Mother

Mother
Sebuah Pengakuan



Nina pamit pulang pada Renata dan membiarkannya untuk pergi bersama Jaksa itu. Ia tidak ingin bertanya lebih lanjut mengenai privasi Renata.


Setelah Nina pergi, ia menatap kembali kotak perhiasan peninggalan Kinanti dan ia memakai salah satu kalung yang kini sudah menjadi miliknya.


****


"Apa masih ada kasus yang harus ditangani lagi?" tanya Mahendra pada Liliana dan juga Nugraha. Mereka seperti mencari-cari alasan agar bisa istirahat pulang.


"Ehmm.. sepertinya tidak ada, Pak. Dan kalau boleh, kami ijin pulang dulu." sahut Nugraha tanpa basa basi. Karena memang mereka sudah terlalu lelah menemani bosnya untuk bekerja.


"Baik. Saya ajukan cuti untuk kalian selama dua hari kedepan. Kalian istirahatlah. Aku akan mampir ke kepala jaksa sebentar."


Nugraha dan Liliana bersorak bahagia. Mereka langsung membereskan barang-barangnya dan pamit pulang pada Mahendra.


Setelah pengajuan cuti diterima, Mahendra segera menuju parkiran mobil dan masuk. Setelah menyalakan mobil untuk memanasinya sebentar, ia meraih hapenya dan menelpon Renata. Tunggu. Baru saja terdengar dering telponnya. Mengapa jantungnya berdebar kencang? Tenanglah. Ini bukan sesuatu yang menakutkan seperti menghadapi terdakwa di dalam sidang.


Telpon pun diangkat Renata dan Mahendra mengendalikan debar jantungnya yang semakin tidak karuan.


"Ya, Pak Jaksa."


"Aku sudah selesai kerja. Kamu ada dimana? Aku akan datang kesana." ucap Mahendra cepat dan tidak beraturan.


"Oh saya dirumah, Pak. Bapak bisa ke rumah saya." jawab Renata sama gugupnya. Renata berusaha menutupi itu.


"Baiklah, saya ke rumah."


Mahendra langsung menutup telponnya dan menghela napas lagi. Ia seperti merasa ini bukan dirinya.


Sesampainya di rumah Renata, Mahendra langsung masuk ketika Renata membukakan pintu untuknya. Renata yang hanya mengenakan kaus biasa dan celana tujuh perdelapan serta rambut yang dicepol membuatnya tampak sederhana dan terlihat sangat cantik.


Renata mengambilkan Jus dingin yang ada di kulkas dan kue yang dibawakan oleh Nina. Tapi karena tidak ada tempat sedikitpun di meja, Renata membereskan dulu buku mata kuliahnya yang tebal.


"Maaf ya, Pak. Rumah saya berantakan. Saya sedang mengerjakan skripsi saya." ucap Renata.


"Wah seru ya manajemen bisnis. Dulu saya menyusun skripsi juga begini." kata Mahendra.


"Iya mungkin Bapak juga lebih rumit karena jurusan hukum." sahut Renata.


"Ya saya harus mengambil beberapa studi kasus yang berada di pengadilan. Waktu itu membuat saya pusing." jawab Mahendra melontarkan tawanya yang renyah.


Setelah bukunya tersusun rapi, Renata meletakkan jus dan kue diatas meja dan ikut duduk disofa bersama Mahendra.


"Jadi sekarang Bapak sudah punya waktu luang?" tanya Renata langsung pada intinya.


"Kapan kamu bisa menengok Ayahmu?" tanya Mahendra kemudian Renata kembali diam.


Mahendra tidak bisa melanjutkan pembicaraan lagi. Seharusnya ia menunggu Renata untuk membicarakan itu.


"Aku masih belum tahu. Tapi jika ditanya siap atau tidak, aku pasti akan menjawab 'nanti saja'. Sedangkan sudah dua tahun Ayah dipenjara dan aku belum menengoknya sekalipun." jawab Renata.


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan?"


"Ya. Ada. Aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku pun ingin sekali mengatakan aku menyayanginya." suara Renata bergetar. Mahendra tahu, Renata pasti sangat terluka jika mengingat apa yang dilakukan Ayahnya.


"Jangan terburu-buru. Jika belum siap, mari kita tunggu waktu yang tepat." kata Mahendra.


Renata menghapus air mata yang jatuh dipipinya. Ia mencoba tersenyum dihadapan Mahendra.


"Bagaimana kalau kita pergi makan keluar?" tanya Renata yang langsung disambut dengan baik oleh Mahendra.


Renata keluar dengan blus warna salem yang cantik serta celana jeans. rambutnya dicatok sebentar agar lebih terlihat lurus. Ia juga mengenakan kalung milik Kinanti.


"Kalung itu baru?" tanya Mahendra baru kali ini melihat kalung melingkari leher Renata.


