
Renata telah menyelesaikan sidang skripsinya. Herlina dan Nina pun sudah menunggu di parkiran mobil untuk menanti Renata. Mereka tidak sabar untuk menyambut Renata dengan buket bunga yang indah dan Herlina akan memberikan hadiah ke luar negeri.
Tapi wajah Renata berkata lain. Bukannya datang dengan wajah yang bahagia karena telah menyelesaikan skripsinya, ia datang dengan wajah yang murung.
"Renata, kenapa Sayang? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Nina khawatir dengan Renata. Herlina pun menjadi cemas melihat cucu satu-satunya tidak bergairah setelah keluar dari ruang sidang skripsi.
"Bagaimana ini Nek..." kata Renata dengan raut wajah yang sedih.
"Bagaimana apanya, Sayang?" Herlina lemas. Harapannya menjadikan Renata pewaris tahta Grup Seijin pupus sudah.
"Aku...."
Herlina mengangguk dengan tenang dan mengelus rambut Renata dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah berusaha dengan semaksimal mungkin." jawab Herlina menenangkan Renata.
"Aku lulus!!" teriak Renata membuat Herlina dan Nina kaget setengah mati. Ia bersorak bahagia dan memeluk Neneknya dan juga Ibu tirinya.
"Tante sudah mengira kamu pasti berhasil. Kamu sudah sering bergadang mana mungkin kamu gagal." kata Nina memeluk Renata dengan bahagia.
"Terima kasih Tanteee aku sayang sama Tante." ucap Renata senang dan memeluknya.
Dengan semangat, Renata melepas pelukannya pada Nina dan menagih janji pada Neneknya.
"Nenek, sudah janji kan mau memberikan tiket keliling Eropa? Ingat ya, Nek. Tidak boleh lupa!"
Herlina tertawa melihat Renata yang sangat ceria. Ia seperti menemukan semangat baru dalam hidupnya.
Mahendra datang terlambat dan tergesa-gesa menghampiri Renata dan juga keluarganya.
"Maaf, aku telat ya? Tadi aku ada...."
Belum sempat Mahendra menyelesaikan pembicaraannya, Herlina sudah memotongnya karena gemas setiap kali melihat Mahendra yang selalu terlambat.
"Sudah, sudah. Tidak perlu dijelaskan kenapa kamu terlambat. Sekarang menyetirlah dan ikut dengan kami." ucap Herlina membuat Renata tertawa dan meraih lengan Mahendra.
Sejak bertemu dengan Candra, suasana hati Renata semakin membaik. Mungkin beban yang bertahun-tahun dipendam sudah tidak ada. Mahendra lega melihat Renata yang semakin ceria. Ditambah lagi, kehadiran Mahendra disambut baik oleh Herlina dan juga Nina.
Mereka tiba di toko gaun dan memasuki toko itu bersama. Renata tersenyum memberi isyarat pada Mahendra untuk segera masuk ke dalam toko. Walaupun masih agak bingung dengan apa yang mereka lakukan di toko ini, Mahendra tetap saja masuk dan mengikuti mereka.
Para pelayan menyambut kedatangan Herlina dengan baik. Mereka sebisa mungkin melayani tamu di toko mereka.
"Berikan gaun yang paling baik rancangannya dan kami akan mencobanya." kata Herlina pada salah satu pelayan toko. Pelayan toko mengangguk dan segera memilihkan desain gaun pernikahan terbaik yang ada di toko itu.
"Untuk apa membeli gaun?" tanya Mahendra setengah berbisik pada Renata.
"Kamu akan tahu nanti."
Pelayan sudah kembali dengan beberapa gaun model terbaru dan terbaik milik Lucy's Design.
"Gaun ini adalah gaun terbaik milik mendiang Lucy Troy. Tentunya kualitas, bahan, serta motf sudah tidak diragukan lagi." jelas pelayan itu menunjukkan beberapa gaun motif bunga yang sangat indah dengan kain yang menjuntai ke bawah lantai.
"Aku mau coba, Nek." kata Renata pada Herlina.
"Cobalah yang mana yang kamu suka." kata Herlina duduk di sofa diikuti Nina dan juga Mahendra.
"Bu. Sebenarnya mengapa Renata mencoba gaun-gaun itu?" tanya Mahendra polos. Herlina tidak menjawabnya. Tetapi Nina yang sudah gemas sejak tadi tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menjawab pertanyaan Mahendra.
"Supaya kamu tidak perlu lama-lama pacaran dengan Renata!" kata Nina.
"Tapi, Bu, bukankah ini terlalu cepat? Saya belum mempersiapkan apapun lho, Bu." sahut Mahendra.
