Mother

Mother
Percikan Yang Hilang



Mahendra dan Renata saling memandang. Terkejut bahwa masih ada yang tertinggal dari yang seharusnya tidak dilewatkan. Renata pikir bingkai foto ini adalah hal yang disenangi oleh Kinanti karena dapat menghibur hati Kinanti yang kesepian. Tapi ternyata tidak. Sepertinya semua kamera ini telah sengaja disimpan agar suatu hari ditemukan.


"Aku tidak berpikir ini sebuah kebetulan." ucap Mahendra.


"Akupun sama. Kira-kira, kenapa Ibu menaruh semua kamera ini di dalam bingkai?" tanya Renata semakin menambah duka lara di dalam hatinya.


"Kita caritahu nanti. Yang terpenting kita cek dulu apa isi kamera ini. Jika memang dugaanku benar, Ibumu mencoba mengungkap penyakit yang dideritanya melalui serangkaian kamera ini. Ambil laptopmu."


Renata segera mengambil laptop dari tasnya dan segera memberikannya pada Mahendra. Mereka tidak sabar untuk melihat isi kamera itu. Dan jika perkiraan Mahendra benar, isi kamera itu adalah lanjutan dari video yang terpotong tadi. Setelah membuka beberapa file, akhirnya terbuka video yang dinantikan.


Video tersebut bukan merupakan keseharian Kinanti. Dan memang benar bahwa ternyata lanjutan dari video yang sebelumnya terpotong. Dalam video tersebut jelas sekali terlihat bahwa Candra sempat meninggalkan Kinanti yang duduk lemas karena mendapat kekerasan dari Candra.


Jika memang Candra hanya bertamu, pasti Candra akan meninggalkan rumah Kinanti melalui pintu keluar. Tapi ini jelas sekali tidak. Candra kembali lagi membawa kabel yang cukup panjang dengan ukuran sedang. Belum puas ia menumpahkan kemarahannya pada Kinanti, ia mencekik leher Kinanti dengan membelit kabel itu. Kinanti meronta memohon agar Candra melepasnya.


"Kamu perempuan gila! Seharusnya aku meninggalkan kamu dari dulu di rumah sakit jiwa!"


Candra histeris tidak karuan. Kinanti meraih lengan Candra agar melepas lilitan kabel yang ada di lehernya tapi percuma saja. Candra semakin mengencangkan lilitan itu dan seketika Kinanti berhenti meronta. Tangannya lemas dan jatuh ke atas lantai.


Setelah menyadari bahwa Kinanti sudah tidak bernyawa, ia langsung menyingkirkan kabel itu. Sesaat, Candra terlihat panik. Ia duduk dan meremas kepalanya. Ia juga sempat mengambil air minum dari kulkas. Ia memandangi lagi Kinanti yang terbujur lemas di atas lantai.


Candra berpikir lagi apa yang harus ia lakukan agar Kinanti tidak terlihat seperti dibunuh oleh seseorang. Kemudia Candra mempunyai ide. Ia akan memanipulasi kematian Kinanti.


Kemudian ia mengambil pisau di dapur. Ia mencoba memanipulasi kematian Kinanti dengan membuat seolah-olah Kinanti bunuh diri. Ia menyayat pergelangan tangan Kinanti hingga mengeluarkan darah dan mengambil selimut kain panjang dari kamar Kinanti dan melilitkannya diantara ventilasi pintu belakang. Darah masih mengalir dan berceceran di lantai dan juga mengenai baju Candra.


Candra mengaitkan leher Kinanti diantara kain putih itu dan mengikatnya dengan kencang. Setelah berhasil menggantungkan Kinanti di kain panjang itu, Candra mengambil kursi meja makan yang diletakkannya seperti terjatuh di atas lantai. Sungguh, Candra melakukan semua ini dengan kesadaran dalam dirinya. Kemudian ia meninggalkan rumah itu tanpa rasa bersalah apapun.


****


Renata lemas dan kembali merasakan shock. Ia benar-benar tidak menyangka kematian Kinanti begitu tragis hingga napas Renata tercekat di kerongkongan. Renata berusaha menahan tangis tapi tidak bisa. Airmatanya mengalir begitu saja dan ia tidak peduli lagi dengan apapun yang selama ini menimpa Kinanti.


"Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi." ucap Renata. Mahendra pun tidak tahu harus menghibur bagaimana. Apa yang dilihat Renata pasti telah membuat hatinya hancur dan semakin membenci Ayahnya.


