
Renata memijat kepalanya sebentar karena merasa pusing. Semakin ia menelusuri masa lalu Kinanti, semakin membuatnya sakit kepala.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Herlina dan memberikan segelas air.
"Aku tidak apa-apa, Nek." kata Renata tersenyum berusaha tidak memperlihatkan apapun dihadapan Herlina.
"Mahendra, lanjutkan saja interogasinya." kata Renata pada Mahendra.
"Baik. Ibu Nina, kapan terakir kali Anda bertemu dengan Ibu Kinanti?"
Nina terdiam. Ia merasa gelisah jika ditanya seperti ini. Nina meremas jarinya. Ia tidak berani menatap Renata, Herlina maupun Mahendra.
"Aku.. aku.."
Semua mata menatap Nina. Menunggu jawaban Nina dan Nina tetap gelisah. Herlina menatap Nina dengan gemas.
"Ada apa Nina? Kau bisa menjawabnya kan?" tanya Herlina sinis padanya.
Nina mulai merasa lemas. Memang bagaimanapun suatu hari nanti akan ada yang bertanya tentang ini kepadanya.
"Aku terakhir bertemu dengannya sekitar seminggu lalu."
"Seminggu yang lalu?" ulang Renata penasaran.
"Iya. Seminggu yang lalu..."
***
Seminggu yang lalu...
Pada saat itu aku ke rumah Kinanti. Sepertinya ada Renata. Aku datang dengan hati yang gelisah. Aku menekan tombol passcode rumah Kinanti dan aku mendapati dia sedang melipat pakaian.
"Nina? Ada apa?"
Dia menanyaiku seolah khawatir padaku. Entah itu benar atau tidak tapi aku datang padanya karena aku habis mendapatkan pukulan dari Candra. Aku menangis dan saat itu aku hanya bisa datang pada Kinanti.
"Kinan, maafkan aku, maaf. Aku tidak mengerti perasaanmu. Aku tidak tahu kalau Candra suka memukuli."
Aku menangis dan menutupi wajahku yang memar. Kinanti kemudian datang padaku dan melihat wajahku yang memar. Ia menatapku tapi tidak ada ekspresi apapun diwajahnya.
"Apakah Candra mulai memukulimu?"
Kinanti bertanya padaku sembari mengambil kotak P3K. Kemudian aku duduk di sofa dan Kinanti mulai membuka kotak P3K itu.
"Iya, Kinan."
"Dengan apa?"
"Maksudmu?"
"Dia memukulmu menggunakan alat atau tidak?"
"Tidak, dia hanya menggunakan sarung tangan."
Kinanti mulai memberikan alkohol pada lukaku. Aku menatapnya tapi Kinanti terlalu sibuk mengobatiku.
"Beruntunglah kamu"
"Kenapa? Kok kamu bicara begitu?"
Kinanti hampir selesai mengobatiku.
"Karena kalau memukulmu menggunakan kayu atau stik golf, tubuhmu bisa hancur."
"Apa kamu serius, Kinan?"
"Untuk apa aku berbohong?"
****
"Itulah kali terakhir aku berbicara dengannya."
"BOHONG!" Herlina tiba-tiba teriak dan menggebrak meja.
"Ibu, kenapa?" tanya Nina terkejut.
"Anakku tidak mungkin memukuli wanita seperti itu!" Herlina histeris tidak percaya dengan cerita Nina. Kini Renata semakin bingung apa dibalik semua ini. Sedangkan Mahendra, sepertinya ia membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menggali lebih dalam mengenai masa lalu Kinanti dan juga suaminya.
"Kamu berbohong, Nina! Mana pernah Candra memukuli Kinanti ataupun dirimu. Aku tidak pernah melihat itu!!" Herlina makin histeris tidak terkendali.
Renata memegang lengan Herlina dan menenangkannya.
"Nek, tenang, Nek. Jangan bersikap seperti ini. Tenanglah dulu."
Nina tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia tidak bisa membuktikan apapun pada Herlina mengenai kejadian yang sebenarnya.
"Nek. Tenanglah. Untuk mengetahui suatu kebenaran, memang terkadang ada hal yang menyakitkan." ucap Renata setelah Nina meninggalkan ruang tamu.
"Tapi Nina, aku tidak pernah melihat Candra melakukan hal-hal seperti itu. Bagaimana dengan kau? Apa kau pernah melihatnya?" Herlina masih gelisah saat mengetahui anaknya ternyata suka memukuli istrinya.
"Nek. Tenanglah." Renata mulai berbicara tegas dengan Herlina. "Kita akan cari tahu. Kita akan selidiki semua kenapa Ibu sampai bisa meninggal begitu saja. Semua pasti ada alasan dan yang terpenting akan selalu ada bukti, Nek."
