Mother

Mother
37 Omongan ART



Rei sekarang duduk di hadapan gurunya, untuk membicarakan beasiswa yang akan dia ambil.


Sebenarnya aku sudah tidak semangat menjalani kuliah, tapi aku tetap ingin membanggakan nenek.


"Ibu yakin kamu akan menjadi orang yang sukses, jadi kamu harus bersabar menjalani semuanya."


"Iya, Bu. Terima kasih atas bimbingan ibu selama ini."


"Sekarang kamu fokus saja dengan ujian nasional, setelah itu belajarlah untuk masuk perguruan tinggi. Banyak membaca artikel, buku, dan menonton hal-hal yang berhubungan dengan pendidikanmu. Besok akan ibu bawakan buku."


"Iya, Bu. Kalau begitu saya kembali ke kelas."


Guru itu menatap muridnya yang terlihat lesu. Sebagai guru dia hanha bisa mendoakan kesuksesan muridnya itu, juga memberikan motivasi.


Rei berjalan ke perpustakaan, dan membaca salah satu buku yang sangat tebal. Dia mencatat hal-hal penting yang ada di buku itu hingga tidak terasa bel masik berbunyi.


Sepanjang lorong menuju kelasnya, dia selalu teringat akan Freya yang hingga kini dia tidak tahu keberadaannya. Apa gadis itu masih hidup atau tidak. Bahkan bukan hanya Freya yang menghilang, tapi juga Nania, Aruna, Arby, Ikmal, Vian dan Marcell. Yang tersisa hanya Nuna yang juga selalu terlihat murung.


Rei juga teringat gosip tentang Arby yang katanya suka bermain perempuan dan menghamili anak orang lalu keguguran.


Apa benar begitu?


Murid tampan dan berprestasi, namun selalu bertengkar dengan Freya dan gengnya.


Apa mereka semua dikeluarkan dari sekolah? Di mana pun kamu berada, aku harap kamu baik-baik saja, Freya.


🌺🌺🌺


Rei duduk di taman belakang sambil menikmati aneka warna bunga yang tumbuh dengan subur.


"Kenapa kamu selalu lupa minum susu hamil?"


Marva memberikan segelas susu hamil yang hangat kepada Rei.


"Maaf, Kak, aku lupa."


Rei lalu meminum susu itu. Saat masih minum, Rei tidak sengaja melihat Viola yang juga menatapnya dengan tatapan tidak suka.


Rei langsung tersedak hingga menimbulkan rasa perih di hidung dan tenggorokannya, bahkan matanya sampai berair.


"Pelan-pelan dong, minumnya!"


Ujung mata Rei melirik Viola.


Bodo amat, lah. Aku juga enggak menggoda suaminya, kok. Suruh siapa tidak bisa ngasih anak, malah sewot terus sama orang lain. Aku yang tidak pernah menggoda suaminya saja, dia selalu berburuk sangka, gimana kalau aku menggoda suaminya? Bisa jungkir balik, dia.


Marva mengikuti Rei, dan itu membuat Viola semakin berprasangka.


🌺🌺🌺


"Aku kasihan sama nona Viola, gara-gara Rei sekarang nona Viola jadi menderita."


"Oya, padahal Rei itu hanya gadis kampung yang dipungut oleh tuan besar. Hamya karena ia sedang hamil, jadi belagu."


"Aku kasihan melihat wajah sedih nona Viola, biasanya dia selalu terlihat ceria."


Rei kembali ke kamarnya, padahal baru saja dia ingin membuat rujak.


Aku memang gadis kampung, tapi gadis kampung inilah yang dipilih oleh tuan kalian itu. Kita sama-sama orang susah, tapi karena kalian bekerja di sini, kalian langsung menganggap diri kalian lebih baik dari aku.


Tiba-tiba saja Rei merasa keram diperutnya. Dia merintih pelan sambil memegang perutnya.


"Aw ... sak - sakit ...."


Rei berjalan dengan pelan memasuki kamarnya. Dia langsung berbaring dengan nafas sedikit terengah. Dia jadi teringat dengan neneknya yang dulu juga terbaring lemah di atas kasur. Air matanya seketika ke luar.


Aku tidak boleh lemah, aku harus menjadi perempuan yang kuat.


Rei sebenarnya tidak ingin memikirkan oerkataan para pelayan itu, tapi mugkin saja karena kehamilannya ini menjadikan dirinya sensitif. Dulu, saat masih bersama neneknya, mau seperti apa pun dirinya dihina oleh orang-orang, dia tidak akan peduli. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.


Kalau dipikir-pikir, memang saat itu Rei belum tahu bahwa dirinya sedang hamil, tapi dia menjadi sensitif dengan perkataan orang-orang.


Pintu terbuka, Marva melihat Rei yang sedang memegang perutnya dengan waja pucat.


"Kamu kenapa, Rei?"


"Perut aku keram, Kak."


"Aku telp dokter dulu."


Setelah menghubungi dokter, Marva mengusap perut Rei dengan hati-hati.


"Anak ayah yang baik ya, di dalam."


Perlahan Rei memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian dokter datang.


"Sudah saya bilang, jangan biarkan dia stres. Akan tidak baik untuk dia dan kandungannya. Jaga dia baik-baik."


Marva menghela nafas, dia bingung sebenarnya apa yang Rei pikirkan hingga kondisinya bisa seperti ini.