Mother

Mother
Tante Nina (1)



Penyelidikkan hari ke empat...


Renata memantapkan hati untuk tetap tegar dan mencari siapa yang telah membunuh Kinanti. Apapun latar belakang Kinanti, Kinanti tetaplah Ibunya dan meninggal dengan cara yang tidak wajar.


Renata dan Mahendra sedang dalam perjalanan menuju rumah Neneknya, Herlina. Renata sudah tahu bahwa Nina pasti akan tinggal di rumah Herlina. Renata sedikit gemetar ketika ia turun dari mobil Mahendra. Tetapi ia menutupi kegelisahannya. Dilain sisi, Mahendra khawatir apakah Renata siap dengan semua ini?


"Kau siap Renata?" tanya Mahendra sebelum mereka memencet bel rumah Herlina.


"Iya, ayo." Renata mengangguk dan mereka langsung memencet bel rumah Herlina.


Karena rumah Herlina cukup besar, speaker bell bisa digunakan untuk komunikasi langsung menyapa mereka setelah Mahendra memencet bell nya.


"Siapa?"


"Saya Mahendra, dari Kejaksaan Barat. Saya ingin bertemu dengan Ibu Nina. Apakah bisa?" Mahendra menjawab suara speaker bell tersebut. Tetapi suara yang berada di speker bell langsung menolaknya.


"Maaf, Ibu Nina sedang tidak ada di rumah."


Speaker bell pun langsung dimatikan dan Mahendra tidak bisa bertanya lebih lanjut.


"Dia tidak menerimaku. Kali ini kurasa kau harus mencobanya."


Renata mengerti. Pasti keluarga ini tidak menerima sembarangan orang. Maka dari itu, dipasanglah speaker bell agar tidak perlu repot-repot mengecek keluar siapa yang datang.


Mahendra mundur selangkah dan Renata menekan tombol bell nya. Lagi-lagi mereka menyapa melalui speaker bell.


"Siapa lagi? saya kan sudah bilang tidak ada." jawab seseorang di speaker bell dengan nada kesal.


Walaupun Renata tidak suka dengan yang menjawab speaker bell ini, tapi ia harus sabar. Renata menghelas napas.


"Saya Renata, cucu dari Ibu Herlina, apakah Nenek saya ada?"


"Oh iya, Nona Renata. Silakan masuk."


Tidak ada pembicaraan lagi di speaker bell, pintu pagar yang terlihat mewah itupun terbuka.


Sulit sekali memang masuk ke rumah semewah ini jika bukan orang yang sangat berkepentingan dengan empunya rumah.


Ada seorang pelayan keluar menghampiri Renata. Walau pelayan itu agak bingung dengan kedatangan Renata, mereka tetap melayani Renata dengan baik karena Renata adalah cucu dari pemilik rumah.


"Selamat datang Nona. Nyonya ada dikamarnya juga akan siap-siap untuk turun." pelayan itu terlihat salah tingkah tapi berusaha mengontrol emosinya dengan baik.


Sesekali ia menatap Mahendra, pria tampan yang berjalan di sebelah Renata terlihat cukup serasi.


"Aku ingin bertemu Nenekku dan Tante Nina. Apakah ada Tante Nina?" tanya Renata dengan tegas tanpa senyuman.


Pelayan itu terlihat semakin salah tingkah dengan pandangan mata yang tidak teratur.


"Tentu ada, Nona. Ibu Nina tidak pernah kemana-mana." Pelayan itu membuat senyum yang sedikit agak dipaksakan. Renata yang sudah mengetahuinya, membalas senyumnya dan berjalan melalui Pelayan.


"Lalu siapa yang bilang kalau Ibu Nina ngga ada dirumah? Hmm..." kata Renata sedikit menyindir salah seorang pelayan.


Mahendra tersenyum melihat Renata yang sedikit kesal dengan Pelayan itu.


***


"Nyonya, ada Nona Renata datang." ucap salah satu pelayan ketika Herlina merapikan tatanan rambutnya. Herlina terkejut dengan apa yang dikatakan pelayannya. Tidak mungkin Renata datang tiba-tiba.


