
Dua tahun setelah Candra di penjara...
Sejak mengunjungi Kinanti di krematorium, Renata menjalani aktivitas seperti biasa. Berusaha menstabilkan diri dari emosinya dan menjernihkan pikirannya dari sisa-sisa kesedihannya.
Renata mencoba berbaur dengan anak-anak lain agar cepat melupakan rasa sedihnya. Terkadang bermain dengan Maria dan menghabiskan waktu di kafe dimana Evano bekerja.
Mereka bertiga menjadi sahabat baik dan selalu mendukung satu sama lain.
Renata juga main ke rumah Herlina sesekali dan Nina tetap menjadi menantu untuk Herlina. Herlina merasa tidak perlu meminta Nina untuk meninggalkan rumah karena ternyata Nina adalah wanita yang pandai membuat kue dan juga wanita yang mengerti dengan tren mode saat ini. Sesekali, Nina juga berbelanja bersama Renata di mall.
Herlina sendiri mempercayakan sebagian kecil resort pada Nina. Karena sudah tidak mungkin lagi mengandalkan Candra.
Hari itu, Renata datang mengunjungi Herlina dan memeluk Herlina yang sedang duduk di sofa.
"Neneeeek! Tebak aku bawa apa?" kata Renata dengan ceria.
"Bawa apa Renata? Kamu mengejutkan saja." jawab Herlina yang sedang membaca buku.
"Taraa...ini bolu pandan kesukaan Nenek. Ayo makan, Nek!" kata Renata dengan ceria. Renata sering sekali datang, untuk mengusir kesepian di rumah, memang perlu gadis ceria seperti Renata. Kemudian Renata duduk di sebelah Herlina dan menyuap kue itu untuknya.
"Renata, kamu semakin ceria saja." kata Herlina menyeka mulutnya.
"Iya dong Nek. Aku sudah mau skripsi. artinya aku sudah mau lulus. Siapa sangka kalau aku bisa skripsi sekarang? Karena kemarin sudah terlalu banyak absen, aku mengejar mata kuliah yang tertinggal." jawab Renata.
Herlina teringat dengan Candra yang berada di sel penjara. Sejujurnya, ia ingin jika Renata sesekali menengok Candra. Tapi apakah itu memungkinkan?
"Renata.." panggil Herlina.
"Iya, Nek."
"Kalau kamu mau main kesini, ada ruang pribadi yang dulu digunakan oleh Ayahmu. Biasanya Ayahmu suka sekali nonton film disana." kata Herlina mencoba memancing pembicaraan.
Renata fokus memotong kuenya tanpa menengok ke arah Herlina.
"Ada apa, Nek, tiba-tiba membicarakan Ayah?" tanya Renata.
Herlina langsung salah tingkah dan bingung harus menjawab bagaimana.
"Tidak. Barangkali saja."
Herlina masih berharap mendapat jawaban positif dari Renata entah apapun itu.
Setelah memotong kue, Renata menatap Herlina dengan ceria.
"Ada Tante Nina, Nek? Apa ada dikamarnya?" Renata mengalihkan pembicaraan Herlina. Herlina sudah tahu, dia pasti sangat kecewa dengan Candra hingga tidak ingin membicarakannya.
Herlina ikut tersenyum melihat Renata yang ceria.
"Nina hari ini ada pekerjaan di Bali. Nenek memintanya kesana. Mungkin akan pulang sekitar dua hari lagi." jawab Herlina.
"Baiklah, Nek. Aku pulang dulu. Aku akan mencari beberapa bahan untuk skripsi dan menyelesaikannya. Nenek jaga kesehatan ya. Aku pulang dulu."
Renata pun ternyata menjadi salah tingkah jika Herlina membicarakan Candra. Sebisa mungkin Renata bersikap ceria dan tidak membuat Herlina kecewa. Renata bangkit dari duduknya dan mengecup pipi Herlina.
Herlina hanya bisa tersenyum bahagia melihat Renata sudah bisa berinteraksi dengan nyaman kepadanya.
****
Sepulang dari rumah Herlina, ada rasa sesak di hati Renata jika mengingat kembali bagaimana Candra. Disatu sisi Candra telah menyakiti dirinya dan Kinanti. Disatu sisi, ia tetaplah Ayahnya. Ia memandangi foto keluarga satu-satunya yang dipunya dalam ukuran 10R. Renata merasa sesak dan tidak bisa menahan air matanya. Keluarga yang didambakan dan dipikir bahagia dari luar, ternyata hancur didalam. Ia merindukan masa kecilnya, dimana Ayah dan Ibunya saling mencintai. Bahagia memiliki Renata dalam hidupnya dan menjadikannya permata yang paling indah.
****
Nina dipercaya Herlina untuk mengurus resort di Bali. Karena kondisi Herlina tidak selalu bisa untuk selalu datang dan bolak balik ke Bali. Herlina awalnya ragu mempekerjakan Nina. Tapi diluar dugaan. Nina pandai, cekatan dan konsisten dalam pekerjaan. Pak Kim mendampingi Nina atas permintaan Herlina. Nina mengerjakan beberapa proyek promosi dalam bentuk iklan dan media.
Siang berganti malam, setelah bekerja, Nina kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sudah dua tahun berlalu semenjak Candra di sel penjara. Nina belum menengoknya lagi dan Herlina sekarang tidak pernah memaksakan kehendaknya seperti dulu. Bisa dibilang, Nina hidup jauh lebih baik dibanding kemarin. Ia pun juga tidak pernah meminta yang macam-macam pada Herlina dan selalu menuruti apa yang Herlina minta.
