
Renata mulai menata sedikit demi sedikit barang-barangnya. Ia mulai dari mengepak beberapa baju miliknya dan buku mata kuliah. Ternyata Renata tidak terlalu punya banyak baju seperti teman-temannya.
Ia mengingat terakhir kali belanja baju dengan Maria. Tetapi karena tidak punya cukup uang, terkadang Maria membelikannya satu. Untung saja lekuk badan Renata hampir mirip dengan Maria, jadi Maria bisa memberikan beberapa baju yang masih bagus pada Renata.
Renata tertawa kecil jika mengingat Maria yang selalu mengomel karena Renata mempunyai badan yang sedikit lebih kurus daripada tubuhnya.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali membongkar lemari karena ia selalu pulang larut malam setelah bekerja dan berangkat pagi untuk kuliah. Jadi hampir tidak pernah ada waktu luang untuk membereskan barang-barangnya sendiri.
Hape Renata berdering, ada telpon dari Herlina. Belakangan ini Renata cukup sering berkomunikasi dengan Herlina.
"Halo, Nek?"
"Sedang apa, Sayang?"
"Aku sedang membereskan beberapa barangku dan barang Ibu, Nek. Aku pikir aku setuju untuk pindah ke apartemen yang Nenek berikan."
"Syukurlah, Sayang. Kau harus hidup lebih baik mulai saat ini. Jangan takut, Sayang, ada Nenek yang selalu mendukungmu."
Renata merasa bersyukur mempunyai Nenek berhati malaikat seperti Herlina. Walau terkadang terlihat tegas, tapi hatinya tetaplah seorang Nenek yang sayang pada cucunya.
"Terima kasih, Nek. Ini semua berkat Nenek."
"Jangan berterima kasih, Sayang. Kamu memang seharusnya menerima ini semua. Maaf Nenek terlambat memperhatikan kamu."
"Tidak, Nek. Nenek sudah mau memelukku saja aku sudah sangat senang. Terima kasih sudah datang padaku, Nek."
"Sama-sama, Sayang. Akan aku kirim orang untuk membereskan barang-barangmu."
"Tidak usah, Nek. Nanti saja. Aku masih mau merapikannya sendiri. Nanti kalau sudah rapi, Nenek boleh panggilkan untukku."
"Baik, Sayang, hati-hati ya."
Renata tersenyum dan menutup telpon dari Herlina. Renata melanjutkan membereskan barang-barang miliknya.
***
Mahendra tersenyum ketika mendapat sebuah pesan dari Renata. Liliana dan Nugraha yang melihat sikap aneh Mahendra langsung saling senggol menyenggol.
"Pak, saya sudah mengumpulkan resort milik Herlina Tanujaya. Totalnya ada delapan resort. Itu juga sudah termasuk yang ada di Bali. Lainnya ada di beberapa kota besar, tetapi yang di Bali yang paling sering mendapat perhatian." jelas Liliana ketika mendapatkan informasi mengenai Grup Seijin.
"Lalu, berapa pendapatannya per bulan untuk resort yang ada di Bali?" tanya Mahendra meletakkan hapenya.
"Sekitar lima milliar setiap bulan, itu juga bisa melebihi, Pak. Karena banyak sekali turis yang datang kesana. Dan setelah saya browsing tentang resortnya, wah, Bapak pasti akan terkagum-kagum. Banyak artis dan selebgram yang sering kesana jadi pantas saja pendapatan mereka bisa lebih dari itu, Pak." Liliana kembali menjelaskan dengan nada yang dramatis.
"Oh sekarang sedang tren ya anak muda liburan di tempat mahal?" Mahendra menggelengkan kepalanya, heran dengan anak muda zaman sekarang.
"Itu sudah biasa, Pak. Kalau Bapak mau kesana, bisa aja kok, Pak." sahut Nugraha yang gemas sekali dengan Mahendra.
"Enggak. Banyak kerjaan." jawab Mahendra kembali lagi ke file kasus yang lain.
***
Renata merapikan beberapa surat penting yang disimpan Kinanti dalam sebuah tas Renata memeriksa satu persatu surat penting itu. Ada akta kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, surat rumah dan nota pembelian barang elektronik. Tetapi, Renata menemukan beberapa nota dan berkas dimana Kinanti berada dalam perawatan dokter psikiatri. Renata terkejut luar biasa. Ia merasa Kinanti sehat-sehat saja. Tapi kenapa ada riwayat bahwa Kinanti dirawat oleh psikiater?
Renata memeriksa hasil diagnosa yang mungkin salah dengan diagnosa ini. Tapi tidak. Kinanti ke psikiater bukan hanya sekali ataupun dua kali. Tapi rutin setiap bulan. Dan diagnosanya adalah kepribadian ganda. Renata lemas. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Kinanti yang selama ini menjadi Ibunya, baru ia sadari kalau Ibunya mengalami kepribadian ganda. Pantas saja, Kinanti terkadang bertingkah aneh diluar nalar Renata. Renata memotret kertas diagnosa itu dan mengirimkannya pada Mahendra.
***
Mahendra bergegas pergi ke rumah Renata. Mahendra sudah menduga masih ada hal lain yang belum dicari. Entah apa itu Mahendra masih belum paham. Tapi setelah Renata mengirimkan surat diagnosis dari psikiater barulah ia paham bahwa Kinanti mengidap kepribadian ganda. Pantas saja dari setiap cerita Nina, terdengar tidak masuk akal. Ternyata, inilah penyebabnya.