"Untuk apa? Kenapa tidak menelponku?" Herlina segera bergegas merapikan rambutnya dan pergi ke lantai bawah. Benar saja, sudah ada Renata yang berdiri dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Nenek." Renata tersenyum dan menghampiri Herlina yang sudah terlihat cantik. Hati Mahendra terenyuh melihat Renata bisa bertemu dengan keluarganya.


"Kenapa kamu kemari, Sayang? Kamu tidak menelpon Nenek dulu?" tanyanya dengan hangat dan memeluk Renata.


"Maaf, Nek. Tapi aku ada urusan mendesak disini. Nenek tidak keberatan kan?"


"Tidak, Sayang. Apa itu?"


Renata melepas pelukannya dari Herlina dan menatapnya dengan serius.


"Apa aku boleh bertemu dengan Tante Nina?"


Herlina merengut heran tidak percaya. Mengapa Renata ingin bertemu dengan Nina?


"Untuk apa, Sayang?"


Renata tidak menjawab pertanyaan Neneknya. Ia membisikki sesuatu di telinga Herlina dan Herlina tampak terkejut.


Renata mengangguk dan mengelus tangan Neneknya.


"Nina!!!" Herlina segera memanggil Nina dengan teriakannya yang khas. Seperti biasa, tidak perlu menunggu lama, Nina sudah turun dari kamarnya. Tapi kali ini Nina pun merasa terkejut dengan kedatangan Renata secara tiba-tiba.


"Renata?"


Renata tersenyum pada Nina dan Ninapun segera turun dari tangga.


"Kamu kesini, Renata? Apa kabarmu?" Nina hendak memeluk Renata tapi Renata sudah menghindar.


"Baik, Tante." Renata tetap tersenyum seolah ada kedekatan diantara mereka. Tentunya Herlina juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Renata.


"Tolong siapkan minuman untuk kami dan aku akan ke kantor nanti." ucap Herlina pada pelayannya.


"Jadi, begini. Kedatangan saya kemari dengan saudari Renata adalah untuk menyelidiki kasus Ibu Kinanti." ucap Mahendra.


"Lalu apa yang akan kau dapat dengan menginterogasi di rumahku?" tanya Herlina pada Mahendra. Belum sempat Mahendra menjawab, Renata lebih cepat menyahut Herlina.


"Tante Nina."


"Aku?" Nina tidak percaya bahwa Renata datang bersama seorang jaksa untuk menginterogasinya.


"Ya." Renata menatap tajam Nina yang masih terlihat bingung.


"Berdasarkan dari penyelidikan kami, Ibu Nina adalah seseorang yang paling mungkin mempunyai motif untuk mencelakai Ibu Kinanti." kata Mahendra dengan kata pembukanya. Entah berhasil atau tidak pembukaan ini, tapi ia berusaha keras.


"Bukan mencelakai, tapi membunuh." Renata meralatnya masih dengan tatapannya yang tajam.


"Jadi kalian menuduhku membunuh Kinanti?" Nina amat sangat terkejut dengan pernyataan Renata dan Mahendra.


"Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Jadi, Nina, apakah kamu bisa membereskan ini?" tanya Herlina tampak tidak perduli dengan raut wajah Nina.


"Kalian dengarkan aku ya. Aku sama sekali tidak membunuh Kinanti." Nina benar-benar terpojok dengan keadaan ini.


Tetapi Renata dengan tatapan tajamnya sedikit duduk santai sambil menyilangkan tangannya didada.


"Benarkah? Lalu mengapa selalu ada keributan dirumahku?"


"Keributan? Renata kami tidak sedang bertengkar!" Nina mencoba membela dirinya. Mahendra masih menonton perdebatan antar-keluarga tanpa menginterupsi.


"Jadi, apa maksud Tante Nina setiap kali datang kerumahku selalu membawa kedamaian untuk Ibuku?"