"Kalung ini milik Ibuku yang diberikan Ayahku. Kata Tante Nina, kalung ini sudah ada sebelum Tante Nina datang ke keluarga kami." kata Renata tersenyum.


"Bagus... kalungnya."


Mahendra lalu mengendarai mobilnya hingga berhenti tepat disebuah restoran Jepang.


"Kita makan ini aja ya." kata Mahendra.


"Apa saja boleh."


Renata dan Mahendra masuk ke dal restoran dan memesan dua porsi makanan. Renata sangat lahap memakan makanannya. Mahendra tertawa sendiri melihat cara Renata makan. Setelah kenyang makan siang, mereka pergi ke sebuah taman kota. Dimana tempat itu seringkali dikunjungi muda dan mudi yang ingin menghabiskan waktu.


Renata terlihat sangat riang sekali mendatangi taman kota itu hingga ia bermain ayunan.


Setelah puas bermain, mereka duduk di bangku taman dan menikmati jagung manis bertoping keju yang dijual disana.


"Terima kasih ya. Aku pusing sekali dengan skripsiku. Aku hanya ingin istirahat sebentat setelah itu aku akan melanjutkan skripsiku lagi." kata Renata memakan sedikit demi sedikit jagungnya.


"Baguslah. Kamu harus segera menyelesaikannya dan menjadi orang pekerja." sahut Mahendra.


"Kenapa begitu?" Renata tidak mengerti dengan maksud Mahendra.


"Karena menjadi orang pekerja itu enak. Apalagi kalau sudah mendekati waktu gajian." jawab Mahendra asal.


"Ya, ya, Pak Jaksa. Nanti aku akan cepat bekerja agar bisa menikmati uang gajianku untuk membeli barang-barang mahal." jawab Renata menimpalinya.


Mahendra pun tertawa mendengar lelucon dari Renata. Suasana menjadi cair dan tidak tegang lagi.


"Bagaimana kalau besok saja kita pergi ke Ayahmu?" tanya Mahendra. Renata kembali diam dan bingung harus menjawab apa.


"Siapkan saja dirimu, Renata. Ada aku yang menemanimu besok. Kamu tidak perlu takut apapun." kata Mahendra meyakinkan Renata.


"Bagaimana rasanya bertemu Ayah yang sudah hampir lima tahun tidak bertemu? Dua tahun lebih dia meninggalkan aku dan Ibuku. Kemudian dua tahun lebih dia berada di sel penjara. Pasti canggung ya rasanya." kata Renata tersenyum kecut.


Jujur saja, Mahendra gemas sekali dengan Renata yang tidak berani bertemu Candra. Tapi ia memakluminya karena apa yang terjadi padanya bukanlah hal yang biasa.


Mahendra menggenggam tangan Renata. Mencoba menguatkan hati Renata bahwa dirinya masih berada disamping Renata.


"Aku ada disini, Renata. Tolong jangan takut lagi meghadapi Ayahmu. Ayo kita hadapi Ayahmu bersama - sama."


Apa ini? Mengapa hati Renata berdesir hangat lagi? Mengapa selalu terjadi ketika dirinya bersama Mahendra?


Wajah Renata terasa panas hingga ingin meledak. Ia ingin sekali kabur dari situ detik ini juga. Tapi apakah mungkin...


"Aku tidak berani mengatakan ini padamu Renata. Tapi baiklah, aku akan mengatakan alasanku kenapa aku bekerja sangat keras setiap hari seperti apa yang Liliana katakan."


Ini dia! Ini yang Renata tunggu. Ayo katakanlah, Pak Jaksa!


"Aku memikirkanmu setiap hari. Aku merasa bersalah karena aku harus menangkap Ayahmu. Bagaimana perasaanmu saat itu? Apakah kamu marah atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu kamu sempat shock ketika Hakim membacakan dakwaan untuk Ayahmu. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatmu lagi. Semakin hari aku semakin memikirkanmu. Tapi aku selalu menyangkalnya bahwa ternyata aku menyukaimu. Aku berusaha bekerja lebih keras lagi agar aku bisa melupakanmu. Tapi ternyata tidak. Liliana dan Nugraha tahu aku selau mencari keberadaanmu. Hingga akhirnya Liliana menghubungimu dan memintamu datang. Aku terkejut ketika kamu datang. Kamu terlihat semakin cantik dan bersinar. Berbeda sekali saat aku pertama kali menemuimu." jelas Mahendra menbuat pengakuan.


Pengakuan Mahendra membuat hati Renata semakin berdesir. Degup kencang semakin tidak beraturan di jantung Renata.


"Begitukah?" tanya Renata dengan gugup.


"Jadi, kamu jangan takut Renata. Selama ada aku, sebisa mungkin aku akan menjagamu."


Renata tidak berkata apapun lagi. Ia hanya tersenyum mendengar pengakuan dari Mahendra. Tidak langsung menunjukkan bahwa Mahendra menyukainya. Tapi jelas sekali bahwa memang selama ini, ia selalu berada dihati Mahendra.