Mahendra berdiri dan memutuskan bahwa kasus ini bukan kasus bunuh diri biasa. Ia akan meminta Kepala Jaksa untuk memperpanjang waktu penyelidikannya.
"Baiklah, Bu. Sekian interogasi kami hari ini. Mohon kerjasamanya Bu. Karena kami akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas." ucap Mahendra.
"Nek. Tenanglah. Belum ada bukti yang pasti. Kita harus menyelidikinya perlahan. Nenek, bekerjasamalah dengan kami." kata Renata memeluk Herlina. Herlina memeluk kembali Renata.
"Kamu juga yang kuat ya, Sayang. Nenek tahu pasti berat sekali kehilangan Ibumu ditambah lagi kamu harus mengetahui masa lalunya." ucap Herlina khawatir dengan keadaan Renata.
"Tidak apa, Nek. Aku memang bersikeras mengetahui siapa pembunuh Ibu."
Herlina melepas pelukannya dan membelai rambut Renata.
"Kau tidak bekerja lagi kan?"
Renata menggelengkan kepalanya dan tersenyum
"Tidak, Nek."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan hubungi Nenek jika kamu memerlukan sesuatu."
Renata mengangguk. "Kami permisi, Nek."
Herlina tersenyum pada cucu satu-satunya dan menyuruh pelayan untuk mengantarkannya ke pintu pagar.
***
Mahendra menghela napas sesampainya didalam mobil. Renata pun sama.
"Sepertinya sudah ada titik terang dari kasus ini." ucap Renata.
"Masih belum cukup. Aku membutuhkan bukti yang lebih bahwa Ibumu memang mengalami kekerasan dari Ayahmu. Dan sepertinya bukan Ibumu saja yang harus kuperiksa. Tapi juga bisa menyangkut pada Ayahmu " jelas Mahendra.
"Ya, aku tahu. Pasti ada kaitannya dengan satu sama lain."
"Tapi ada yang sedikit menyulitkanku." Mahendra terlihat cemas.
"Ada apa?" Renata penasaran.
"Ayahmu itu pewaris dari Grup Seijin."
"Lalu?"
"Apa kau percaya diri melawan Grup itu?" tanya Mahendra sedikit khawatir.
"Nenekku sudah memberi persetujuannya. Lalu apalagi?"
"Aku tidak yakin Nenekmu akan begitu saja mengekspos kekurangan dari Ayahmu. Jika memang Ayahmu melakukan kekerasan, itu akan menjadi cela untuk keluargamu dan juga Grup Seijin."
"Kita selidiki dulu satu persatu. Masalahnya aku juga tidak pernah melihat Ayahku melakukan kekerasan pada Ibuku." Renata mulai menurunkan intonasi nadanya.
"Baiklah. Kita selidiki perlahan. Dan aku akan mengajukan waktu tambahan untuk menyelidiki kasus ini." ujar Mahendra menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas.
****
Herlina menelpon salah satu staff kantornya dan menanyakan tugas bisnis Candra yang berada di luar kota.
"Bagaimana perjalanan bisnis Candra sekarang? Berjalan dengan baik?" tanya Herlina melalui sambungan telpon.
"Baiklah. Cari tahu apa yang Candra kerjakan sekarang."
Herlina memiliki kegelisahan didalam hatinya. Jika Candra ketahuan publik melakukan kekerasan pada istrinya hingga meninggal dunia, ini akan menjadi suatu cela untuk dirinya dan juga perusahaannya..
****
Nina memandangi wajahnya di meja rias. Riasan tebal diwajahnya menutupi semua lebam biru yang ada. Tetapi Nina merasa teriris. Sampai kapan ia melindungi Candra dari sikap buruknya? Sedangkan wajahnya semakin lama semakin tidak beraturan. Dan sampai kapan ia harus berpura-pura tegar padahal hatinya lemah?
Nina mulai menghapus make up tebalnya dan mengunci pintu kamarnya agar tidak ada siapapun masuk. Ia memandangi wajahnya yang penuh lebam dan bekas luka. Baju lengan panjangnya ia gulung dan ia mengelus lukanya.
Ia menangis. Betapa runtuh dirinya kini ketika ia mengingat perkataan Kinanti.
"Jika Candra tidak mencintaimu lagi, kamu akan dianggap sebagai karung pasir yang bisa ia pukul dan tendangi setiap harinya."
Nina mulai menjatuhkan airmatanya. Dulu, ia tidak percaya pada Kinanti dan menganggap Kinanti selalu bicara omong kosong. Kini, apa yang Kinanti katakan, berujung malapetaka pada dirinya sendiri.
****