"Renata, setiap kali aku ke rumahmu itu terkadang bukan karena kemauanku. Terkadang Ibumu menelponku memintaku datang." Nina mulai menceritakan apa yang terjadi pada saat itu.


****


"Nina, datanglah. Aku ingin memberitahumu sesuatu." ucap Kinanti di telpon


Lalu setelah aku datang, suasana rumah itu kosong. Kinanti sedang memasak. Dan aku pun kaget ketika ia memberikan aku kaki ayam yang masih mentah.


"Makanlah. Kupikir kamu suka bekas orang lain. Ini kuberikan kaki ayam.sisa tadi aku masak ayam. Makanlah." Mata Kinanti terlihat tajam, ia tersenyum tapi bukan tersenyum sinis. Melainkan senyum benci tapi menjijikan.


"Kinan, ada apa denganmu? Kupikir kau ingin memberitahuku sesuatu."


Aku sangat takut dengan tatapannya. Itu seperti bukan tatapan Kinanti yang aku kenal. Lebih menakutkan dari itu.


"Iya, aku ingin memberitahumu bahwa kamu sama dengan kaki ayam ini! Kamu bau, busuk dan menjijikan!" teriak Kinanti.


"Kinan, kamu boleh mengatai aku sepuas hatimu. Tapi ingat Kinan! Bukan aku yang mendatangi Candra! Dia yang mendatangiku dan mengatakan padaku bahwa ia selalu ingin pisah darimu!"


"Kamu ingin mengarang cerita apalagi? Kamu wanita busuk yang pernah aku lihat bahkan membayangkan kebusukanmu membuatku jijik!" Lagi-lagi Kinanti berteriak tidak karuan. Nina menjadi takut dengan Kinanti.


"Tunggu, Kinan, mari kita sepakati satu hal."


Saat itu Kinanti terlihat penasaran dengan kesepakatan yang akan aku bicarakan.


"Apakah kamu ingin sesuatu dariku untuk kesepakatan? Aku akan meninggalkan Candra jika itu merupakan keinginanmu."


Aku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh karena aku pikir aku tidak bisa menghadapi Kinanti seperti ini terus menerus.


"Baiklah. Kali ini aku akan mengatakan sebuah kesepakatan. Aku tahu mungkin Candra sangat menyayangimu. Dia tidak akan melakukan apapun yang membuatmu kesakitan secara fisik. Berikan aku ganti rugi untuk itu semua."


Pada saat itu aku bingung dengan apa yang dia katakan.


"Apa maksudmu?"


"Ketika Candra sudah tidak mencintaimu lagi, dia akan menjadikanmu karung pasir untuk dipukulinya setiap hari. Begitulah Candra memperlakukanku sampai aku mau gila rasanya!"


Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Kinanti. Karena selama ini Candra memperlakukanku dengan baik.


"Baiklah, berapa yang harus aku bayar?"


"Lima puluh ribu setiap harinya."


"Apakah kau bercanda Kinanti? Itu cukup besar uangnya!"


Kinanti kemudian marah dan melemparkan piring beling berisikan kaki ayam mentah padaku. Aku menutupi wajahku dengan tangan. Aku merasa takut dengan Kinanti.


"Baiklah, baiklah! Lima puluh ribu setiap hari."


Kemudian Kinanti mereda. Dia tidak marah lagi. Kemudian ia menyentuh rambutku dengan tangan yang ada darah kaki ayam.


"Pernahkah rambutmu terbakar oleh rokok, Nina?"


Pada saat itu aku menatap mata Kinanti yang tajam dan bukan seperti wanita baik dan lembut yang selalu dibicarakan orang-orang. Aku melihat matanya seperti mata harimau yang ingin menerkamku. Kemudian aku pergi.


****


Renata ingat. Pada saat itu Renata pulang dan rumahnya berantakan dengan kaki ayam yang terlempar kemana-mana. Saat itu Kinanti menangis dan mengatakan bahwa Nina mengacau saat ia sedang mau memasak.


Demi apapun Renata sangat pusing dengan kenyataannya selama ini yang Renata dapatkan.


****