"Mempersiapkan apa? Setiap hari kamu hanya memeriksa kasus, sidang, ke TKP atau ke kantor polisi. Kami tahu kamu sangat sibuk, maka dari itu kami mempersiapkan semuanya." jawab Herlina.
Mahendra diam dan tidak bisa menjawab apapun lagi. Tidak lama tirai untuk fitting gaun dibuka oleh Pelayan dan Renata tampil sangat cantik dengan gaun payet bunga yang menjuntai indah. Renata tersenyum dan melihat reaksi Herlina, Nina, terutama Mahendra.
Mahendra menatapnya dengan kagum. Renata sangat cantik dalam balutan gaun berpayet bunga.
"Cantik sekaliiii." ujar Nina kemudian memotret Renata berulang - ulang. Herlina menyenggol lengan Mahendra dan tersenyum.
Mahendra masih terpaku akan kecantikan Renata yang semakin hari semakin bersinar. Awalnya, Mahendra ragu akan ketulusan hatinya pada Renata ditolak mentah-mentah. Tapi tidak. Kali ini, Mahendra dengan serius menjalani hubungan bersama Renata.
"Bagus tidak? Kamu suka?" tanya Renata menghampiri Mahendra yang masih terdiam.
"Kamu cantik. Aku suka."
Renata tersipu malu menatap Mahendra. Kini, ia tidak membutuhkan kata-kata manis dari seorang lelaki. Ia yakin Mahendra bisa menyeimbangi dirinya. Walau terkadang, Renata jenuh dengan Mahendra yang suka terlambat atau malah sama sekali tidak datang ketika waktu untuk bertemu karena pekerjaannya.
Seiring berjalannya waktu, Renata paham dia menjalin hubungan dengan siapa. Justru, ia berterima kasih pada Mahendra telah mendampinginya selama ini walaupun pada awalnya mereka bertemu dengan keadaan yang bisa dibilang, jauh sekali untuk bisa jatuh cinta.
****
Petugas Sipir mengetuk pintu sel Candra dan memberikan surat padanya. Candra yang sedang melamun menerima surat itu dengan tatapan kosong. Hatinya merasa sesak ketika mengingat putrinya yang menderita karenanya.
Candra mengambil surat yang diberikan oleh Petugas Sipir dan memandanginya cukup lama.
Tidak lama setelah menerima surat itu, Candra yang dipenuhi rasa bersalah karena penderitaan putrinya, ia mengambil langkah singkat untuk menebus semua dosanya didalam penjara.
Ia kembali menangis dan menyesali semua yang telah terjadi. Candra tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Sungguh. Melihat Renata menangis karena dirinya jauh lebih menyakitkan daripada melihat Kinanti memukuli dirinya. Hatinya hancur dan ia sudah tidak mempunyai harapan lagi.
Mengingat tangis pilu Renata membuat dirinya semakin lama semakin tidak stabil. Karena baginya, air mata putrinya adalah air mata yang paling berharga yang tidak boleh jatuh. Tapi Renata telah mengeluarkan banyak air mata karena dirinya. Ia tidak bisa menanggung kesedihan dan kebencian Renata terhadap dirinya.
Tapi kini, ia ingin menyusul Kinanti diatas sana. Ia ingin mohon ampun pada Kinanti atas dosa-dosanya selama ini. Ia sudah tidak bisa menjadi suami yang baik bagi Kinanti maupun Ayah yang baik bagi Renata. Kini perjalanan Renata sudah usai. Herlina pasti akan menjaga Renata sebaik mungkin bersama Nina dan juga jaksa itu.
Candra mendorong kursi yang ia naiki tadi. Kakinya bergoyang-goyang. Dengan kain yang menggantung di atas plafon, Candra mengakhiri hidupnya.
Ayah,
Ketika Ayah menerima surat ini, aku sudah menjalani sidang skripsiku dan aku berhasil.
Terima kasih atas cinta yang Ayah berikan selama ini. Terima kasih telah menjadikanku permata yang paling bahagia sebelum Ayah meninggalkan aku dan Ibu.
Aku tidak meminta sesuatu yang lebih pada Ayah. Ayah. Hiduplah dengan baik. Akupun ingin memulai lembaran baruku dan melupakan luka dihatiku.
Jagalah kesehatan Ayah sampai aku mengunjungi Ayah kembali. Aku akan menempati tahta Ayah dan Nenek akan menjagaku. Ayah tidak perlu khawatir dengan hidupku. Aku baik-baik saja.
Maaf aku tidak bisa menjadi anak yang baik untuk Ayah. Aku akan mencoba untuk itu. Maaf juga karena harus memberitahu Ayah melalui surat. Semoga kita cepat dipertemukan kembali.
Renata Tanujaya