"Pergilah. Lakukan apapun yang kamu bisa sebagai jaksa. Jika perlu hukum mati dia!" Renata histeris tapi Mahendra tidak menyalahinya. Hatinya pasti sangat hancur dan tercabik dengan apa yang dilihat.


Renata tidak mengangkat kepalanya dan masih mengisakkan tangis.


Mahendra tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera mencabut kabel yang terpasang di laptop dan segera pergi meninggalkan Renata.


Setelah Mahendra keluar dengan aman dari rumah Renata, Renata menangis histeris dengan memanggil Kinanti. Semakin mendengar jeritan tangis Renata, semakin perih pula hati Mahendra.


****


" Tolong copy dulu semua isinya. Ini merupakan bukti terakhir yang cukup penting."


"Aku akan mencari cara untuk menangkap anak konglomerat yang manja itu." Mahendra merasa geram dengan apa yang terjadi.


Mahendra mengetuk ruangan kepala jaksa dan membawa USB yang merupakan video rekaman bukti kejahatan Candra.


"Saya sudah menemukan bukti bahwa Kinanti bukanlah bunuh diri. Tapi memang dibunuh." kata Mahendra berkata dengan yakin.


"Sudah ku bilang kan, bahwa kasus Kinanti itu bunuh diri dan sampai saat ini kau tidak menemukan apapun?" Kepala Jaksa mengatakannya tanpa mengecek terlebih dahulu apa isi dari USB itu.


"Silakan lihat video ini dan Bapak bisa pertimbangkan kembali ucapan, Bapak. Saya sedang siapkan perintah untuk menangkap pelaku yang sebenarnya. Jadi tolong lihat video itu sekarang karena saya tidak akan bermain-main dengan nyawa orang lain."


Kepala Jaksa tidak mengatakan apapun. Ia hanya berusaha mendengar apa yang Mahendra katakan.


Setelah Mahendra pamit, Kepala Jaksa langsung mengecek isi dari USB tersebut.


Setelah melihat isi dari USB itu, Kepala Jaksa tidak bisa mengelak lagi dengan apa yang dikatakan Mahendra. Jika isi USB ini tersebar, maka hancurlah Grup Seijin seketika. Kepala Jaksa memutar otak agar kasus ini tidak sampai didengar publik.


****


Herlina kembali menangani pekerjaan resort di Bali. Kini ia harus turun tangan sendiri menyelesaikan pekerjaan karena sudah tidak mungkin mengandalkan Candra yang bisanya hanya menghabiskan uang.


Candra diminta Herlina untuk tetap diam di dalam kamar dan Herlina menangani pekerjaan.


Mahendra mencari Candra di kediaman Herlina di Jakarta. Tetapi nihil. Tidak ada Herlina maupun Candra. Hanya ada Nina yang mengatakan bahwa Candra berada di Bali. Dengan cepat, Mahendra menyusul ke Bali bersama seorang detektif yang sering bekerja sama dengannya.


Keadaan semakin genting karena yang dihadapi bukan hanya seorang Candra. Tetapi sudah mempengaruhi nama grup besar yang dibangun oleh Herlina.


***


Renata kembali tidak masuk kuliah. Ia merasa frustasi dan shock melihat cara Kinanti dibunuh oleh Candra. Sudah beberapa kali Maria menelponnya dan Renata tidak menggubrisnya . Begitu juga Evano yang mengirimi pesan untuk mengetahui kabarnya. Ia hanya terbaring lemas di tempat tidurnya tidak tahu harus apa dan bagaimana. Ia hanya berharap Mahendra bisa segera menangkap Candra walaupun tantangan terbesarnya cukup sulit. Yaitu Herlina.


Bagaimana tanggapan Herlina jika tahu bahwa anaknya membunuh mantan istrinya secara sadis? Lebih lagi bagaimana ia menganggap Renata sekarang? Kenyamanan yang sudah dirasakan Renata pada Herlina haruskan sirna begitu saja karena kasus ini?


Renata tidak bisa berpikir apapun. Ia merasa sakit kepala mimikirkan itu semua. Ia hanya ingin istirahat dulu agar ia merasa tenang dari apa yang ia lihat barusan.


Mungkin suatu hari Herlina akan merasa kecewa karena sikapnya yang ingin menangkap pembunuh Kinanti yang ternyata adalah anaknya sendiri. Jika suatu hari ia disalahkan karena hal ini, Renata hanya pasrah jika harus keluar dari apartemen ini. Ah, Renata hanya memikirkan kemungkinan terburuknya saja. Tapi entahlah. Hatinya terlalu sakit karena Ayahnya. Ia tidak bisa memikirkan banyak hal saat ini