


"Sebagai seorang suami, kamu gagal. Begitupun sebagai seorang anak laki-laki dan juga Ayah. Kamu tidak malu memperlihatkan sikapmu yang seperti ini pada Renata?" tanya Herlina pada Candra disusul dengan kebisuan Candra.


"Kenapa, Bu, sama Renata? Kenapa, Bu? Candra harus pulang. Candra harus pulang dan melihat keadaan Renata." Candra seperti orang yang kebingungan dan kehilangan arah.


Ia mencari dimana jaketnya dan bergegas meninggalkan kamarnya. Tapi Herlina cukup kuat untuk mendorong Candra agar tidak melakukan hal-hal yang menurutnya ingin dia lakukan.


"Sadarlah Candra! Ini semua karena kamu. Kamu yang tidak bisa mengontrol emosi sehingga kamu selalu melampiaskan kemarahanmu pada Kinanti. Sekarang, Renata sudah tahu semua kelakuanmu. Dan ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Kamu tetap disini atau berada di Jakarta tapi Renata akan membencimu setengah mati." ujar Herlina dengan kesal.


Candra dihadapi dengan pilihan yang cukup rumit. Disatu sisi, Renata adalah anaknya. Herlina menatap Candra berharap bahwa Candra tetap di Bali agar semua aman dan tidak ada perpecahan. Tapi Herlina salah.


"Aku akan ikut, Bu. Renata anakku juga. Aku akan melihat kondisinya setelah itu apapun keputusan Renata aku akan menerimanya." kata Candra dengan tegas. Herlina tidak pernah melihat Candra setegas ini dihadapan dirinya.


"Kamu yakin?"


"Yakin, Bu. Beri aku kesempatan lagi untuk menjadi seorang Ayah." ucap Candra. Kemudian Herlina menelpon Sekretaris Kim untuk memesankan tiket buat Candra.


****


Mahendra mendatangi psikiatri yang pada saat itu menangani Kinanti. Karena masih jam kerja, agak sulit untuk menemui dokter itu. Tapi berkat bantuan Nina, dokter itu bisa meluangkan waktunya sedikit untuk Mahendra.


Kini, Mahendra menunggu di kafe rumah sakit. Ia sudah menelpon sang dokter sebelumnya.


Mahendra menyeruput minumannya, entah sudah berapa kali. Menunggu orang selesai bekerja memang sesuatu yang membosankan. Seorang dokter di pertengahan usia tiga puluh menghampiri Mahendra dan memberi salam. Mahendra sedikit kaget.


"Pak Mahendra?" tanya dokter itu dengan lembut..


"Iya, Bu... Bu Dokter. Saya Mahendra. Dengan Dokter Diana?" Mahendra sedikit gugup menemui dokter yang terlihat cantik ini. Tapi Mahendra menepis pikiran liarnya.


"Apa ada yang ingin ditanyakan? Ibu Nina bilang, Anda ingin menanyakan sesuatu?" Dokter Diana menarik bangku kemudian duduk di hadapan Mahendra.


"Oh ya. Sudah lama tidak telpon dan tahu kabar Ibu Kinan. Apa kabarnya?"


"Maaf, Dokter. Ibu Kinan sudah meninggal." kata Mahendra.


"Saya turut berduka cita. Saya tidak tahu. Tapi Ibu Kinan selama masa pengobatan bersama saya, Ibu Kinan adalah pasien yang cukup kuat, Pak. Memang Ibu Kinan memiliki kepribadian ganda, dimana suatu waktu ada hasrat dari dalam dirinya untuk menyakiti dirinya sendiri akibat trauma yang dialami di masa lalu.


Di telpon, saya seringkali mendengar Ibu Kinan berteriak sekuat tenaga menahan rasa sakit di kepalanya. Tapi bagusnya Ibu Kinan, asal tidak ada yang memancing kemarahannya, selama itu pula ia masih bisa mengontrol untuk tidak menyakiti diri sendiri. Dan obat yang saya sarankan hanyalah antidepresan dan obat penenang." jelas Dokter Diana.


"Apakah ada hal lain selama konsultasi yang dikatakan? Seperti yang kita tahu, Ibu Kinan sudah tiada. Saya berusaha untuk mencari tahu penyebab kematian Ibu Kinan yang masih terasa ganjil, mungkinkah penyakit yang dialami Ibu Kinan bisa melukai dirinya sendiri hingga meninggal, Dok?" tanya Mahendra.