Setelah mengambil posisi yang nyaman, Nina mengecek hapenya dan mendapat pesan dari Herlina.
Nina menghela napas setelah mendapat pesan dari Herlina. Pasalnya, sudah berulang kali Nina mencoba membujuk Renata untuk menemui Candra. Tapi selalu saja Renata menghindarinya.
"Renata, aku ingin mengunjungi Ayahmu. Apa kamu mau ikut?" tanya Nina memakai sepatunya.
Renata hanya menatap Nina seolah-olah mencari alasan.
"Sebentar lagi aku mau menyelasaikan tugasku. Aku ngga bisa, Tante. Maaf ya."
Mengingat penolakan yang selalu diberikan oleh Renata membuatnya putar otak bagaimana caranya agar ia mau mengikutinya ke sel penjara.
****
Mahendra menjalani tugasnya seperti biasa. Ia selalu mencari bukti hingga ke akar. Walaupun sesekali khawatir pada Renata, ia selalu menahan dirinya.
"Pak. Bagaimana dengan kasus ini? Tentang seorang gadis yang tewas di pinggir jalan." tanya Nugraha.
"Sudah periksa CCTV nya?" tanya Mahendra terus menerus memaksakan kondisi fisiknya untuk bekerja.
"Sudah dan ada lelaki yang memang sengaja membuang jasad ini di pinggir kota. Tapi ia menutupi wajahnya dengan masker dan topi."
Selagi membahas kasus dengan serius, tiba-tiba kantor Mahendra diketuk. Liliana yang sedang memeriksa hapenya langsung meletakkannya dan membukakan pintu.
"Oh.. Renata, bagaimana.. bisa tiba-tiba datang kemari?" tanya Liliana dengan tawa yang memang sengaja dibuatnya. Liliana mempersilakan Renata masuk dan membawakan beberapa kotak makanan.
"Wow apa ini? Apakah ini makanan?" tanya Nugraha menimpali. Walau masih bingung dengan kedatangan Renata yang tiba-tiba, Nugraha dan Liliana sangat gembira. Karena Mahendra tidak harus membahas pekerjaan lagi sekarang.
"Apakah kalian sudah makan? Kalian terlihat serius tapi sangat lemas." kata Renata sangat riang mendatangi kantor Mahendra.
"Bu Liliana, Pak Nugraha, jangan terlalu keras bekerja. Makanlah dulu dan aku membawakan kopi serta minuman vitamin. Oh ya Pak Jaksa ini untukmu juga. Aku juga lengkap membawa kue-kue agar kalian bisa cemil-cemil." Renata terlihat bahagia bertemu dengan Liliana dan Nugraha.
"Oh..terima kasih telah memperhatikan kami. Apakah semua ini boleh kami makan?" tanya Nugraha mengambil kopi dan juga makanannya.
"Silakan diambil, dimakan dan dihabiskan. Kalau kurang kalian bisa pesan lagi."
Nugraha dan Liliana terlihat riang gembira dengan makanan yang dibawakan Renata. Tetapi tidak dengan Mahendra. Mahendra yang selama ini khawatir dengan keadaan Renata, menjadi bingung seratus delapan puluh derajat karena apa yang ia khawatirkan adalah sesuatu yang tidak perlu.
Mahendra menghampiri Renata dan meraih tangannya.
"Kita bicara sebentar." Mahendra mengajak Renata keluar dari kantornya.
"Terima kasih Renata. Terima kasih." ucap Liliana dan Nugraha tersenyum bahagia, akhirnya mereka bisa mengisi perut mereka.
Renata sedikit heran dengan Mahendra. Mengapa harus menariknya keluar seperti ini jika mau bicara?
Setelah situasi aman dan bisa berbicara berdua, Mahendra mulai menanyai Renata dengan keadaannya yang berubah drastis.
"Ada apa Renata? Kenapa tiba-tiba datang kemari?" tanya Mahendra.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh kesini? Aku hanya membelikan beberapa makanan agar kalian bisa istirahat sebentar dari pekerjaan kalian." jelas Renata ringan dan tersenyum.
"Bukan itu maksudku."
Renata mengernyitkan dahi tidak mengerti dengan perkataan Mahendra.
"Maksudku apakah kamu baik-baik saja hingga datang kemari?"
Renata menatap Mahendra cukup lama. Ia berpikir bagaimana harus menjawabnya. Sudah dua tahun lebih ia tidak bertemu dengan Mahendra.
"Sudah dua tahun Ayahku dipenjara. Aku membenahi perasaanku yang berantakan selama dua tahun. Sulit bagiku. Aku takut dicap sebagai anak pembunuh. Banyak sekali yang aku lewati dan kamu tidak tahu. Tapi sekarang aku sudah sepenuhnya baik-baik saja bahkan aku sedang mengerjakan skripsiku." jawab Renata.
"Liliana menelponku. Kamu bekerja keras sampai kurang tidur dan istirahat. Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Mengapa kerja keras hampir tiada henti?" lanjut Renata sambil menahan air matanya terjatuh.
Hati Mahendra berdesir hangat dan ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkinkah karena Renata menahan air matanya? Ataukah karena Renata yang ia lihat dalam kondisi baik-baik saja, tidak seperti yang dikhawatirkan selama ini.