"Renata."
Panggil Mahendra dari pintu masuk rumahnya.
Rumah itu terlihat sepi dengan beberapa barang yang sudah di pak dengan kardus.
Dengan mudah, Mahendra menemukan Renata di kamarnya.
"Renata...."
Renata menengadah menatap kehadiran Mahendra dengan kertas yang berada di genggamannya. Ia terlihat lemas sekali.
"Ada apa Renata?"
"Aku tidak tahu kalau Ibuku punya penyakit kepribadian ganda. Ibuku selalu bersikap baik dihadapanku. Tidak pernah menunjukkan sesuatu yang buruk."
Mahendra mendengarkan keluh kesah Renata dalam diam. Ia masih belum bisa mengomentari apapun.
"Pantas saja aku selalu merasa aneh dengan semua cerita Tante Nina yang dirasa tidak masuk akal."
Kali ini Mahendra sependapat dengan Renata.
"Aku tidak percaya bahwa sisi lain Ibuku seperti itu. Ternyata..." Renata menelungkupkan kepalanya diantara tangannya. Ia merasa sedih sekali saat tahu bahwa Kinanti memiliki kepribadian ganda.
"Baiklah. Apakah kamu menemukan yang lain, Renata? Aku tahu kamu pasti terluka. Tapi bersabarlah dan kuatlah sampai akhir." ucap Mahendra.
Renata mengangkat kepalanya.
"Aku sudah mulai memasukkan barang-barangku ke dalam kardus. Tapi masih belum semua."
"Baiklah. Karena sudah disini, ada yang bisa aku bantu?" tanya Mahendra.
"Aku tadi sedang merapikan barang-barang dari kamar Ibuku."
"Oke. Ayo kalau begitu."
Entah mengapa Renata merasa senang dengan perhatian Mahendra. Walaupun mereka saling mengenal karena kasus Kinanti, tapi beberapa hari kebersamaannya dengan Mahendra seperti membuat harapan baru dihati Renata. Tanah yang sudah lama kering, tiba-tiba disiram kembali dengan air bersih.
Mahendra mengeluarkan baju dari dalam lemari dan merapikannya di sebuah dus. Renata juga merapikan beberapa kain dan selimut. Semua tertata rapi dan sudah kosong dari lemari.
"Sekarang tinggal foto-foto." kata Renata.
"Cukup banyak juga foto dirumah ini. Tapi fotonya hanya ada kamu dan Ibumu." kata Mahendra mengambil bingkai foto itu.
"Aku ambil kardus lagi. Sebentar ya."
Mahendra melihat foto Renata dengan senyum yang indah bersama Kinanti dengan latar belakang perumahan. Ia mengamati tiap detil foto itu. Tapi ada satu titik yang menjadi perhatian Mahendra.Tepat disudut kanan atas foto itu terlihat sedikit bolong tetapi ada sesuatu didalamnya. Mahendra melepas bingkai foto itu dan ternyata ada sebuah kamera kecil didalamnya.
"Renata!"
"Iya, sebentar"
"Aku rasa kamu harus lihat ini."
Renata bergegas kembali ke dalam kamar Kinanti. Dan melihat kamera kecil yang dipegang Mahendra.
"Apa itu?"
"Aku melihat foto ini dan ada kamera ini di sudut foto. Ambil laptopmu. Ayo kita cek apa yang ada didalam kamera ini."
Renata segera mengambil laptop dan membawanya ke depan Mahendra.
Renata mengecek dan membuka folder yang ada di kamera tersebut yang ternyata tersimpan di memori kecil.
Video tersebut berisi tentang keseharian Kinanti dimana Kinanti menjalani rutinitas seperti biasa. Kinanti terkadang ke meja rias untuk memoles bedak ataupun lipstik. Atau sekedar memilih baju. Tapi ada saat dimana Kinanti merasa tubuhnya menggigil dan sakit kepala. Kinanti menahan rasa sakit dikepalanya sambil menelungkupkan badannya. Ia berteriak sampai tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya.
Kinanti berusaha meraih meja disamping tempat tidurnya dengan susah payah menahan sakit di kepalanya. Akhirnya Kinanti berhasil meraih obat yang ada disamping meja dan meminumnya.
Renata dan Mahendra langsung saling menatap satu sama lain dan melihat meja disamping tempat tidur Kinanti.
Renata segera memeriksa laci dan ia menemukan beberapa botol obat. Beberapa diantaranya adalah antidepresan dan obat penenang.
"Ini adalah obat untuk menahan rasa sakit di kepala yang dialami Ibumu. Mungkin Ibumu bisa bertahan selama ini karena obat dari psikiatrinya." kata Mahendra memegang salah satu botol antidepresan.
BAM!!
Hati Renata kembali teriris ditambah ia melihat bagaimana Kinanti tersiksa dengan sakit kepala akibat penyakitnya. Renata mulai menutupi wajah dengan kedua tangannya dan menangis.
Renata sangat sedih mengetahui kebenaran yang terjadi pada Kinanti. Mungkin ini hanya sekian persennya saja. Renata belum menemukan kenyataan yang lainnya lagi.
Mahendra memeluk Renata yang sudah mulai lemah dan mengajaknya duduk dipinggir kasur.
"Ibu.. Ibu.." ucap Renata tersedu. Walaupun terdengar sedih karena tangisannya, Renata masih tetap tegar. Sekali lagi, Mahendra merasa takjub dengan ketegaran hati Renata.
****