"Sedikit sekali kasus seperti itu, tapi biasanya selama rutin mengkonsumsi obat yang diresepkan, kalaupun Ibu Kinan sampai benar-benar melukai dirinya sendiri, itu tetap masih mempunyai batas. Artinya begini, Ibu Kinan disatu sisi adalah pribadi yang baik. Disatu sisi ia menyakiti dirinya sendiri tanpa sadar. Tapi ketika sadar, biasanya Ibu Kinan lupa dengan apa yang telah terjadi ketika menyakiti dirinya sendiri. Tapi jika sampai merenggut nyawanya sendiri, saya masih tidak yakin. Yang saya tahu, Ibu Nina rutin sekali memeriksa stok obat dirumah Ibu Kinan." jelas Dokter Diana lebih mendetail,


Mahendra hanya mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Diana. Besar kemungkinan, keyakinan Renata memang benar adanya, bahwa Kinanti tidaklah bunuh diri, melainkan dibunuh oleh seseorang. Mahendra segera pergi meninggalkan rumah sakit dan segera menelpon Nugraha.


"Cari tahu tentang Candra serta kekerasan yang sudah dialaminya. Cek juga apakah pernah ada laporan dari kepolisian mengenai perilakunya, mengingat di video itu ia sempat memukuli Ibu Kinanti dengan kejam." ujar Mahendra melalui saluran telponnya.


Mahendra segera menuju mobilnya dan bersiap pergi untuk memeriksa penyelidikannya kembali.


****


Nina meminumkan air untuk Renata. Kondisi Renata sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya juga membuat badannya kembali sehat. Pusing dikepalanya juga sudah mereda.


"Kamu sudah baikan?" tanya Nina menaruh gelas air di meja dekat bangsal.


"Sudah lumayan, Tante."


"Tadi, Nenekmu telpon. Ia akan segera kemari dengan Ayahmu."


Sesaat Renata terdiam mendengar Candra yang ingin bertemu dengannya.


"Untuk apa Ayah kemari?" tanya Renata sinis.


"Bersikap baiklah dihadapannya Renata. Lihat dulu bagaimana tujuannya datang kemari. Jangan langsung emosional ya." Nina menasihati Renata yang disambut baik oleh angukan Renata.


Herlina mendatangi UGD dimana Renata dirawat. Walau ia tahu Renata sebentar lagi akan pulang, Herlina tetap mendatanginya.


"Renata, bagaimana keadaan kamu, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?" ujar Herlina ketika bertemu dengan Renata. Renata tersenyum melihat Herlina begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Nggak apa-apa, Nek. Aku sudah mulai baikan. Sebentar lagi aku akan pulang."


"Jangan memaksakan dirimu, Renata. Segala sesuatu pasti akan tampak kebenarannya. Jangan khawatirkan apapun, sekarang makanlah dengan baik." Kekhawatiran Herlina dan Nina membuat dirinya tidak merasa sebatang kara. Renata masih berpikir bahwa dirinya masih mempunyai tempat untuk pulang.


Kemudian, Candra melihat Renata dibalik tirai. Renata yang awalnya tersenyum sangat merekah bagai bunga, kini ia berubah gelap seperti angin badai yang siap menerpa rumah-rumah yang dilewatinya.


Ayahnya yang meninggalkan dirinya dan Ibunya begitu saja demi wanita lain, kini kembali dengan wajah tanpa bersalah. Membuat Renata semakin geram melihatnya.


"Renata.. Kau baik saja?" tanya Candra. Jujur, Renata merasa sakit hati pada Ayahnya karena memperlakukan Ibunya sedemikian rupa seperti binatang.


Renata membuang tatapannya dari Candra. Ia tidak ingin menatap wajah Candra yang begitu menyakiti hatinya.


"Ya." jawab Renata pendek tanpa mempedulikan apapun. Entah bagaimana ia bisa memaafkan Candra setelah apa yang terjadi pada dirinya, terutama Ibunya. Jika ingin mengembalikan waktu, ingin sekali ia kembali dimana ia bisa mencegah kekerasan yang terjadi pada Ibunya.


Herlina tidak bisa membantu banyak. Mungkin saja jika Renata adalah anak usia lima tahun, ia masih bisa merubah pandangan terhadap Ayahnya. Tapi kini tidak. Renata sudah besar. Ia mengerti mana yang salah dan tidak. Mana yang menyakiti hatinya maupun tidak.